TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 49. Mantan Lagi!


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Hubungan Laura dan Edward kembali seperti biasa. Laura berusaha melupakan kejadian di hari minggu itu. Meski hatinya merasa sangat bersalah.


Perbuatan dosanya dengan Edward, tidak hanya membuat ia merasa bersalah kepada mendiang orang tua dan juga keluarganya.


Tetapi kini rasa bersalah itu bertambah, kepada orang-orang yang ia anggap anak dan juga istri Edward.


“Baby, aku merindukanmu.” Sepasang tangan kekar begitu saja memeluk pinggangnya dari belakang, saat ia tengah memilih pakaian untuk di kenakan Edward ke kantor.


“Kita selalu bersama, Ed. Bagaimana bisa kamu merindukan aku?” Gadis itu tetap fokus memilih dan memadukan kemeja dan dasi mana yang terlihat cocok.


“Iya, tetapi aku rindu menghabisi mu, baby.” Pria itu menumpangkan kepalanya di ceruk leher gadis itu.


Laura mencebikan bibirnya. Ia sadar, itu sudah menjadi keharusan. Mengingat banyaknya uang yang pria itu berikan padanya.


“Jangan sekarang, Ed.” Gadis itu melepaskan belitan tangan pria itu.


Ia lalu membantu Edward memakai pakaiannya.


“Kenapa, baby? Lagipula kamu kuliah siang, hari ini kan?”


“Hum.” Laura masih tetap fokus memasang satu persatu kancing kemeja pria itu.


“Tetapi kamu harus ke kantor, Ed.” Tangan gadis itu dengan cepat menyambar dasi dan memasangkan pada leher Edward.


“Aku bosnya, baby. Jadi aku—,”


“Karena kamu bosnya, maka dari itu kamu harus memberi contoh yang baik kepada bawahanmu.” Laura memotong ucapan Edward. Ia mengambil parfum, lalu memberikan pada Edward.


Pria itu pun menyemprotkan ke beberapa titik tubuhnya.


“Ayo kita sarapan.” Ajak gadis itu pada Edward.


“Baby, nanti malam kita makan di luar saja.”


Laura membalik badannya. Meneliti pria dewasa yang kini tersenyum padanya.


“Aku tidak mau.” Ucapnya seketika.


“Kenapa?” Alis Edward berkerut.


“Untuk apa makan di luar, jika kita tidak memilih makanan apa yang akan kita makan.?” Laura menyilangkan kedua tangannya di depan da*danya.


“Jadi kamu ingin memilih makanan yang akan kita makan?” Tanya pria itu sambil mendekat ke arah Laura.


Gadis itu menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, nanti malam kamu yang memilih menu makan malam kita.” Pria itu mengecup kening Laura dengan sayang.


‘Aku mencintaimu, Laura’


Laura memejamkan matanya.


‘Tolong jangan biarkan aku jatuh cinta padanya, Tuhan.’


******


Waktu berlalu dengan cepat, seperti yang di ucapkan Edward tadi pagi. Kini mereka telah berada di perjalanan untuk makan malam.


“Kamu mau kita makan dimana, baby?” Tanya pria yang kini sedang memegang kemudi.


“Tempatnya terserah padamu saja, Ed. Aku tidak tau dimana tempat makan yang enak.” Jawab gadis itu. Ia terlihat sangat anggun dengan gaun malam berwarna maroon.


Edward menyunggingkan bibirnya.


“Baiklah.”


Mobil yang mereka kendarai berjalan dengan kecepatan sedang. Arus lalu lintas malam ini, sedikit padat. Mungkin karena beberapa orang baru pulang kerja.


Hampir 25 menit berkendara, mobil mewah Edward tiba di salah satu restoran bintang lima di pusat kota.

__ADS_1


Edward nampak turun terlebih dulu, ia lantas membukakan pintu mobil untuk Laura.


Pria itu mengulurkan tangan kanannya, dan di sambut hangat oleh Laura.


Mereka berdua nampak serasi, dengan warna pakaian yang sama. Edward juga mengenakan jas dan celana bahan berwarna Maroon.


Jika orang lain melihat, mereka akan tampak seperti sepasang kekasih atau suami istri. Tinggi tubuh Laura yang semampai, di tambah ia menggunakan sepatu hak tinggi, tidak menunjukkan jika dia baru berusia 21 tahun.


“Selamat datang, Tuan dan nyonya.” Seorang pramusaji menyapa mereka di pintu masuk.


“Tolong sebuah ruangan VIP .” Ucap Edward.


“Mari, Tuan dan nyonya. Ikut saya.”


Pramusaji itu mengantar tamunya ke salah satu ruangan VIP yang masih kosong.


“Silahkan masuk, Tuan dan nyonya.” Pramusaji wanita itu membukakan pintu ruangan itu.


Edward menuntun Laura memasuki ruangan itu. Pria itu bahkan menarikan kursi untuk gadis itu.


“Silahkan menunya, Tuan, Nyonya.” Pramusaji itu memberikan masing-masing menu kepada tamunya.


