TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 135. Gara-Gara Sarapan.


__ADS_3

Beberapa hari terlewati, kini akhir pekan telah kembali menyapa. Jika biasanya pasangan suami istri itu akan mengunjungi keluarga mereka, namun kali ini, nyonya Hugo, Felisha dan Devano lah yang akan mengunjungi mereka ke kota.


Nyonya Hugo telah mewanti-wanti sang menantu agar mengurangi melakukan perjalanan jauh. Apalagi menggunakan mobil. Kehamilan Laura masih terbilang muda. Minggu ini masuk minggu ke 6.


Sehari sebelum kedatangan sang mama, Felisha dan Devano, Edward sudah memberi ultimatum kepada mereka agar tidak menggunakan minyak wangi yang berlebihan.


Sampai saat ini, Laura masih sensitif terhadap bau minyak wangi yang berlebihan. Pria itu harus rela menyimpan parfum mahalnya di dalam dashboard mobilnya. Yang akan dia gunakan setelah berpamitan dengan sang istri.


Dan saat di rumah seperti ini, Edward harus rela menggunakan minyak wangi yang aromanya tidak terlalu menyengat, bahkan hanya menyemprotkan satu kali saja.


“Mami sedang apa?” Edward memeluk tubuh sang istri dari belakang saat wanita itu sedang berdiri di balkon kamar mereka.


“Hanya menikmati udara segar.” Laura menyandarkan punggungnya pada dada bidang sang suami. Tempat ternyaman untuk bersandar.


“Hari ini, Hugo junior mau makan apa? Biar papi carikan.” Ucapnya sembari mengusap lembut perut sang istri.


Setelah Laura ketahuan hamil, wanita itu belum pernah sekalipun merepotkan dirinya untuk mencari makanan yang diinginkan.


Edward ingat dulu Felisha sering sekali merengek kepada David, ketika menginginkan sesuatu.


“Untuk apa di cari? Jika ingin sesuatu, ibu di bawah bisa membuatkan semuanya.” Jawab Laura sembari ikut mengusap tangan sang suami yang sedang mengusap perutnya.


“Sesekali, minta aku yang membelikan untukmu. Aku juga ingin direpotkan saat kamu hamil. Aku tidak keberatan. Aku juga ingin merasakan pengalaman di masa kehamilan mu.”


Laura tersenyum, ia sedikit menoleh kesamping, dan mengecup rahang kokoh sang suami.


“Terima kasih, tetapi untuk saat ini, Hugo junior belum menginginkan sesuatu yang berat.”


Laura kembali memandang kedepan. Menikmati hangatnya terpaan sinar mentari pagi.


“Ini jam berapa, pi?”


“Jam setengah 7. Ada apa? Kamu sudah lapar? Aku rasa sarapan sudah siap.”


Laura menggeleng kecil.


“Mama tiba jam berapa?”


“Mungkin setelah sarapan mereka akan berangkat.”


“Hmm.” Laura mengangguk kecil.


Edward menyerukan wajahnya di leher sang istri. Menghirup aroma sabun yang tertinggal di kulit wanita itu.


“Aku merindukan mu, sayang.”


Laura tau arti kalimat yang pria itu ucapkan. Ia pun merasakan hal yang sama. Karena sudah seminggu lebih mereka tidak berbagi peluh bersama.


Edward begitu menuruti apa yang dokter sarankan. Pria itu begitu kuat menahan keinginannya, agar tidak menyakiti sang istri dan calon bayi mereka.


“Apa mau nanti malam?”


“Putramu pasti ingin tidur dengan mu.”


“Apa mau sekarang? Kalau mereka masih sarapan disana, kemungkinan 2 jam lagi baru tiba kan?”

__ADS_1


“Kamu belum lapar? Kita sarapan.” Suara Edward mulai terdengar serak. Laura juga dapat merasakan sesuatu yang lain telah terbangun dari tidurnya.


“Nanti saja. Aku belum lapar.” Wanita itu membalik tubuhnya, kemudian melingkarkan kedua tangan pada leher suaminya.


“Tolong, dengan lembut, pi.”


“Selembut yang kamu inginkan, mi.”


Edward kemudian mengangkat tubuh sang istri. Menggendong di depan dada, dengan kedua kaki wanita itu melingkar di pinggangnya.


Pagi itu, di akhir pekan yang sangat hangat. Edward menumpahkan segala kerinduan merasai raga sang istri. Tentu dengan sangat lembut, agar tidak menyakiti calon penerus keluarga Hugo.


*****


“Ini mereka kemana?” Tanya nyonya Hugo yang tak mendapati anak dan menantunya di lantai satu rumah mewah itu.


“Tuan dan nyonya muda, belum turun dari pagi nyonya.” Jawab Bu desa.


