
Waktu telah berlalu setengah hari, kini sudah saatnya untuk mengisi perut di siang hari yang begitu terik. Dimana energi telah habis terkuras untuk setengah hari yang telah berlalu.
Laura mengajak Melani, sang sahabat untuk makan siang di restoran milik Yulia. Ada hal yang ingin ia sampaikan kepada sahabat-sahabatnya itu.
Dari kampus menuju restoran Yulia, hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Laura juga sudah mengabari sang mantan atasan, jika ia akan ke sana untuk makan siang.
“Kalian mau makan apa?” Yulia menyodorkan buku menu ke hadapan dua wanita muda di hadapannya.
Mereka mengambil tempat duduk pada meja yang berbentuk bundar.
“Biar aku pilihkan, Mel.” Laura memilihkan makanan yang menurutnya menu terlaris di restoran itu. Ia juga memesan untuk sang pemilik restoran.
“Mbak, kali ini aku yang traktir.” Ucap gadis itu dengan riang.
Sembari menunggu makanan tiba. Ketiga wanita itu asyik mengobrol.
“Aku perhatikan, dari tadi pagi kamu ceria sekali, La. Apa kamu sedang memenangkan hadiah undian?”
Melani bertanya kepada sang sahabat yang ia lihat sangat berbeda hari ini.
Kepala Laura menggeleng. Entah kenapa ia merasa pipinya memanas. Gadis itu meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Mbak, aku rasa dia sedang kemasukan sesuatu. Dari tadi pagi, aku melihat tingkahnya berbeda.” Melani berujar ke arah Yulia. Dan Yulia pun hanya melongo melihat tingkah Laura itu.
“La, ada apa?” Kini giliran Yulia yang bertanya.
“Mbak, Mel. Aku—,” ucapan gadis itu terhenti saat salah satu pramusaji datang menyajikan makanan untuk mereka.
“Kita makan dulu, nanti aku ceritakan pada kalian berdua.” Senyum kembali terukir di wajah gadis itu.
Yulia dan Melani saling bertatapan, lagi-lagi mereka menemukan keanehan pada diri Laura.
Setelah makan siang itu selesai. Laura mengajak kedua sahabatnya untuk duduk bersantai.
“La, mbak tidak punya banyak waktu. Setelah ini mbak ada janji dengan suami mbak.” Yulia berdusta. Ia hanya ingin rasa penasarannya cepat terjawab.
Laura menghela nafasnya pelan, sebelum memulai berbicara.
“Mbak, Mel. Aku mengajak kalian bertemu disini, aku mau mengatakan sekaligus meminta doa restu, minggu depan aku dan Ed akan menikah.”
Yulia dan Melani kembali saling tatap. Sedetik kemudian, mereka menghambur memeluk Laura.
“Wahh selamat ya, La.” Melani berujar. Ia sangat bahagia dengan apa yang di sampaikan oleh sahabatnya itu.
Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
“La, kenapa secepat ini? Jangan bilang kalau—,” Yulia menjeda ucapannya, ia melirik ke arah perut Laura.
Laura menggeleng keras.
“Tidak, mbak. Hanya saja, mamanya Ed ingin kami cepat menikah.” Kepala gadis itu menunduk. Senyum yang sedari tadi terkembang, kini layu kembali.
“Supaya kami tidak terlalu lama berbuat dosa.” Lanjutnya dengan suara pelan. Namun baik Yulia maupun Melani masih bisa mendengarnya.
“Oh My Godness.” Melani menutup mulut dengan satu tangannya.
__ADS_1
“Hal seperti itu, nyonya Hugo sampai tau? Hubungan kalian sungguh luar biasa, La.” Melani tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Laura menceritakan semua yang terjadi. Tentang rencana perjodohan Edward, tentang siapa mama Edward dan tentang rencana pernikahan mereka.
“Wah.. jadi nyonya Samantha itu ibunya si pria tampan itu?” Yulia menyenggol bahu Melani. Mereka kemudian terkekeh bersamaan.
“Dunia sempit ya, La. Ternyata, calon mertuaku, adalah donatur di panti asuhanku.” Imbuh Melani. Ia kemudian tergelak karena ucapannya sendiri.
Laura memajukan bibirnya. Ia merasa di olok-olok oleh para sahabatnya.
“Aku harap, kalian bisa datang minggu depan ke panti, untuk menyaksikan acara pernikahanku.” Gadis itu kembali berujar.
“Maaf tidak ada kartu undangan, acaranya hanya di hadiri kerabat dekat saja.” Imbuhnya.
“Tentu, La. Mbak akan datang bersama suami mbak.” Yulia mengusap tangan Laura yang berada di atas meja.
