
Edward tengah serius berkutat dengan tumpukan berkas-berkas yang harus ia tanda tangani.
Setelah tadi melakukan pertemuan dengan salah satu rekan kerjanya, kini pria dewasa itu kembali di sibukkan dengan memeriksa laporan-laporan dari bawahannya.
Saat sedang serius seperti itu, ketampanan dan karisma suami dari Laura Anastasia itu semakin terlihat.
Wajar saja, jika ada seorang wanita yang rela menunggunya hingga belasan tahun. Namun pria itu tidak pernah tau.
“Bos.”
Sang asisten yang kini berubah status menjadi kakak ipar, karena sang istri menganggapnya kakak, datang memasuki ruangan kerjanya. Seperti biasa, pria minim akhlak itu masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Jo, aku mau kamu mencari tau tentang wanita yang menabrak istriku di bandara.”
Edward memberi perintah tanpa menoleh kepada sang asisten.
“Dia Teresha Hadi, bos.”
Ucapan Johan membuat Edward menghentikan pekerjaannya. Manik mata pria itu menatap nyalang ke asistennya.
“Apa maksudmu?”
Johan kemudian menunjukkan ponselnya, yang terdapat gambar wanita yang menabrak sang nona di bandara.
Ia sudah memprediksi semua ini, sang atasan pasti akan meminta informasi tentang wanita itu, karena ia melihat Edward tidak menyukai wanita dewasa itu.
“Beberapa waktu lalu, saat penyelidikan tentang Damian, orang ku juga mencari tau tentang Teresha Hadi. Dan ini orangnya.”
Mata Edward membulat sempurna, tangan pria itu tiba-tiba mengepal di atas meja.
Apa maksudnya semua ini? Kenapa wanita itu tiba-tiba ada di sekitar Edward dan Laura? Apa wanita itu sengaja?
“Apa sebelumnya kalian pernah bertemu?” Johan bertanya. Karena menurut informasi, wanita itu tinggal di negara yang Edward kunjungi.
“Ya. Dan itu di restoran hotel.” Pria itu menggeram. Pantas saja ia selalu merasa tidak nyaman saat melihat wanita itu.
“Dan dia berkenalan dengan istriku.”
Johan mendudukkan dirinya di sebarang Edward. Ia menumpangkan kedua sikunya di atas meja.
“Apa yang akan kita lakukan, bos?”
Edward menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia nampak berpikir sejenak.
“Apa anak buahmu masih mengikuti pergerakan istriku?”
Johan mengangguk.
“Tetapi, dia tidak ikut kalian bulan madu.” Candanya.
Edward mencebikan bibirnya. Ia melempar bolpoin ke arah sang asisten.
“Apa dia bisa ilmu bela diri?”
“Tentu saja, bos. Bahkan dia membawa senjata api kemana-mana.”
Johan tidak habis pikir dengan pertanyaan sang atasan. Yang namanya seorang penguntit profesional pasti memiliki ilmu bela diri.
“Minta dia tetap mengikuti kemana pun istriku pergi. Aku akan membayar dua kali lipat. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Apalagi, Damian juga ada di sekitar kami.”
Entah kenapa sedari awal, Edward merasa jika wanita yang mengaku bernama Tere itu, memiliki niat tidak baik. Ia bahkan tidak mengijinkan sang istri memberikan nomor ponselnya kepada wanita itu.
__ADS_1
“Apa bos takut, Teresha melukai nona?”
“Ya.. aku merasa ada kejanggalan di sini, Jo. Wanita itu sudah pasti tau tentang aku. Setelah pertemuan kami di restoran hotel, mungkin saja dia memiliki niat lain kepadaku atau kepada Laura.” Jelas Edward panjang lebar.
“Bos, menurutku, sebaiknya bos mengatakan yang sebenarnya kepada nona. Kalian sekarang sudah menikah. Apapun harus kalian bicarakan berdua. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman dulu, dan bos baru bercerita.”
Johan memberikan petuah kepada sang atasan. Ia bagaikan pria yang telah berpengalaman dalam berumah tangga.
Edward memikirkan rangkaian kalimat yang keluar dari bibir asistennya itu. Ada benarnya apa yang di ucapkan oleh sang asisten.
Sebelum nanti sesuatu hal yang tidak diinginkan, apalagi mereka sampai bertengkar hanya karena wanita yang tidak jelas.
“Kamu benar, Jo. Aku akan mengatakannya pada Laura. Sebelum wanita itu lebih dulu mendekati istriku.”
Johan pun hanya manggut-manggut tanda setuju.
“Oh ya, akhir pekan nanti aku akan melamar Monica untukmu. Kamu jangan khawatir, aku juga akan membawa mama dan Felisha ikut bersama.”
