
Laura tengah menemani Devano yang kini sedang berenang. Bocah berusia 8 tahun itu begitu asyik meliak-liuk di dalam air.
Di kediaman mewahnya, Edward sengaja membuat dua kolam renang. Satu untuk orang dewasa, dan satunya lagi untuk anak-anak.
Pria itu sudah mempersiapkan, dia sudah memikirkan pasti akan ada banyak anak kecil di rumahnya.
Mulai dari Devano, anak-anaknya dan Laura, anak Johan dan Monica. Dan tentu juga anak-anak panti jika mereka berkunjung.
Edward selalu memikirkan tentang orang terdekatnya. Ia tidak hanya mementingkan kepentingannya sendiri.
Ia akan merasa bahagia, jika orang terdekatnya juga bahagia. Apalagi, orang-orang yang dia cintai.
“Dev.. minum dulu.” Laura berseru sembari mengangkat gelas yang berisi jus jeruk segar.
Kepala Devano muncul di permukaan air.
“Nanti, mami.” Bocah kecil itu kembali menenggelamkan tubuhnya ke dalam air.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, membuat Laura menoleh. Ia mendapati sang mama mertua berdiri di belakangnya yang sedang bermain air.
“Mama.” Laura bangkit dari duduknya.
Nyonya Hugo meraih tangan sang menantu, dan mengajaknya duduk di kursi santai.
“Duduk di sini, Devano kalau sudah ketemu kolam renang, susah di suruh berhenti.” Ucap wanita paruh baya itu sembari ikut duduk di samping sang menantu.
“Devan pintar sekali berenangnya ma.” Ucap Laura kagum. Pandangan matanya tertuju pada air kolam renang yang bergelombang.
“Dia seperti papanya.” Ucapan nyonya Hugo membuat alis Laura bertaut. Ia bahkan tidak pernah melihat sang suami berenang selama tinggal bersama.
“Papi juga suka berenang?” Tanyanya.
Nyonya Hugo menoleh ke arah Laura.
“Ah, bukan Edward. Ed memang bisa berenang, tetapi kadang-kadang, hanya untuk menemani Devano saja.”
Wanita paruh baya itu menghela nafasnya pelan.
“Maksud mama, David. Papa kandung Devan. Dia sangat pandai berenang, dulu waktu sekolah, dia seorang atlet renang.” Senyum terkembang indah di wajah yang sudah mulai menua itu.
“David dan orang tuanya tinggal bersama kami dari kecil. Saat ayahnya sibuk bekerja bersama papanya Ed, David akan menghabiskan waktu di kolam renang. Waktu itu, Ed dan Felisha masih di tinggal di Inggris. Jadi, dia belum punya teman bermain di rumah.”
Laura menatap sejenak wajah senja mama mertuanya. Ada gurat kesedihan yang terpancar disana.
__ADS_1
“Mama menyayangi David seperti anak mama sendiri. Karena itu, mama sangat setuju Felisha menjalin hubungan dengannya. Tetapi, sayangnya jodoh mereka tidak lama. Hanya sebentar. Bahkan David belum sempat bertemu putranya.”
Laura melihat netra sang mertua mulai memerah. Wanita muda itu pun meraih jemari tangan mertuanya.
“Ma.. kak David pasti sudah bahagia di atas sana. Dia juga pasti bisa melihat, anak dan istrinya bahagia disini.”
Nyonya Hugo menatap wajah menantunya dengan sebuah senyuman.
“Mama mau kamu menjaga Edward, La. Dia seorang penggila kerja. Waktu yang ia miliki selalu di habiskan di kantor. Mama berharap, kamu bisa mengingatkan dia, kapan saatnya untuk pulang.”
“Ma.. semenjak menikah, papi sudah tidak pernah lagi pulang terlambat. Dia selalu pulang tepat waktu. Apalagi semenjak aku hamil. Kadang dia pulang lebih cepat.”
Nyonya Hugo mengangguk paham.
“Uang yang kita punya sudah banyak. Itu juga tidak akan bisa di gunakan untuk membeli waktu. Semasih hidup, kita harus bisa membagi waktu, kapan saat bekerja, kapan saat bersama keluarga.”
“Iya, ma.”
