
Waktu berlalu, malam yang indah kini telah berganti pagi yang cerah. Akhir pekan pun telah terlewati.
Laura dan Devano pun sudah akrab. Bahkan di akhir pekan kemarin, Laura dan Edward mengajak Devano ke panti asuhan.
Bocah berusia 8 tahun itu sangat senang. Karena ia mendapatkan banyak teman. Ia bahkan ingin datang lagi ke tempat itu.
Dan sang nenek, nyonya Hugo pun berjanji setiap melakukan kunjungan ke panti asuhan akan mengajak cucunya itu.
“Mami. Bisakah aku ikut dengan mami?”
Begitulah pertanyaan yang keluar dari bibir bocah kecil itu, saat sang papa dan maminya akan kembali pulang ke kota.
Namun Laura berusaha memberi pengertian pada Devano. Ia berjanji di waktu liburnya akan mengunjungi anak itu.
Devano sempat merajuk, namun Edward menjanjikan seorang adik kepada anak itu. Yang seketika membuat mata kecilnya berbinar.
Sudah sejak lama ia menginginkan seorang adik, dan saat ke panti asuhan ia juga sempat bemain dengan anak yang berusia 5 tahun. Membuat keinginan bocah itu semakin besar.
“Nanti papa buatkan 2 sekaligus untukmu.”
Begitulah ucapan sang papa yang membuat Devano mengijinkan sang mami pergi bersama papanya.
“Memikirkan apa, baby?”
Edward membuyarkan lamunan sang istri, yang sedari tadi hanya diam menghadap ke jalanan.
“Devano.” Ucap Laura singkat.
Edward mengerutkan dahinya. Ada apa dengan Devano?
“Kenapa?”
“Aku ingin mengajaknya ikut bersama kita, tetapi tidak mungkin. Mbak Felisha tidak mungkin mau tinggal di kota dengan kita.” Laura berkata lirih.
Tangan kiri Edward meraih tangan kanan sang istri. Kemudian mengecupnya singkat.
“Terima kasih karena kamu sangat menyayangi Devano seperti anakmu sendiri. Aku beruntung mendapatkan mu sebagai istriku.”
Edward bangga pada istri kecilnya. Wanita itu memiliki sifat penyayang yang sangat besar. Mungkin sifat itu ia dapatkan dari kedua orang tuannya.
“Aku sudah terbiasa dengan itu, papi. Apalagi Devano bukan orang lain, sekarang dia juga anakku.” Ucap Laura sambil tersenyum.
Terlalu larut perasaannya, Laura tidak menyadari jika mobil yang ia tumpangi kini telah memasuki sebuah kawasan perumahan elit.
Lamunannya kembali buyar, saat mobil itu sedikit berguncang karena melewati gundukan jalan.
“Papi, kita dimana?” Laura menurunkan kaca jendela mobil. Kemudian sedikit mengeluarkan kepalanya. Ia menoleh ke sekitarnya.
“Ini bukan jalan ke penthouse, papi.” Ucapnya panik.
“Apa kita kesasar?”
Edward hanya menyunggingkan senyuman tipis.
Setelah melewati dua rumah mewah, mobil itu berhenti di rumah yang ketiga. Tak kalah mewahnya dari rumah-rumah sebelumnya.
__ADS_1
Pagar berwarna putih, dengan pintu gerbang senada yang tinggi menjulang.
Edward membunyikan klakson mobilnya dua kali. Setelah itu, pintu besi itu terbuka, dengan di dorong oleh seorang pria bertubuh tegap.
Mobil mewah itu pun masuk. Dan pintu gerbang itu kembali di tutup.
Dari pintu gerbang, mobil itu masih harus melaju pelan melewati halaman yang sangat asri. Banyak tanaman hijau di dalam pot yang terpajang. Juga ada berbagai macam bunga berwarna-warni.
Mobil berhenti tepat di depan rumah berlantai dua yang besar. Di depan pintu utama rumah itu, telah berdiri 10 orang pekerja. 4 orang wanita, dan 6 orang pria. Termasuk pria tegap yang membukakan pintu gerbang.
Laura tercengang. Wanita itu menelan ludahnya kasar. Ia belum paham dengan situasi. Sang suami tidak berkata apapun padanya.
“Ayo, baby.” Edward mengulurkan tangan. Mengajak sang istri berjalan menuju rumah itu.
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya.” Ucap para pekerja dengan serempak.
Lagi-lagi, istri Edward Hugo itu tersentak. Ia menoleh ke arah sang suami. Namun pria itu hanya tersenyum.
“Ed, ini apa?” Laura malu jika memanggil suaminya papi di depan orang yang ia kenal.
“Ini rumah mu, baby.” Edward mengulurkan tangan kanannya pada salah satu pekerja. Dengan sigap, pekerja wanita itu menyerahkan map kepada sang majikan.
“Ini hadiah pernikahan kita.” Pria itu menyerahkan map coklat itu kepada sang istri.
“Bukalah.” Perintahnya.
Laura membuka map itu. Matanya membulat sempurna membaca tulisan yang ada di atas kertas di dalam map itu.
