
Tiga hari berlalu. Laura merasa bosan berada di rumah. Ia ingin sekali bertemu dengan sahabatnya. Namun, Edward melarangnya untuk keluar rumah jika bukan ke kampus untuk melakukan bimbingan.
Membersihkan kamar pun, kini dilimpahkan kepada Bu dewa, Laura hanya boleh memantau saja, saat wanita dewasa itu melakukan tugasnya.
Tak di ijinkan bertemu di luar, Ia mengundang Melani dan Yulia datang ke rumahnya. Tentu wanita muda itu sudah meminta ijin sang suami. Dan Edward telah memberi ijinnya.
Lagipula di rumah mewah ini ada banyak bahan makanan. Bu datu dan Bu dadu juga pandai membuat makanan apapun yang Laura minta. Makanan buatan rumah tentu lebih sehat.
“Bu, nanti ada dua temanku yang datang. Tolong siapkan camilan ya.” Ucapnya kepada Bu dadu.
“Mau di buatkan apa, nyonya?” Tanya wanita itu.
“Hmm..” Laura nampak berpikir sejenak.
“Buatkan kripik kentang, Bu. Minumnya nanti jus buah segar saja. Jangan di kasih nanas. Nanti suami ku mengamuk.”
“Bahan makanan yang tidak baik untuk ibu hamil, tidak ada di rumah ini, nyonya. Tuan sudah mewanti-wanti sebelumnya.”
Laura mengangguk paham. “Aku hampir lupa siapa suamiku, Bu.” Ucapnya tergelak. Edward adalah pria yang selalu memikirkan segala sesuatunya dengan matang.
“Dan untuk makan siang nanti, aku mau makan batagor. Untuk teman-teman ku, masak saja yang lainnya. Tetapi harus ada batagornya. Anak sultan mau makan itu.” Ucapnya terkekeh.
“Baik, nyonya.”
“Bu, tunggu.. buatkan aku rujak buah ya, aku tiba-tiba ingin makan itu. Mm, bawa nanti sama kripik kentangnya.”
Ucapan Laura membuat Bu dadu tersenyum. Ia kembali teringat masa kehamilannya dulu.
Laura kembali berlalu ke ruang depan. Rumah ini begitu besar untuknya meski hanya dua lantai.
“Nyonya istirahat saja.” Ucap Bu desa saat di lewati oleh sang nyonya.
“Aku bosan, Bu. Ingin jalan-jalan keluar, tetapi tidak boleh kalau tidak bersama suamiku.” Ucapnya dengan bibir mengerucut.
“Turuti saja, nyonya. Lagipula itu untuk kebaikan anda sendiri.” Ucap Bu desa sembari mengelap pajangan mewah di ruangan itu.
“Jadi istri orang kaya susah ya, Bu. Mengambil pekerjaan ini tidak boleh, mau pergi kesana tidak boleh.” Ucap Laura mendengus.
“Saya lihat, tuan sangat mencintai nyonya. Mungkin karena itu tuan sangat posesif kepada nyonya.”
Laura mengangguk setuju.
“Tidak hanya padaku, dengan adiknya pun dia sangat posesif.”
Obrolan berlanjut kesana kemari, dari pembahasan suami posesif hingga membahas harga bahan pokok yang meningkat.
“Semenjak tinggal dengan papi, aku tidak pernah membeli bahan makanan, jadi tidak tau jika harga minyak meningkat.” Ucapnya sembari mengedikan bahu.
Bel pintu utama berbunyi, Bu desa pun undur diri untuk membuka pintu. Laura mengangguk, namun ia mengikuti langkah kaki sang asisten rumah.
“Nyonya tamunya sudah datang.” Ucap Bu desa, di belakang wanita paruh baya itu, nampak Melani dan juga Yulia yang terlihat sedang menyeka keringat.
“Astaga… Laura.. jarak dari pintu gerbang ke pintu rumah kamu kenapa jauh sekali sih?”
__ADS_1
Tidak memberi salam seperti tamu pada umumnya, Melani justru melayangkan sebuah protes kepada sahabatnya.
Laura terkekeh mendengar ucapan Melani.
“Kan ada mobil Mel.”
“Kami datang dengan taxi. Mobilku mogok di restorannya mbak Yulia. Mbak Yulia nya tidak bawa mobil lagi ke restoran.” Cerocos Melani sembari mengibaskan tangannya di depan wajah.
“Kenapa tidak minta taxi mengantar sampai depan pintu?”
“Astaga, kami mana tau jarak pintu gerbang dan rumah ini jauh. Kan pintu gerbang kamu juga tinggi sekali.” Kali ini Yulia yang melayangkan protes.
“Ya sudah, ayo kita duduk.”
Laura menuntun sahabatnya memasuki ruang tamu.
“Bu, tolong minta Bu dadu membawakan minuman dan cemilan yang aku pesan tadi.” Perintahnya kepada bu desa.
Wanit itu pun undur diri.
