TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
ExtraPart. Sangat Bahagia.


__ADS_3

“Apa yang sedang kamu lihat?” Damian melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang istri yang sedang berdiri menatap ponselnya, di balkon kamar hotel yang mereka tempati. Damian baru saja pulang dari memeriksa proyek pembangunan sebuah villa. Ia meninggalkan sang istri di kamar hotel, karena di tempat proyek sedang banyak debu.


Pria itu menumpangkan dagu pada bahu Teresha. Tangan kanannya dengan lembut mengusap perut sang istri yang mulai membuncit di bagian bawahnya.


Kehamilan Teresha kini memasuki usia 12 minggu. Kehamilan Teresha dan Laura hanya berbeda 4 bulan saja. Dan, Orang tua Leo itu baru tau jika Teresha hamil, sebulan yang lalu. Saat usia pernikahan mereka memasuki bulan ke 5.


“Apa kamu menonton drama Korea?” Pria itu kembali bertanya.


Kepala sang istri menggeleng. “Tidak.. Leo mengirim rekaman acara di rumah Edward dan Laura. Mereka melakukan gender reveal party”( pengungkapan jenis kelamin bayi ).


Teresha menunjukan rekaman itu kepada sang suami.


“Bayi mereka laki-laki. Lihatlah, kertasnya berwarna biru.” Nada bicara Teresha terdengar sangat bersemangat.


“Apa kamu juga mau di buatkan seperti itu? Bukannya sudah boleh, jika kandunganmu sudah berusia 16 minggu.”


Kepala Teresha kembali menggeleng.


“Tidak perlu. Kita sudah tua.”


Damian mencebikan bibirnya. “Bukannya Edward juga sudah tua?”


“Tetapi istrinya masih muda.” Teresha menghela nafasnya pelan. “Aku ingin kita tidak tau apa jenis kelaminnya.” Ia ikut mengusap perutnya sendiri. “Setiap periksa, kita tanyakan saja, apa dia sehat, lengkap. Tetapi jangan tanya jenis kelaminnya. Aku ingin itu menjadi kejutan nanti.”


“Apa kamu tidak menginginkan bayi perempuan? Yang cantik seperti dirimu?” Tanya Damian sembari mengecup pipi sang istri.


“Laki-laki dan perempuan sama saja. Asalkan mereka sehat, dan selamat.”


Damian mengangguk setuju. “Asal kalian berdua sehat dan selamat. Supaya kita bisa menghabiskan sisa hidup bersama.”


Teresha menganggukkan kepalanya.


“Aku sudah membeli makanan yang kamu minta.”


Teresha memutar tubuhnya, ia berbalik memeluk pinggang sang suami.


“Benarkah?” Mata wanita itu berbinar. Damian selalu memenuhi apapun permintaannya. Yang tak masuk akal sekalipun.


“Tentu, ma. Ayo, ada di meja makan.”


Sepasang suami istri itu duduk di kursi meja makan saling berhadapan. Damian membuka bungkus makanan yang ia beli. Kemudian meletakan di hadapan sang istri.


“Kenapa hanya membeli satu bungkus saja?” Teresha menatap ke arah sate ayam dengan potongan lontong, yang tersaji di hadapannya.


“Kamu tidak beli? Apa tidak mau makan bersamaku?” Nada suara Teresha terdengar sedikit bergetar. Damian tau, jika begini, sang istri akan menangis. Sejak hamil, wanita dewasa itu menjadi sangat sensitif dan mudah sekali menangis.


“Aku ingin makan satu berdua dengan mu.” Jawab Damian berdusta. Ia sudah makan tadi di proyek bersama mandor dan pekerja yang lain. Jika ia mengatakan hal itu, Damian takut sang istri akan semakin sedih. Karena ia makan bersama orang lain.

__ADS_1


“Benarkah?”


“Ya, karena itu aku membeli porsi jumbo.”


Kepala Teresha mengangguk. Ia kemudian mengambil satu tusuk sate, lalu menyuapi sang suami.


