
“Bos akan menikahi nona?” Tanya Johan tidak percaya.
“Tentu saja. Memangnya kenapa, Jo?”
“Itu artinya, bos mencintai nona?” Selidik pria itu.
“Aku tidak tau, Jo. Selama ini aku hanya dekat dengan Felisha, apa rasa cinta untuk Felisha itu sama dengan rasa cinta untuk Laura?” Edward berbalik bertanya.
“Hmm.. sedikit rumit bos.” Asisten itu pun mendekat ke arah atasannya. Dan mendudukkan bo*kongnya di sebarang meja atasannya.
“Apa yang bos rasakan untuk nona Laura?”
Nampaknya Johan perlu memeberi penyuluhan masalah cinta kepada atasannya ini.
“Aku menyayanginya, Jo. Seperti aku menyayangi Felisha.” Sahut Edward.
“Pasti ada rasa yang lain yang bos rasakan untuk nona?” Johan semakin mengulik isi hati atasannya.
“Aku tidak suka Laura berdekatan dengan laki-laki lain, termasuk dirimu.” Jawab Edward jujur.
Johan mencebikan bibirnya. Bagaimana dia bisa masuk ke dalam daftar laki-laki yang tidak boleh berdekatan dengan Laura.
“Aku tidak memiliki perasaan dengan nona, bos. Aku hanya menganggap dia seperti adikku. Bos kan tau, aku anak yatim piatu. Kita punya nasib yang sama.” Jawab Johan panjang lebar.
“Aku tau, tetapi namanya juga aku tidak suka, ya tetap tidak suka, Jo.”
“Baiklah aku mengerti.” Johan mengangguk-anggukan kepalanya.
“Aku tidak mau kehilangan dia, Jo. Aku ingin dia hidup bersamaku seumur hidupku.” Edward mulai menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
“Dia gadis yang kuat, tetapi di balik itu dia gadis yang rapuh. Dia akan mudah menangis jika menyangkut keluarganya.” Edward mengingat bagaimana tadi pagi gadis itu menangis di dekapannya.
“Bos.. apa nona masih gadis?” Tanya Johan tanpa di saring.
“Jo, kamu.” Tangan Edward terkepal di udara mendengar pertanyaan Johan.
Tetapi memang tidak ada hal yang dapat Edward sembunyikan dari asistennya ini. Selama tujuh tahun, pria yang berbeda usia 5 tahun dengannya itu, begitu setia mengabdi padanya.
“Sampai kapan pun, bagiku dia tetap seorang gadis, Jo.” Edward tersenyum tipis.
Johan menyunggingkan senyumannya. Begitulah jika sudah jatuh cinta, tidak akan perduli dengan apapun lagi.
“Bos.. kesimpulanku, bos sudah sangat mencintai nona Laura.”
“Apa iya, Jo? Ah rasanya aku tidak sabar untuk menikahinya.” Ucap pria matang itu lagi.
“Jika ingin cepat-cepat menikahi nona, bos harus bisa meyakinkan nyonya Felisha dan nyonya Hugo. Tidak mungkin kan bos menikahi nona tanpa restu mereka? Dan yang terpenting itu, restu dari nyonya Felisha.” Ucap Johan panjang lebar.
Edward nampak memikirkan apa yang di katakan oleh asistennya itu.
Ya, restu kedua wanita yang ia cintai itu memang sangat penting. Terutama restu dari Felisha. Jangankan meminta restu, untuk mengatakan jika kini ia dekat dengan wanita lain saja begitu sulit untuk di ucapkan.
*****
__ADS_1
“Aku merindukanmu, Ara.” Edward mendekap tubuh semampai milik Laura dari belakang, saat gadis itu tengah menyiapkan makan malam di meja makan.
“Ed, apa yang kamu lakukan? Nanti pak Jo melihatnya.” Laura gelagapan melihat ke sekiranya, mencari ke beradaan Johan.
“Dia tidak ada, dia pulang ke rumah kekasihnya.” Sahut pria matang itu, sambil mencium pipi Laura.
“Pulang kerumah kekasihnya?” Laura mengulang ucapan Edward.
“Iya. Dia sudah biasa menginap di rumah kekasihnya.”
“Jadi pak Jo benar-benar memiliki kekasih?” Tanyanya lagi.
“Iya. Bahkan kekasihnya itu sekretaris ku.” Pria itu tidak hentinya mengecupi pipi Laura.
“Memangnya boleh berpacaran di tempat kerja?”
“Boleh, asal masih profesional dalam bekerja. Tau kapan saatnya bekerja, dan kapan saatnya berpacaran.” Pria itu melepaskan belitan tangannya dari pinggang gadis itu. Ia lalu menduduki kursi kebesarannya di meja makan.
Laura mulai mengambilkan makanan untuk pria dewasa itu.