Nyonya Hugo meraih bahu menantunya untuk ia rangkul. Tidak salah ia memilih wanita muda ini menjadi istri dari putranya.
Laura gadis baik, yang tak banyak menuntut. Ia juga tidak boros seperti kebanyakan para gadis seusianya. Kehidupan Laura begitu sederhana. Meski kini memiliki suami yang cukup mampu, namun ia tak memanfaatkan hal itu.
“Terima kasih. La. Karena kamu mau menjadi menantu mama.” Ucap nyonya Hugo dengan suara serak menahan tangis.
“Mama minta maaf atas yang di lakukan Ed padamu sebelum kalian menikah. Mama tidak tau, jika dia akan seperti itu.”
Kepala Laura menggeleng. Jawaban mama mertua tak sesuai dengan yang ia perkirakan.
“Ma, aku hanya bercanda. Meski papi tidak melakukan itu padaku, aku pasti akan tetap mau menikah dengannya.”
“Kenapa?”
“Karena aku mencintainya, ma.” Jawab Laura dengan kepala menunduk.
Nyonya Hugo tersenyum. Ia mengusap surai indah menantunya.
“Sejak kapan?”
Kepala Laura menggeleng. Ia tidak tau pasti, kapan rasa cinta terhadap Edward tumbuh di hatinya.
“Aku tidak tau pasti, tetapi yang jelas, aku merasa sakit hati dan cemburu, saat melihat foto mbak Felisha di ponsel papi.”
Nyonya Hugo mengerenyitkan alisnya.
__ADS_1
“Waktu itu, aku belum tau jika papi mempunyai saudari kembar. Aku salah paham, mengira jika mbak Felisha istrinya dan Devano adalah putra mereka.”
Laura menghela nafasnya pelan.
Ia menceritakan kedatangan Felisha ke penthouse Edward beberapa bulan lalu. Laura juga menceritakan kesalahpahaman yang terjadi di pusat perbelanjaan.
“Aku tidak mau menjadi orang ketiga, jadi aku memutuskan mengalah. Dan meninggalkan papi. Mungkin saat itu aku sudah mencintainya.”
Nyonya Hugo tersenyum mendengar cerita dari Laura. Ia merasa menantunya ini begitu polos. Mungkin karena usianya yang masih 21 tahun.
“Edward tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. Mama percaya, jika kamu satu-satunya wanita di dalam hidupnya.”
Laura mengangguk.
“Aku merasa beruntung ma. Meski aku menikahi seorang pria dewasa. Tetapi aku mendapatkan seorang perjaka.” Ucapnya tergelak. Namun dengan cepat ia menutup mulutnya sendiri. Setelah menyadari apa yang telah di ucapkannya.
Kedua pipi Laura mendadak panas. Tak seharusnya ia mengatakan hal itu kepada mama mertuanya.
“Ma—.”
“Mami, aku haus.” Kepala Devano terlihat di permukaan air, dengan tangan bertumpu pada pinggiran kolam renang.
“Ah, i-iya. Sayang.”
“Ma, aku memberi Devan minum dulu.” Buru-buru wanita muda itu meninggalkan mertuanya.
Nyonya Hugo hanya mampu tersenyum melihat tingkah polos sang menantu.
“Alex.. apa kamu sudah melihat menantu kita? Dia sangat polos. Edward beruntung mendapatkan gadis seperti Laura. Dan sebentar lagi, kita akan mempunyai cucu. Penerus darah keluarga Hugo. Kamu jangan khawatir, garis keturunan keluarga Hugo, tidak akan berhenti sampai di Edward saja.”
Ibu dari Edward dan Felisha itu, menghela nafasnya pelan. Ia merasa lega, karena beban berat yang selama ini ia pikul sendiri telah teratasi.
Ya, selama dua puluh tahun menjadi orang tua tunggal, nyonya Aurora Ervitha tak hentinya memikirkan nasib keluarga Hugo nantinya jika Edward tidak menikah. Ia bukannya takut kehilangan harta, tetapi yang ia takutkan, tidak ada lagi yang memiliki darah keluarga Hugo. Nama Hugo akan hilang, dan terlupakan begitu saja.
Namun, semua kekhawatirannya kini sirna, seiring dengan hadirnya Laura di kehidupan Edward.
.
.
.
T. B. C
__ADS_1