TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 69. Kejutan Kecil.


__ADS_3

Mobil mewah yang di kendarai oleh Edward, tiba di halaman panti tepat pukul 11 siang.


Pak Toto yan melihat itu, mendekat ke arah mobil mewah itu.


Dari sisi sebelah kiri mobil, turun si gadis manis anak pemilik panti. Dan dari sisi kanan mobil, turun seorang pria dewasa.


“Selamat siang, pak Edward, non Laura.” Sapa pak Toto sedikit membungkukkan badannya.


“Siang, pak.” Sahut Laura, sementara Edward hanya tersenyum.


Pria itu kemudian membuka pintu belakang mobil, mengambil beberapa papper bag, yang berisi buah tangan untuk para penghuni panti.


“Pak, kenapa sepi begini?” Laura celingukan mencari keberadaan adik-adiknya yang biasa berkeliaran di halaman panti.


“Anak-anak belum kembali, non.” Jawab pak Toto.


Laura mengerenyitkan alisnya. Ia tidak tau jika anak-anak panti ada melakukan perjalanan.


“Memangnya mereka kemana, pak?”


“Baby, ayo kita temui ibu dan bibimu dulu.” Edward menyeret tangan gadis itu, sebelum mendengar jawaban dari sang tukang kebun panti.


“Ed, tapi—,”


“Nanti kamu akan tau.”


Mereka melangkah menuju ruangan ibu Maria. Laura melihat beberapa keanehan di sekitarnya.


“Ed, tunggu. Ini ada yang aneh. Sejak kapan di sana ada tempat bermain seperti itu.”


Laura menunjuk ke tempat bermain yang baru saja selesai di buat. Ada ayunan, perosotan yang tidak terlalu tinggi, ada juga trampolin.


“Sejak aku datang kesini.” Jawab pria itu dengan senyum khasnya.


Laura menganga mendengar apa yang pria itu ucapkan. Edward baru sekali kesini, tetapi pantinya sudah ada perubahan.


Bagaimana jika pria itu sering-sering datang kesini? Apa bangunan pantinya akan berganti?


Gadis itu kembali tercengang, ia mendapati dinding bangunan panti lebih berwarna. Bahkan di beberapa sudut, terlihat ada dinding yang di hiasi gambar-gambar pemandangan alam.


“Nak, kalian datang?” Ibu Maria dan bibi Lily menghampiri mereka berdua.


“Apa kabar, Bu? Bibi?” Edward memeluk bergantian wanita paruh baya itu.


Laura kembali tidak percaya melihat apa yang terjadi. Bagaimana bisa begitu banyak perubahan di panti ini hanya dalam beberapa hari saja?


“Baby, kamu tidak menyapa ibu dan bibimu?” Edward berbisik di telinga gadis itu.


“Ah?” Seketika gadis itu tersadar dari lamunannya.


“Bu..bibi…” Laura menghambur memeluk kedua wanita paruh baya itu secara bersamaan.


“Bu, apa yang terjadi? Kenapa panti berubah begini?”


“Tanyakan pada nak Edward, dia yang melakukan ini semua.” Ucap ibu Maria tersenyum.


“Kamu berhutang penjelasan padaku, tuan Hugo.” Gerutu gadis itu.


“Ini hanya sebuah kejutan kecil, baby.” Ucap pria itu sembari tersenyum.


Mereka kembali berbincang, Edward menyerahkan barang bawaannya pada bibi Lily.


“Kapan adik-adik akan kembali, Bu?” Tanya Laura. Kerinduan pada adik-adiknya tidak terobati karena mereka tidak ada di panti.

__ADS_1


“Besok sore, nak.”


Ibu Maria menghela nafasnya. Ia lalu menatap ke arah Edward.


“Nak Edward, Terimakasih untuk semua yang kamu lakukan untuk panti ini. Ibu sangat bersyukur sekali. Akhirnya ada orang baik yang mau merenovasi tempat ini.”


Edward tersenyum tipis. Baginya ini hanya hal kecil. Bahkan uang yang terpakai tidak seberapa menurutnya.


“Bu, sudah aku katakan, ibu cukup mendoakan ku saja, agar aku tetap sehat. Jadi aku bisa tetap bekerja, dan membantu orang-orang di sekitarku.”


Laura menoleh ke arah pria dewasa itu. Sungguh ia tidak tau harus bagaimana sekarang. Edward kembali memberinya bantuan, hal ini tentu membuat dirinya semakin terikat dengan pria itu.


“Ed..” ucap gadis itu lirih. Namun Edward masih sanggup mendengarnya.


“Kenapa?” Pria itu bertanya dengan alis yang terangkat.


“Terimakasih—,” Laura menghela nafasnya pelan. “Terimkasih banyak untuk semua yang kamu berikan padaku dan keluargaku.”


Edward mendekatkan wajahnya ke samping wajah Laura.


