TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 119. Maafkan Mama.


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Damian dan Leo menunggu beberapa saat. Hingga seorang suster memanggil mereka untuk bertemu dokter.


Berbincang sebentar, akhirnya pengambilan sampel pun di lakukan. Dengan menggunakan helaian rambut, darah dan juga air liur, Damian sangat berharap hasilnya sesuai dengan yang ia inginkan.


“Hasilnya akan keluar dua minggu lagi, pak.” Sang dokter menjelaskan.


“Apa tidak bisa lebih cepat, dok?” Sungguh Damian sudah tidak sabar.


“Maaf, pak. Itu sudah waktu yang paling cepat untuk mendapatkan hasil uji DNA.”


Pundak Damian terkulai lemas. Ia harus bersabar menunggu hasil tes itu keluar.


“Baiklah, dok. Kami permisi dulu.” Damian dan Leo menyalami dokter bergantian. Mereka pun keluar dari ruangan dokter, menuju parkiran.


“Nak, apa kamu mau makan siang dengan ku?”


Leo terdiam, ia berpikir sejenak. Tidak ada salahnya untuk menerima ajakan Damian.


“Baiklah.” Jawabnya singkat.


Mereka berdua memasuki mobil. Keheningan kembali tercipta. Sama seperti saat berangkat tadi.


“Hmm, apa aku boleh tau makanan kesukaanmu?” Damian berusaha mencairkan suasana dengan membuka obrolan.


“Aku makan apa saja, pak.” Jawab Leo datar.


‘Kamu persis sekali seperti Teresha.’


Damian mengangguk. Ia kemudian mencari restoran yang menjual makanan Asia.


Ditempat makan, Leo hanya diam dan menurut apa saja yang di pesankan oleh Damian. Remaja itu merasa tidak memiliki getaran apapun di hatinya, yang membuat ia ragu, apakah pria dewasa ini benar adalah ayah kandungnya?


“Nak?”


Leo yang sibuk dengan makanan yang tersaji di depannya, menoleh ke arah Damian yang duduk di depannya.


“Tidak bisakah kita berteman? Sejak awal, kenapa kamu begitu dingin padaku? Sementara kepada orang lain, kamu lebih hangat?”


Leo meletakan alat makannya. Ia meminum sedikit air putih di dalam gelas kaca. Menghela nafas pelan, kemudian berbicara.


“Aku memang seperti ini, karena kita baru saling mengenal. Masih jauh untuk ke tahap yang lebih hangat.”


Pemuda itu kembali mengambil alat makannya, mengisi sendok dengan nasi dan lauk, kemudian menyuapi kedalam mulutnya.


“Lalu Edward? Dengan dia, bukannya kamu juga baru saling mengenal?”


“Dia orang baik, tidak ada maksud tertentu di balik kebaikannya. Kalau bapak, aku tau bapak ada tujuan tertentu datang ke panti.”


Ucapan Leo seakan menusuk ke dalam hati Damian. Pria dewasa itu merasa tersindir.


“Jadi, apa aku juga harus berpura-pura menerima bapak dengan baik?”


Damian tak mampu menjawab. Ia hanya mampu menggeleng kecil.


Mereka pun kembali menikmati makan siangnya dalam diam.


****

__ADS_1


Di panti asuhan, kini juga tengah mempersiapkan makan siang bersama.


Teresha yang tadi hendak pulang, mengurungkan niatnya, dia pun ikut bergabung bersama Felisha disana.


Mama dari Devano, hanya bisa memutar matanya malas. Tidak ada perasaan bahagia bertemu teman masa sekolahnya, justru Felisha merasa jengkel.


“Bibi perhatikan, kamu tidak begitu suka dengan teman sekolahmu itu.” Bibi Lily berbisik, mereka tengah menata makanan di tempat makan prasmanan, sementara Teresha sedang menatap air minum di atas meja makan.


“Dia pengagum berat Ed, bi. Dulu sering sekali merepotkan aku untuk memberi hadiah kepada Ed.”


“Ya ampun. Bagaimana nanti jika Lala tau?” Bibi Lily khawatir dengan Laura.


Aktivitas Felisha pun terhenti seketika. Ia lantas memikirkan ucapan bibi Lily.


“Astaga bibi. Benar juga ya, bagaimana jika Laura tau? Ini ulet keket kenapa juga dia bisa sampai disini?”


“Kata Maria, dia donatur yang selama ini tinggal di luar.”


Felisha menatap tak percaya kepada bibi Lily.


“Tunggu, memangnya sejak kapan dia jadi donatur luar, bi?”


“Sudah lama, mungkin 10 tahun atau lebih.” Jawab bibi Lily seraya mengedikan bahunya, tanda ia tidak tau pasti.


10 tahun lebih? Felisha merasa ada yang aneh disini. Bagaimana bisa Teresha menjadi donatur selama itu?


“Mama.” Devano datang berlari dan menghampiri sang mama. Suara kencang bocah 8 tahun itu, membuat Teresha mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.