Sementara kedua sahabat Laura, hanya mampu menganga melihat isi rumah itu. Begitu mewah dan mahal.
“La.. La.. minta satu pajangannya boleh? Buat nutupin uang kuliah.” Ucap Melani polos.
“Minta sama suamiku saja, Mel.”
Melani mencebikan bibirnya.
“Rumahnya mewah banget ya, bund. Mimpi apa kamu, La? Bisa dapat suami yang ganteng dan kaya?” Tanya Melani kembali.
Mereka pun duduk di atas sofa.
“Suami kamu tidak di rumah, La?” Tanya Yulia.
“Ya elah, mbak Yul, ya sudah jelas lah, tuan Hugo tidak di rumah jam segini. Ini hari kerja mbak, doi kan Big boss. Sudah pasti sibuk.” Bukan Laura yang menjawab pertanyaan Yulia, tetapi Melani.
Laura hanya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.
Tak berselang lama, bu dadu datang membawa pesanan dari Laura.
Ada 3 gelas jus buah. Satu mangkuk kripik kentang, dan satu piring rujak buah. Ia bawa menggunakan troli makanan.
Melani menelan ludah melihat apa yang di sajikan oleh asisten rumah sahabatnya.
Melihat ada rujak buah, dengan bumbu rujak di sampingnya, membuat Melani melihat arloji di pergelangan tangannya.
Ini masih bisa di bilang pagi, siapa yang di hidangkan rujak buah? Melihat jenis buah yang memenuhi piring saja, membuat Melani merasa ngilu.
“Silahakan, mbak, Mel. Kalian pasti haus setelah berjalan jauh.” Ucap Laura sambil terkekeh.
“La.. itu asisten rumah kamu tidak salah? Kenapa menyajikan rujak buah jam segini? Ngilu tau, La.” Ucap Melani sembari bergidik.
Yulia juga ikut melihat sajian yang tersedia. Ia pun merasa ngilu melihat potongan mangga muda itu.
__ADS_1
“Oh.. itu aku yang minta. Kalian makan kripik kentangnya saja.”
“La, tidak salah kamu makan rujak jam segini? Nanti asam lambung lho.” Yulia merasa khawatir.
Laura menyunggingkan bibirnya.
“Tidak salah kok, mbak. Kan anak aku yang minta.” Ucap Laura sembari mengusap perut ratanya.
Melani dan Yulia saling menatap. Sepertinya mereka mendengar sesuatu.
“Maksud kamu?” Tanya Melani dan Yulia bersamaan. Mata mereka juga langsung melihat ke arah perut sahabat mereka.
“Ya, aku hamil. Kalian akan punya keponakan.” Jawab Laura dengan menganggukkan kepalanya.
Kedua sahabat Laura itu, bangkit dari duduk mereka, kemudian secara serta merta menghambur memeluk Laura.
“Selamat ya, La. Kami senang sekali mendengarnya.” Ucap Yulia dengan nada haru.
“Iya, La. Selamat ya.”
Mereka melerai pelukan, namun kini mengambil tempat duduk di sisi Laura, Melani di sebelah kanan, dan Yulia di sebelah kiri.
“Sudah berapa bulan usia kehamilan kamu, La?” Tanya Yulia sembari mengusap perut Laura.
“Baru 5 minggu, mbak.”
Yulia mengangguk. Hamil muda, memang kebanyakan wanita suka makan rujak buah di pagi hari.
“Pantas saja kamu jarang ke kampus. Pasti di larang tuan Hugo ya?” Tanya Melani.
“Tidak kok, Mel. Suamiku mengijinkan aku ke kampus kalau memang ada keperluan. Kalau tidak ada, untuk apa juga pergi.”
“Ya. Tetapi memang ada baiknya kamu membatasi kegiatan kamu, La. Boleh masih berkegiatan, tetapi jangan terlalu berat, dan jangan terlalu lelah. Kamu juga jangan setres. Harus selalu Happy. Apapun keadaannya.” Sambung Yulia.
“Mbak, melihat dari kehidupan ibu ini sekarang, sepertinya dia sudah sangat Happy.” Sela Melani saat Laura baru akan membuka mulut untuk menjawab ucapan Yulia.
“Amiin, Mel.”
Mereka pun melanjutkan obrolan, hingga tak terasa waktu makan siang tiba.
“Silahkan. Kalian makan sepuasnya.” Laura mempersilahkan tamunya untuk mengambil sendiri hidangan yang tersaji di atas meja makan.
“Tunggu, itu punya siapa?” Tanya Melani melihat satu piring berukuran sedang, yang berisi hidangan batagor.
“Itu milikku, Mel. Tiba-tiba saja aku ingin makan itu.” Jawab Laura polos.
Melani menganga mendengar ucapan Laura.
“La, itu bayi sultan, ngidamnya yang mahalan dikit kek? Masa iya, istri Big boss ngidamnya batagor?” Ucap Melani meremehkan.
.
.
__ADS_1
.
T. B. C