TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 48. Kamu Dimana?


__ADS_3

Pikiran Laura kini berkelana entah kemana. Setelah mendengar apa yang di ucapkan anak laki-laki itu, entah kenapa batin gadis itu merasa bimbang.


“Dia berbohong.” Gumam gadis itu. Kini ia telah berada di mobilnya dalam perjalanan menuju ke kota.


Laura menepikan mobil di pinggir jalan. Rasa ragu begitu besar menyelimuti hatinya.


“Kenapa ada ayah yang tega mengakui anaknya sebagai keponakan?” Gadis itu menelungkupkan kepalanya di atas setir mobilnya.


“Apa susahnya mengakui kalau kamu sudah punya anak dan istri, tuan Hugo.” Ia membentur-benturkan kepalanya pada setir mobil tua itu.


“Ah, kenapa hidupku jadi begini?”


Laura bagaikan orang yang tidak waras. Ia berbicara sendiri di dalam mobilnya.


Laura menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil. Pandangan gadis itu menerawang jauh.


Andai waktu bisa di putar, ia ingin kembali ke masa dimana ia di tawari buku tabungan oleh Yulia.


“Maafkan aku mbak, andai waktu itu aku mendengar ucapan mu. Semuanya mungkin tidak serumit ini sekarang.”


Laura memejamkan matanya. Jiwa dan raganya begitu lelah saat ini.


Sementara itu, di penthouse mewah milik Edward, suasana kini menjadi panas.


“Bagaimana bisa kamu membiarkan dia pulang, Jo.” Ucap Edward penuh amarah.


Pria berusia 35 tahun itu langsung kembali ke kota, begitu ia selesai menemani Devano bermain di pusat perbelanjaan.


Sungguh, pikiran pria itu tidak fokus saat menemani Devano bermain. Entah kenapa, pikirannya terus tertuju pada Laura. Setelah mendengar seseorang menyebut nama Lala tadi siang itu.


“Nona bilang sudah mengirim pesan padamu, bos. Coba periksa ponselmu.” Ucap Johan membela diri.


Edward membuka ponselnya, menampilkan halaman aplikasi pesan berwarna hijau.


“Kamu lihat, dia sama sekali tidak mengirimi aku pesan.” Sungguh amarah Edward sudah di ubun-ubun.


Pria itu lantas memanggil nomer kontak milik Laura. Namun panggilan yang terhubung itu tidak terjawab.


Edward mere*mas benda pipih pintar miliknya. Jika benda itu terbuat dari plastik, mungkin sudah remuk di tangan pria itu.


‘Baby, kamu dimana?’


Edward mondar-mandir di ruang tengah penthousenya. Sungguh ia ingin tau dimana gadisnya saat ini.


Pria itu kembali menghubungi gadisnya.


“Angkat, Ara. Aku mohon.” Geram Edward.


“Halo, Ed.”


“Baby, kamu dimana? Pulang sekarang.” Ucap Edward saat panggilannya telah terjawab.


“Aku ada di jalan, Ed.” Suara gadis itu terdengar biasa saja.


“Dimana? Biar aku jemput kamu kesana.”


“Aku sudah di dekat penthouse, tadi aku mampir sebentar membeli air mineral.”


“Cepatlah pulang, aku merindukanmu.” Pria itu pun mematikan panggilannya.


‘Nona Laura memang luar biasa. Macan yang siap menyantap ku, kini melunak’


“Huh.” Johan membuang nafasnya pelan. Sungguh dia tidak pernah melihat bosnya semarah ini hanya karena seorang wanita.


“Sebaiknya kamu masuk kamar, Jo. Aku akan menunggu Ara di sini.” Ucap Edward tanpa menoleh ke arah Johan.


“Tidak, bos. Aku—,”

__ADS_1


“Aku katakan masuk ke kamar mu! Kenapa kamu suka sekali melawan ucapanku?” Suara Edward terdengar meninggi.


Johan hanya bisa mengalah, tidak ada yang bisa ia lakukan. Sejujurnya ia ingin ikut menunggu Laura. Johan ingin tau apa yang akan bosnya lakukan pada gadis itu.


Setidaknya, ia bisa melindungi Laura dari amukan pria dewasa ini.


‘Semoga Tuhan melindungi mu, nona.’


Pria berusia 30 tahun itu pun pergi meninggalkan sang atasannya di ruangan itu.


********


Pintu utama penthouse terbuka, menampilkan seorang gadis yang berjalan gontai. Lelah tak hanya menghinggapi raganya, tetapi juga batin dan jiwanya.


“Baby, kamu dari mana?” Edward begitu saja memeluk gadis itu. Menciumi pucuk kepala gadisnya dengan lembut.


“Aku—,” suara Laura tercekat di kerongkongannya. Ia kembali teringat akan hal yang ia lihat dan dengan tadi siang.


‘Kamu pembohong, Ed.’


