
Menjelang malam nyonya Hugo tiba di rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 8 malam, saat ibu dua orang anak itu sampai di kediamannya.
Rasa bahagia kini menyelimuti perasaan wanita paruh baya itu. Karena gadis yang ia idam-idamkan menjadi menantunya, ternyata gadis yang sama dengan yang di cintai oleh sang putra.
Namun masih ada sedikit rasa kecewa yang tertinggal di hatinya.
Ia merasa bersalah kepada mendiang orang tua Laura, karena putranya telah merusak gadis itu sebelum mereka menikah.
Andai ia punya waktu lebih sering mengunjungi panti asuhan itu, mungkin Laura tidak akan kehilangan sebelum waktunya.
Gadis yang malang, ia harus mengalami banyak kehilangan di saat usianya yang masih begitu muda. Begitulah di benak wanita paruh baya itu sekarang.
Menghela nafasnya pelan. Nyonya Hugo melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah peninggalan mendiang suaminya.
Rumah yang penuh kenangan. Memang bertahun-tahun lalu, rumah itu tidak sebesar dan semewah sekarang. Tetapi seiring berjalannya waktu, rumah itu pun bertumbuh semakin besar. Berkat usaha dan kerja keras sang putra.
“Ma, mama sudah pulang?” Felisha menunggu kedatangan sang mama di teras rumahnya.
“Menurut mu?” Nyonya Hugo memicingkan matanya pada sang putri.
Felisha hanya terkekeh. Hatinya masih belum tenang, ia belum mendapat kabar tentang Edward dan Laura.
“Mama pasti belum makan malam, ayo aku sudah buatkan makanan kesukaan mama.”
Felisha menuntun sang mama menuju ruang makan.
“Kamu sudah makan malam?” Tanya sang mama sembari mengambil tempat duduk.
Felisha menggeleng.
“Bagaimana dengan Devano? Ini sudah lewat jam makan malamnya?”
“Devano sudah makan, ma. Dia sedang belajar bersama mbak nya.” Felisha mengambilkan beberapa hidangan untuk sang mama. Kemudian meletakan di hadapan wanita paruh baya itu.
Suasana hening menghiasi meja makan itu. Tidak ada satupun yang bersuara, sesekali hanya terdengar dentingan alat makan yang sedang beradu di atas piring.
Felisha membiarkan sang mama menyelesaikan makan malamnya terlebih dulu. Baru setelah itu ia ingin menanyakan hasil dari perjalanan sang mama ke kota kali ini.
Setelah acara makan malam selesai, nyonya Hugo meminta salah satu asisten rumah untuk membuatkan teh untuknya dan sang putri.
“Mama tau, ada hal yang ingin kamu tanyakan pada mama.” Wanita berusia 60 tahunan itu berjalan menuju ruang keluarga rumahnya.
Felisha mengikuti kemana sang mama melangkah.
“Mama tidak ingin membersihkan diri terlebih dulu?” Felisha bertanya saat ia melihat sang mama telah menempati sofa single di ruang keluarga.
“Nanti saja. Kalau mama naik sekarang, kamu tidak akan tau apa yang terjadi di kota.”
Felisha menganga, saat mendengar ucapan sang mama. Lagi-lagi ia melihat perubahan sikap mamanya.
Mama dari Devano itu mendudukkan bokongnya di sofa panjang, di samping tempat duduk sang mama.
Ia mengambil tempat di pinggiran sofa, dengan menumpangkan satu tangannya pada pembatas sofa.
“Ma, apa mama sudah bertemu dengan gadis pilihan mama itu?” Ia pun mulai bertanya.
__ADS_1
“Sudah, dia gadis yang paling tepat untuk Ed.”
Sang asisten rumah datang membawakan dua cangkir teh. Satu untuk sang nyonya besar, dan satunya lagi untuk nyonya muda.
“Terimakasih, mbak.” Ucap Felisha.
Nyonya Hugo menyeruput minuman hangat itu.
“Ma, boleh aku tau nama gadis itu? Maksudku, aku ingin mengenal calon kakak iparku.”
Mama dari Devano itu mencari celah agar bisa mengetahui siapa sebenarnya gadis pilihan mamanya.
“Kamu sudah tau, kenapa bertanya lagi.” Nyonya Hugo memicingkan matanya pada Felisha.
“Maksud mama? Apa gadis itu—,”
“Ya, gadis itu Laura.” Wanita paruh baya itu kembali menyesap cangkir tehnya.
“Hah” Saudari kembar Edward itu bisa bernafas lega. Ia bisa membayangkan betapa sang kakak sangat bahagia saat ini.
“Apa sebelumnya mama sudah tau, jika Ed berhubungan dengan Laura?” Rasa penasaran kini menggerogotinya. Apalagi sang mama pernah mendengar percakapan sepasang saudara kembar itu.