“Tau begitu, aku tidak akan masak sebanyak ini.” Gumam Laura tetapi masih terdengar oleh Edward.
“Nanti kamu simpan sisa makanan ini, kita makan lagi untuk sarapan besok.” Pria itu tersenyum ke arah gadisnya.
“Hah.” Laura tidak percaya mendengar apa yang di ucapkan pria matang itu.
“Kenapa? Bukannya kita tidak boleh membuang-buang makanan? Bahkan di luar sana, banyak orang yang susah mendapatkan makanan.” Edward mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
‘Dia mau makan, makanan sisa ?’
“Hmmmppttt” sesuap makanan masuk kedalam bibir Laura yang tengah menganga.
“Cepat habiskan makanan mu, Ra. Setelah itu aku ingin menghabisi mu.” Pria itu menyeringai.
‘Mengahabisiku?’ Gadis itu menelan makanannya dengan susah payah.
****
“Edhh.. di da-lam sa-ja..” ucap Laura terbata. Ia berbicara di sela perjalanan mereka menuju puncak kejayaan.
Edward mengreyitkan dahinya. Pergerakan yang tadinya cepat, kini melamban saat mendengar ucapan gadis itu.
“Bukannya kamu takut hamil.. ssshhh..”
Laura mengangguk. Ia mencengkeram kuat lengan kekar pria yang mengukungnya.
“Lalu..” pria itu memejamkan matanya. Sebentar lagi ia akan sampai di puncaknya.
Gadis itu menarik wajah Edward lalu membenturkan bibir mereka berdua.
“Aku ingin di dalamhhh…” ucap gadis itu di sela pagu*tannya.
Edward yang tidak kuasa menahan dorongan dari dalam dirinya pun, melakukan apa yang gadis itu ucapkan. Benda keras tak bertulang itu masuk semakin dalam, dan menumpahkan isinya di dalam sana.
__ADS_1
“Akhh…Lauraa..Anastasiaaaa..”
Nafas pria berusia 35 tahun itu memburu, peluh membasahi tubuh kekarnya. Begitu juga dengan Laura. Gadis manis itu tersenyum di sela-sela nafasnya yang naik turun.
Edward membalik posisi, membuat Laura berada di atasnya, dengan tubuh yang masih menyatu.
Tangan pria itu, tak hentinya naik turun di punggung polos gadisnya.
“Kenapa minta di dalam?” Tanya Edward memecah keheningan.
“Bukannya kamu takut hamil?” Pria itu mengecup puncak kepala Laura berulang kali.
“Aku meminum obat pencegah kehamilan.” Jawab Laura jujur.
“Apa? Obat pencegah kehamilan?” Pria itu mengeram. Seketika tangannya terkepal di atas punggung Laura.
Mengetahui suasana menjadi mencekam, Laura berusaha menenangkan pria dewasa itu.
“Maafkan aku, Ed. Bukannya aku tidak percaya padamu, tetapi aku hanya tidak ingin mengecewakan mendiang orang tua ku. Aku sudah berjanji di makam mereka, jika aku akan lulus sarjana tepat waktu.” Gadis itu mengukir dada bidang yang berada di bawahnya.
“Meskipun kamu hamil, kamu masih bisa lulus tepat waktu, Ara. Kamu meragukan aku?”
Laura sedikit bangkit dari tidurnya, kedua tangannya setengah bertumpu pada dada bidang milik Edward.
“Tidak, Ed. Aku tau siapa kamu. Kamu bisa melakukan apapun untukku. Tetapi aku ingin lulus dengan usaha ku sendiri. Kamu sudah banyak membantuku. Bahkan aku masih bisa melanjutkan kuliahku.” Gadis itu mengecup rahang kokoh pria itu. Tetapi Edward tetap tak bergeming.
Sebuah ide muncul di benak gadis itu. Ia pun menyeringai. Laura yakin, dengan cara ini Edward akan luluh.
“Sial.. Laura Anastasiaaa…ssshhh..”
.
.
.
Curhatan Authir a.k.a Author Amatir
“Mohon maaf ya teman Readers, jika kalian tidak sabar menanti terbukanya identitas Felisha.
Ceritaku ini sudah terkonsep, dan akan ada waktunya nanti terungkap siapa sebenarnya Felisha. Kalau tiba-tiba aku ungkap Felisha sekarang, ceritanya jadi berantakan dong ya.
Kenapa terkesan lama?
Karena cerita ini alurnya lambat, seperti siput. Kalau ada yang menyadari, menceritakan 1 hari saja bisa dalam 3 bab. Dan itu 1000 kata.
🤗🤗🤗
Terimakasih untuk semua dukungannya. Aku terharu karena ada yang mau baca tulisan receh aku ini.
I love you all
God bless you 😇❤️
__ADS_1