‘Tunggu, bukannya itu anak kecil yang minggu lalu bersama Edward dan Laura? Dia memanggil mama kepada Felisha? Anak siapa sebenarnya bocah itu.


“Aku lapar, ma.” Rengek Devano kepada Felisha.


Setelah kepergian bibi Lily, Teresha mendekat ke arah Felisha.


“Apa anak tadi putramu, Fel?” Tanyanya.


“Ya.” Jawab Felisha singkat. Saudari kembar Edward itu sungguh malas berurusan dengan Teresha.


“Jadi kamu lebih dulu menikah daripada Edward?”


“Ya. Edward tidak pernah mempermasalahkan siapapun yang menikah lebih dulu di antara kami, yang terpenting untuknya adalah kebahagiaan kami. Lagi pula, menikah bukan suatu perlombaan, dimana kita saling berebut untuk menjadi yang lebih unggul.”


Teresha mencebik, rupanya Felisha masih sama seperti dulu.


“Sudah hampir dua puluh tahun, kamu masih saja seperti dulu, Fel.”


“Ya, inilah aku. Apa adanya. Aku tidak perlu berpura-pura baik, untuk mendapat simpati orang lain.”


“Fel—,”


Belum sempat Teresha berbicara, rombongan anak-anak panti telah memasuki ruangan makan itu.


Para perkeja panti, dengan sigap memberikan alat makan kepada anak-anak yang sedang berbaris rapi menunggu giliran mengambil hidangan yang telah tersaji di meja prasmanan.


“Nak Felisha, nak Teresha. Mari ikut bergabung.” Ibu Maria menghampiri kedua wanita sebaya itu.


“Mama, ayo. Aku lapar.” Devano kembali merengek.

__ADS_1


“Sabar, Dev. Kita mengantri dulu. Lihat, teman-temanmu juga mengantri.” Felisha menunjuk beberapa anak yang sering bermain dengan Devano.


“Baiklah, ma.” Sahut Devano lesu.


“Hai, boy? Boleh kita berkenalan?” Teresha mendekat ke arah bocah itu sembari menjulurkan tangannya.


Devano mendongak, menatap sang mama meminta persetujuan. Karena sang mama mengajarinya untuk tidak terlalu dekat dengan orang asing.


Felisha mengangguk. Meski ia tidak begitu menyukai Teresha, namun ia tidak mau mengajari putranya untuk tidak sopan.


“Nama ku Devano, tante.” Bocah itu hanya menempelkan ujung tangannya pada tangan Teresha. Hal itu membuat wanita dewasa itu menaikan satu alisnya.


‘Persis seperti ibunya.’


“Aku Teresha, aku teman mama mu.”


Namun Devano tak perduli. Perutnya yang terus memberontak, membuatnya malas berinteraksi dengan orang lain.


“Ma?”


“Iya, ayo kita kesana. Maaf, Te. Aku permisi dulu.” Felisha meninggalkan teman sekolahnya begitu saja.


“Nak Teresha, mari ikut bergabung juga.” Ibu Maria mendekat, menawari tamunya.


“Iya, Bu. Biarkan anak-anak dulu yang mengambil makanan.” Melihat antrean yang masih sedikit panjang, membuat Teresha ingin mencari tau tentang putranya.


“Bu, anak disini paling besar umur berapa?” Sebuah pertanyaan pembuka. Siapa tau bisa berlanjut.


“Disini anak paling besar itu, Leo. Sebelumnya Laura, tetapi dia sudah menikah. Jadi Leo menjadi anak tertua di panti ini.”


“Bukannya Leo juga anak pemilik panti?” Tanyanya berpura-pura tidak tau.


Ibu Maria menggeleng.


“Adi dan Angel hanya memiliki satu anak, yaitu Laura. Leo, anak kedua mereka hasil adopsi.”


Wanita paruh baya itu menghela nafasnya pelan.


“Leo adalah anak pertama yang mereka temukan. Anak itu masih sangat merah ketika Adi menemukannya di depan rumah. Entah di sengaja atau tidak, yang jelas orang yang telah menelantarkan bayi itu, sangat tidak punya hati.”


Deg..


Teresha merasa seperti terhantam batu besar. Mendengar ucapan ibu Maria.


“Tega sekali meninggalkan bayi itu, hanya dengan selimut tipis. Andai Adi terlambat melihatnya, mungkin Leo sudah tiada karena kedinginan.”


Tanpa di minta, air mata menetes di pipi Teresha. Ia ingat betul, dirinya memakaikan selimut bayi tipis kepada sang putra, bukan untuk menyakiti anak itu, melainkan supaya ada orang yang melihatnya. Jika menggunakan selimut tebal, ia takut tidak ada yang menolong bayinya.


“Ibu selalu berharap, Leo tidak akan pernah tau tentang masalalunya. Dia pasti akan sangat sedih. Ibu juga tidak mau, dia sampai membenci orang tuanya.”


’Nak, maafkan mama, mama tidak bermaksud menyakitimu.’


.


.


.

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2