TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 113. Hugo Tower


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti yang di ucapkan oleh Edward, kini Laura tengah berdiri di depan gedung bertingkat 20 dengan nama HUGO’S TOWER yang terukir indah di bagian depannya.


Laura tidaklah heran menatap bangunan tinggi menjulang itu, karena gedung penthouse yang di tempatinya bersama Edward juga memiliki tinggi yang sama. Hanya berbeda dari segi bentuk, gedung penthouse lebih lebar.


“Selamat siang, nona. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang petugas keamanan pria, berperawakan tinggi dan tegap mendekat ke arah Laura.


‘Aku kira penjaga keamanan di rumah.’


“Selamat siang, pak, aku mau bertemu dengan pak Edward.” Ucap wanita itu dengan sopan.


“Apa sudah membuat janji?”


Laura mengangguk. Kemudian sang petugas keamanan mengantar wanita muda itu ke bagian resepsionis.


“Selamat siang, nona.” Seorang petugas wanita yang berdiri di balik meja panjang, dengan sekat kaca bening, menyapa penuh senyum kedatangan Laura.


“Selamat siang, mbak. Aku mau ke bertemu pak Edward. Kalau boleh tau, beliau di lantai berapa?” Tanya Laura dengan sopan. Ini untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat suaminya mencari nafkah. Jadi ia tidak tau, dimana pria itu berkantor.


“Presdir di lantai 20, lantai paling atas. Tunggu sebentar, biar saya menghubungi sekretaris beliau.”


Laura mengangguk patuh. Perusahaan suaminya, bukan tempat sembarangan. Wajar saja, keamanannya begitu ketat.


Wanita muda itu memindai seluruh penjuru lantai dasar gedung itu. Ada beberapa orang lalu lalang, ada pula yang sedang mengobrol di atas sofa.


Tak berselang lama, Johan datang mendekat. Sang petugas resepsionis pun membungkuk memberi hormat.


“Selamat siang, nona.”


“Siang, kak Jo.”


Petugas resepsionis masih berdiri, melihat interaksi kedua orang itu. Ia sedikit heran, tak biasanya asisten Presdir yang langsung mendatangi tamu atasannya.


“Kamu.. lain kali jika nona datang lagi, langsung persilahkan naik. Jangan di tahan-tahan.” Johan berbicara pada petugas resepsionis itu.


“Perhatikan wajahnya dengan benar, dia pemegang 10 persen saham disini.”


Wanita muda di balik meja itu pun mengangguk patuh. Pemegang 10 persen saham, berarti adalah salah satu orang penting di keluarga Hugo.


“Mari nona. Ikut aku.” Johan menggiring istri atasannya menuju lift yang langsung menuju ke lantai dimana Edward berada.


“Lain kali datang langsung naik lift ini. Ruangan bos ada di lantai paling atas.” Ucapnya sembari menekan tombol 20, dan lift itu tertutup.


“Apa maksudnya saham 10 persen itu, Kak?”


Laura justru bertanya hal lain kepada Johan.


Johan menghela nafasnya pelan.


“Sudah menjadi tradisi di keluarga Hugo, setiap istri mendapatkan 10 persen saham dari suaminya.”

__ADS_1


Laura menelan ludahnya kasar. Ia baru tau hal seperti ini.


“Apa sudah di berikan padaku? Maksudku, apa sudah ada saham atas namaku disini?”


“Tentu. Sehari setelah menikah, bos memintaku mengalihkan 10 persen saham yang ia punya menjadi atas nama nona.”


Pintu lift pun terbuka, dari tempatnya berdiri Laura langsung melihat Monica tengah berkutat di meja kerjanya.


“Selamat siang, mbak Monica.” Sapanya kepada sekretaris sang suami.


“Ah, selamat siang, nona. Bos sudah menunggu. Silahkan masuk.”


Laura mengangguk, sementara Johan membukakan pintu untuk adik angkatnya itu.


“Selamat siang, papi.” Ucap Laura saat memasuki ruangan sang suami.


Ruang kerja yang begitu luas, dengan sebuah meja kerja di bagian tengahnya. Jendela kaca besar di bagian kiri, yang langsung menayajikan indahnya pemandangan kota. Ada juga ofa untuk menerima tamu, serta sebuah mini bar.