“Enak.” Ucap pria itu. Untung saja tadi ia berinisiatif membeli dua porsi menjadi satu. Damian tau istrinya mudah sekali lapar. Ternyata bisa ia gunakan sebagai senjata pelindung.


Terseha kemudian menyuapi dirinya sendiri. Ia pun setuju dengan ucapan sang suami. Mereka kemudian makan dengan damai. Di selingi obrolan ringan. Dan sesekali saling menyuapi.


****


Malam hari di kediaman Edward dan Laura.


Sepasang suami istri itu tengah bersantai di balkon kamar mereka. Hari ini begitu indah, namun juga melelahkan untuk Laura. Keluarga mereka telah kembali pulang. Dan nyonya Hugo berencana akan menetap di ibukota nanti, menjelang kelahiran sang cucu.


Seperti biasa, Edward akan memijat kaki sang istri yang sudah mulai membengkak.


“Cukup, pi.” Ucap Laura. Ia kemudian merentangkan kedua tangan, pertanda ingin berpelukan dengan sang suami.


Edward meletakan minyak kayu putih di atas meja, yang tersedia di balkon. Ia kemudian merengkuh tubuh sang istri.


“Apa mau masuk?” Tanya pria itu sembari mengusap lembut punggung Laura.


“Sebentar lagi.”


Edward mengangguk. Ia kemudian melepaskan pelukan mereka. Ia kemudian mengambil bantal sofa, dan meletakan di pangkuan sang istri.


Edward menyingkap sedikit piyama yang Laura gunakan, ia kemudian mengecupi tonjolan perut itu berulang kali.


Laura hanya tersenyum melihat tingkah sang suami. Ia pun mengusap lembut kepala pria dewasa itu.


“Hai, boy. Apa kabar hari ini? Apa kamu senang?” Ia ciumi lagi perut sang istri. Saat hendak mencium lagi, ia melihat kulit perut sang istri bergerak.


Dan Laura pun sedikit meringis.


“Mami, dia bergerak.” Ucap Edward berbinar. Ia menempelkan lagi bibirnya di perut sang istri.


“Sehat selalu ya, anak papi dan mami. Sampai jumpa dua bulan lagi.”


“Iya, papi.” Laura membuat suaranya seolah seperti seorang anak kecil.


Edward tersenyum. Ia kemudian mengangkat kepalanya, dan mencium bibir sang istri.


“Apa kamu bahagia?”


“Sangat bahagia.” Wanita muda itu mengangguk dengan keras.

__ADS_1


Edward kembali merebahkan kepalanya. Ia pun mengusap lembut perut sang istri.


“Apa papi sudah menyiapkan nama untuk dia?” Tanya Laura sembari mengusap lembut kepala sang suami.


“Hmm” Edward mengecupnya lagi dan lagi. Membuat Laura merasa geli.


“Pi..”


“Belum.”


Laura membuang nafasnya pelan.


“Kamu tenang saja. Saat anak kita lahir, dia pasti sudah memiliki nama.”


“Dia lahir kurang lebih dua bulan lagi, pi.”


“Memangnya kenapa? Masih banyak waktu.”


“Tetapi papi sering sibuk.” Nada suara Laura terdengar frustrasi.


“Bukannya aku sudah katakan, di bulan ke sembilan, aku akan lebih banyak menemani mu. Daripada di kantor?”


“Lalu kantor? Siapa yang mengurus? Jangan katakan kak Johan? Pi, mbak Monica juga sedang hamil.”


Edward terkekeh, ia merasa sangat gemas dengan sang istri.


“Aku bisa bekerja dari rumah, mami. Aku akan ke kantor jika itu menyangkut hal penting.”


Laura pun mengangguk.


“Asal papi jangan membebankan banyak tugas pada kak Johan.”


“Tidak, sayang. Aku tidak mungkin sejahat itu.”


“Lalu, apa papi sudah ada bayangan dengan nama anak kita.”


“Hemm?” Edward nampak berpikir. Ia kemudian tersenyum.


“Siapa?” Tanya sang istri penasaran.


“Hugo Junior.” Ucap pria itu tergelak.


“Ihh, papi..”


Laura mencubit lengan sang suami. Mereka pun tertawa bersama.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2