
“Dek?”
Pemuda tanggung itu mendekat ke arah tiga orang yang tengah duduk di atas sofa ruang tamu panti.
Langkahnya begitu pelan. Kakinya seakan di timpa beban berat. Susah untuk bergerak.
“Kak, yang di katakan ibu tadi bohong, kan?” Tanyanya kepada sang kakak. Remaja itu bersimpuh di hadapan wanita yang usianya 5 tahun lebih tua.
“Apa maksud kamu, dek?” Perasaan Laura mulai tidak enak. Apa mungkin sang adik mendengar pembicaraan mereka?
“Ibu bilang aku mirip dengan pak Damian saat masih remaja. Itu bohong kan, kak?” Leo menatap nanar ke arah indra penglihatan sang kakak. Dan manik indah itu mulai mengembun.
Kepala Leo menggeleng. Ia tidak mau mendengar jika dirinya bernasib sama seperti adik-adiknya yang lain, di buang, dan di tinggalkan oleh orang tua kandungnya.
“Kak Ed, jawab?” Pemuda itu beralih menatap sang kakak ipar yang duduk di sebalah kanan Laura. Karena Laura tidak menjawabnya.
“Leo, dengarkan aku. Kita bicara baik-baik.” Edward menggeser tubuhnya, memberikan tempat lapang di antara dirinya dan sang istri, kemudian meminta Leo duduk di antara mereka. Sementara ibu Maria duduk di sofa single.
Laura menghela nafasnya pelan. Ini lah saat-saat yang di nantikan wanita muda itu. Dan ternyata semuanya terjadi sesulit yang ia bayangkan.
“Bicara lah, La. Kamu yang lebih berhak memberitahu adikmu.” Ucap ibu Maria.
Kepala Laura mengangguk pelan. Ia kemudian menatap sang suami. Pria itu memberi anggukan kepala sebagai dukungan.
“Dek.. maafkan kakak. Kakak tidak bermaksud membohongi kamu.” Laura menjeda ucapannya, ia sengaja menunggu reaksi sang adik.
“Katakan saja, kak. Aku akan mendengarkan.”
Laura meraih jemari tangan adiknya. Kemudian menggenggam dengan erat. Ia berusaha mencari kekuatan untuk mengungkapkan kebenaran tentang Leo.
“Dek,. Sebenarnya—,” Laura sungguh tak sanggup untuk berbicara, lidahnya seketika bertulang.
Edward yang melihat istrinya menahan tangis, kemudian berpindah. Pria itu duduk di sisi kiri wanita yang sangat ia cintai itu. Mendekap bahu yang sedikit bergetar menahan tangis.
“Bicaralah pelan-pelan, baby.” Pria itu berbisik. Denga lembut ia mengusap bahu Laura, berusaha memberikan ketenangan.
Laura menarik dan membuang nafasnya dengan pelan.
‘Ayah, ibu. Bantu aku berbicara. Aku tidak sanggup. Sungguh.’
“Dek, sebenarnya.” Laura mengusap air mata yang tanpa permisi menuruni pipinya.
“Sebenarnya, kita bukan saudara kandung.”
__ADS_1
Deg..
Leo tersentak mendengar ucapan sang kakak, kalimat yang selama ini ia takutkan, ternyata menjadi kenyataan.
Kepala pemuda itu menggeleng kencang, ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Laura, namun wanita itu semakin mengeratkan genggamannya.
“Kak, bercandanya tidak lucu.” Indra penglihatan remaja itu pun mulai mengembun.
Laura hanya mampu menggeleng kecil. Ia juga berharap semua ini hanya sebuah lelucon.
“Tetapi itu kenyataannya, dek.”
Dengan berderai air mata, Laura pun menceritakan awal mula sang ayah menemukan Leo.
Remaja itu berusaha menerima, meski dalam hatinya menolak. Beberapa hari lalu, ia sempat memperhatikan wajah Damian, memang benar ia merasa jika mereka memiliki kemiripan. Tetapi Leo berusaha menepisnya.
“Karena kamu lah, ayah mendirikan tempat ini. Ayah tidak mau melihat semakin banyak anak-anak yang terlantar di luar sana.”
“Lepaskan tangan ku, kak.”
“Tidak, kakak tidak akan melepaskan kamu. Kakak tidak mau kamu pergi, dek. Kamu boleh marah, tetapi jangan tinggalkan kakak.” Air mata Laura pun tumpah tanpa bisa di bendung.
Dengan sigap, Edward mengusap pipi sang istri yang telah basah.
“Kamu ingat, kita sudah berjanji di makam ayah dan ibu, tidak akan pernah saling meninggalkan, meski kita bertengkar? Kamu ingat, kita juga sudah berjanji akan menjaga panti ini, sampai kita tua? Kamu boleh marah sama kakak, tetapi kakak mohon, jangan tinggalkan tempat ini. Disini rumah kita, dek.”
“Aku tidak akan pergi, kak.”