Ruangan itu juga di lengkapi dengan ruang beristirahat dan kamar mandi.


“Selamat siang.” Jawab pria yang tengah sibuk dengan komputer lipatnya. Kaca mata anti radiasi menempel sempurna di pangkal hidung, membuat pria itu terlihat lebih dewasa.


Seperti yang terlihat, suaminya sangat sibuk. Laura merasa bersalah karena menganggu kegiatan pria itu. Seharusnya, ia pulang sendiri saja ke panti.


Menghela nafasnya pelan, Laura perlahan berjalan menuju jendela besar. Menikmati indahnya pemandangan gedung-gedung pencakar langit di sekitar tempat suaminya bekerja.


“Kita makan siang dulu. Tadi aku sudah menyuruh Monica membeli nasi ayam betutu. Tiba-tiba saja aku ingin makan itu.” Di akhir kalimatnya, Edward mengecup pundak sang istri yang terbungkus kemeja putih.


Laura menurut, mereka pun makan siang bersama dengan satu tempat dan alat makan. Sesekali wanita itu menyuapi dirinya, kemudian beralih menyuapi sang suami.


“Pi?”


“Ya?”


Edward membuka botol air mineral, kemudian memberikan kepada Laura. Meminta wanita itu meminumnya terlebih dulu, kemudian barulah dirinya yang menghabiskan sisanya.


“Soal 10 persen saham—,”


“Oh iya, itu hadiah dariku. Kamu pasti tau dari kakak angkatmu kan?”


Laura mengangguk sebagai jawaban.


“Itu sudah menjadi tradisi di keluargaku. Yang sekarang juga menjadi keluarga mu.”


“Kenapa setiap hadiah yang papi berikan kepada ku, papi selalu menyebutnya tradisi? Apa itu benar tradisi? Atau papi berbohong, supaya aku tidak menolak?”


Edward membuang nafasnya pelan. Ia kemudian meraih jemari sang istri.


“Sayang, jika kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan pada mama. Aku tidak berbohong padamu. Hadiah rumah dan saham memang tradisi di keluarga ku. Tetapi hadiah yang lainnya tidak.”

__ADS_1


Laura menatap mata sang suami. Mencari sebuah jawaban yang tersimpan di balik sorot mata elangnya.


“Apa perlu aku tunjukkan daftar nama pemegang saham? Mama salah satu pemegang 10 persennya.”


Pria itu bergegas berdiri. Namun Laura menahan tangannya.


“Tidak perlu. Aku percaya padamu.”


*****


Mobil yang di kendarai oleh Edward, kini telah tiba di panti asuhan. Mereka datang tanpa memberi kabar. Waktu menujukkan pukul 4 sore, ketika pasangan suami istri itu menginjak halaman panti asuhan.


Dengan menemui ibu Maria terlebih dulu, Laura menyampaikan maksud kedatangannya kali ini.


Ia ingin berbicara dengan sang adik di temani oleh ibu Maria dan juga Edward. Laura tidak mempunyai keberanian menghadapi Leo sendirian.


“Nak, ada yang ingin ibu sampaikan juga. Ini mengenai pak Damian, donatur baru di panti ini.”


Laura dan Edward saling menatap mendengar nama pria itu terucap dari bibir ibu Maria.


“Ada apa, bu?” Laura bertanya penuh rasa was-was.


“Dia sedang mencari putranya yang di buang oleh mantan istrinya 16 tahun lalu. Pak Damian mengatakan Leo sangat mirib dengan dirinya saat remaja.”


Ibu Maria menghela nafasnya pelan.


“Karena itu, dia sering kesini untuk bisa dekat dengan Leo. Tetapi anak itu sangat sulit di dekati.”


“Bu?”


Ibu Maria menatap sang putri angkat.


“Apa Leo tau tentang ini?” Wanita paruh baya itu menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Laura.


“Ibu melarangnya untuk berbicara dengan Leo, sebelum ibu membicarakan ini dengan mu.”


Laura bernafas lega. Setidaknya ia masih punya kesempatan berbicara dengan sang adik.


“Kak Lala, kak Ed.”


Edward dan Laura kompak menoleh ke arah sumber suara. Jantung Laura tiba-tiba berdetak dua kali lebih kencang.


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2