“Kenapa di panti, La? Aku kira akan di gedung mewah dan disiarkan secara langsung di stasiun tv.” Melani kembali terkekeh. Sahabatnya akan menikah dengan orang kaya, siapa tau di juga bisa tampil di televisi.
Laura menggeleng. Ia juga tidak mau pernikahannya dan Edward di ketahui banyak orang.
“Aku tidak mau, Mel. Dia orang kaya, sementara aku, aku hanya orang kecil. Lagipula, mama— maksudku nyonya Hugo tidak ingin banyak orang tau. Keluarga mereka punya banyak saingan. Nyonya Hugo takut, terjadi sesuatu padaku di kemudian hari.”
Yulia dan Melani menganggukkan kepalanya. Tanda mereka setuju dengan ucapan gadis itu.
“Ciee yang sudah panggil mama.” Melani berseloroh, menggoda sang sahabat.
Kedua sahabat Laura itu kemudian menggeser kursi ke dekat gadis itu. Kemudian mereka merangkul bahu Laura dari sisi kanan dan juga sisi kiri.
“Selamat ya, La. Mbak doakan semoga kamu selalu berbahagia dengan tuan Edward.” Yulia mengusap punggung gadis itu dengan sayang.
“Terimakasih, kalian memang sahabat yang paling baik, yang aku miliki.” Laura membalas rangkulan kedua sahabatnya.
“Aku sangat menyayangi kalian.”
“Kami juga sangat menyayangi mu, La.”
******
“Baby, kamu dimana?” Suara maskulin mengalun indah di seberang panggilan.
“Aku baru tiba di penthouse, papi. Ada apa?” Setelah tadi malam Laura dengan sengaja memanggil pria itu dengan sebutan papi, Edward memintanya untuk terus memanggilnya begitu.
Sungguh aneh memang, saat kebanyakan pasangan beda usia tidak mau di panggil begitu, Edward malah sebaliknya.
“Kenapa baru sampai? Kamu mampir kemana?”
“Aku makan siang bersama mbak Yulia dan Melani, papi. Aku juga mengundang mereka ke pernikahan kita.” Laura tersenyum, ia tidak pernah membayangkan akan menikah dengan pria itu di bulan kedua sejak mereka bertemu.
“Baiklah, aku juga ingin bertemu dengan teman-teman mu, baby. Aku ingin tau, bagaimana pergaulan kalian selama ini.” Pria itu terkekeh.
“Nanti saja, pi. Mereka akan datang di pernikahan kita. Aku hanya mempunyai dua sahabat, tidak banyak.”
“Dua saja cukup, baby. Untuk apa kita punya banyak teman, jika hanya untuk memanfaatkan kita saja?”
“Jadi karena itu papi tidak mempunyai teman?”
__ADS_1
“Mm, aku hanya punya dua sahabat, yang pertama David, dan kedua Johan. Yang lain di kalanganku, semuanya palsu, penjilat dan hanya ingin memanfaatkan saja.” Edward berucap panjang lebar.
Laura hanya mengangguk, meski pria itu tidak melihatnya.
“Kenapa papi menelponku? Apa tidak ada pekerjaan?”
“Aku merindukanmu, lagipula aku bosnya, baby. Terserah aku mau melakukan apa.” Pria itu berucap sombong.
Itulah salah satu sifat Edward yang tidak di sukai Laura. Pria itu selalu saja menyombongkan dirinya.
Gadis itu menghela nafasnya pelan.
“Meski papi bosnya, papi harus memberikan contoh yang baik untuk bawahan. Jangan sampai, apa yang papi lakukan di tiru oleh bawahan papi. Ya jika itu hal baik, maka akan berdampak bagus. Tetapi bagaimana jika mereka meniru hal yang buruk? Yang rugi papi juga, kan?”
“Baby, kamu memang gadis yang cerewet sekali, ya. Tetapi, meski begitu aku sangat mencintaimu.”
Pipi Laura memanas mendengar ucapan cinta dari Edward. Pria itu selalu bisa membuatnya tersipu meski dari jarak jauh.
“Papi, ingat. Aku bukan gadis lagi.” Gadis itu mencebikan bibirnya.
“Bagiku kamu tetap seorang gadis, baby.”
“Kenapa?” Laura ingin tau alasannya.
“Karena kamu selalu menggigit, seperti saat pertama aku merasai mu.” Ucap pria itu dengan nada menggoda.
“Dasar pria tua me*sum.”
.
.
.
T. B. C
————
Minta saran visualnya dong, Genks.
Aku sih ada. Entah cocok apa enggak.
🤔🤔
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
Terimakasih ❤️❤️
__ADS_1