TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
ExtraPart. Edzard Alexander Hugo.


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Teresha melakukan pemeriksaan kehamilan. Ia yang sudah tidak sabar, kemudian pergi ke kantor sang suami.


Beberapa kali pernah berkunjung ke tempat Damian mencari nafkah, membuat Teresha di kenal oleh para karyawan sang suami.


“Mohon menunggu sebentar, Bu. Bapak Sedang ada tamu.” Sekretaris sang suami berkata dengan ramah. Ia pun mempersilahkan istri atasannya untuk duduk di atas sofa.


“Apa sudah lama?” Tanya Teresha sembari duduk secara perlahan karena perutnya kini mulai membesar.


“Sekitar satu jam, Bu. Saya rasa sebentar lagi selesai.”


Dan benar saja, tak berselang lama, pintu ruangan kerja sang suami terbuka. Menampilkan Damian yang sedang berbincang dengan seorang wanita.


Pemandangan itu, membuat hati Teresha memanas. Ibu dari Leo itu kemudian bangkit dan mendekat.


“Pa?” Ucapnya memanggil sang suami.


“Ma? Kamu datang?” Damian mengulurkan tangan, menyambut sang istri.


“Ya, aku sudah tidak sabar untuk pergi ke dokter.” Ucapnya sembari mengusap perut buncit nya.


“Kenapa tidak langsung masuk?”


“Kamu sedang ada tamu.” Ucap Teresha sembari menatap wanita di hadapannya.


“Ah ya, perkenalkan ma, ini mbak Wina, dia arsitek rumah baru kita.”


Mata Teresha membulat sempurna. Sang suami memang sedang membangun rumah yang lebih besar untuk mereka tempati nantinya, tetapi ia baru tau jika arsiteknya seorang wanita.


“Jadi ini istri pak Damian?”


“Ya, kenalkan, aku Teresha Wicaksana.”


Mereka saling menjabat tangan. Kemudian wanita itu pamit.


Teresha menghempas tangan sang suami. Ia kemudian mendahului memasuki ruangan pria itu.


“Ma, ada apa?”


“Enak ya, seharian bersama wanita cantik. Pantas saja, kamu begitu bersemangat membahas pembangunan rumah. Ternyata arsiteknya seorang wanita cantik.”


Damian mengulum bibirnya, ini untuk pertama kalinya sang istri cemburu kepadanya.


“Hanya kamu satu-satunya wanita cantik di hidupku, ma.” Pria itu mendekap tubuh sang istri dari belakang.


“Omong kosong.”


“Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Tetapi, 16 tahun ini sudah cukup menjadi bukti, jika aku tidak pernah tertarik dengan wanita manapun.”


Damian memutar tubuh sang istri, membuat wanita itu menghadap kepadanya.


“Aku bersumpah atas nama anak-anak kita. Hanya kamu satu-satunya wanita dalam hidupku. Di masa lalu, masa kini dan di masa depan.”


“Benarkah?”


Dan Damian mengangguk sebagai jawaban. Mereka pun kemudian saling memeluk. Menyalurkan rasa cinta satu sama lain.


Di rumah sakit.

__ADS_1


Dahi Teresha berkerut, saat memasuki ruang dokter kandungan yang biasa ia datangi. Dokter yang biasanya bertugas, tidak ada di tempatnya, di gantikan oleh dokter lain.


Setelah melakukan pemeriksaan, mereka berbincang sejenak dengan dokter pengganti itu.


“Maaf dok, kalau boleh tau, dokter Siska kemana, ya?” Tanya Teresha penasaran.


“Dokter Siska sedang bertugas di lantai 10. Kebetulan tadi pagi, istri pemilik rumah sakit ini melahirkan.” Jelas dokter wanita itu dengan sopan.


Damian dan Teresha saling pandang satu sama lain.


“Apa yang dokter maksud itu, adalah istrinya Edward Hugo?” Tanya Damian meyakinkan.


“Ya, apa kalian mengenal mereka?”


Pasangan suami istri itu menganggukkan kepala.


“Boleh kami tau dimana Laura di rawat?” Tanya Teresha kemudian.


Dokter itu tampak berpikir sejenak. Takut ia memberi informasi pada orang yang salah.


“Kami keluarga jauh mereka dok, putra pertama kami, adalah adik angkat istrinya Edward.”


Akhirnya dokter memberitahu dimana kamar Laura berada.


****


Sementara itu, di lantai 10.


Lantai dimana kamar inap Laura berada. Kini telah di penuhi oleh anggota keluarga Hugo, dan juga ibu Maria beserta Leo. Kamar VIP itu cukup luas, sehingga dapat menampung banyak orang.


