TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
ExtraPart. Selamat Datang, Boy.


__ADS_3

Edward yang sedari tadi tenang, karena ia sudah berbekal banyak ilmu dari dokter kandungan dan juga internet, mendadak panik ketika di dalam perjalanan menuju rumah sakit, ketuban sang istri benar-benar pecah.


Rasa tenang yang ia tunjukkan, bukan karena sudah berpengalaman dengan wanita melahirkan. Melainkan karena ia mempelajarinya sendiri. Mempersiapkan segala sesuatu, karena sang istri masih muda, ia takut wanita itu mengalami stres.


Dulu saat Felisha melahirkan, tidak seperti saat ini. Karena sang saudari kembar, melahirkan sebelum waktunya, itu pun dengan proses operasi, bukan melahirkan normal.


“Pak, apa tidak bisa lebih cepat? Ketuban istriku sudah pecah. Aku tidak mau bayinya sampai kehabisan ketuban.”


“Ini sudah cepat, pak.” Jawab sang sopir.


“Pak, pelan-pelan, aku mau melahirkan bayiku dulu. Bukan mau bertemu orang tuaku.” Laura berucap sembari meringis. Bagaimana pun, keselamatan berkendara lebih penting.


“Baby, ketuban mu—.”


“Sudah.. cukup membahas ketuban. Lagi pula baru pecahkan. Kata dokter, kalau baru pecah.. Sstt.. kemungkinan pembukaannya belum sempurna.”


“Aww.” Edward meringis. Sang istri kembali mencengkeram lengannya dengan kuat.


“Sabar, boy. Sebentar lagi kita bertemu.” Pria itu mengusap lembut perut sang istri yang berbalut gaun tidur berbahan sutra.


Setelah dua puluh menit, mobil yang mereka tiba di depan pintu masuk rumah sakit. Seorang suster telah berjaga, sembari membawa kursi roda. Karena, saat perjalanan tadi, sebelum air ketuban Laura pecah, Edward sudah menghubungi pihak rumah sakit, agar menyiapkan ruang bersalin dan kamar VIP untuk sang istri.


Seorang suster lain, hanya mampu menganga ketika sopir dari pemilik rumah sakit itu, menyerahkan sebuah koper berukuran besar kepadanya.


‘Bos, mah bebas ya. Mau melahirkan, sudah seperti akan menginap di hotel saja.’


Tiba di lantai 10 rumah sakit itu, dimana kamar VIP khusus untuk keluarga pemilik rumah sakit berada, dokter kandungan yang selama ini menangani Laura telah berjaga.


“Dok, ketuban istriku sudah pecah.” Ucap Edward begitu memasuki ruang rawat nan mewah itu.


Dokter wanita itu membalas dengan anggukan kepala sembari tersenyum ramah. Ia meminta Laura berbaring di atas ranjang. Dan Edward pun dengan sigap membantu sang istri.


“Dok, apa yang kamu lakukan?” Mata Edward membulat sempurna, kala melihat dokter membuka kedua paha sang istri, kemudian memasukkan tangannya disana.


“Saya sedang mengecek pembukaannya, pak.” Jawab dokter itu dengan tenang.


“Apa harus begitu?”


Dokter itu menjawab dengan anggukan kepala.


“Katanya sudah belajar banyak.” Celetuk sang istri sembari meringis. Entah kenapa, rasa kesal kepada sang suami masih saja ia rasakan.

__ADS_1


“Ya, tidak sampai ke situ, sayang.”


Dokter pun melanjutkan kembali. Laura kembali meringis. Edward pun dengan penuh kasih sayang mendekapnya.


“Sudah pembukaan empat, Bu, pak.”


“Apa anakku akan segera lahir?” Tanya Edward kembali.


“Biasanya, dari pembukaan empat ke pembukaan sepuluh, itu memerlukan waktu hingga enam jam, pak.”


Mata Edward kembali membulat. Bisa ia bayangkan, sang istri kesakitan selama itu. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, itu artinya, Laura akan menahan sakit hingga subuh.


“Apa yang harus kami lakukan supaya pembukaannya lebih cepat, dok?”


Dokter pun menjelaskan beberapa cara untuk mempercepat proses pembukaan terjadi. Edward mendengarkan dengan teliti. Setelah di rasa cukup, dokter pamit, dan meninggalkan seorang suster disana untuk mendampingi pasangan suami istri itu.


