TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
ExtraPart. Hadiah Di Hari Wisuda.


__ADS_3

Lima bulan berlalu.


Kini, usia kandungan Laura telah memasuki bulan ke 7. Dan tepat hari ini adalah hari dimana Laura akan mengikuti wisuda kelulusannya.


Sejak pukul 6 pagi, wanita hamil itu telah di rias oleh seorang make-up artist profesional, di kediaman mewahnya. Edward tidak ingin istrinya menggunakan riasan yang sembarangan. Pria itu mewanti-wanti para perias, supaya menggunakan kosmetik yang aman untuk ibu hamil.


“Kamu cantik sekali, La.” Puji Melani yang ikut berdandan di rumah Laura.


“Benarkah, Mel?” Tanya Laura tak percaya diri. Meski menggunakan rok panjang dan baju kebaya, istri Edward itu merasa tidak percaya diri karena perutnya yang telah menonjol.


“Sangat cantik, La. Aku jadi iri melihat kamu.” Melani tau, sahabatnya sedang mengalami krisis kepercayaan diri hari ini. Maka, gadis itu berusaha untuk menyemangati, walau kenyataannya memang Laura terlihat sangat cantik dengan kebaya wisuda yang ia gunakan.


“Kalian sudah siap?” Edward datang menghampiri kedua wanita muda itu kedalam kamar tamu. Laura sengaja meminta di rias, di kamar tamu. Mengingat sang suami yang tidak suka kamar pribadinya di masuki sembarang orang.


“Sudah, pi.” Jawab Laura. Sementara Melani hanya mengangguk. Sampai saat ini, gadis itu masih canggung dengan suami dari sahabatnya itu.


“Ayo, jangan sampai kalian terlambat. Aku juga harus berada di sana tepat waktu.” Edward mengulurkan tangan ke arah sang istri.


Laura mengangguk, kemudian meraih tangan sang suami. Ia teringat sang suami yang merupakan pemilik kampus, mendapatkan undangan untuk membuka acara wisuda.


“Papa dan mama hadir, Mel?” Tanya Laura kepada sang sahabat yang kini duduk di sampingnya di dalam mobil. Sementara Edward duduk di kursi depan, di sebelah kiri sopir.


Sebuah mobil Alphard berwarna putih, membawa rombongan itu menuju universitas, tempat di selenggarakan nya acara wisuda.


“Mereka sudah menuju kampus, La.” Jawab Melani. Dan Laura pun mengangguk.


Dalam acara wisuda hari ini, Laura di temani sang suami, dan sang adik Leo yang datang langsung ke tempat acara. Ibu Maria tidak bisa hadir, karena mengurus anak-anak panti yang akan segera bersiap berangkat menuju rumah Edward dan Laura, untuk merayakan kelulusan Laura.


Begitu pula keluarga Hugo, mereka tidak hadir di kampus. Namun, akan datang ke rumah. Ada kejutan yang telah Edward siapkan untuk sang istri. Dan itu di persiapkan oleh sang saudari kembar, Felisha.


Setelah tiga puluh menit, mobil yang mereka tumpangi tiba di parkir khusus petinggi kampus. Edward sengaja meminta sang sopir menurunkan mereka disana, agar ia leluasa membantu sang istri turun dari mobil.


Setelah itu, mereka berpisah. Laura dan Melani pergi menuju aula, sementara Edward pergi ke ruang Rektor.


“Kak.” Leo menghampiri sang kakak. Remaja itu lebih dulu sampai dan menunggu di depan aula.


“Dek.” Mereka saling memeluk sebentar. Leo hari ini terlihat lebih tampan, dengan setelan formal yang ia gunakan.


“Apa kabar adik-adik di panti?” Tanya Laura setelah pelukan mereka terurai.


“Mereka baik, dan sedang bersiap untuk datang ke rumah kakak.”


“Apa semuanya datang?”


