
Laura memutuskan bolos kuliah dan ikut dengan suaminya. Entahlah, perasaan wanita muda itu tidak bisa di gambarkan lagi setelah mendengar ucapan panjang lebar sang suami di atas panggung seminar.
Senyuman terus saja terkembang di wajah cantik wanita berusia 21 tahun itu. Ia benar-benar merasa beruntung bertemu dengan Edward di kehidupan ini.
Sikapnya yang pasrah saat pria itu memintanya menjadi teman tidur, ternyata membuat Laura berakhir bagaikan menjadi ratu yang sangat di manjakan oleh rajanya.
“Awas nanti bibirmu kram karena terus tersenyum.” Edward melirik sekilas ke arah sang istri. Senyum itu pun menular kepadanya.
“Kamu memang gadis nakal, beraninya bolos kuliah.” Imbuh pria itu lagi.
“Lagi pula aku bolos bersama pemilik kampus, mana ada yang berani memarahi ku?” Wanita muda itu tergelak. Ia sudah seperti wanita genit yang tidak bisa jauh dari suaminya.
“Ikut aku menemui klien, setelah itu kita makan siang, kemudian kita check in.” Edward mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.
Mendengar kata check in membuat tubuh gadis itu meremang. Bisa di bayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Mengingat suaminya memiliki na*su yang berlebih saat merasainya.
Johan yang telah menunggu sang atasan di tempat mereka janjian, menganga melihat pria itu datang dengan membawa istrinya.
Kekasih dari Monica Gunawan itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dahinya seketika mengerut. Bukannya ini masih jam belajar wanit itu? Kenapa sudah berkeliaran disini?
“Selamat pagi, bos, nona?” Johan sedikit membungkukan badannya, tanda memberi hormat.
“Pagi, kak Jo.” Balas Laura dengan senyum manis yang ia miliki.
“Apa hari ini nona tidak ada kuliah?”
“Aku bolos, kak.” Jawab wanita itu tanpa dosa.
Johan kembali menganga, ia tak habis pikir. Entah siapa disini yang terlalu menjadi budak cinta. Hingga rela membolos kuliah supaya bisa bersama.
“Baiklah, mari bos, nona. Kita tunggu klien disana.” Johan mengajak pasangan suami istri itu menuju meja yang telah di pesan.
Karena masih pukul 10 pagi, jadi mereka hanya memesan teh hijau dan sepotong kue.
Menunggu hampir 10 menit, suara ketukan sepatu beradu dengan lantai terdengar mendekat ke arah meja yang mereka tempati.
Johan menoleh ke depan, sementara sepasang suami istri itu masih sibuk dengan dunia mereka berdua. Mengobrol saling berbisik. Tanpa memperdulikan sekitar.
Johan tiba-tiba berdiri, membuat sepasang suami istri di depannya, menoleh ke belakang. Terlihat dua orang berdiri di belakang mereka. Johan mendekat, menyapa kedua orang itu.
Hal itu membuat Edward mengerti, jika mereka adalah klien yang ditunggu. Pria itu pun ikut menyapa, namun tangannya urung terulur ketika melihat salah satu dari dua orang itu.
“Selamat pagi, pak Edward. Saya dari Aditama Corp. Dan ini asisten saya, Teresha.”
Mendengar nama Teresha, membuat Laura ikut berdiri dan menoleh ke arah lawan bicara suaminya. Dan benar saja, wanita pemilik nama itu, adalah wanita yang sama yang pernah ia temui.
“Selamat pagi, pak Edward.” Teresha menjulurkan tangannya, namun Edward enggan menyambutnya. Melihat itu, Johan pun menggantikan sang atasan menjabat tangan wanita itu.
“Mari silahkan duduk, pak Adi.” Johan mempersilahkan.
Edward dan Laura mengikuti, namun Laura menggeser sedikit kursinya supaya lebih dekat dengan kursi sang suami.
“Maaf, kami datang terlambat. Ada insiden kecil tadi di jalan.” Ucap pria yang bernama Aditama itu.
__ADS_1
“Tidak masalah, pak. Kami juga baru sepuluh menit disini.” Sahut Johan.
Teresha mengamati, ia kemudian bersuara.
“Oh, hai Laura. Apa kabar?”
Laura yang di sebut namanya, mendongak. Menatap wanita yang kini juga menatapnya.
Dengan senyum manis yang ia punya, istri Edward itu menjawab pertanyaan wanita yang sampai sekarang mungkin mengharapkan suaminya.
“Hai, mbak Tere. Aku baik. Wah tidak menyangka ya, kita bertemu lagi. Ternyata dunia sangat sempit.”
Edward menatap sang istri. Ia mencoba menerka, apa yang ingin istrinya lakukan.
“Kamu mengenalnya, Te?” Tanya sang atasan.
“Ya, dia adalah istri pak Edward, pak. Bukan begitu, pak Edward?” Teresha berbicara dengan menekankan kata pak Edward.
Pak Aditama menatap Edward, pria itu pun mengangguk sebagai jawaban. Edward memang tidak terlalu banyak bicara dengan klien yang baru ia temui. Apalagi, wanita yang bersama kliennya itu, membuat ia tidak nyaman.