“Benarkah, bos?” Tanya Johan tak percaya.
“Iya. Dan satu lagi. Setelah menikah, kalian tinggal di depan rumahku.”
Johan menelan ludahnya kasar, membayangkan tinggal di kawasan elite itu.
“Tetapi, bos. Uangku tidak cukup untuk membayar cicilan rumah itu.”
Edward mencebikan bibirnya, ia kemudian membuka laci meja kerjanya.
“Sudah lunas.”
Sebuah map mendarat di depan Johan. Tangannya tiba-tiba di guncang gempa berkekuatan besar.
Matanya tiba-tiba berair, saat membaca deretan kata yang tersusun rapi di atas kertas, di dalam map itu.
“Ini akan menjadi milikmu nanti, setelah menikahi Monica.” Ia kembali menyimpan map itu kedalam laci dan menguncinya.
Johan tidak bisa menahan rasa harunya. Ia pun menangis di depan sang atasan.
“Jangan cengeng, Johan Purnomo. Ingat usiamu sudah tidak muda lagi. Atau aku jual kembali rumah itu?”
“Jangan, bos.” Johan pun menghapus air mata yang membasahi pipinya.
******
Malam harinya, setelah selesai makan malam. Edward mengajak sang istri bercengkerama di balkon kamar mereka.
Ada hal penting yang ingin pria itu sampaikan kepada istrinya.
“Silahkan, pi.” Laura meletakan cangkir berisi teh hijau di depan suaminya.
“Terima kasih, sayang. Kemarilah.” Edward meraih tangan sang istri. Membuat wanita muda itu duduk di pangkuannya.
“Pi, tempatnya masih luas. Aku duduk di samping papi saja.” Laura hendak turun, namun kedua tangan kekar pria itu, dengan sigap membelenggunya.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan.”
“Apa?”
Karena posisi duduk Laura yang menyamping ke kiri, memudahkan untuk Edward menenggelamkan wajahnya di dada sang istri.
“Tentang wanita yang menabrakmu di bandara.”
__ADS_1
Laura mengusap mahkota indah suaminya. Meski Edward seorang pria, namun ia memiliki rambut yang sangat halus.
“Ada apa, pi?”
“Jauhi wanita itu.”
Kedua alis Laura hampir menyatu, mendengar ucapan dari suaminya.
“Kenapa?”
“Karena dia bukan wanita baik.”
Laura menghela nafasnya pelan.
“Bisakah papi menjelaskan padaku. Aku tidak mengerti. Apa papi mengenal wanita itu sebelumnya?”
Deg..
Edward tersentak. Entah kenapa sulit baginya untuk mengucap nama wanita itu. Wanita yang telah tega membuang anaknya sendiri. Demi bisa lepas dari pria yang tidak ia cintai.
“Dia Teresha Hadi.” Ucap Edward singkat.
“Maksud papi? Dia ibunya Leo?” Laura masih mengingat cerita Edward tentang asal usul adiknya.
“Iya. Dan aku tidak tau, kenapa dia bisa ada di sekitar kita sekarang. Aku mau, kamu menghindarinya, jika bertemu lagi.”
Edward mendongak menatap manik mata sang istri, yang juga kini menatapnya.
“Kamu mau kan?”
Laura tidak menjawab. Ia masih mencerna semua ini. Semuanya begitu kebetulan atau memang di sengaja.
Sebelum menikah, ia bertemu dengan Damian, dan setelah menikah, ia bertemu dengan Teresha. Apa dua orang itu bersekongkol?
“Baby, sayang?”
“Apa yang papi takutkan? Kenapa memintaku menghindar?”
“Baby, kamu tau kan, wanita itu terobsesi padaku sampai tega membuang anaknya sendiri, supaya terlepas dari Damian?”
Laura menganggukkan kepalanya. Ia masih ingat cerita itu.
“Aku takut, dia akan menyakitimu. Setelah dia tau kamu adalah istriku. Jadi aku mohon, jauhi dia. Sebelum semuanya terjadi.”
“Apa papi masih berharap dia masih mencintai papi?”
“Aku tidak pernah berharap orang lain mencintaiku. Cukup kamu. Aku tidak perduli dengan yang lain.”
Edward merubah posisi duduk sang istri, menjadi menghadap padanya.
“Aku memberitahumu semua ini, karena aku tidak mau, terjadi kesalahpahaman diantara kita kedepannya. Wanita itu bisa saja melakukan hal-hal di luar nalar, demi bisa dekat denganku. Kamu mengertikan maksudku, sayang?”
Laura mengangguk. Ia juga tidak mau hal itu terjadi. Ia tidak pernah bisa membayangkan jika Edward bersama wanita lain.
‘Tidak akan pernah.’
.
.
.
__ADS_1
T. B. C