
Sementara itu di hari yang sama, di kediaman keluarga Hugo. Terdengar gelak tawa bocah berusia 8 tahun dari arah ruang keluarga.
Disana nampak Edward sedang menemani Devano bermain playstation. Anak itu sangat senang, karena ia hanya boleh menyalakan alat itu, di saat Edward ada dirumah.
“Yey… aku menang lagi.. papa kalah.” Seru bocah itu girang.
Edward yang melihat itu juga ikut bahagia. Bukannya ia tidak bisa bermain, hanya saja ia sengaja mengalah demi melihat tawa sang putra.
“Kamu memang jagoan boy. Apalagi yang kamu bisa?” Tanya Ed sembari mengelus kepala putranya.
“Aku sudah pandai berenang, pa.” Sahutnya.
“Apa papa mau melihat aku berenang?” Tanyanya lagi. Ia sudah tidak sabar menunjukkan keahliannya kepada sang papa.
“Tentu boy, tetapi tidak sekarang. Ini masih panas, nanti sore kita berenang. Oke?”
“Oke papa.”
Mereka kembali menatap ke arah televisi besar yang ada di depan dan melanjutkan permainannya.
“Kamu lihat, Devano begitu senang saat dekat dengan Ed.” Nyonya Hugo berucap kepada Felisha yang sedang mengamati interaksi antara Ed dan putranya dari ruang makan.
“Hmm. Mereka sangat kompak, ma.” Sahut Felisha tanpa mengalihkan pandangannya dari dua pria yang ia cintai.
“Apa kamu tidak ingin kita tinggal bersama Ed di ibukota? Devano pasti akan sangat senang bisa setiap hari bertemu papanya.” Ucap nyonya Hugo.
“Aku..” Felisha menundukkan kepalanya. “Aku belum siap, ma.” Sambungnya lagi.
“Sampai kapan Fel?”
“Entahlah, ma. Terkadang aku juga ingin kita tinggal bersama-sama lagi. Tetapi seketika itu pula keinginan itu menghilang.” Ucap Felisha lirih.
“Aku tau, sikapku ini menyulitkan Ed, ma. Dia sudah lelah bekerja untuk kita, ditambah di akhir pekan dia harus pulang kemari—.” Mata Felisha mulai berkaca-kaca.
Nyonya Hugo yang melihat itu, tidak ingin melanjutkan pembahasannya lagi. Setiap membahas masalah ini, Felisha pasti akan menangis.
“Ya sudah, jangan di pikirkan. Lagi pula ini sudah menjadi tanggung jawab Ed kepada kita.” Wanita paruh baya itu mengusap punggung Felisha.
“Jangan menangis, mama tidak mau di amuk olehnya jika kamu menangis.” Ia menujuk ke arah punggung Edward.
Felisha pun tersenyum. Memang jika dia menangis, Edward akan memarahi orang yang membuat air matanya jatuh sekalipun itu sang mama.
“Panggil mereka untuk makan siang. Mama sudah mulai lapar.” Ucap nyonya Hugo lagi.
Felisha menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ke arah dua pria yang berbeda usia itu.
“Sayang-sayangnya mama, ayo kita makan siang. Nenek sudah menunggu di ruang makan.” Seru wanita berusia 35 tahun itu setelah berada dekat dengan Ed dan Devano.
“Oke, mama.” Jawab kedua pria beda usia itu dengan serempak. Edward menggendong tubuh bocah 8 tahun itu di punggungnya. Lalu membawa ke arah ruang makan.
__ADS_1
“Kita makan dulu, boy. Setelah itu kita tidur siang. Nanti sore kita berenang.” Ucap Edward sambil mendudukkan tubuh Devano di kursi meja makan.
“Oke, papa.”
Edward pun mendudukkan bo*kongnya di kursi kepala keluarga. Kursi yang biasanya di tempati oleh nyonya Hugo tetapi jika putranya pulang, kursi itu di tempati oleh Edward.
Felisha mulai mengambilkan makanan untuk anggota keluarganya, mulai dari mengambilkan untuk nyonya Hugo, lalu untuk Edward dan Devano, baru setelah itu ia duduk dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
*****
“Dia sedang apa ya? Kenapa tidak membalas pesan ku?” Laura bermonolog, ia membuka dan menutup aplikasi berbalas pesan di ponselnya.
“Apa dia tidak ingat denganku?” Ucap gadis itu lagi.
Ia lalu mencebikan bibirnya. “Lihatlah Laura, bagaimana mungkin kamu di nikahi pria kaya itu, sementara saat dia berada dirumah orang tuanya, dia sama sekali tidak menghubungimu.”
Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya terlentang di atas tempat tidurnya.