“Apa? Mereka belum turun sama sekali?” Ulang nyonya Hugo dengan bola mata yang nyaris melompat keluar.


Asisten rumah yang bekerja di bagian kebersihan itu, hanya mampu mengangguk.


“Astaga.. Edward, apa dia lupa jika istrinya masih hamil muda?” Bukan nyonya Hugo, tetapi Felisha yang bersuara.


Nyonya Hugo bergegas menapaki anak tangga, baru 3 langkah, sang putra sudah turun bersama menantunya.


“Mau kemana, ma?” Tanya Edward.


“Mau membangunkan tuan rumah. Tamu datang, bukannya di sambut. Justru malah asyik berdua.”


Pipi Laura mendadak panas mendengar ucapan sang mertua. Ia hanya mampu menundukkan kepalanya.


“Sayang?” Laura mengusap lembut kepala sang putra.


“Mami, sarapan dulu. Kamu belum sarapan.” Ucap Edward kepada sang istri.


Mata nyonya Hugo kembali membola mendengar kalimat yang di ucapkan sang putra.


“Ed!! Kerlaluan kamu!! Istrimu sedang hamil muda. Di dalam perutnya ada calon anakmu. Beraninya kamu membiarkan dia kelaparan demi memenuhi keinginanmu?”


“Ma, kami hanya sebentar. Lagi pula. Aku yang menawarkan, bukan papi yang minta.” Laura membela sang suami di hadapan mama mertuanya.


“Sudah cukup! Apa yang kalian bahas? Ada anak kecil disini. Sudah ma, istriku harus sarapan. Mama ceramahnya nanti saja.” Edward menuntun sang istri ke arah ruang makan.


“Mami, aku ikut.” Devano menyusul papa dan maminya, kemudian ia ikut sarapan lagi.


“Bu, tolong buatkan teh hijau untuk mama dan mbak Felisha.” Perintah Laura kepada Bu dadu.


Wanita itu menurut kemudian melaksanakan tugasnya.


Sementara itu, di ruang keluarga. Nyonya Hugo duduk sembari memijat pangkal hidungnya. Kepalanya tiba-tiba berdenyut melihat kelakuan anak dan menantunya.


Tak berselang lama, pasangan suami istri itu pun selesai menikmati sarapan terlambat mereka.


Laura meminta Bu dewa menemani Devano di ruangan bermain. Ia tau, mama mertuanya pasti masih akan membahas tentang hal-hal dewasa. Jadi ia berinisiatif mengasingkan sang putra.

__ADS_1


“Dimana Devano?” Tanya Felisha celingukan mencari putranya.


“Dia di ruang bermain, mbak.”


“Bagus. Kamu memang pintar, La. Jadi mama puas mau menceramahi kalian.”


Edward berdecak.


“Ma.. istriku sedang hamil muda. Tidak boleh setres. Jangan memarahinya. Lagi pula, wajar jika kami melakukannya. Kami suami istri.”


“Wajar ya wajar.. tetapi ingat waktu. Berikan istrimu makan dulu. Baru di ajak gelut. Apa kamu tidak kasihan, dia membawa nyawa lain lho dalam perutnya.”


“Ma—.” Belum selesai Edward berucap, Laura sudah menyela. Ia tidak ingin pembahasan ini terlalu berlarut.


“Pi..” Laura mengeleng kecil.


“Aku ingin makan lontong sayur.”


Edward menganga mendengar ucapan sang istri. Ia masih berusaha mencerna ucapan wanita itu. Bukannya mereka baru selesai sarapan?


“Pi?”


“Ed.. kamu dengar istrimu minta lontong sayur. Kamu mau beli dimana, La? Beli yang jauh saja. Suami mu pasti memenuhinya.” Ucap Felisha terkekeh.


“Benar sayang? Kamu mau aku membelikannya?”


Kepala Laura menggeleng.


“Lalu?”


Laura menghela nafasnya pelan. Kemudian menatap sang suami dan mertuanya bergantian.


“Aku mau, papi dan mama yang membuatkan untukku.”


“Apa?“ ucap ketiga anggota keluarga Hugo itu serempak. Tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Laura.


Laura menganggukkan kepalanya.


“Apa kalian tidak mau membuatkan untukku?” Tanyanya dengan nada sendu.


“Tentu sayang. Mama akan membuatkan untukmu.” Nyonya Hugo tersenyum ke arah sang menantu.


“Ed.. ayo kita buatkan yang istrimu minta.”


“Iya, ma.”


Edward dan nyonya Hugo pun bergegas pergi ke dapur.


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


————


Bab santai dulu ya Genks. Mungkin beberapa bab lagi, akan aku tamatin.. 🤗🤗


__ADS_2