TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 54. Dia Meninggalkanku, Fel!


__ADS_3

Johan mengikuti langkah sang atasan keluar dari penthouse menuju parkiran.


Ia juga sudah berusaha menghubungi Laura, namun gadis itu tidak menjawabnya. Tidak lupa juga Johan mengabari sang kekasih. Karena kemungkinan, sampai besok Edward ataupun dirinya tidak datang ke kantor.


“Bos, aku ikut.” Serunya saat sang atasan membuka pintu di samping kemudi.


“Gunakan mobil yang lain, Jo. Kita berpencar saja. Hubungi aku jika kamu menemukan dia.” Tanpa menunggu jawaban dari sang asisten, Edward menutup pintu mobilnya. Tak berselang lama, mobil mewah itupun keluar dari parkiran.


“Astaga, nona. Dimana kamu sebenarnya? Kenapa tiba-tiba pergi begini.” Johan berbicara sambil berjalan menuju ke arah mobil yang biasa ia gunakan.


Di dalam perjalanan, di tengah kebimbangan hatinya, Edward melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sang mama. Dimana daerah itu merupakan daerah yang sama dengan panti asuhan milik keluarga Laura.


Ia memutuskan untuk meminta penjelasan kepada Felisha. Apa sebenarnya tujuan wanita itu datang ke penthouse tanpa memberi tahu kepadanya.


Dengan terus berusaha menghubungi Laura, melalui earpone bluetooth yang telah terhubung dengan ponsel mahalnya. Edward melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di rumah sang mama.


“Baby, please.. angkat telponnya.”


Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika Edward tiba di rumah sang mama. Pria itu menggedor dengan keras pintu utama hunian mewah itu.


Salah seorang asisten rumah, dengan perasaan takut membuka pintu utama kediaman majikannya. Ia mengira jika ada tamu tak diundang yang datang malan-malam begini.


“Se-selamat malam, tuan.” Ucap sang asisten rumah dengan terbata.


“Apa mama dan Felisha sudah tidur?” Tanya pria itu saat memasuki rumah.


“Iya tuan.”


“Ya sudah.” Edward berlalu dari ruang tamu, menaiki tangga dan menuju ke kamar yang di tempati Felisha.


Dengan pelan pria itu membuka pintu kamar, agar sang penghuni kecil tidak terganggu.


Mendekati ranjang besar yang terletak di tengah kamar, Edward mengusap lembut kepala Felisha.


“Fel, bangun.” Ucapnya pelan.


Felisha yang memang sangat mudah untuk terbangun, perlahan mengerejapkan matanya.


“Ed..?” Suara wanita itu terdengar serak. Mungkin sudah lama ia tertidur.


“Ada apa?” Tanyanya pelan, agar Devano tidak terbangun.


“Ikut aku keluar. Ada yang ingin aku bicarakan.” Edward berjalan keluar kamar tanpa menunggu Felisha.


Felisha mengikuti langkah Edward keluar dari kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya, namun tidak terlalu rapat.


“Ada apa, Ed?” Tanya Felisha, kini mereka berdiri di balkon lantai dua rumah mewah itu.


“Kamu datang ke penthouse siang ini?” Tanya Edward tanpa basa-basi.


“Apa gadis itu mengadu padamu?” Bukannya menjawab, Felisha malah balik bertanya.


Hening.


Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir pria itu.


“Dia meninggalkanku, Fel.” Ucap Edward lirih.


Setelah menimbang, dan siap untuk semua resiko, mungkin ini saatnya dia berbicara kepada Felisha tentang hubungannya dengan Laura.

__ADS_1


“Maksudmu?”


“Aku yakin kamu pasti sudah tau sesuatu tentang aku dan dia, Fel.” Pandangan Edward menerawang jauh kedepan. Menatap pekatnyan malam.


Hatinya sedang gelisah, membayangkan Laura di luar sana tanpa membawa kartu kredit yang ia berikan.


‘Kamu dimana, baby?’


“Dia bukan asisten mu kan, Ed?” Tanya mama Devano itu.


Edward menoleh ke arah Felisha yang berdiri di sampingnya.


Ia menatap lekat ke dalam manik mata wanita dewasa itu.


“Fel, aku—,” Edward menjeda sejenak ucapannya.


“Untuk pertama kalinya aku telah jatuh cinta, Fel. Dan itu dengan gadis yang berusia 14 tahun lebih muda dariku.” Ucap sendu.


“Kenapa kamu merahasiakannya, hmm?” Tangan Felisha terulur meraup kedua pipi pria tampan itu.


“Aku,. Aku takut kamu tidak mengijinkan aku bersama wanita lain, Fel.”


Jika sebelumnya Edward tidak suka orang lain menundukkan kepala saat berbicara dengannya, kini ia lah yang melakukan hal itu.