Nyonya Hugo kini tengah menggendong cucunya yang baru lahir, di temani oleh Devano. Bocah berusia 8 tahun itu sangat senang melihat adik barunya.


Nyonya Hugo pun meletakan cucu mungilnya di atas pangkuan Devano. Namun, wanita paruh baya itu, ikut memegangi takut jika cucunya yang baru lahir itu terjatuh.


Sementara itu, Laura sedang di ajari cara menyusui oleh seorang suster, di temani oleh sang suami.


Leo keluar sebentar untuk meregangkan ototnya. Menunggu giliran menggendong keponakan barunya. Karena sedari tadi, bayi mungil itu di gilir oleh kedua neneknya. Setelah itu di ambil alih oleh sang tante, Felisha.


“Mama, papa?” Leo sedikit terkejut melihat kedua orang tuanya berada di depan pintu kamar perawatan sang kakak.


“Nak, kamu sudah disini? Datang bersama siapa?” Teresha bertanya, sembari memeluk sang putra.


“Nyonya Felisha menjemput kami tadi pagi. Aku dan ibu Maria. Bibi Lily di panti mengurus adik-adik.”


“Kalian mau melihat kak Lala? Ayo.”


Leo membukakan pintu kamar rawat mewah itu. Membaut Teresha sedikit tercengang.


“Kak, ada mama dan papa ku.” Ucap Leo ke arah tempat tidur yang di tempati Laura.


Melihat sedang ada tamu yang berkunjung, suster pun undur diri.


“Dam..” Edward menyalami ayah Leo itu.


“Maaf kami tidak membawa apa-apa, kami sedang memeriksa kandungan. Tetapi, tidak bertemu dengan dokter yang biasa memeriksa ku. Dan dokter pengganti mengatakan jika istri pemilik rumah sakit sedang melahirkan.” Teresha menjelaskan.


“Tidak apa-apa, mbak. Bagaimana kandungannya? Apa sudah tau jenis kelaminnya?” Tanya Laura kemudian.

__ADS_1


“Dia sehat, La. Urusan jenis kelamin, biar menjadi kejutan nantinya.” Jawab Teresha.


“Jadi mama tidak menanyakan jenis kelamin adikku?” Leo datang mendekat. Suara terdengar bernada protes.


“Hmm.. biar nanti menjadi kejutan.”


Jawaban sang mama membuat Leo mendengus kesal.


“Oh ya, dimana putramu, La?”


“Ada disini.” Nyonya Hugo datang mendekat membawa sang cucu.


“Apa boleh aku menggendongnya nyonya?”


“Tentu boleh.” Nenek dua orang cucu itu, menyerahkan bayi mungil itu kepada Teresha.


“Tampan sekali, pa.” Ucapnya kepada sang suami.


“Dia sangat mirib dengan Edward.” Felisha memberi pendapat.


“Iya.. padahal aku yang susah payah membawanya di dalam perutku selama 9 bulan. Tetapi, begitu lahir dia justru mirib dengan papinya.”


Mendengar ucapan sang istri, Edward pun mengambil tempat di samping wanita muda itu, kemudian merangkul bahunya.


“Wajahnya boleh mirib dengan aku, sayang. Tetapi, semoga dia mewarisi sifatmu. Berhati mulia, penuh kasih sayang, dan yang utama, dia menyayangi keluarganya.”


“Amiin.” Tak hanya Laura, semua yang ada di ruangan itu pun mengamini ucapan Edward.


“Ngomong-ngomong, siapa nama bayi tampan ini, Ed?” Tanya Damian sembari meneliti wajah bayi dalam gendongan sang istri.


“Iya Ed, siapa nama keponakan ku?”


Edward tersenyum. Hal itu membuat Laura curiga.


“Jangan katakan jika papi menamainya Hugo Junior?”


“Tentu tidak, sayang.” Jawab Edward sembari mengecup pipi sang istri gemas.


“Lalu?”


“Dia bernama Edzard Alexander Hugo. Aku berharap, suatu saat nanti dia akan menjadi penjaga untuk keluarganya.”


Laura menatap tak percaya ucapan sang suami.


“Kenapa? Kamu pikir aku tidak menyiapkan nama untuknya? Aku bahkan sudah menyiapkan nama untuk adik-adiknya.”


“Nama yang bagus. Edzard, dan dia akan di panggil Ed junior.” Dan yang berbicara itu adalah nyonya Hugo.


‘Junior lagi.’ Batin Laura.


.


.


.


TAMAT

__ADS_1


Kali ini benaran tamat ya, Genks. Tidak ada Extra Part lagi.


Terimakasih sudah mendukung Ed dan Ara sampai saat ini. Semoga Tuhan memberkati.


__ADS_2