
Setelah acara pernikahan Damian dan Teresha selesai. Edward memutuskan mengajak sang istri pulang ke rumah sang mama. Sudah lama juga mereka tidak mengunjungi mama, Felisha dan Devano.
“Apa kita akan menginap?” Tanya Laura yang duduk di samping Edward yang tengah mengemudi.
“Tentu. Aku tidak mau kamu terlalu lelah di perjalanan.”
Laura mengangguk. Tak berapa lama, mobil mereka tiba di depan pintu gerbang kediaman keluarga Hugo. Edward membunyikan klakson mobil sebanyak tiga kali, sebagai pertanda jika yang datang adalah anggota keluarga Hugo.
Pintu besi itu pun terbuka lebar, sehingga memudahkan mobil mewah milik Edward memasuki halaman rumah mewah itu.
“Papa, mami?” Teriak Devano di depan pintu rumah saat ia melihat siapa yang keluar dari mobil yang berhenti di halaman. Bocah 8 tahun itu kemudian berlari menuju kedua orang tuanya.
“Apa kabar, sayang?” Tanya Laura saat anak itu memeluknya.
“Aku baik. Mami apa kabar? Apa adik baik?” Tanya balik Devano sembari mengusap perut sang mami yang masih terbungkus gaun itu.
“Mami dan adik baik, sayang”
Mereka kemudian memasuki rumah.
“Dimana nenek dan mama?” Edward bertanya, sembari menyapu pandangannya ke seluruh penjuru lantai satu rumah itu.
“Ada di lantai dua, pa.” Jawab Devano.
“Ayo kita kesana.” Laura hendak melangkah, namun di tahan oleh sang suami. “Tetap disini. Biar aku yang memanggil mereka.”
Edward melangkah pergi, sementara Laura hanya mampu membuang nafasnya kasar. Ia pun mengajak Devano menunggu di ruang keluarga. Menemani anak itu bermain puzzle.
“Nona mau saya buatkan sesuatu?” Seorang asisten rumah datang menanyainya.
“Tolong buatkan aku jus jeruk, Bu. Ah, tidak. Jeruk peras saja, tetapi jangan di saring, aku mau masih ada bulir-bulir jeruknya.”
Asisten rumah itu mengangguk paham kemudian undur diri. Tak berselang lama, nyonya Hugo, Felisha dan Edward datang menghampirinya.
Laura menyapa mertua dan suadari iparnya secara bergantian. Mereka kemudian mengambil tempat duduk di atas sofa.
“Kamu mau minum atau makan sesuatu?” Tanya Edward kepada sang istri.
“Aku sudah meminta asisten rumah membuatnya.”
“Kalian datang darimana? Kenapa menggunakan pakaian seperti itu?” Nyonya Hugo memindai penampilan putra dan menantunya.
“Kami baru saja datang dari menghadiri pernikahan Damian dan Teresha, di panti.” Jelas Edward.
“Damian dan Teresha menikah?” Tanda Felisha tak percaya.
“Ya, atas permintaan Leo.”
Felisha mengangguk. Ia sudah tau tentang cerita Damian, Teresha dan juga Leo.
__ADS_1
Asisten rumah tadi kembali datang dengan membawa pesanan Laura. Wanita itu menerima dengan mata berbinar.
“Hanya satu?” Tanya Edward dengan dahi yang berkerut.
“Papi mau?” Tanya Laura dengan menyodorkan gelas ke arah sang suami.
“Nanti saja.”
Laura mengangguk, ia kemudian menyesap isi gelas itu.
“Bagaimana kabar cucu mama?” Tanya nyonya Hugo menatap ke arah perut sang menantu.
“Sehat ma.” Jawab Laura sembari mengusap perutnya sendiri.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan hingga hari menjelang sore.
“Kalian ganti pakaian dulu. Sekalian istirahat.” Nyonya Hugo memberi perintah kepada putra dan menantunya.
Pasangan itu menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka pamit pergi ke kamar.
“Apa aku boleh ikut mami?” Devano ikut bangkit, namun sang mama menggelengkan kepalanya.
“Biarkan mami mu beristirahat, Dev. Adik juga perlu tidur siang.”
“Tetapi ini sudah sore, ma.” Jawab anak itu.
“Maka dari itu, karena sudah sore, Devan harus mandi terlebih dulu. Biarkan mami istirahat sebentar.”
