
Keesokan harinya, Edward meninggalkan rumah sang mama menjelang subuh. Ia tidak berpamitan kepada mamanya. Hanya berpamitan dengan Felisha.
Sang adik pun tidak melarang Edward pergi. Ia juga tidak ingin ikut-ikutan menjodohkan kakaknya.
Felisha hanya ingin sang kakak bahagia. Jika kebahagiaan pria itu bersama Laura, Felisha akan mendukung sepenuhnya.
“Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Ed.” Felisha berdiri di balkon lantai dua kamarnya, memandang mobil sang kakak yang mulai bergerak meninggalkan halaman rumah mereka.
“Dia sudah pergi?”
Deg..
Felisha berbalik dan mendapati sang mama berdiri di belakangnya.
“Ma.. kenapa sudah bangun? Ini masih gelap.”
Mama Devano itu berjalan mendekat ke arah sang mama.
“Apa Ed begitu marah pada mama? Sampai-sampai dia tidak mau berpamitan dengan mama?”
Bukannya menjawab pertanyaan sang putri, nyonya Hugo justru berbalik melontarkan pertanyaan.
“Tidak seperti itu, ma. Ed—,”
“Mama tau, Fel. Kakakmu sangat marah pada mama.” Nyonya Hugo menghela nafasnya pelan. “Mama sudah memikirkan semuanya. Mama akan mendukung Ed, asalkan dia tetap mau bertemu dengan anak teman mama itu.”
“Untuk apa mempertemukan mereka, ma? Ed sudah mempunyai pilihan sendiri.”
“Hanya untuk berkenalan saja. Setelah itu, terserah kakakmu. Meski mama yakin, pilihan mama tetap yang terbaik. Apa boleh buat, mama juga tidak boleh egois. Kebahagiaan kalian yang paling penting.”
Setelah bicara panjang lebar, wanita paruh baya itu berbalik, dan meninggalkan sang putri begitu saja.
“Ma., ada apa denganmu? Kenapa mama tiba/tiba berubah begini?” Felisha berucap sendu. Sama seperti saudar kembarnya, ia juga merasa sang mama telah berubah.
Dulu, saat ia menjalin kasih dengan mendiang sang suami, nyonya Hugo tidak pernah menentangnya. Tidak pernah mempermasalahkan asal usul, bebet dan juga bobotnya.
Lalu, kenapa sekarang jadi seperti ini? Apa karena Ed adalah seorang ahli waris? Sehingga sang mama begitu keras kepala memilihkan jodoh untuknya?
“Suamiku.. aku harus berbuat apa? Aku bingung. Aku ingin Ed bahagia. Tetapi aku juga tidak ingin Ed dan mama bertengkar. Bantu aku, suamiku.”
Wanita berusia 35 tahun itu memeluk tubuhnya sendiri. Seolah mendekap tubuh kekar sang mendiang suami. Setelah itu, ia perlahan berjalan kembali menuju kamar yang ia tempati bersama sang putra.
*****
Mobil yang di kendarai Edward, tiba di depan panti pukul 5 dini hari. Pria itu tidak enak hati menganggu penjaga panti di pagi buta begini. Ia memutuskan tinggal di dalam mobil, sampai matahari menampakkan dirinya.
Edward memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu gerbang panti. Berharap, jika ia tertidur di dalam mobil, seseorang akan membangunkan saat melihat mobilnya disana.
Entah berapa lama pria itu tertidur, ia merasakan ada yang mengguncang tubuhnya. Dengan perlahan ia membuka matanya, mendapati hari sudah terang.
“Pak, kenapa tidur disini?” Suara pak Toto mengembalikan semua kesadaran Edward.
“Ah, aku tidak enak menganggu di pagi buta. Karena itu, aku tidur disini, pak.” Pria itu menegakkan posisi duduknya.
__ADS_1
“Pak, tolong buka pintunya. Aku mau masuk.” Ucapnya lagi, sembari menyalakan mesin mobil mewahnya.
Pak Toto membuka pintu gerbang itu, agar sang calon majikannya bisa memasukkan mobilnya ke dalam halaman panti.
Edward memarkirkan mobilnya dengan rapi, ia lalu berjalan menuju ruang tamu panti asuhan itu.
“Ed? Kenapa pagi sekali sudah disini?” Laura mengerenyitkan dahinya, saat mendapati Edward berjalan ke arah ruang tamu.
Pria itu memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, memastikan jika tidak ada orang di sekitar mereka.
“Aku merindukanmu, baby.” Edward merengkuh tubuh semampai yang berada di hadapannya. Mendekap erat, menyalurkan segela kegundahan hatinya.
Dengan ragu Laura membalas pelukan pria itu. Perlahan tangannya mengusap punggung Edward.
