
Pulang kuliah, Laura berkeliling rumah barunya. Meski hanya dua lantai, namun cukup membuatnya lelah. Wanita itu mengamati setiap sudut rumah itu.
Ia melihat para pekerja sedang sibuk membersihkan rumah mewah itu. Mereka terlihat sedikit kaku saat wanita itu melewatinya.
Melihat itu, sang nyonya rumah memberikan perintah supaya mereka semua bersikap biasa saja. Anggap jika Laura anak mereka, bukan majikan.
Namun para pekerja menolak, karena takut kena marah oleh Edward, apalagi sampai di pecat.
Laura memberi keringanan, saat tidak ada Edward para pekerja di minta lebih santai.
Untuk urusan kamar pribadinya, Laura mengatakan jika dirinya sendiri yang akan membersihkan, karena Edward tidak suka orang asing memasuki kamar pribadinya.
Para pekerja mengerti. Mereka paham, setiap orang mempunyai privasi masing-masing.
“Nyonya sepertinya masih muda? Umur berapa?” Tanya salah seorang pekerja yang bertugas bersih-bersih.
“Aku berusia 21 tahun, Bu.” Jawab Laura, ia memanggil para pekerjanya dengan sebutan ibu, karena mereka semua sudah berusia 40 tahunan.
“Wah masih muda ya, ternyata tuan Edward suka yang muda-muda.” Celetuk pekerja yang lainnya.
Laura hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Ia merasa memiliki banyak ibu. Dirumah besar ini, dia tidak kesepian. Ada 4 orang pekerja wanita yang menemaninya.
“Nyonya ini minumannya.” Salah satu pekerja dapur datang membawakan coklat hangat untuk Laura.
“Terima kasih, Bu.”
Pekerja dapur itu pun kembali ke tempatnya bertugas.
“Bu, kalian kenal suamiku darimana? Maksudku, bagaimana kalian bisa bekerja disini?”
Laura penasaran, darimana datangnya para pekerja-pekerja ini.
“Kami ada agen penyalur tenaga kerja, nyonya. Kebetulan, minggu lalu asisten tuan datang ke tempat kami. Dan mencari pekerja yang sudah berusia 40 tahun ke atas. Jadi kami mendapatkan kesempatan ini.” Jawab salah satu pekerja yang sedang mengelap meja di depan Laura.
Kini wanita muda itu tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Menikmati segelas coklat hangat. Sambil bercengkerama dengan dua orang pekerja.
Satu pekerja sedang mengelap pajangan. Satunya lagi sedang membersihkan meja.
Laura tidak begitu menghafal nama para pekerjanya. Maka ia memberi nama panggilan khusus kepada mereka.
Ibu depan satu untuk yang lebih tua, dan ibu depan dua untuk yang lebih muda, nama untuk para pekerja yang bertugas membersihkan rumah. Laura pun menyingkat dengan menyebut budesa, dan budewa.
Begitu juga, yang bertugas di dapur, ia memanggil mereka ibu dapur satu untuk yang lebih tua, di singkat budatu, dan yang lebih muda ibu dapur dua, di singkat budadu.
Para pekerja hanya menurut saja. Toh tidak ada yang berkurang dari diri mereka saat di panggil begitu.
Asyik bercengkerama dengan para pekerja depan, Laura berpindah ke arah dapur.
Tempat memasak itu di bagi menjadi dua bagian, dapur kotor dan dapur bersih.
Pada dapur kotor, terdapat peralatan memasak yang lebih besar. Di pergunakan untuk memasak makanan dalam jumlah banyak.
__ADS_1
Sementara pada dapur bersih, peralatan lebih menyesuaikan dengan kebutuhan. Di dapur bersih hanya di gunakan untuk memasak makanan yang lebih ringan dan mudah.
“Budatu, untuk makan malam nanti tolong buatkan pecel ya. Aku mau pecel ayam, tempe penyet, tahu dan terong goreng. Jangan lupa lalapannya yang banyak. Sambalnya jangan terlalu pedas, suamiku tidak bisa memakan makanan terlalu pedas.”
Sang nyonya rumah memberi perintah kepada pekerjanya. Ia sebenarnya bisa saja membuatnya, tetapi sang suami telah mengultimatumnya, boleh masuk dapur, tetapi tidak boleh menyentuh peralatan dapur kecuali Edward yang memintanya.
Jika berani membantah, maka Laura tidak boleh masuk ke dapur lagi.
Laura hanya menurut, ia tidak mau melawan terlalu keras pada sang suami. Edward sudah banyak memanjakannya.
Yang bisa ia lakukan hanya menurut pada suaminya.
Bukankah sudah sepantasnya seorang istri patuh kepada suaminy?
******
Setelah makan malam selesai, kini dua sejoli itu tengah bersantai di sofa bed, yang tersedia di balkon kamar mereka.