“Berterimakasih lah dengan cara yang benar, baby.” Bisik pria itu.


Laura mencebikan bibirnya. Ia lalu memukul lengan pria yang berada di sampingnya.


“Bu, putrimu menyiksaku.” Adu Edward kepada ibu Maria.


“Tidak boleh seperti itu, nak.” Bela ibu Maria.


Setelah puas berbincang, Laura membantu bibi Lily menyiapkan makan siang, sementara Edward dan ibu Maria memantau para pekerja yang menata kembali barang-barang para penghuni panti.


Edward merasa puas dengan hasil kerja para bawahannya. Untuk sementara mungkin ini sudah cukup, ia akan melihat kedepannya lagi. Mungkin ada hal lain yang perlu di perbaiki lagi, tanpa menghancurkan bangunan sebelumnya.


Setelah makan siang, mereka kembali membantu para pekerja merapikan barang-barang.


“Hallo, Fel. Ada apa?” Tanya Edward setelah ponsel menempel di telinganya.


“Ed, kamu sedang di panti? Jika ia, bisakah kamu pulang sebentar? Ada hal penting. Aku tidak bisa berbicara lewat telpon.” Suara Felisha terdengar sendu.


Kedua alis pria itu berkerut, hampir menyatu. Ia tau dari nada suara Felisha, sesuatu pasti telah terjadi.


“Baiklah, aku akan segera kesana.”


Edward memutuskan panggilan, dan menyimpan kembali ponselnya.


“Baby, aku ada urusan sebentar. Tidak apa-apa kan jika aku tinggal?” Ucap pria itu mendekat ke arah Laura.


“Apa ada masalah?”


“Aku tidak tau, tetapi Felisha tadi menghubungiku, mungkin Devano sedang merajuk.” Ucap pria itu.


“Baiklah, hati-hati dijalan.”


“Apa kamu mau ikut?” Tanya pria itu lagi.


Laura menggeleng, ia belum siap bertemu dengan keluarga Edward. Ia belum mau di usir dari kehidupan pria itu.


Bukan karena takut hidup susah, tetapi karena ia sudah nyaman bersama Edward.


“Ya sudah, aku akan kembali secepatnya, jika tidak hari ini, besok aku akan menjemputmu.”


Pria itu melabuhkan sebuah kecupan di kening Laura sebagai tanda perpisahan.


******

__ADS_1


Mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, Edward tiba di rumah sang mama sekitar 15 menit setelah meninggalkan panti.


Dengan langkah lebar, ia memasuki rumah mewah itu.


Seorang asisten rumah membukakan pintu untuknya. Tanpa basa-basi pria itu langsung memasuki rumahnya.


“Ada apa Fel?” Ucapnya setelah mendapati saudari kembarnya di ruang keluarga.


“Ed.” Felisha memeluk sejenak sang kakak. Lalu mengajaknya duduk.


“Apa Devano merajuk?” Tanya pria itu.


“Tidak, dia sedang tidur siang.”


Felisha nampak berpikir sejenak, entah bagaimana caranya ia menyampaikan keinginan sang mama kepada Edward.


“Ed, itu ma—,”


“Akhirnya kamu datang juga, Ed. Baru saja mama mau mengunjungi kamu kesana.”


Nyonya Hugo tiba-tiba datang menyela pembicaraan anak-anaknya.


“Ma.” Edward memeluk sang mama sebentar, lalu menuntun wanita paruh baya itu duduk di sampingnya.


“Ada apa masalah apa, ma?” Kini Edward tau, ada hal yang terjadi di antara mama dan juga adiknya.


“Mama langsung saja, mama mau kamu menikah secepatnya. Usia kamu sudah semakin tua. Mama juga mau punya cucu dari kamu.” Ucap nyonya Hugo tanpa basa-basi.


“Mama ingin mengenalkan kamu dengan anak dari teman mama, dia anak yang cantik, berpendidikan, pekerja keras. Mama yakin dia cocok dengan kamu.” Wanita paruh baya itu melanjutkan ucapannya.


Edward tersentak mendengar ucapan sang mama. Tiada angin, tiada hujan sang mama tiba-tiba ingin mengenalkannya dengan seorang gadis. Kenapa harus sekarang? Di saat dia telah memiliki pilihan, dan tidak mungkin memilih yang lain.


“Ma, aku sudah punya kekasih.” Jawab Edward tegas. Tanda ia menolak keinginan sang mama.


“Itu terserah kamu, yang jelas mama akan tetap mengenalkan kamu dengan gadis pilihan mama.”


.


.


.


T. B. C


—————


Konflik dikit ya Genks.


Nguji seberapa besar cinta papa Edward sama Baby Laura 😅😅


Percayalah Genks, konfliknya tidak seberat beban hidupku.. 😝😝


————


Jangan lupa ritualnya Genks


Like


Komen


Vote


Gift

__ADS_1


TerimaGaji ❤️❤️❤️


__ADS_2