TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 116. Ayo Lakukan Test DNA!


__ADS_3

Sehari sebelum akhir pekan, Damian datang menyambangi panti asuhan. Ia ingin menemui Leo, rasa rindu telah menumpuk di hati pria dewasa itu.


Beberapa hari ini ia terlalu sibuk mengurusi pekerjaan kantornya, sehingga tidak ada waktu untuk berkunjung ke panti.


Dengan membawa banyak barang sebagai buah tangan, Damian melangkahkan kakinya di halaman panti asuhan Angel Heart.


Seorang pria berbadan tegap, menghadang langkah Damian, sontak membuat pria itu menatap tak suka.


“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Tanya pria berseragam serba hitam itu. Ia sekedar basa-basi, karena Edward telah memberi perintah supaya ia waspada dengan orang yang bernama Damian. Pria tegap itu juga sudah menghafal wajah Damian, dari foto yang di kirim Johan padanya.


“Aku datang membawa hadiah untuk anak-anak, namaku Damian. Ibu Maria sudah mengenalku dengan baik.” Jawabnya ketus.


“Pak Damian?” Pak Toto mendekat ke arah mereka berdua.


“Gas, beliau donatur disini.” Pak Toto memberitahu kepada pria tegap itu, ia bernama Bagas.


Bagas pun mengangguk, dan mempersilahkan Damian untuk melewatinya. Namun pandangan mata elang pria tegap itu tetap tertuju pada Damian.


“Dia siapa, pak?” Damian bertanya saat berjalan menuju ruang tamu panti.


“Dia petugas keamanan disini, pak. Pak Edward mempekerjakannya karena akhir-akhir ini terjadi kejahatan di sekitar sini.” Pak Toto menjawab, sesuai alasan yang Edward lontarkan saat mengirim Bagas ke panti.


Namun hal itu tidak begitu saja di percaya oleh Damian, ia merasa Edward sengaja mengirim orang untuk mengawasi dirinya.


‘Rupanya kamu bertindak lebih cepat, Edward Hugo. Apa itu artinya kamu sudah tau tentang aku dan Leo?’


Damian sampai di ruang tamu, disana sudah ada ibu Maria yang tengah membaca beberapa dukomen.


“Bu.” Sapanya kepada wanita paruh baya itu.


Ibu Maria menoleh, kemudian menutup buku yang ia baca. Menyimpannya di atas meja. Kemudian mempersilahkan tamunya duduk.


“Ini ada sedikit hadiah untuk anak-anak, Bu. Maaf, aku baru sempat berkunjung. Pekerjaanku akhir-akhir ini banyak sekali.” Tanpa di minta, pria itu menjelaskan kepada ibu Maria.


“Tidak apa-apa, nak Damian. Anak-anak pasti mengerti. Terima kasih banyak untuk hadiahnya.” Ibu Maria menerima beberapa tas kain yang Damian serahkan. Wanita paruh baya itu, tidak pernah menolak pemberian orang, karena itu untuk anak-anak.


“Bu, apa ibu sudah bicara dengan Edward dan Laura tentang aku dan Leo?”


“Sudah, nak. Bahkan Laura sudah memberitahu Leo, jika mereka bukan saudara kandung.”


Mendengar ucapan ibu Maria, mendadak hati Damian di selimuti rasa bahagia. Itu artinya ada kemungkinan Leo memang benar putranya.


“Jadi Leo memang bukan anak pemilik panti ini?” Tanyanya dengan mata berbinar.


Ibu Maria mengangguk.


“Apa nak Damian akan melakukan tes DNA dengan Leo?”


“Apa boleh aku berbicara dengan Leo, Bu? Aku hanya akan melakukan tes itu, jika Leo mengijinkan.”

__ADS_1


“Tentu, Leo sedang mengajari adik-adiknya di ruang belajar. Tetapi, ibu harap nak Damian berbicara pelan-pelan dengan Leo. Dia belum bisa menerima semua ini.”


Damian mengangguk. Ia akan berbicara pelan-pelan dengan remaja itu. Hatinya sudah sangat bahagia mengetahui jika Leo bukanlah anak pemilik panti.


Damian meninggalkan ibu Maria, kemudian bergegas ke ruang belajar, dimana kini Leo tengah mengajari adik-adiknya.


Dari ambang pintu, pria berusia 35 tahun itu mengamati gerak-gerik Leo. Ada rasa yang tak bisa ia lukiskan, melihat remaja itu begitu mirip dengan dirinya waktu masih muda.


“Kamu memang putraku. Aku yakin itu.”


Pergerakan Damian juga tak luput dari pantauan Bagas. Sebagai bahan berita yang akan Bagas kirimkan kepada atasannya, Edward.


Hampir sepuluh menit menyaksikan interaksi Leo dan adik-adiknya, Damian perlahan mendekat. Ia ikut mengambil tempat di depan Leo.


Mendengus kesal, Leo menyudahi kegiatan belajar adik-adiknya. Dan sepuluh orang bocah berusia 8 tahun itu pun, pergi meninggalkan ruangan itu. Kini yang tertinggal hanya Leo dan Damian disana.


Hening.


Tak satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Keduanya berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.


“Bisa kita bicara, nak?” Damian pada akhirnya membuka suara.