Duduk bersandar dan saling memeluk. Melihat indahnya taburan bintang-bintang di gelapnya langit malam.
Laura bersandar memeluk pinggang sang suami. Sementara Edward, tangan kekarnya mendekap bahu sang istri.
Sesekali pria itu melabuhkan kecupan di atas kepala sang istri.
“Papi?”
“Hmm?”
“Kapan papi membeli rumah ini?”
“Kamu yakin mau tau?”
Laura mengangguk dalam dekapan sang suami.
“Aku membelinya sehari setelah kamu menyerahkan diri padaku.”
Laura mendongak, ia menatap lekat ke arah wajah sang suami.
“Benarkah?”
Edward menganggukkan kepalanya. Rumah ini memang ia beli sejak Laura memberikan hal berharga dalam hidupnya.
Edward sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan bertanggung jawab pada Laura. Mau atau tidak, Laura harus menikah dengan dirinya.
Maka dari itu, Edward menyiapkan segala sesuatunya. Bahkan ia sudah merencanakan pesta pernikahan impian para wanita. Namun sang mama sudah menentukan terlebih dulu.
“Bagaimana bisa atas nama ku?”
Laura masih saja penasaran.
“Aku mengambil kartu identitas mu, setelah surat-suratnya selesai, aku kembalikan lagi. Kamunya saja yang tidak sadar.” Edward membenturkan dahinya pada dahi wanita muda itu.
“Benarkah?” Laura berucap tak percaya.
__ADS_1
Suaminya ini benar-benar pria ajaib.
“Terima kasih, papi. Aku beruntung bisa bertemu dengan mu.” Laura mengeratkan pelukannya pada pinggang sang suami.
“Cukup balas dengan kamu selalu ada di sampingku, dalam keadaan apapun. Jika kita bertengkar sekalipun, jangan pernah ada yang meninggalkan satu sama lain.”
Laura menganggukkan kepalanya. Ucapan sang suami ada benarnya. Setiap hubungan pasti ada pasang surutnya.
Kisah Laura dan Edward tidak mungkin selamanya manis. Suatu hari pasti akan ada kerikil-kerikil kecil menghampiri biduk rumah tangga mereka.
Tergantung bagaimana Laura dan Edward menyikapinya. Jika di sikapi dengan kepala mendidih, rumah tangga mereka pasti tidak akan bertahan lama. Namun, jika di hadapi dengan kepala dingin, setiap masalah yang datang di bicarakan dengan baik-baik, rumah tangga pasti akan lebih awet.
Rumah tangga bukan hanya masalah saling mencintai saja, tetapi bagaimana kita bertahan dan membuat cinta itu semakin hari semakin bertambah dan mampu bertumbuh bersama.
Semakin hari karakter asli pasangan kita pasti akan terlihat. Tergantung bagaimana kita mengimbanginya. Agar kita bisa tetap berjuang bersama, hingga waktunya tiba untuk kembali.
“Baby.”
“Ya?”
“Tentang Leo—,”
Edward menjeda sejenak ucapannya. Ia kemudian menghela nafasnya pelan.
“Kemungkinan Damian memang ayah kandung Leo.”
Edward pun menceritakan hasil penyelidikan orang suruhan Johan. Ia tidak menutupi apapun. Termasuk penyebab ibu Leo yang telah tega membuang anak itu.
Ia juga mengatakan rasa bersalahnya pada Leo. Karena ia lah penyebab Leo terpisah dari orang tuanya.
Laura tersentak. Ia melepaskan belitan tangannya dari pinggang sang suami. Kemudian duduk tegak di atas sofa.
“Maksud papi, ibunya Leo membuang dia karena wanita itu mencintai papi? Bukan mencintai ayah Leo?”
Laura mengulang perkataan sang suami dengan sebuah pertanyaan.
Edward mengangguk. Meski ia tidak pernah tau, ada teman sekolahnya yang begitu mencintainya sampai tega membuang anaknya sendiri.
“Aku tidak pernah mengenal wanita itu, baby. Bukankah sudah aku katakan, jika waktu sekolah dulu aku sering menerima hadiah? Aku bahkan tidak tau hadiah-hadiah itu dari siapa.”
Laura menatap lekat ke arah mata sang suami. Tidak ada kebohongan pada sorot mata pria dewasa itu.
Wanita muda itu kemudian menarik tangan suaminya. Membuat mereka berpelukan.
“Aku mengerti. Bukan papi yang salah disini. Papi tidak tau apa-apa. Mungkin wanita itu terlalu bodoh, mengejar pria yang sama sekali tidak perduli padanya.”
Laura mengusap punggung sang suami.
“Kalau aku jadi dia, aku akan tetap bertahan dengan orang yang mencintaiku. Karena, lebih baik kita hidup dengan orang yang mencintai kita, daripada kita hidup dengan orang yang kita cintai tetapi tidak mencintai kita.”
.
.
__ADS_1
.
T. B. C