“Akh.” Gadis itu tersentak. Tubuhnya kini melayang. Edward memanggul tubuhnya seperti membawa karung.


Plak..


Satu pukulan mendarat di bo*kong indah milik Laura. Selain memiliki tubuh semampai, Laura juga memiliki da*da dan bo*kong yang berisi. Meski tidak terlalu besar.


“Beraninya kamu pergi tanpa pamit, hmm.” Ucap Edward saat menaiki tangga menuju kamarnya.


“Maaf.” Hanya itu yang keluar dari bibir gadis itu.


Bugh…


Edward melempar tubuh semampai itu ke atas ranjang. Untung saja ranjang itu sangat empuk, jadi Laura tidak merasakan sakit saat tubuhnya mendarat.


Edward kembali ke arah pintu dan menguncinya. Pria itu berjalan ke arah ranjang, sembari membuka baju kaos yang ia kenakan.


Edward mendekatkan tubuhnya kepada gadis itu, perlahan namun pasti mengukung pergerakan Laura.


Gadis itu menggelengkan kepalanya.


“A-aku, aku masih datang bulan, Ed.” Ucapnya terbata. Entah kenapa saat ini ia menjadi sangat gugup.


Pria itu menulikan pendengarannya. Ia mulai mencum*bu wajah gadis itu.


Tangannya juga tidak tinggal diam. Ikut bekerja memberi sentuhan di setiap lekuk tubuh gadis itu.


“Edhh..” suara keramat terdengar dari bibir gadis itu.


“Stophh it please..”


Pria itu memandang wajah gadisnya. Ia mengusap lembut wajah cantik alami itu.


“Aku janji, hanya mengulang masa balitaku saja, baby.” Suara pria itu terdengar parau.


Laura mengganggukkan kepalanya. Ia mengijinkan Edward menguasai tubuh bagian atasnya.


Setelah puas mengulang masa kecilnya, Edward merebahkan tubuh kekarnya di samping Laura.


Ia lantas mengangkat tubuh gadis itu, dan meletakan di atas tubuhnya.


“Kenapa pergi tanpa pamitan, baby?” Tangan pria itu mulai mengusap tubuh polos Laura. Kini mereka sama-sama tidak menggunakan baju.


“Bukannya kamu sendiri yang mengatakan jika aku boleh melakukan apa saja, asal tidak melukai diriku?” Gadis itu menjawab pertanyaan Edward dengan sebuah pertanyaan juga.


Edward menghujani kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala gadis itu.


“Iya, aku tau. Tetapi setidaknya beritahu aku jika kamu akan pergi.”

__ADS_1


“Apa kamu pernah membalas pesan yang aku kirim, saat kamu di rumah keluargamu, Ed?”


Deg…


Hati Edward menjadi bergemuruh, memang saat ia berada di rumahnya, ia sama sekali tidak ingat akan ponselnya.


Pria itu terlalu sibuk bermain dengan Devano. Sehingga ia mengabaikan keberadaan benda pintar itu.


“Maafkan aku, baby.” Ucap pria itu dengan lirih.


“Kenapa harus minta maaf? Aku mengerti. Kamu ingat, ada sebuah ungkapan, Harta yang paling berharga adalah keluarga.” Laura bangun setengah menumpu badannya dengan siku.


“Saat bersama keluarga, fokus kita harus untuk mereka. Apalagi kita jarang berkumpul dengan mereka.” Laura melabuhkan sebuah kecupan di rahang pria itu.


Gadis itu meneliti setiap bagian kulit Edward yang terlihat, tidak ada tanda-tanda, atau jejak seorang wanita.


‘Apa kamu tidak menghabiskan malam panas dengan istrimu, Ed.? Atau mungkin kamu tidak membiarkan dia meninggalkan jejak?’


“Baby,.”


“Hum?” Gadis itu kembali merebahkan kepalanya di ceruk leher pria dewasa itu. Entah kenapa aroma maskulin dari kulit Edward selalu membuat ia nyaman.


“Kamu kemarin kemana saja?”


Laura mencebikan bibirnya.


“Aku hanya ke panti. Menemani adik-adikku belajar.”


“Kamu tidak pergi keluar panti?” Tanya Edward lagi.


Kepala gadis itu menggeleng.


‘Kamu kira, hanya kamu yang bisa berbohong kepadaku, tuan Hugo? Aku juga bisa.’


‘Syukurlah, ternyata yang kemarin itu bukan kamu, baby.’


.


.


.


T. B. C


————


Baru dapat segini hasil dari semedi 🤣🤣


Yang ringan-ringan aja dulu..


Seringan berat badan ku 🤭🤭🤭


Terimakasih, Matur Nuhun, Matur Suksma, etc.


Untuk segala dukungannya teman Readers.


Jangan lupa


Like


Komen


Vote dan Gift


I LOVE YOU TILL THE END


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2