
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Dokter mengatakan jika kondisi rahim Teresha baik-baik saja. Namun, mengingat usia Teresha yang tidak lagi muda, kehamilannya nanti cenderung beresiko.
Dokter memberikan tips berhubungan suami istri, meminta Teresha mengatur pola makan, begitu pula Damian, dokter juga menyarankan pria itu untuk menjaga kesehatannya, bagaimana pun juga, dalam program hamil, tidak hanya wanita yang perlu menjaga kesehatannya, namun pria atau suami juga wajib memperhatikan kesehatannya.
Pulang dari rumah sakit. Damian mengajak Teresha ke makam orang tuanya. Ia ingin meminta restu kepada kedua mendiang orang tuanya. Dan Teresha pun mengikuti keinginan Damian.
“Ma, aku datang. Aku tidak sendiri. Teresha datang bersamaku. Aku sudah menemukan Teresha ma.” Damian berujar menatap batu nisan yang bertuliskan nama sang mama. Sebelum wanita yang melahirkannya itu meninggal, ia sempat berpesan agar Damian menemukan kembali Teresha dan meminta maaf kepada wanita itu.
“Ma, seperti yang mama inginkan, Aku sudah meninta maaf padanya ma. Dan kami akan menikah kembali.” Damian menghela nafasnya pelan.
“Ma, selama ini, mama ternyata punya seorang cucu laki-laki. Dia sangat tampan. Mirib sekali dengan ku saat remaja.” Senyum tersungging pada wajah tampan Damian.
Teresha yang sedari duduk di samping Damian, tak mampu berkata apapun. Ternyata selama ini, mantan mama mertuanya menginginkan Damian untuk meminta maaf padanya.
Teresha kembali teringat, bagaimana mama Damian begitu menyayangi dirinya, namun wanita itu seolah menutup mata dan telinganya.
‘Maafkan aku ma, aku tidak bermaksud menyakiti mama dulu.’
Mata Teresha tiba-tiba memanas, ia kini merasa bersalah karena perbuatannya dulu yang selalu mengabaikan perhatian dari mama Damian. Kebenciannya kepada Damian, membuat Teresha juga membenci ibu pria itu, sehingga membuatnya acuh akan kasih sayang yang di berikan oleh ibu mertuanya dulu.
Damian menoleh ke arah Teresha, dengan cepat wanita itu mengusap sudut matanya.
“Kamu mau menyampaikan sesuatu?” Tanya pria itu. Dan Teresha menganggukkan kepalanya.
“Ma.. maafkan aku karena dulu menjadi menantu yang tidak tau diri. Maafkan aku karena tidak mengijinkan mama bertemu dengan cucu mama. Maafkan aku, ma.” Tangis wanita itu pun tumpah, membayangkan dirinya begitu sangat kejam kepada keluarga Damian.
Ia begitu jahat, hingga mengatakan bayi yang ia kandung meninggal saat dilahirkan.
Damian sedikit mendekatkan tubuhnya, kemudian merangkul wanita itu dari samping.
“Sudah, jangan menangis. Semuanya sudah berlalu.” Ia mengusap lembut punggung mantan istrinya itu.
“Maafkan aku, Dam. Aku begitu jahat kepada kalian.” Ucap Teresha di sela tangisannya.
Damian tersenyum, ia senang karena wanita itu kini benar-benar menyadari kesalahannya.
__ADS_1
“Semuanya sudah berlalu, Te. Aku memaafkan mu. Tetapi, aku mohon jangan ulangi lagi. Mari kita perbaiki, dan mulai semuanya dari awal.”
Teresha mengangguk. Hati wanita itu kini telah mantap untuk hidup kembali bersama Damian, bukan hanya demi Leo, tetapi juga untuk menebus kesalahan yang dulu ia perbuat.
‘Ma, aku janji, akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk Damian dan Leo. Sekali lagi maafkan aku, ma. Aku akan menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat pada kalian dulu.’
****
Di sore hari, Edward memutuskan pulang lebih cepat, karena sang istri mengeluh kelelahan. Sejak kembali dari acara jalan-jalan keliling kantor Hugo, wanita itu terus saja memijat kakinya.
Edward hanya mampu membuang nafasnya pelan. Ia sudah memperingatkan wanita itu agar tidak terlalu lelah. Namun, Laura keras kepala, karena terlalu antusias wanita bahkan melewatkan makan siangnya
Ia bahkan mendapatkan beberapa teman baru. Tidak ada yang tau jika Laura adalah istri dari pemilik perusahaan Hugo. Wanita itu mengaku sedang mencari tempat magang.
Hal hasil, wanita itu makan siang di jam 3 sore dengan di suapi oleh sang suami.
“Lain kali tidak boleh ikut ke kantor.” Ucap Edward yang sedang fokus dengan kemudi. Pria itu memang lebih suka menyetir sendiri saat pergi bersama sang istri. Ia ingin memiliki ruang pribadi bersama istrinya.
Laura yang sedang menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, memutar sedikit kepalanya untuk menatap sang suami.
Edward berdecak kesal. Laura banyak berubah setelah ia hamil. Terkadang sangat penurut, tetapi lebih sering keras kepala.
“Kamu keras kepala. Aku sudah memperingati mu jangan terlalu lelah. Tapi kamu bahkan melewatkan jam makan siang mu.”
Laura mengatupkan bibirnya kala sang suami berbicara dengan nada tegas yang tak terbantahkan.
“Itu—
“Kamu mungkin tidak lapar. Tetapi ingat, di dalam perutmu ada calon bayi yang membutuhkan asupan nutrisi agar bisa tumbuh dengan baik.”
Deg!!
Tiba-tiba Laura merasa bersalah, tangannya dengan refleks meraba perutnya.
‘Sayang maafkan, mami nak.’
__ADS_1
“Percuma minta maaf, anakmu belum mengerti apa-apa.”
Mata Laura tiba-tiba memanas. Ia merasa sang suami terlalu keras memarahinya. Wanita itu pun mengusap sudut matanya.
Edward yang melihat dari ekor matanya, hanya mampu membuang nafas pelan. Pria itu kemudian menepikan mobil di pinggir jalan.
“Kemarilah.” Ia membuka sabuk pengaman yang membelit tubuh kekarnya. Kemudian mengulurkan tangan ke arah sang istri.
Laura melakukan hal yang sama, wanita itu membuka sabuk pengamannya, kemudian menghambur ke dalam dekapan sang suami.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memarahimu.” Ucap Edward mengalah. Ia kembali teringat ucapan dokter kandungan. Dimana wanita hamil memiliki perasaan yang sangat sensitif.
Laura mengangguk dalam dekapan sang suami. Ia semakin membenamkan wajahnya pada cerukan leher pria itu. Entah kenapa, aroma minyak wangi yang tersisa bercampur dengan aroma keringat sang suami, membuatnya begitu tenang.
“Pi.”
“Hmm?”
“Aku ingin makan pecel ayam yang di dekat kampus. Boleh?”
Edward lagi-lagi membuang nafasnya dengan pelan. Begitu cepatnya mood wanita hamil itu berubah.
“Sudah lapar lagi?”
Laura mengangguk. Kemudian melepaskan diri dari sang suami.
“Baiklah, nyonya Hugo. Pakai sabuk pengaman mu. Aku akan mengantar kemana pun kamu ingin.”
Edward menyeringai. Ia kemudian kembali melajukan mobil mewahnya. Menuju ke tempat dimana yang telah sang istri sebutkan.
.
.
.
__ADS_1
T. B. C