
Teresha menatap nanar kepergian dua orang berbeda jenis itu. Hatinya senang karena bisa melihat sang pria idaman. Namun di sisi lain, ia merasa kecewa karena pada kenyataannya pria itu telah menikah.
“Jadi dia sudah menikah? Tetapi kenapa tidak ada informasi tentang itu?” Gumamnya masih menatap ke arah pintu masuk restoran, dimana Edward dan Laura telah menghilang.
“Aku menunggunya selama belasan tahun, dan sekarang yang aku tunggu justru sudah punya istri. Sepertinya wanita itu jauh lebih muda darimu, Ed?”
Teresha seperti orang tidak waras berbicara sendirian.
Ia mendapatkan tugas dari kantornya untuk menemui klien di restoran hotel ini. Dan apa yang ia dapatkan? Tak di sangka, sebuah kejutan besar.
“Apa aku harus menerima tawaran dari kantor untuk bekerja di cabang yang ada di negara kita?” Wanita itu mencebikan bibirnya.
“Sepertinya ini memang sudah saatnya aku kembali ke negara itu. Putraku sekarang juga sudah besar. Aku hanya perlu memastikan Damian tidak tau tentang keberadaannya.”
Bukannya Teresha tidak tau tentang keberadaan sang putra, justru ia sangat tau. Bahkan ia menjadi salah satu donatur di panti asuhan itu, tanpa pernah berkunjung sekalipun.
Setiap bulan, wanita berusia 35 tahun itu akan mentransfer sejumlah uang ke rekening panti asuhan Angel Heart sebagai bentuk donasinya.
Sebelum memutuskan tinggal di negara tetangga, Teresha selalu datang memantau dari jauh keadaan sang putra. Ia bahkan melihat proses pembangunan rumah bagi anak yatim itu.
Setelah memastikan anaknya aman di tangan pemilik panti, barulah Teresha memutuskan meninggalkan negaranya. Namun ia memilih tidak terlalu jauh, karena ingin selalu memantau keadaan buah hatinya.
“Mama merindukan mu, nak. Sekarang kamu sudah 16 tahun. Mama akan datang untukmu. Dan juga untuk cintanya mama.”
Teresha menarik dan membuang nafasnya kasar. Ia kemudian melangkah menuju salah satu meja yang telah di pesannya untuk menunggu klien.
*****
“Papi, pelan-pelan.” Laura tidak bisa mengimbangi langkah lebar suaminya, meski ia memiliki tubuh semampai, tetap saja langkahnya kalah dengan langkah pria.
Edward berbalik kemudian menarik tangan sang istri, membawanya masuk ke dalam lift menuju kamar yang mereka tempati.
Sampai di dalam ruangan, pria itu membanting pintu hingga tertutup rapat. Kemudian kembali menarik sang istri dan membawanya ke dalam kamar.
“Papi, ada apa?” Laura memberanikan diri bertanya karena ia merasa ada yang berubah dari sikap sang suami.
“Tidak ada.” Jawabnya singkat. Pria itu melepas simpul dasi yang sedari tadi pagi menjerat lehernya, kemudian membuangnya asal. Tak hanya dasi, jas dan kemeja mahal juga mengalami nasib yang sama. Teronggok tak berdaya di atas lantai beralas karpet bulu.
“Aku menginginkan mu.” Edward mendekat, mengikis jarak di antara mereka berdua. Memberi sebuah kecupan lembut di atas bibir tipis sang istri.
Laura membalasnya, ia tau sang suami sedang dalam keadaan merajuk.
Perlahan mereka bergerak menuju peraduan yang di rancang khusus untuk pasangan yang sedang melakukan bulan madu.
Tidak perduli hiasan apa yang ada di atas ranjang, semuanya berhamburan seiring jatuhnya dua raga berbeda usia.
Edward tidak memberikan kesempatan bagi istrinya untuk menolak. Ia terus menyerang demi meredam emosi yang tiba-tiba menggumpal di dadanya.
Hampir satu jam menghabiskan tenaga, bermandikan peluh dan penuh cinta, pasangan itu pun menyudahi kegiatan mereka.
Seperti biasa Edward akan menelungkupkan tubuh polos sang istri di atas tubuh kekarnya.
“Ada apa, pi?” Laura kembali bertanya dengan nafasnya yang masih memburu. Ia belum mendapatkan jawaban atas perubahan sikap sang suami.
__ADS_1
“Entahlah, baby. Tiba-tiba saja aku merasa tidak nyaman dengan wanita tadi.” Edward berkata jujur, apalagi melihat wanita itu menyodorkan tangan untuk berkenalan dengannya, membuat Edward semakin tidak nyaman.
“Dia dari negara kita, pi. Sudah sewajarnya jika kita bertegur sapa, kan?”
“Aku tau, tetapi aku tidak nyaman saja.”