Beberapa saat kemudian tubuhnya menyamping, ia melihat bingkai foto kedua orang tuanya di atas nakas, saat masih remaja.
Laura mengambil bingkai itu, ia lalu menyandarkan tubuhnya di atas ranjang.
“Ayah, Ibu. Maafkan aku.” Gadis itu meraba wajah tersenyum kedua orang tuanya.
“Aku telah mengecewakan kalian. Kalian pasti marah padaku melihat kelakuanku, kan?” Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Kalian pasti tau, aku tidak mau kehilangan panti ini. Tempat ini satu-satunya peninggalan kalian. Banyak kenangan tentang kalian disini.” Ia menghapus air matanya yang mulai menuruni pipi.
Laura sadar, apa yang ia dan Edward lakukan itu sebuah kesalahan besar. Karena itu, ia memutuskan untuk meminum obat pencegah kehamilan. Gadis itu tidak mau, perbuatan terlarangnya dengan pria dewasa itu membuahkan hasil di luar pernikahan.
“Ayah, ibu. Aku tidak tau bagaimana nasibku setelah ini. Dia memang menjanjikan aku sebuah pernikahan, tetapi sampai saat ini dia juga belum memberi kejelasan tentang hubungan kami. Dan aku juga tidak mau berharap, karena aku tidak mau direndahkan lagi.” Laura menghela nafasnya kasar.
“Ayah, Ibu. Aku sudah belajar membentengi hatiku. Seberapa manis pun perlakuannya padaku, aku tidak ingin jatuh cinta padanya. Karena, aku tidak mau patah hati lagi.”
Gadis itu pun merebahkan tubuhnya sambil memeluk bingkai foto orang tuanya.
“Aku merindukan kalian. Kenapa kalian tidak pernah datang dalam mimpiku? Apa aku begitu berdosa, hingga kalian tidak ingin menemuiku?” Air matanya pun keluar semakin deras. Ia lalu memejamkan kedua matanya. Berharap bertemu orang tuanya di dalam mimpi.
*****
Air kolam renang di kediaman keluarga Hugo terlihat bergelombang. Dua pria berbeda usia kini tengah asyik bermain air di dalamnya.
Mereka berpacu layaknya atlet renang di dalam sebuah kejuaraan. Sesekali kepala mereka terlihat keluar air, setelah itu menghilang ke dalam air.
“Dev, papa lelah, nak. Kita istirahat sebentar.” Ucap Edward yang mulai kelelahan meladeni putranya di dalam air.
“Ah papa payah. Aku saja masih kuat.” Sahut bocah itu. Ia kembali menenggelamkan dirinya ke dalam air.
“Papa sudah tua, nak. Tidak bisa selincah dirimu.” Sahut Felisha yang tiba-tiba datang membawa minuman untuk kedua orang itu.
__ADS_1
Ia menyerahkan satu gelas jus jeruk kepada Edward yang berada di pinggiran kolam.
“Thanks, Fel.” Edward menerima gelas itu lalu menyeruputnya sedikit.
“Dev.. kamu minum dulu nak.” Seru Felisha sambil mengangkat gelas yang lain.
“Nanti saja, ma. Aku masih mau berenang.” Bocah itu masih sibuk dengan aksinya di dalam air.
Edward terkekeh melihat tingkah anak berusia 8 tahun itu.
“Ed..” Felisha menjeda ucapannya.
“Ya, ada apa Fel?” Tanya Edward sambil meminum jus jeruknya lagi.
“Siapa itu Laura?” Pria itu tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan dari Felisha.
“Pelan-pelan, Ed. Kenapa minum jus saja bisa tersedak?” Wanita itu menepuk-nepuk punggung Edward.
“Darimana kamu tau?” Tanya Edward setelah batuknya mereda.
“Tadi aku tidak sengaja melihat ponselmu. Ada pesan dari Laura. Dia bertanya apa kamu sudah makan siang?” Ucap wanita yang seumuran dengan Edward itu.
Deg..
Pria itu tersentak, bagaimana dia begitu ceroboh meninggalkan ponselnya. Apalagi Felisha tau apa sandi dari ponselnya.
Dan Laura, bagaimana Edward bisa lupa dengan gadis itu?
“Apa dia—
“Dia asisten ku, Fel.” Edward menjawab secepat sambaran kilat.
.
.
.
To be continue
“Dia asisten ku, Fel.”
Asisten di ranjang, ya kan bang Ed 😅😅
Terimakasih untuk yang sudah mampir dan memberi dukungan.
Jangan lupa Like, komen dan subcribe eh salah. 🤭
Jangan lupa Like, komen dan kasih hadiah buat Laura, supaya dia bisa membayar hutangnya pada Tuan Edward 😆
__ADS_1
I love you all ❤️