“Terimakasih mbak.” Ucap Laura tulus.


“Pilihlah, baby. Aku akan memakan apapun yang kamu pesan.” Edward menutup buku menu di hadapannya. Sungguh ia tidak suka memilih-milih makanan terlalu lama.


“Mbak, aku pesan yang ini satu, ini satu dan yang ini dua.” Gadis itu menunjuk beberapa nama makanan pada buku menu itu.


“Minumannya satu botol Red Wine, dengan dua gelas.” Laura pun menyerahkan kembali buku menu itu kepada pramusaji.


“Baiklah, nyonya. Mohon di tunggu pesanannya. Saya permisi dulu.”


“Terimkasih, mbak.”


“Ternyata kamu nakal juga, baby.” Edward menyunggingkan bibirnya.


“Memangnya kenapa?” Tanya gadis itu sambil menaikan alisnya.


“Oh ayo lah, Ed. Aku memesan steak, tentu kita harus meminum anggur setelahnya.” Bela gadis itu.


Selang beberapa saat, pramusaji yang tadi kembali datang membawa makanan yang Laura pesan.


Mereka menikmati hidangan dengan damai. Sesekali Edward menyuapi gadis itu dengan makanan yang di pesan untuknya.


Acara makan malam itu di akhiri dengan meminum anggur merah pesanan Laura.


“Ah, aku kenyang sekali.” Gadis itu menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia mengusap perutnya yang penuh dengan makanan.


Edward mendekatkan kursinya pada kursi yang di tempati oleh Laura. Ia ikut mengelus perut gadis itu.


“Apa anak papa sudah kenyang.” Ucapnya terkekeh.


Gadis itu secara serta merta menoleh ke arah Edward.


‘Papa? Jangan harap aku mengandung anakmu’


Setelah perutnya dirasa sudah nyaman, mereka memutuskan untuk kembali pulang. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Hampir 2 jam lebih mereka ada disana.


Edward membukakan pintu untuk Laura. Setelah berada di depan pintu ruangan VIP, pria itu pergi ke kasir untuk membayar tagihan.


“Baby, tunggu disini. Aku akan ke kasir dulu.”


Laura menganggukkan kepalanya. Ia berdiri sambil meneliti setiap penjuru restoran mewah itu.


“Lala..” sebuah suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.


“Kak Arga.” Gumam gadis itu nyaris tak terdengar.


“Sedang apa kamu disini, La?” Pria itu meneliti penampilan gadis itu.

__ADS_1


“Tentu saja untuk makan malam, memang apalagi?” Laura membalikkan pertanyaan.


“Hmm.” Rendra atau yang di panggil kak Arga oleh Laura itu, menganggukkan kepalanya.


“Dilihat dari penampilanmu, sepertinya kamu—,” ucapan pria itu terjeda.


“Baby,.” Terdengar seruan dari belakang Laura. Pria dewasa dengan setelan pakaian formal warna senada dengan Laura, tiba-tiba merengkuh pinggang gadis itu.


“Maaf membuatmu menunggu lama, baby. Aku tadi ke toilet sebentar.” Pria itu mengecup pipi Laura.


“Siapa sebenarnya dia, La?” Ucap Rendra menyela adegan manis yang memanasinya.


“Oh, ada orang rupanya. Aku pikir patung.” Ucap Edward mengejek.


“Kamu..” Rendra maju kedepan ingin memukul pria dewasa itu.


“Kak Arga, stop.” Cegah Laura. Ia tidak mau terjadi keributan lagi. Apalagi sekarang mereka berada di restoran mewah.


“Kamu begitu membelanya. Berapa uang yang telah di berikan kepada mu, La?” Tanya pria berusia 27 tahun itu.


Deg..


Yang di ucapkan Rendra memang benar, Edward telah memberinya banyak uang, bahkan hidup mewah.


Tetapi kenapa terdengar seperti sebuah penghinaan untuk Laura?


Bugh…


Satu pukulan mendarat di rahang Rendra. Tubuhnya sedikit terhuyung menerima serangan mendadak itu.


“Jaga ucapanmu, anak muda. Berani kamu menghina kekasihku lagi, aku pastikan tamat riwayatmu.” Setelah mengatakan itu, Edward menyeret tangan Laura keluar dari restoran itu.


.


.


.


T. B. C


————


Anggap ini sebagai selingan dulu ya, genks.. sebelum nanti ada kejutan 🤭🤭


Cover di ganti oleh Platform ya, Genks. Semoga tidak pangling 😅


Terimakasih atas dukungannya teman Readers.


Jangan lupa selalu


Like


Komen


Vote atau Gift


I LOVE YOU TILL THE END


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Btw.. sambil nunggu Laura dan Edward up, kalian bisa mampir ke novel teman aku.


Judulnya :


- AKIBAT KENAKALAN REMAJA ( END )


- DERITA PENGGANTI ( ON GOING )


Keduanya karya Author VHAUNA

__ADS_1


Terimakasih 🤗🤗


__ADS_2