Laura memaklumi, apalagi selama ini Edward tidak pernah dekat dengan wanita lain, selain Felisha dan mamanya.
Ia merasa beruntung, karena menjadi satu-satunya wanita dari luar yang bisa masuk kedalam hati pria tampan itu.
Laura pun mendongak, menatap wajah suaminya yang masih berhiaskan keringat. Membuat pria itu terlihat semakin tampan.
Ia kemudian mengecup rahang kokoh suaminya, lalu menyesap dengan gemas, sehingga membuat kulit bersih itu, menjadi kemerahan.
“Stempel.” Ucap wanita itu tanpa dosa.
Melihat tingkah istrinya membuat senyuman terbit di wajah pria itu. Sampai kapanpun, Edward tidak akan percaya jika dia bisa seperti itu dengan lawan jenisnya.
“Dasar gadis nakal.” Edward menarik gemas hidung sang istri. Meski tidak mancung, namun alat penciuman Laura itu tidak juga pesek. Ia memiliki hidung kebanyakan orang lokal.
“Aku nakal dengan suamiku. Boleh saja kan?” Sahut wanita muda itu.
“Sangat boleh. Awas saja jika kamu berani nakal dengan pria lain. Aku pastikan kamu tidak akan pernah turun dari tempat tidur.”
Laura menaikan satu alisnya mendengar ultimatum sang suami. Ia bergidik ngeri membayangkan di buat tidak bisa turun dari atas ranjang oleh pria itu.
“Untuk apa aku nakal dengan pria lain? Jika suami sendiri tidak pernah habis untuk aku nakali?”
Edward menyeringai mendengar ucapan sang istri. Ternyata gadis yang baru berusia 21 tahun itu sudah sangat dewasa.
“Papi ingin anak pertama kita perempuan?”
“Apapun.. yang penting kalian sehat dan selamat. Laki-laki dan perempuan sama saja. Mereka akan tetap mendapatkan warisan ku.”
“Aku tau itu, pi. Tetapi— ,”
Belum selesai Laura berucap, Edward sudah menyela.
“Aku tau maksudmu, sayang. Lagi pula, sudah ada Devano. Jika anak pertama kita perempuan, Devano akan menjadi pelindungnya.”
“Bagaimana jika anak pertama kita laki-laki?”
Edward tersenyum. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya kesetaraan gender itu lebih penting.
“Maka dia akan menjadi pelindung untuk adik-adiknya.” Jawab pria itu.
“Jadi papi tidak masalah jika anak pertama kita laki-laki?” Tanya Laura memastikan.
“Apa kamu ingin anak pertama kita laki-laki?”
Laura menjawab dengan anggukkan kepala.
“Aku tidak ingin anakku mengalami nasib seperti aku, yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang kakak laki-laki. Maka dari itu, aku ingin anak pertama kita laki-laki.”
__ADS_1
Edward mendekap tubuh sang istri. Ia mengusap punggung tanpa penghalang itu dengan penuh kasih.
Pria itu berusaha menyelami keinginan istrinya. Ia teringat tempo hari telah marah kepada sang asisten yang di peluk oleh Laura.
Tidak seharusnya Edward marah, ia seharusnya mengerti, sang istri tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak laki-laki.
“Maafkan aku.” Ucapnya sembari mencium pucuk kepala sang istri.
“Maaf untuk apa, pi?” Laura tidak mengerti.
“Maaf karena minggu lalu aku marah pada Johan. Aku tak seharusnya cemburu. Kamu pasti sangat ingin memiliki kakak laki-laki.”
Laura menggeleng.
“Aku yang salah, pi. Tidak seharusnya aku bersikap berlebihan seperti itu.”
“Mulai sekarang, aku mengijinkan kamu dekat dengan Johan. Dengan syarat, kamu ingat batasanmu.”
Laura kembali mendongak, dengan sebuah senyum manis.
“Terima kasih, papi sayang. Percayalah aku hanya menganggap pak Jo seperti saudara. Tidak lebih.” Ia melabuhkan kecupan di pipi suaminya.
“Kamu saja tidak pernah habis untukku, Ed. Bagaimana bisa aku berpaling ke pria lain?”
“Bagaimana jika ada pria yang lebih tampan dari aku?”
“Di mataku hanya kamu yang paling tampan, dan belum tentu juga pria itu mau dengan ku.”
“Lalu, bagaimana jika ada pria yang lebih kaya dariku dan mendekatimu?”
“Aku tidak akan mau. Untuk apa bersama pria yang lebih kaya, jika dia tidak bisa mencintai aku seperti dirimu.”
Mereka pun kembali berpelukan. Menyalurkan cinta yang begitu besar.
“Ayo kita buat anak laki-laki.” Edward kembali membalik posisi. Siap untuk mengeluarkan keringat lebih banyak lagi.
.
.
.
T. B. C
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift.
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk yang masih tetap setia ❤️❤️