TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 71. Apa Terjadi Sesuatu Disana?


__ADS_3

Mendengar suara sang pujaan hati, membuat segala amarah yang menggerogoti dirinya, menguap seketika.


Edward tidak ingin menyakiti siapapun. Baik sang mama, maupun Laura, adalah dua orang wanita yang ia cintai.


Pria itu tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka. Jika sebelumnya, ia mengira akan sulit meminta restu dari sang adik, ternyata sekarang sebaliknya. Meminta restu kepada sang mama ternyata lebih sulit.


Ia teringat akan gadisnya yang pernah mengalami penolakan, dan Edward sudah pernah berjanji, tidak akan ada penolakan di kemudian hari untuk Laura.


Tetapi kenyataannya sekarang, sang mama menolak kekasihnya sebelum bertemu. Sungguh Edward merasa berada di persimpangan jalan.


“Hallo, Ed? Kamu mendengarkan aku?” Suara Laura kembali terdengar.


“Baby, aku merindukanmu. Kamu sedang apa?”


“Kita baru berpisah beberapa jam, Ed. Kenapa kamu berlebihan sekali?” Gadis itu terdengar terkekeh di akhir ucapannya.


“Apa aku tidak boleh merindukanmu setiap saat?”


“Terserah padamu saja, terimakasih sudah merindukan aku.” Laura menghela nafasnya.


“Kamu sedang apa? Kenapa berbisik seperti ini?” Tanya Laura ketika mendengar suara Edward yang berbisik.


“Aku sedang menemani Devano tidur.” Ucap pria itu pelan.


“Kamu tidak ikut tidur?”


Edward menggeleng, padahal Laura tidak melihatnya.


“Aku tidak bisa tidur. Tidak ada bantal kenyal kesukaanku disini.” Pria itu tergelak.


“Dasar pria tua me*sum.”


“Laura..” Edward menjeda ucapannya, dan menghela nafasnya pelan.


“Aku mencintaimu, Laura. Percayalah padaku, kamu wanita satu-satunya yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku.”


Edward tidak bisa membendung perasaannya, ia ingin meluapkan segala hal yang ada di benaknya.


“Apa terjadi sesuatu disana?” Bukannya menjawab ungkapan hati sang pria, Laura justru balik bertanya.


Deg..


Pria dewasa itu tersentak. Hati gadisnya begitu peka. Hanya mendengar ungkapan itu saja, dia sudah mencurigai sesuatu.


“Tidak ada, baby. Hanya saja, aku ingin selalu mengingatkanmu, jika aku sangat mencintai kamu, dan kamu hanya akan menjadi milikku.” Ucap pria itu untuk mengalihkan rasa penasaran sang gadis.


“Aku tau, aku juga sudah tidak bisa lari dari kamu, tuan Hugo. Kemana pun aku pergi, kamu pasti akan menemukan aku. Jadi tidak ada gunanya aku pergi darimu.” Ucap gadis itu tergelak.


“Maka dari itu, baby. Persiapkan dirimu. Aku ingin mengenalkan mu pada dunia. Jika kamu satu-satunya wanita yang paling aku cintai.”

__ADS_1


“Jangan terlalu berlebihan, tuan Hugo. Bagaimana jika nanti yang terjadi malah sebaliknya? Bukannya mengenalkan ku pada dunia, justru keluarga mu sendiri tidak merestui.”


Deg..


‘Jangan katakan itu, baby. Apapun akan aku lakukan supaya kita bisa bersama.’ Edward hanya mampu mengucapkan itu dalam hatinya.


Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamar itu. Edward buru-buru pamitan pada sang gadis, dengan mengatakan jika Devano terbangun.


Panggilan pun berakhir, Edward meletakan ponselnya di atas nakas. Dan ia berpura-pura memejamkan matanya.


Pintu kamar itu terbuka. Menampakkan Felisha yang berjalan mendekat ke arah ranjang.


Ia melihat dua laki-laki yang ia sayangi sedang tidur dan saling memeluk.


“Ed.. Maafkan aku. Aku tidak bisa membantumu. Entah kenapa, mama menjadi begitu keras kepala.” Ucap Felisha lirih. Ia takut menganggu tidur kedua pria berbeda usia itu.


Perlahan, mama dari Devano itu berjalan keluar meninggalkan kamar itu. Ia membiarkan sang kakak mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya.