Namun Laura tetap tidak mau melepaskan genggamannya.
Hening, tak satupun dari mereka yang bersuara. Ibu Maria pun hanya mampu menangis dalam diamnya.
Ia merupakan saksi hidup dari kisah berdirinya panti asuhan ini. Mengenal kedua orang tua Laura dari sejak remaja, ayah Laura datang meminta bantuan saat hendak mengurus ijin pendirian tempat bagi anak yatim itu.
“Apa pak Damian benar orang tua kandungku?” Leo melontarkan pertanyaan.
“Kakak tidak tau, dek. Tidak ada petunjuk tentang orang tuamu. Bahkan, ayah sempat melaporkan kepada kepala wilayah di sini, tetapi tidak ada yang datang untuk mencarimu.”
“Leo, apa kamu akan meninggalkan kami, jika orang tua kandungmu datang?” Ibu Maria melontarkan pertanyaan.
“Tidak, bu. Rumahku disini. Keluargaku juga ada di sini. Mana mungkin aku meninggalkan kalian.”
“Dek?” Laura menatap tak percaya mendengar jawaban dari remaja yang baru berusia 16 tahun itu.
__ADS_1
Leo menarik satu tangannya, ia gunakan tangan yang terlepas itu untuk menggenggam tangan sang kakak.
“Kak, aku memang belum bisa menerima semua ini. Aku berharap ini hanya sebuah lelucon. Tetapi, jika ini memang kenyataan, aku janji tidak akan pernah meninggalkan tempat ini.”
Dengan mata yang berkaca-kaca, Leo menatap sang kakak.
“Aku di besarkan di tempat ini penuh kasih sayang, tanpa kalian, mungkin aku tidak akan ada sampai saat ini. Jadi, tidak ada alasan untukku meninggalkan tempat ini, sekalipun orang tua kandungku datang menawarkan kemewahan.”
Mendengar rangkaian kalimat yang terucap dari bibir adiknya, seketika membuat Laura menghambur ke dalam dekapan pemuda tanggung itu.
Ia menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan sang adik. Meski bukan saudara kandungnya, tetapi mereka di besarkan bersama. Banyak ikatan yang telah terjalin di antara mereka berdua, melebihi ikatan darah.
“Maafkan kakak, dek. Kakak tidak bermaksud menutupi ini dari kamu. Jika boleh meminta, kakak tidak ingin mengungkapkan semua ini. Kakak ingin selamanya kamu menganggap kita saudara kandung. Tetapi, kedatangan pak Damian membuat kakak takut, kakak takut kamu pergi dari kakak.”
Leo mengusap lembut punggung Laura. Ia juga tidak berharap mendengar kenyataan ini. Bagaimana selama ini ia melihat adik-adiknya yang di tinggalkan oleh orang tua mereka. Dan ternyata ia memiliki nasib yang sama. Bahkan lebih dulu merasakannya.
Edward yang duduk di belakang Laura, ikut mengusap lembut punggung wanita itu. Meski ia tak pernah rela sang istri berdekatan dengan pria lain, namun kali ini egonya mengalah. Bukan waktunya untuk marah ataupun cemburu.
“Ibu sangat berharap, persaudaraan di antara kalian akan tetap seperti ini. Meski kalian terpisah nantinya. Tetaplah menyayangi satu sama lainnya.”
Laura dan Leo mengurai pelukan. Mereka dengan kompak menghampiri ibu Maria, dan bersimpuh di hadapan wanita paruh baya itu.
“Bu, terima kasih telah merawat kami selama ini. Terima kasih, ibu telah merelakan waktu ibu untuk merawat anak-anak di sini.” Laura mengenggam tangan ibu Maria, kemudian mengecupnya.
“Terima kasih juga, karena ibu aku dan adik-adik bisa punya rumah dengan layak. Aku janji, aku akan menjaga tempat ini. Seperti yang di inginkan oleh ayah dan ibu.” Leo pun ikut mengenggam tangan ibu Maria.
“Kemarilah.” Ibu Maria merengkuh kedua bahu anak-anaknya, kemudian mendekap secara bersamaan.
“Ibu menyayangi kalian. Jadilah orang-orang yang selalu penuh kasih sayang, dan takut dengan Tuhan.”
Ibu Maria melepas dekapannya, ia beralih kepada Leo. Berbalik menggenggam jemari remaja itu.
“Jika nanti orang tua mu datang, temui mereka dengan baik. Bagaimanapun juga, karena merekalah kamu ada di dunia ini. Setelah itu, ambil keputusan menurut kata hatimu. Jika kamu memang ingin tetap disini, katakan dengan baik-baik pada orang tua mu.”
Leo mengangguk. Ia mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh ibu Maria.
Mereka bertiga kembali berpelukan. Hal itu membuat Edward ikut merasa terharu. Ia mengusap sudut matanya yang ikut berair.
‘Semoga Damian atau Teresha tidak menyusahkan di kemudian hari.’
.
.
__ADS_1
.
T. B. C