****


Empat jam berlalu, tak sedetik pun Laura bisa memejamkan matanya dengan tenang. Sekali merebah, perutnya akan terasa sangat sakit. Sehingga wanita muda itu memutuskan untuk terjaga sepanjang malam.


Sesekali ia berjalan mengitari ruangan, kemudian duduk beberapa saat. Setelah itu kembali mengulang. Dengan sabar, Edward menuntun dan menemani sang istri. Meski ia harus merasakan sakit akibat cengkeraman yang di lakukan Laura pada anggota tubuhnya.


“Istirahat dulu.” Ucap Edward. Ia pun menuntun sang istri ke arah sofa. Kemudian mengambilkan air minum untuk wanita itu.


“Sstt,, sakit, pi.” Entah sudah ke berapa kali kata itu terucap dari bibir istrinya. Jika bisa, Edward ingin sekali menggantikan posisi, biar ia yang merasakan sakit yang Laura rasakan.


Pria dewasa itu melirik jam yang menggantung pada dinding kamar. Waktu kini menunjukan pukul 3 dini hari.


“Sabar sayang, sebentar lagi kita akan bertemu dengan junior.”


Laura memutar matanya malas. “Apa papi benar menamainya junior? Apa tidak ada pilihan nama lain?”


“Tentu sayang. Aku sudah menyiapkan nama yang bagus untuknya.” Edward tidak mau sang istri marah, dalam keadaan seperti ini.


Beberapa saat kemudian mereka kembali berjalan-jalan, baru beberapa langkah Laura merasa ada sesuatu yang sangat basah mengalir pada pangkal pahanya.


“Papi, seperti ada cairan yang keluar?”


“Hah?” Edward tersentak. Ia pun menuntun sang istri ke atas ranjang.


“Tunggu sebentar, aku akan panggilkan dokter.”

__ADS_1


Edward menekan tombol yang langsung terhubung ke ruang dokter.


Tak berselang lama, dokter kandungan dan seorang suster pun masuk ke kamar VIP itu. Dokter kembali memeriksa pembukaan, dan hasilnya sempurna. Laura telah siap untuk melahirkan secara normal.


Suster pun membawa Laura ke ruang bersalin. Edward dengan setia menemani sang istri. Lelah, kantuk, yang menyerang, ia lawan dengan keras, agar bisa tetap mendampingi sang istri.


“Papi.. sakit..” Laura mulai terisak. Ia tidak kuat merasakan sakit yang menyerang perutnya.


“Sabar, sayang. Semuanya akan baik-baik saja.” Edward mengusap lembut kepala sang istri, kemudian melabuhkan kecupan penuh kasih sayang di atas kening wanita itu.


“Aku sangat mencintaimu. Kamu pasti bisa melahirkan putra kita dengan selamat. Setelah itu, kita akan merawatnya bersama. Memberikan cinta dan kasih sayang yang kita miliki.”


“Sakit, pi.” Tangan Laura mencengkeram lengan Edward dengan sangat kuat. Pria itu hanya mampu menggigit bibirnya, menahan sakit yang ia rasakan. Sakit yang ia rasa, tak sesakit apa yang istrinya rasakan, karena itu, Edward membiarkan saja, Laura melakukan apapun pada tubuhnya.


“Sebentar lagi, sayang.”


Dokter pun membimbing Laura. Wanita muda itu berusaha sekuat tenaga mengikuti apa yang dokter ucapkan. Peluh dengan derasnya membasahi dahi. Dengan sigap Edward mengusap air yang keluar dari pori-pori kulit dan juga air mata sang istri.


“Aku mencintaimu, Laura.” Kata cinta tak henti Edward ucapkan untuk memberi semangat pada sang istri.


Hampir dua puluh menit berjuang, akhirnya tangisan bayi pun bergema di ruangan bersalin itu.


Laura pun dapat bernafas lega. Namun ia masih terengah.


“Papi, anak kita.” Ucapnya dengan suara bergetar.


“Iya sayang. Itu tangisan putra kita.”


Setelah di bersihkan, suster meletakan bayi merah itu di atas dada Laura. Melakukan skin to skin contact antara ibu dan sang bayi.


Edward terharu melihat bayi mungil itu, berusaha mengecap permukaan kulit Laura. Tak tahan, ia pun membungkuk, dan melabuhkan kecupan ringan di atas kepala sang putra.


“Selamat datang di dunia, boy. Semoga kamu bisa menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi orang-orang di sekitarmu.”


“Amiin.” Laura mengamini ucapan sang suami.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2