“Ada apa, Ed?”
Pria itu lepaskan dekapannya. Ia memegang kedua bahu sang gadis.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu. Apa sudah ada yang membuat sarapan? Perutku lapar.”
Tadi malam, karena selisih paham dengan sang mama, membuat Edward enggan untuk makan malam. Hal hasil pagi ini, perut pria itu sudah meronta minta diisi.
“Apa kamu belum sarapan?”
Pria itu menggeleng, matanya menatap sendu seperti anak kecil yang sedang minta jajan.
“Ya sudah, ayo kita ke dapur. Kita buatkan sarapan juga untuk ibu dan bibi.” Laura menarik tangan Edward dan mengajaknya ke dapur panti asuhan.
Ada ibu Maria, bibi Lily, Laura dan Edward, sang donatur yang mengaku sebagai kekasih Laura.
Mereka menikmati sarapannya dengan damai. Tidak ada obrolan di meja makan, karena itu sudah menjadi peraturan di panti ini.
Setelah acara sarapan pagi itu selesai. Edward mengajak Laura kembali ke penthousenya dengan alasan ada pekerjaan penting yang harus pria itu selesaikan.
Tanpa banyak membantah, Laura menuruti saja keinginan Edward. Ia yang sudah merasakan ada kejanggalan di balik sikap pria itu, ingin berbicara berdua dengan Edward.
“Bu, sampaikan salamku pada adik-adik semuanya. Maaf, aku tidak bisa menunggu kedatangan mereka.” Laura memeluk sebentar ibu Maria sebagai tanda perpisahan.
Setelah itu, Edward pun melakukan hal yang sama.
“Nanti aku akan datang lagi, Bu.” Ucap pria itu.
“Kalian hati-hati di jalan.” Wanita paruh baya itu memberi pesan.
Laura dan Edward pun meninggalkan panti asuhan saat waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Laura merasa sedikit malas, karena ini terlalu pagi untuknya meninggalkan panti. Apalagi ia belum sempat bertemu dengan adik-adiknya.
Gadis itu menyadarkan punggungnya di sandaran kursi mobil mewah itu. Pandangannya lurus kedepan menatap kendaraan yang melaju dari arah berlawanan.
“Baby.”
Tangan kiri Edward terulur mengusap lengan gadis itu. Ia menyadari jika sang kekasih hati sedang merajuk.
“Ada apa, hmm?” Tanyanya kemudian, setelah sang gadis menoleh ke arahnya.
__ADS_1
“Aku yang harusnya bertanya kepadamu, tuan Hugo. Ada apa dengan mu? Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan sikapmu?”
“Baby, tidak—,”
Laura mengangkat tangan kanannya. Ia menghentikan ucapan pria dewasa itu.
“Jangan mengatakan tidak terjadi apa-apa, Ed. Meski kita baru saling mengenal, tetapi aku bisa merasakan, ada yang berbeda dengan dirimu.” Ucap gadis itu dengan sendu.
“Kita bicara setelah sampai di rumah, baby.”
Jalanan yang sedikit padat, membuat perjalanan mereka sedikit terhambat. Setelah hampir dua jam berkendara, kini dua insan itu telah sampai di basemen penthouse mewah itu.
Keheningan masih menyelimuti di antara Edward dan juga Laura. Tidak ada satu pun di antara mereka yang ingin memulai perbincangan.
Setelah tiba di penthouse, Laura berjalan menuju ruang tamu. Gadis itu pun melemparkan tubuhnya di atas sofa.
Edward hanya melihat saja apa yang gadis itu lakukan. Ia berjalan ke arah mini bar, untuk mengambil dua kaleng soft drink, kemudian membawanya ke tempat Laura.
“Minumlah dulu, baby.” Pria itu menyodorkan kaleng minuman rasa coklat kepada Laura.
“Katakanlah padaku, ada apa dengan mu, Ed.” Gadis itu meraih kaleng yang Edward berikan kemudian meminumnya.
Edward kemudian duduk di sisi gadis itu. Meminum sedikit minumannya. Lalu menghela nafasnya pelan, sebelum memulai berbicara.
“Laura, maukah kamu hidup susah bersamaku?” Pria itu menoleh ke arah sang gadis.
Kedua alis Laura hampir menyatu mendengar pertanyaan dari Edward.
“Ed, aku sudah terbiasa hidup susah sejak kecil. Jika suatu hari nanti hidup susah lagi, aku tidak masalah.” Jawab gadis itu.
“Kalau begitu, mari kita mulai hidup yang baru berdua. Kita mulai semuanya dari bawah.” Edward meraih jemari gadis itu, lalu menautkan kedua tangan mereka.
.
.
.
T. B. C
Ayo Genks…
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
TerimaNasib ❤️❤️
__ADS_1