
Keesokan harinya, Laura masih berusaha mendekatkan diri dengan Devano. Di pagi hari ia mengantar anak itu ke sekolah, dan di siang hari menjemputnya.
Felisha membiarkan saja, ia juga ingin putranya dekat dengan Laura, dan tidak menganggap Laura orang lain.
Kabar datang bulan Laura, membuat sedikit kecewa di hati nyonya Hugo dan Felisha. Mereka sangat berharap, wanita muda itu cepat hamil.
“Pi, kita ajak Devano jalan-jalan sebentar ya?” Laura menatap penuh harap pada sang suami.
“Kemana?”
“Ke taman saja sebentar.” Ucap Laura.
Edward menyetujui permintaan sang istri. Tiba di depan sekolah sang putra, mereka masih harus menunggu selama beberapa menit.
Mereka sengaja datang lebih dulu, agar Devano tidak menunggu.
Sekitar 20 menit menunggu akhirnya anak itu keluar dari pintu gerbang sekolah. Laura menghampiri Devano, dan mengambil alih tas yang bocah itu bawa.
“Kamu mau ikut mami dan papa ke taman?” Laura bertanya saat berjalan menuju mobil.
“Apa aku boleh jajan di taman, mami?” Tanya anak itu dengan tatapan penuh harap.
“Tentu.” Jawab Laura.
“Ayo.. aku sudah lama sekali tidak ke taman dan membeli cemilan disana.” Seru Devano dengan girang.
“Ayo papi, kita ke taman.” Laura berucap setelah ia dan Devano berada di dalam mobil. Dengan posisi, anak itu duduk di kursi belakang.
“Mami kenapa memanggil papi? Biasanya mama memanggil papa?” Bocah itu tiba-tiba bertanya.
“Karena mama sudah memanggil papa, jadi mami memanggil papi.” Jelas Laura.
Dan Devano hanya menggangguk paham.
“Apa kita jadi ke taman?” Edward menyela.
“Jadi papi. Ayo.”
Edward pun melajukan mobilnya ke arah taman yang ada di daerah itu.
Karena jam pulang sekolah Devano pukul 2 siang, jadi situasi taman tidaklah terlalu ramai. Meski di siang hari, tempat itu tidak terlalu panas. Banyak pohon perindang di sekitarnya.
Setelah tiba di taman, Laura mengajak Devano duduk di salah satu bangku taman, di bawah pohon yang sangat meneduhkan.
Kepala bocah 8 tahun itu, memindai ke seluruh penjuru taman. Hingga akhirnya ia menemukan apa yang diinginkan.
“Mami.. aku mau itu.” Tangannya terulur menunjuk pedagang telur gulung.
“Sebentar, kita tunggu papa. Apa boleh kamu makan itu atau tidak?”
Tak berselang lama, Edward pun mendekat ke arah mereka.
“Parkir dimana, pi?” Tanya sang istri.
“Itu, di bawah pohon.” Edward menunjuk mobilnya yang berteduh di bawah pohon.
__ADS_1
“Kasihan kalau parkir di pinggir jalan. Nanti catnya rusak.” Lanjut pria itu lagi.
Laura menganga mendengar ucapan suaminya. Ternyata bocah tua itu, selain sombong, iya juga perhitungan.
“Papa? Aku boleh membeli telur gulung itu?” Devano bertanya pada sang papa, ia sudah tidak sabar ingin menikmati lezatnya jajanan itu.
“Boleh.. tetapi tidak boleh lebih dari 5.”
“Yey.. ayo mami, antar aku kesana.” Devano menarik tangan Laura. Sementara Edward mendudukkan dirinya di atas bangku taman.
Tidak hanya membeli jajanan saja. Laura juga mengajak Devano membeli beberapa minuman kekinian dan tradisional yang ada di sana.
Keluarga kecil itu, asyik bercengkerama di atas bangku taman. Sesekali mereka nampak saling menyuapi satu sama lain.
Tidak akan ada yang menyangka jika Laura baru berusia 21 tahun, karena perawakannya yang tinggi semampai.
Tak jauh dari sana, seseorang mengamati interaksi mereka bertiga.
Damian, yang hendak menepi di pinggir taman, tanpa sengaja melihat ketiga orang itu.