Sebagai saudari kembar dari pria itu, Felisha dapat merasakan kegundahan hati yang melanda Edward. Sejak kecil, mereka mempunyai ikatan batin yang begitu kuat.


Setelah pintu kamar tertutup, Edward kembali membuka matanya. Ia mendengar apa yang adiknya ucapkan.


Pria itu juga tidak ingin membebani masalahnya pada sang adik. Ia akan menghadapi masalahnya sendiri.


“Aku akan menikahimu secepatnya, Laura. Dengan atau tanpa restu dari mama. Bila perlu, aku akan membawamu ke Inggris. Kita mulai hidup baru kita disana.”


Sementara itu di panti asuhan, Laura merasa ada yang aneh di balik kata-kata yang di ucapkan oleh Edward.


Gadis itu mencoba menerka-nerka, apa mungkin terjadi sesuatu di rumah mamanya Edward. Mungkin Felisha atau Devano tidak mengijinkan pria itu bersamanya.


“Aku tidak mau berharap terlalu banyak, Ed. Kamu tau kan, aku pernah menerima penolakan di saat aku sudah sangat berharap.” Laura bermonolog. Ia membuka ponselnya, dan melihat foto Edward.


“Kamu itu bagaikan bulan. Tempatmu tinggi di awan. Sedangkan aku, aku hanya seekor punguk, yang tidak akan pernah bisa menggapai mu.”


Gadis itu mengusap wajah tampan di layar ponselnya. Satu-satu foto Edward yang ia punya.


Melihat foto itu, ia jadi teringat akan foto-foto dirinya di dalam ponsel pria itu.


“Aku jadi penasaran, berapa fotoku yang kamu simpan di ponselmu?”


Laura mencebikan bibirnya, bagaimana bisa Edward mempunyai banyak foto dirinya. Dan itu semua di ambil saat setelah gadis itu terlelap.


“Ternyata kamu lebih pintar dari aku, Ed. Aku kira hanya aku yang diam-diam mengambil fotomu.”


Gadis itu mengembungkan kedua pipinya. Memori otaknya kembali ke awal pertemuannya dengan pria dewasa itu.


Satu persatu kenangan itu melintas. Dan menghilang di benaknya.


Waktu berjalan begitu cepat, tanpa ia bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Hingga, pria dewasa itu menjanjikan sebuah pernikahan kepadanya.

__ADS_1


“Aku tidak berharap akan menjadi istrimu, Ed. Menjadi teman tidurmu saja sudah cukup untukku. Kamu sudah terlalu baik padaku. Aku tidak ingin menyusahkan mu terlalu banyak lagi.”


Entah kenapa, sebuah senyuman terukir di wajah gadis itu. Laura merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kini gadis itu tengah berada di kamarnya.


Laura kembali memperhatikan foto pria dewasa itu.


“Tampan sekali, waktu kamu remaja pasti lebih tampan daripada ini. Aku beruntung bisa dekat dengan pria tampan sepertimu. Bisa memelukmu setiap waktu. Aku juga bisa merasakan—.” Gadis itu buru-buru menutup mulutnya. Hampir saja ia mengatakan hal yang tidak pantas di ucapkan.


“Laura Anastasia, apa yang kamu pikirkan? Dasar gadis bodoh.” Ia memukul-mukul bibirnya sendiri.


Gadis itu berguling ke kanan dan ke kiri, di atas peraduannya. Sungguh ia seperti orang yang sudah tidak waras.


“Apa aku sudah jatuh cinta padamu, tuan Hugo?” Ucapnya lagi.


“Arghh… tidak, tidak.. Ingat Laura, kamu tidak boleh jatuh cinta padanya. Nanti kalau kamu tidak mendapat restu dari keluarga pria itu, kamu akan merasakan sakit hati lagi.”


Ia berucap panjang lebar, bertanya sendiri. Menjawab pun sendiri. Mungkin, jika cicak bisa berbicara, ia akan mengatakan jika gadis itu sudah tidak waras.


“Ah.. aku sudah seperti orang yang tidak waras saja.”


Gadis itu meletakan ponselnya di atas meja nakas. Ia lalu memejamkan matanya.


Harapan Laura sebelum tidur selalu sama. Berharap ayah dan ibunya datang ke dalam mimpinya. Memberikan senyuman kepada gadis kecil mereka.


“Aku merindukan kalian, ayah.. ibu..”


.


.


.


T. B. C


————


Terimakasih untuk semua dukungannya. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian 😇


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift.


I LOVE YOU FULL ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2