“Wah, ternyata pak Edward sudah menikah. Saya pikir masih lajang, dari profil di internet—,”
“Aku tidak pernah mengumumkan statusku di internet.” Sela Edward dengan cepat.
Johan melihat suasana akan berubah panas, jika terus membahas masalah pribadi. Ia pun berinisiatif memulai pembahasan masalah pekerjaan.
Pembicaraan pun berlanjut dengan membahas masalah pekerjaan. Aditama, pria berdarah pribumi dari sang ibu, berniat mendirikan sebuah rumah sakit bertarap internasional di ibukota.
Sesekali Teresha mencuri pandang ke arah Edward yang tengah serius berbicara dengan atasannya.
Laura yang duduk di dekat sang suami, melihat apa yang wanita itu lakukan. Ia pun memutar otak, mencari sebuah ide. Edward miliknya. Jangan harap wanita lain bisa menggeser tempatnya di hati dan hidup pria itu.
Wanita muda itu menyeringai. Ia menemukan sebuah ide yang bisa di bilang cukup gila. Dengan berani, Laura menurunkan tangan kirinya, dan mendaratkan di atas paha sang suami. Dan memberi sedikit elusan.
Edward menoleh sekilas ke arah sang istri. Kemudian kembali fokus ke lawan bicaranya.
Ketiga pria di meja itu tampak serius dalam pembahasannya. Teresha ikut mendengarkan, sebagai asisten, ia harus sigap dalam mendampingi atasannya.
Hening seketika menyapa, saat Johan memperlihatkan gambaran tentang rumah sakit yang di inginkan sang klien. Hal itu Laura gunakan untuk memanasi hati Teresha.
Wanita muda itu menyeruput teh hijaunya. Kemudian berpura-pura memejamkan mata. Seolah minuman itu terasa aneh. Ia pun mendekat dan berbisik di telinga sang suami.
“Pi, coba deh. Kenapa rasanya aneh?” Laura menyodorkan cangkir di depannya kepada sang suami. Edward menurut, meraih benda keramik itu, kemudian menyeruput isinya.
“Rasanya seperti biasa, baby. Tidak ada yang salah.”
“Benarkah?”
“Kamu minum punyaku saja. Biar itu aku yang minum.” Edward menyodorkan cangkir miliknya kehadapan sang istri.
Hal itu tak luput dari pandangan Teresha dan Laura pun tau itu. Batin wanita berusia 21 tahun itu bersorak sorai. Meski wanita di hadapannya ini, kemungkinan adalah ibu dari adiknya, Leo. Namun Laura tidak akan membiarkan wanita itu mengusik rumah tangganya.
“Kalian romanitis sekali ya?” Celetuk pak Aditama setelah selesai melihat gambar yang di tunjukan oleh asisten Edward.
__ADS_1
Johan ikut melihat ke arah sang atasan dan istrinya.
‘Dasar bucin. Tidak tau malu, bermesraan di depan umum.’ Umpat batin dari kakak angkat Laura Anastasia itu.
Namun begitu, ia adalah salah satu orang yang ikut bahagia melihat Edward bahagia bersama wanita yang di cintai. Johan tau, bagaimana selama 8 tahun ini Edward menderita di rundung rasa bersalah atas kepergian David. Kehadiran Laura dalam hidup Edward adalah sebuah obat yang paling mujarab.
Mereka kembali memabahas masalah rumah sakit, tiba-tiba Laura meminta ijin pada suaminya untuk ke toilet.
Tiga menit berlalu, Teresha juga ikut permisi ke toilet.
Laura tau, wanita itu pasti akan menyusulnya. Ia pun berlama-lama di tempat buang air itu.
“Aku tau, mbak pasti sengaja mengikutiku.” Tukas Laura saat wanita itu melewatinya di depan cermin tempat mencuci tangan.
“Apa maksudmu?” Teresha menghentikan langkahnya.
“Aku tau tentang mbak Tere. Suamiku juga tau. Jadi, jangan berpura-pura.”
“Jadi kamu tau? Kalau begitu aku tidak perlu berpura-pura lagi.” Wanita itu membalikkan ucapan Laura.
“Coba saja jika mbak berani. Tetapi, setelah itu jangan harap mbak bisa bertemu dengan anak mbak.” Laura berucap santai, ia menarik tissue yang menggulung, kemudian mengelap tangannya.
“Apa maksudmu?”
Laura membuang tissue yang sudah tak terbentuk itu ke dalam tempat sampah. Kemudian ia mencebikan bibirnya.
“Sudah aku katakan, aku dan suamiku tau tentang mu. Jangan macam-macam dengan melirik pria yang sudah beristri, atau kamu tidak akan pernah bertemu dengan putramu.”
Laura melipat kedua tangannya di dada, ia tak lagi berbicara sopan.
Teresha mematung ditempatnya. Ia teringat dengan perkataan pria paruh baya di panti asuhan. Laura adalah anak pemilik panti.
Laura berjalan menuju pintu, namun ia kembali merotasi kan tubuhnya ke arah wanita dewasa itu.
“Aku hidup bersama putra mu selama 16 tahun. Dia pasti akan lebih percaya padaku, daripada dengan orang asing sepertimu.”
Setelah itu Laura benar-benar keluar dari dalam toilet itu.
.
.
.
T. B. C
Jangan lupa
Like, Komen, Vote dan Gift
Terimakasih banyak
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1