Rumah mewah mewah seluas seribu meter persegi itu, atas nama dirinya. Sungguh hal yang tidak pernah Laura banyangkan. Memiliki rumah atas nama dirinya di usia yang baru 21 tahun.
Namun sayangnya, rumah itu pemberian seseorang, bukan dari hasil kerja kerasnya.
Edward memotong ucapan sang istri.
“Sstt, papi. Panggil seperti biasa. Ini rumahmu.”
Laura menggeleng. Ini terlalu berlebihan menurutnya.
“Ini terlalu berlebihan, papi. Aku tidak pantas menerima ini.”
Kini giliran Edward yang menggelengkan kepalanya.
“Ini bukan menurut pantas atau tidak, sayang. Tetapi ini adalah tradisi di keluargaku. Setiap pria yang baru menikah, wajib memberikan hadiah tempat tinggal yang layak untuk istrinya.” Edward memberikan penjelasan kepada istri kecilnya.
“Rumah kakekku yang di Inggris itu atas nama nenekku. Rumah yang sekarang di tenpati mama dan Felisha itu juga atas nama mama. Dan sekarang, aku memberikan rumah ini sebagai hadiah untukmu karena telah bersedia menjadi istriku.”
Laura merasa terharu atas ucapan sang suami. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Para pekerja yang menyaksikan itu pun ikut terharu. Mereka merasa sang tuan sangat romantis.
Saat hendak memeluk sang suami, Laura tersadar, jika ada banyak orang di depannya.
Wanita itu pun mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa memeluk map coklat itu.
“Ayo.” Edward mengajak sang istri lebih dekat dengan para pekerja.
“Sayang, mereka— Edward menunjuk ke arah pekerja wanita. “Mereka yang bertugas di dalam rumah. Dua orang memasak, dan dua orang bersih-bersih. Mereka hanya bertugas dari pagi sampai sore, setelah itu mereka bebas, boleh pulang atau tetap tinggal di rumah belakang. Yang terpenting mereka datang di jam kerja tepat waktu.”
__ADS_1
Para pekerja yang di tunjuk memberi salam hormat dengan sedikit membungkukan badannya.
“Dan mereka— Edward menunjuk keempat perkerja pria. “Mereka petugas keamanan. Yang bekerja secara bergantian, di pagi hari sampai sore 2 orang, dan di malam hari hingga pagi 2 orang. Mereka tinggal di rumah masing-masing.”
“Dan mereka berdua, adalah tukang kebun yang bertugas merawat halaman rumah ini. Mereka juga bisa menyetir. Salah satu dari mereka akan menjadi sopirmu.”
Laura berusaha mencerna semua yang di ucapkan oleh suaminya. Ia melihat para pekerja, dapat ia perkirakan umur mereka semua sekitar 40 tahun ke atas.
“Kamu paham, sayang?” Edward bertanya pada sang istri yang hanya diam.
Kepala Laura mengangguk kecil sebagai jawaban.
“Baguslah. Ayo kita masuk.”
Edward menggandeng tangan sang istri, dan mengajaknya masuk kedalam rumah mewah itu.
Di dalam rumah, Laura kembali tercengang. Ia menggelengkan kepalanya. Segala perabotan mewah, guci mahal, sofa dan yang lainnya telah menunggu kedatangan.
Rumah itu juga di lengkapi mini bar yang terletak tepat di ruang tamu. Ada 3 kamar tamu di lantai dasar rumah itu.
Masih banyak fasilitas mewah yang melengkapi rumah itu, seperti tempat olahraga, home teater, kolam renang di halaman belakang serta basemen.
Lantai satu saja sudah semewah ini, bagaimana lantai duanya? Dapat Laura bayangkan, kamar mereka pasti lebih luas dari kamar di penthouse.
Di lantai dua, juga terdapat 3 kamar. Satu kamar utama yang paling luas. Satu di pergunakan untuk ruangan kerja sang tuan rumah. Satunya lagi masih kosong. Mungkin nanti akan di gunakan sebagai kamar anak-anak mereka.
Dan benar saja. Kamar utama itu sangat luas. Fasilitasnya masih sama seperti kamar di penthouse. Pintu balkon yang terbuat dari kaca, yang bisa di geser kapan saja. Ruang ganti yang luas, dengan kamar mandi mewah di dalamnya.
Sungguh sangat tidak pernah ia bayangkan akan hidup dengan bergelimang kemewahan seperti ini.
‘Oh Tuhan, beginikah rasanya hidup menjadi orang kaya?’
Batin wanita muda itu menjerit. Ia bagaikan tertimpa durian runtuh. Entah perbuatan baik apa yang telah ia lakukan di kehidupan terdahulu. Sampai-sampai karma baik menghampirinya sekarang.
‘Amazing. Ayah, ibu. Anak kalian jadi orang kaya.’
.
.
.
T. B. C
Edward aja ngasih rumah sama Laura. Kalian mau ngasih hadiah apa Genks?
😅😅😅
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Gift
Terimakasih banyak….banyakkkkk ❤️❤️❤️