“Ed… jadi selama ini kamu berpikir seperti itu, sampai-sampai kamu melajang hingga usiamu 35 tahun?” Tanya Felisha tak percaya.


Edward hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Melihat Edward yang begitu rapuh, Felisha meraih tubuh pria itu dan membawa ke dalam dekapannya.


“Ed, aku tidak pernah punya niat melarangmu. Kamu berhak atas hidupmu sendiri.” Tangan Felisha mengusap punggung Edward.


“Ssstt.. jangan katakan apapun lagi. Kamu hanya membuatku merasa bersalah. Selama 8 tahun lebih ini, aku sudah banyak merepotkan mu.”


“Fel aku menyayangimu, aku sudah berjanji kebahagiaan mu adalah yang utama untukku.” Pria itu mengeratkan pelukannya pada tubuh Felisha.


“Tetapi bukan dengan cara mengorbankan kebahagiaanmu sendiri, kan?” Felisha melepas pelukannya.


“Ayo duduk, ceritakan padaku bagaimana kamu bertemu dengannya.” Felisha menuntun Edward duduk di sofa yang tersedia di balkon itu.


Edward menuruti keinginan Felisha, mungkin malam ini ia akan tidur di rumah sang mama. Dan besok pagi ia akan mencari gadis itu di panti asuhannya.


Pria itu menarik nafasnya dalam. Ia mulai bercerita tentang bagaimana ia bertemu dengan Laura.


Tidak ada hal yang ia sembunyikan dari Felisha, dan tidak ada cerita yang ia ubah.


Felisha mendengar dengan seksama apa yang Edward ceritakan.


“Kurang ajar kamu, Ed. Beraninya kamu meniduri anak gadis orang tanpa menikahinya?” Mata Felisha membulat sempurna mendengar cerita Edward.


“Aku akan menikahinya setelah dia lulus, Fel.” Bela Edward.


“Kenapa lama sekali? Apa kamu tidak takut dia mengandung anakmu?”


“Dia meminum obat pencegah kehamilan.”


“Astaga, Edward Hugo. Kamu sudah berusia 35 tahun. Kenapa kamu seperti remaja belasan tahun?” Felisha memukul bahu pria itu.


“Lalu aku harus apa? Aku hanya takut kamu dan mama tidak mengijinkan aku menikah, jadi aku sengaja menunggu dia lulus. Dengan begitu, aku punya banyak waktu untuk meyakinkan kalian.” Ucap Edward panjang lebar.

__ADS_1


“Ed.. Ed.. darimana kamu dapat pemikiran bodoh itu?”


Felisha menatap lekat pada pria disampingnya. Ia tidak habis pikir, jika Edward memiliki pemikiran seperti itu tentangnya. Bagaimana mungkin ia melarang Edward untuk menikah? Sementara ia sendiri sudah menikah dan punya anak?


“Ed, maafkan aku. Aku memang sengaja datang ke penthouse untuk menemui gadis itu.” Felisha menghela nafasnya kasar.


Edward menoleh ke arah Felisha. Kini giliran dia yang harus mendengarkan apa yang akan di katakan wanita itu.


“Saat kamu berkuda dengan Devano, aku tanpa sengaja melihat ponselmu di atas meja bar. Tanpa sengaja juga, layar ponsel itu menyala. Aku melihat ada pesan dari Johan.”


“Pesan dari Johan?” Gumam Edward yang masih di dengar Felisha.


Felisha menganggukkan kepalanya.


“Johan mengirim foto dua orang gadis, yang sedang bercengkerama diruang tamu penthouse mu.”


Felisha menceritakan apa yang ia temukan di aplikasi pesan dan apa yang ia lakukan kepada pesan yang Johan kirimkan.


“Hah.. dari situ aku penasaran dengan siapa sebenarnya gadis yang bernama Laura itu.”


“Fel—,”


“Maafkan aku, karena kedatanganku kesana, dia jadi pergi meninggalkan mu. Sungguh aku tidak ada berkata apapun atau menyinggungnya sehingga dia sakit hati. Aku hanya ingin tau, apa dia gadis baik-baik, atau hanya sekedar mencari kemewahan.” Sambungnya lagi.


“Aku tidak tau, mungkin dia menyimpulkan jika aku ini istrimu. Karena dia memanggilku dengan nyonya Hugo. Padahal aku sudah mengatakan jika namaku Felisha Darmawan.”


Edward meraih tubuh Felisha dan mendekapnya.


“Kamu tidak perlu minta maaf, aku tau kamu selalu ingin yang terbaik untukku.”


.


.


.


T. B. C


———


Ayo yang vote, yang vote, yang vote..


Bolehlah yang punya lebih, kasih aku satu 😁


Di kasih banyak juga, dengan senang hati aku terima.. 🤗🤗


———-////\\———


Terimakasih untuk dukungannya teman Readers.. 🙏🙏


Jang lupa


Like


Komen


Vote dan Gift


I LOVE YOU TILL THE END

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2