Samar-samar ia mendengar, anak kecil itu memanggil papa kepada Edward, dan memanggil mami kepada Laura.
Pria itu mencebikan bibirnya. Beberapa hari yang lalu, Felisha mengatakan jika wanita itu saudarinya. Ternyata wanita itu istri Edward.
“Tadinya aku berencana menghancurkan mu melalui Felisha. Tetapi, sekarang rencana ku berpindah haluan. Istri dan anakmu.”
Damian menyeringai licik.
“Kamu membuatku kehilangan wanita yang aku cintai dan juga anakku. Maka kamu juga harus merasakan hal yang sama, Edward Hugo.”
******
Puas menikmati udara taman, Edward membawa anak dan istrinya kembali pulang. Waktu pun telah beranjak sore. Sudah saatnya bagi anak-anak untuk mandi.
Dengan tawa riang, Devano memasuki rumah sambil menggandeng tangan sang mami.
Edward yang mengikuti mereka dari belakang, tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Ia membayangkan, jika suatu hari nanti Laura akan menggandeng tangan anak kandung mereka. Pasti akan lebih membahagiakan.
Sampai di dalam rumah, mereka telah di sambut oleh Felisha. Ia sangat senang melihat putranya bisa akrab dengan Laura. Tidak seperti saat hari pernikahan Edward dan Laura, anak itu murung sendiri.
“Ayo Dev, kita mandi dulu.”
“Ayo, mama.” Devano meraih jemari sang mama. Berjalan beriringan menaiki tangga. Namun anak itu kembali menoleh kebelakang.
“Mami, aku mandi dulu ya, nanti kita main lagi, aku tidak akan lama.” Serunya kepada Laura yang masih berdiri di tengah ruangan.
“Iya, sayang.”
“Sayang untukku mana?” Tiba-tiba Edward meraih pinggang Laura, membuatnya menempel pada tubuh kekar pria itu.
Laura tersentak. Ini di ruangan terbuka. Bagaimana jika ada asisten rumah yang melihat mereka?
“Papi, lepaskan. Nanti ada yang melihat.” Laura meronta melepaskan belitan tangan sang suami.
__ADS_1
“Kita pasangan sah. Tidak ada masalah jika melakukan ini.” Edward semakin mengeratkan pelukannya.
“Ini di ruang terbuka, papi.”
“Kalau begitu, ayo kita ke ruangan tertutup.”
Edward memanggul tubuh istrinya bak membawa karung beras.
“Astaga, papi. Dimana-mana, suami menggendong istrinya di depan, bukan begini.” Laura menggerutu di balik punggung Edward.
“Aku belum pernah menikah, baby. Makanya aku tidak tau, bagaimana para suami menggendong istrinya.”
Sebuah pukulan ia daratkan di atas bo*kong sang istri.
“Papi, aku masih datang bulan. Jangan macam-macam.” Seru Laura saat tubuhnya terlempar di atas tempat tidur.
“Aku tidak macam-macam Laura. Aku hanya ada satu macam. Dan aku hanya mau satu hal.”
Setelah mengucapkan hal itu, Edward menarik kaos yang istrinya kenakan, meloloskan dari kepala wanita itu.
Pria dewasa itu tersenyum licik saat mendapati dua benda kesukaan para balita itu. Dengan cepat ia menarik penghalang yang tersisa.
“Aku tidak mau macam-macam, sayang. Aku hanya ingin mengulang masa balitaku.”
Kemudian, Edward melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Sementara itu di lantai satu rumah mewah itu, Devano yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, sibuk kesana kemari mencari sang mami.
Bukankah dia sudah mengatakan akan mengajak wanita itu bermain lagi? Kenapa maminya tidak ada disana?
“Mencari apa, Dev?” Tanya sang nenek yang kebetulan baru turun dari kamarnya.
“Aku mencari mami, nek. Kami sudah janjian mau main. Tetapi mami malah tidak ada. Sudah aku cari kesana kesini, tidak ketemu.” Bocah itu mendengus kesal.
Nyonya Hugo menggeleng. Ia tau dimana menantunya berada saat ini.
“Ed, Ed.. tidakkah kamu memiliki rasa kasihan pada anak kecil yang ingin bermain bersama istrimu.”
.
.
.
T. B. C
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
__ADS_1
Terimakasih banyak ❤️❤️