Nyonya Hugo menggeleng. Ia sama sekali tidak tau jika putranya menjalin hubungan dengan Laura.
“Tetapi mama mendengar pembicaraan kami, saat di teras atas.”
“Mama hanya mendengar sedikit, mama tidak mendengar kalian menyebutkan nama seorang gadis apalagi itu Laura.” Nyonya Hugo mengedikan bahunya tanda tidak tau.
“Syukurlah, ma. Aku bisa tenang sekarang. Pilihan mama dan Ed ternyata sama.” Wanita berusia 35 tahun itu pun meminum teh hangatnya.
“Sudah mama katakan, pilihan mama pasti yang terbaik. Kalian saja kadang suka tidak mau mama pilihkan.”
Orang yang selalu ada disaat dia berada di dalam masa sulitnya setelah kepergian sang suami.
“Ma, sejak kapan mama mengenal Laura? Kenapa mama bilang gadis itu anak dari teman mama?” Kembali Felisha bertanya.
“Sejak gadis itu berusia 2 tahun mama sudah mengenalnya.”
Mata Felisha membulat, bibirnya menganga. Apa kali ini mamanya serius dengan ucapannya?
“Mama serius, Fel.” Ucap nyonya Hugo melihat keterkejutan sang putri.
“Setahun setelah kepergian papamu, mama sering mengunjungi panti itu, karena dekat dari rumah ini. Setiap kali pulang dari mengunjungi papamu, mama akan mampir kesana.”
Pandangan nyonya Hugo menerawang jauh, ia teringat kembali akan masalalunya.
“Bahkan waktu itu mama sudah menyukai gadis kecil itu. Mama ingin mengadopsinya tetapi tidak mungkin, karena dia memiliki orang tua.” Nenek dari Devano itu terkekeh di akhir ucapannya.
“Apa mama sudah merencanakan perjodohan Ed dan Laura sejak gadis itu masih kecil?” Tanya Felisha tak percaya.
“Tidak, kamu pikir mama segila itu. Saat itu kalian sudah berusia 16 tahun. Sementara Laura baru bisa berjalan.”
“Lalu?”
“Hah.” Nyonya Hugo menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
“Perjodohan ini, mama rencanakan 3 tahun yang lalu, ketika ibu gadis itu meninggal. Mama kasihan melihatnya. Dia sendirian, meski banyak mempunyai saudara. Tetapi ia juga membutuhkan kasih sayang untuk dirinya sendiri.”
Felisha menganggukkan kepalanya.
“Karena mama juga melihat, kakakmu tidak pernah dekat dengan wanita selain kita. Jadi mama berniat menjodohkan mereka berdua. Dengan begitu, gadis kecil itu akan tetap menjadi putri mama tanpa harus mengadopsinya kan?”
“Iya, ma. Mama benar. Tetapi, kenapa Laura tidak tau jika mama adalah mamanya Ed?”
Nyonya Hugo terkekeh. Inilah yang membuat kesalahpahaman terjadi di antara dirinya dan sang putra.
“Kamu tau, setelah kepergian papa, kakekmu menutup semua informasi tentang keluarga kita.”
Felisha menganggukkan kepalanya.
“Selama ini, mama menggunakan nama Samantha saat di luar rumah. Bahkan mendiang orang tuanya Laura tidak tau nama mama yang sebenarnya.”
“Astaga, mama.” Kepala Felisha menggeleng tak percaya.
“Besok kamu temani mama, kita akan ke panti untuk melamar Laura. Setelah itu kita ke makam orang tua gadis itu.”
Felisha mengerenyitkan dahinya.
“Melamar Laura?” Ulangnya.
“Iya, mereka akan mama nikahkan minggu depan. Mama tidak mau, mereka berbuat dosa lebih lama.”
Felisha mengerti apa yang di maksud sang mama. Wanita itu pun setuju. Memang seharusnya sang kakak bertanggung jawab terhadap gadis itu, dengan menikahinya.
“Ma..” Felisha bangkit dari duduknya. Ia berlutut di hadapan sang mama, kemudian merengkuh tubuh renta itu.
“Terimakasih, ma. Mama selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Terimakasih karena mama tetap bertahan sendirian menjaga kami. Maaf, jika selama ini, aku dan Ed belum bisa membahagiakan mama.”
Nyonya Hugo membalas pelukan sang putri. Ia mengecup sayang kepala anak perempuannya.
“Asalkan kalian bahagia, mama juga ikut bahagia, Fel.”
.
.
.
T. B. C
Terimakasih untuk semua dukungan kalian teman Readers. Maaf ya, kalau aku baperan. 😔😔
I LOVE YOU FULL ❤️❤️
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Gift.
Semoga Tuhan memberkati 😇