Leo mengangguk, ia pun mengambil tempat di sebelah pria dewasa itu.


“Mau bicara apa, pak? Apa bapak mau bilang jika bapak adalah ayah kandungku?”


Damian tersentak. Tadinya ia ingin bicara pelan-pelan dengan Leo. Tetapi tanpa ia dapat perkirakan, remaja itu lebih dulu mengatakannya.


“Bapak tidak perlu berpura-pura, aku tau bapak kesini karena ingin mencari tau, apa aku anak bapak atau bukan.” Leo berbicara tanpa menatap lawannya. Ia sandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dan menatap dinding di depannya.


“Nak, aku—.”


“Ayo kita lakukan tes DNA, aku ingin tau apa aku benar anak bapak atau bukan. Lebih cepat, lebih baik kan? Aku ingin tau, sebenarnya aku anak siapa? Walau aku berharap, aku adalah anak kandung ayah dan ibu.” Kepala remaja itu pun mulai menunduk. Ia meremat jemari tangan atas pangkuannya.


“Kamu tidak keberatan jika kita melakukan tes DNA?”


Leo menggeleng. Ia memang ingin tau, siap sebenarny orang tua kandungnya. Meski sang kakak telah mengungkapkan yang sebenarnya, tetapi hatinya masih menolak.


“Apa kakak mu akan mengijinkannya?”


“Aku tidak perlu meminta persetujuan dari kakak. Aku hanya ingin tau, aku ini anak siapa.”


Damian mengangguk, ia tidak akan bertanya lagi. Ini kesempatan bagus yang tidak boleh di sia-sia kan.


“Baiklah, besok ikut aku ke rumah sakit. Kita lakukan tes DNA.”


Leo terdiam. Pikirannya masih berkecamuk. Jika ia memang terbukti anak Damian, ia baru akan bertanya kenapa dulu ia di buang, dan sekarang baru di cari lagi. Untuk saat ini, ia ingin menyimpan pertanyaan itu di benaknya.


‘Ayah, ibu. Aku akan melakukan tes DNA dengan orang yang mengaku sebagai orang tua kandungku. Apapun hasilnya nanti, aku akan tetap disini untuk kalian.’

__ADS_1


****


Edward memasuki rumahnya dengan terburu-buru. Setelah tadi di kantor ia menghubungi Laura dan tak kunjung di jawab. Pria itu memutuskan pulang lebih awal.


Ia sudah menghubungi asisten rumah, kata Bu dewa, yang menjawab panggilan telepon, Laura tidak turun dari kamar sejak pulang kuliah. Hal itu semakin membuat Edward panik.


“Sayang.” Teriaknya saat masuk ke dalam kamar. Namun tak menemukan istrinya disana. Ia mencari ke balkon, ruang ganti dan kamar mandi. Namun tak juga menemukan keberadaan wanita muda itu.


“LAURA ANASTASIA!” Suara bariton menggelegar di lantai dua rumah mewah itu.


Para asisten rumah yang berada di lantai satu pun tersentak mendengar teriakan sang taun rumah.


“Ada apa, pi?” Sang empunya nama yang di cari Edward sedari tadi muncul dari dalam ruang kerja.


“Sial. Bagaimana aku bisa sebodoh ini.” Pria itu bergumam kecil. Kemudian mendekat ke arah sang istri, meraih tubuh semampai itu, kemudian mendekapnya.


“Kenapa berteriak?” Tanya Laura sambil mengurai pelukan.


“Aku takut kamu pergi lagi.” Seperti memiliki rasa trauma, Edward terbayang saat dimana wanita itu meninggalkannya beberapa waktu lalu.


“Kamu tidak menjawab panggilan ku, kata asisten rumah kamu tidak turun sejak pulang kuliah. Aku mencarimu di setiap sudut kamar, namun tidak ada.” Edward kembali meraih tubuh istrinya.


“Ponsel tertinggal di kamar. Tugas kuliahku banyak, jadi aku ingin mengerjakannya dulu. Supaya nanti malam, kita bisa punya banyak waktu berdua.” Laura mengusap lembut punggung suaminya.


“Jangan berteriak seperti itu, aku takut.”


“Maafkan aku. Aku hanya takut kamu pergi.”


Mereka pun berjalan ke kamar dengan saling merangkul.


“Sayang?”


“Ya?”


Edward menuntun istrinya duduk di atas tempat tidur.


“Menurut laporan dari Bagas, Leo ingin melakukan tes DNA dengan Damian.”


Dengan pelan, kepala Laura menoleh ke arah suaminya. Menatap tak percaya, dengan apa yang di sampaikan oleh suaminya itu.


“Percayalah. Apapun hasilnya, Leo tetap adik kamu.”


Edward meraih pundak istrinya, membawa ke dalam dekapannya. Seketika tangis wanita muda pecah. Sungguh ia belum sanggup menerima kenyataan, jika Leo bukan adik kandungnya. Meski Laura sudah tau yang sebenarnya.


.


.


.

__ADS_1


T. B. C


Terimakasih banyak untuk Readers yang tetap bertahan sampai sekarang.. tanpa dukungan kalian, aku ingin berhenti saja 🥲🥲


__ADS_2