****
Di malam hari, Edward mendapati Laura sedang berbaring di atas ranjang bersama Devano. Namun bedanya, sang istri masih terjaga, sementara Devano telah terlelap dengan memeluk pinggang sang mami.
Edward menatap dua orang itu sebentar, kemudian ia berlalu ke ruang ganti untuk melakukan ritual sebelum tidur. Mencuci muka, menggosok gigi, menggunakan krim dan lotion malam, serta mengganti pakaian dengan piyama tidur.
Setelah selesai, pria berusia 35 tahun itu kembali menghampiri sang istri, tak lupa ia membawa sebuah guling.
Sesampai di dekat ranjang, Edward meletakan guling yang ia bawa di samping kiri Devano. Ia kemudian mengecup kening sang putra. Lalu mengambil tempat di sisi kanan Laura.
“Kenapa tidak tidur di dekat Devano?” Tanya Laura dengan berbisik.
“Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu.” Edward ikut berbisik, tangan pria itu mulai menyusup ke dalam piyama yang sang istri gunakan. Kemudian mengusap lembut perut istrinya.
“Kan bisa memeluk Devano.” Tukas Laura.
“Rasanya berbeda, mami.”
Perlahan Edward melepaskan belitan tangan Devano dari pinggang sang istri. Dengan hati-hati, ia membalik tubuh Devano agar memeluk guling yang telah ia siapkan.
Devano tak terusik. Ia seolah terhipnotis, menurut, kemudian memeluk erat guling itu.
__ADS_1
“Licik sekali.” Gumam Laura.
“Demi kesejahteraan bersama, mami.” Ucap Edward terkekeh. Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya di belakang sang istri. Mendekap hangat tubuh semampai itu.
“Terima kasih. Laura Anastasia Hugo.” Ucap pria itu terdengar serius. Membuat Laura membalik tubuhnya, menghadap sang suami.
“Terima kasih untuk apa?”
Edward meraih jemari sang istri. Kemudian melabuhkan kecupan hangat di sana.
“Terima kasih telah hadir di hidupku. Terima kasih telah menjadi obat tidurku.” Ucap pria itu dengan tulus. Ia menatap manik mata sang istri dengan lekat.
Laura bangkit, mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Edward pun mengikutinya. Laura memutar sedikit tubuhnya, memastikan sang putra masih terlelap.
“Ayo kita ke balkon.” Ucapnya pelan. Edward mengangguk. Mereka perlahan turun dari atas ranjang.
Sampai di balkon, Edward kemudian mendekap erat tubuh semampai sang istri dari belakang. Menumpangkan dagunya di atas bahu sang istri.
Laura mengusap lembut tangan sang suami yang melingkar di tangannya.
“Aku yang harusnya berterima kasih kepada papi. Karena papi, aku tidak kehilangan panti asuhan.”
“Kita harusnya berterima kasih pada Tuhan. Berkat Takdirnya, membuat kita bertemu dan bersama saat ini.” Ucap Edward semakin memeluk sang istri.
“Ya.. Tuhan sangat baik, mengirimkan aku pria tua me*sum yang sangat mencintaiku.”
Edward terkekeh.
“Aku ingin, sampai tua kita seperti ini, Ra. Saling mencintai, melengkapi, memahami satu sama lain. Kedepannya mungkin tidak akan mudah. Anggota keluarga kita akan bertambah, masalah pasti juga akan bertambah.” Edward menjeda ucapannya, ia menghela nafasnya pelan. Kemudian kembali berbicara.
“Tetapi, apapun yang terjadi, kita jangan sampai meninggalkan satu sama lain. Kita bicarakan setiap masalah dengan kepala dingin.”
“Hmm.. maafkan aku jika belum bisa menjadi istri yang baik untuk papi, dan maaf karena aku masih kekanakan.”
Edward menggelengkan kepalanya.
“Kamu sudah sangat sempurna untuk ku, Ra. Bahkan kamu mampu bersikap lebih dewasa dari umurmu yang sebenarnya.”
Pria itu membalik tubuh sang istri, membuat wanita itu menghadap ke arahnya. Ia kemudian menangkup kedua pipi bulat sang istri. Dan Edward melabuhkan sebuah kecupan hangat di atas bibir wanita itu.
“Aku mencintaimu, Laura Anastasia Hugo. Tetaplah menjadi Teman tidurku seumur hidupmu.”
Laura mengangguk. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami.
“Aku juga mencintaimu, Tuan Edward Alexander Hugo. Terima kasih telah menjadi penolong dalam hidupku.”
.
.
__ADS_1
.
THE END