“Ya.. kak Edward mendatangkan sebuah bus. Tetapi, sangat mewah di dalamnya. Tidak seperti bus yang sering kita tunggu di halte.”


Laura mengangguk. Ia tentu tau siapa suaminya. Pria yang penuh dengan kesempurnaan.


Mereka pun memasuki aula. Para mahasiswa yang akan di wisuda, menduduki kursi bagian depan. Sementara, para pendamping duduk di bagian belakang. Leo duduk bersama orang tua Melani. Ia tak mungkin menghampiri kakak iparnya, karena pria itu memiliki kedudukan penting di kampus itu.


Acara wisuda pun di mulai. Rangkaian demi rangkaian acara pun terlewati. Hingga tiba saatnya pengumuman wisudawan lulusan terbaik di bidangnya.


Dan di kelasnya, Laura menjadi wisudawati yang mendapatkan nilai terbaik. Sehingga, nama wanita hamil itu di panggil untuk maju ke atas panggung.

__ADS_1


Rasa haru menyelimuti hati Laura. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan predikat lulusan terbaik. Tujuan wanita itu hanya satu, lulus kuliah tepat waktu. Namun, hasil yang ia dapat, melebihi yang ia duga.


‘Ayah, Ibu. Terimakasih.’ Ucapnya dalam hati.


Dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Laura melangkahkan kakinya menuju panggung, dimana telah berdiri dua wisudawan lulusan terbaik dari kelas lain.


Aula itu pun mendadak riuh, para wisudawan berbisik, melihat wisudawati yang di panggil namanya, ternyata dalam keadaan hamil besar.


Namun tidak dengan para dosen, dekan dan petinggi kampus lainnya. Mereka sudah tau jika Laura telah menikah dengan pemilik kampus.


Teman-teman sekelas Laura pun banyak yang terkejut melihat perubahan bentuk tubuh Laura. Tidak pernah ada yang tau jika wanita itu punya pacar. Tiba-tiba perutnya sudah menonjol.


Pembawa acara meminta para hadirin untuk tenang. Dan mempersilahkan Edward selaku Direktur untuk memberi selamat kepada para wisudawan dan wisudawati lulusan terbaik.


Edward di dampingi oleh para ketua jurusan masing-masing, memberi selamat kepada para wisudawan dan wisudawati itu.


“Selamat, Laura. Kamu selalu menjadi yang terbaik.” Edward menyalami sang istri.


Dan aula itu kembali riuh, karena melihat direktur sekaligus pemilik kampus itu, menggenggam tangan Laura dengan lembut dan lama.


Desas-desus pun terdengar. Ada yang mengatakan, mungkin Laura menjadi sugar baby pemilik kampus ini.


Edward tau, orang-orang di ruangan itu kini tengah membicarakan istrinya. Maka, pria itu pun meminta waktu kepada pembawa acara. Ia tidak ingin sang istri menjadi bahan pembicaraan. Apalagi pembicaraan buruk.


“Mohon maaf semuanya. Aku minta waktu kalian sebentar.” Edward berdiri di tengah panggung dan mulai berbicara.


“Beberapa bulan yang lalu, aku pernah menjadi pembicara seminar di tempat ini. Mungkin diantara kalian masih ingat, aku pernah bercerita. Aku telah menikah, dan istriku seorang gadis sederhana.” Edward menjeda ucapannya. Pria itu menghela nafasnya pelan.


Deg..


Jantung Laura berdetak semakin cepat setelah mendengar ucapan sang suami. Apa itu artinya Edward akan mengenalkan dirinya?


“Kemarilah.” Tangan Edward terulur ke arah Laura. Dan suasana aula kembali riuh.


Dengan ragu, Laura mendekat ke arah sang suami berdiri. Kemudian meraih jemari besar pria itu.


“Perkenalkan. Dia istriku. Laura Anastasia Hugo. Wanita yang aku nikahi delapan bulan yang lalu.”


Para hadirin pun bersorak, karena di akhir kalimatnya, Edward mencium tangan sang istri.


Acara wisuda pun di lanjutkan kembali.


****


Tepat pukul dua siang, Edward, Laura dan Leo kembali pulang ke rumah. Sementara, Melani bersama orang tua memiliki acara sendiri bersama keluarga mereka.


Mata Laura yang tadinya sayu, karena lelah. Tiba-tiba berbinar, kala mendapati keluarga besarnya sudah menanti di halaman depan rumah mewah itu.


Ada juga pasangan Johan dan Monica, beserta Yulia dan Suaminya.


Mereka berdiri di depan pintu, dengan menggenggam setangkai bunga mawar. Kemudian memberikan kepada Laura sebagai ucapan selamat.


“Selamat, kak.” Leo menyerahkan buket bunga yang lebih besar kepada sang kakak. “Maaf, mama dan papa ku tidak bisa hadir. Papa sedang ada pekerjaan di luar kota, dan mama memaksa ikut. Maklum, mama sedang hamil muda, maunya ikut kemana pun papa pergi.” Leo menjelaskan panjang lebar. Dan Laura memaklumi itu. Ia mengerti perasaan ibu hamil, pasti ingin selalu dekat dengan suaminya.

__ADS_1


Wanita hamil itu merasa terharu. Tidak pernah ia bayangkan di hari wisudanya akan seindah ini.


“Terima kasih, semuanya.” Ucap Laura dengan suara bergetar.


“Sudah, jangan menangis. Kita ke taman belakang. Aku ada hadiah untukmu”


“Hadiah apalagi, pi? Semua ini sudah cukup.”


“Nanti kamu akan tau.”


Edward menuntun sang istri menuju halaman belakang rumah.


Tempat itu telah di sulap menjadi tempat makan siang. Di hias dengan bunga mawar dan Lily putih.


Nyonya Hugo dan ibu Maria memeluk Laura bergantian.


“Selamat wisuda, mami.” Devano datang membawa sebuah balon gas helium berwarna hitam. Di ikuti oleh salah satu adik Laura. Bocah kecil yang juga berusia 8 tahun, ia membawa sebuah tombak kecil, dan menyerahkan kepada Edward.


“Ayo mami. Pecahkan balon ini. Hadiah papi ada di dalamnya.” Devano kembali berujar.


Laura memperhatikan balon hitam itu, benda yang di pegang Devano itu, bertuliskan Boy or Girl?


Kening Laura mengerenyit. Ia ingat, sebulan lalu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Namun, Edward meminta dokter merahasiakan terlebih dulu.


“Apa ini seperti para artis-artis itu?” Tanya Laura ke arah sang suami.


“Aku tidak tau, tetapi aku meminta bantuan Felisha.”


Wanita yang di sebut namanya pun mendekat.


“Iya, La. Ini seperti yang para artis lakukan. Ayo, kini giliran kalian.”


Edward memberikan tombak kecil itu kepada sang istri. Dan setelah Laura memegangnya, Edward ikut menggenggam tangan sang istri.


“1, 2, 3…”


Duarrr


Balon hitam meledak, dan potongan kertas berwarna biru pun berterbangan di udara. Semua anggota keluarga bersorak gembira. Laura tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Ini..?” Tangan wanita itu menengadah, menangkap potongan kertas.


“Iya. Aku memberimu hadiah, seorang bayi laki-laki. Seperti yang kamu inginkan. Anak pertama kita seorang kakak laki-laki yang akan melindungi adik-adiknya.”


Laura pun menghambur memeluk sang suami. Begitu indah hadiah yang di berikan Tuhan kepadanya. Suami yang sangat mencintai, lulus dengan nilai terbaik. Dan sekarang, bayi laki-laki yang masih bersemayam di dalam perutnya.


‘Terima kasih, Tuhan. Untuk semua nikmat yang engkau berikan kepadaku.’


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2