TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 144. Menghabiskan Waktu Berdua.


__ADS_3

Keesokan harinya, pasangan Edward dan Laura kini tengah bersiap untuk check-out, dari hotel yang mereka tempati. Sebuah resort bintang lima, yang terletak di pinggiran Ubud.


“Kamu suka tempat ini?” Edward memeluk pinggang sang istri yang kini tengah berdiri di balkon kamar, melihat indahnya pemandangan sawah, dan hutan yang membentang di sisi barat hotel.


“Aku suka. Tetapi, jangan sampai papi membeli saham di tempat ini.” Laura menyadarkan punggungnya di dada bidang sang suami. Bukan tanpa alasan ia berbicara seperti itu, karena sang suami akan membeli apa pun yang ia sukai.


Edward terkekeh. Ia pun menumpangkan dagunya pada bahu sang istri.


“Memangnya kenapa jika aku membeli saham disini?”


“Mahal. Kamar hotelnya saja mahal sekali.”


Laura teringat harga kamar yang ia tempati dan Edward ini mencapai dua digit. Seharga satu buah motor.


“Ada harga, ada kualitas, mami. Lihat apa yang kamu dapatkan dengan harga yang begitu mahal. Tidak kamu dapatkan di ibukota. Tempat ini sangat cocok di gunakan untuk menenangkan diri.”


“Ya, dan hanya orang-orang berduit yang mampu menginap disini.”


Edward terkekeh. Ia mencium pipi gembul sang istri.


“Ayo, Putu mungkin sudah ada di lobby.”


Edward mengajak sang istri keluar dari kamar yang berbentuk villa itu. Seorang petugas hotel, telah siaga di depan pintu untuk mengantar mereka ke lobby hotel.


“Bli, kita ke pasar seni ya. Aku mau membeli oleh-oleh khas Bali untuk pekerja di rumah. Yang aku tau, Ubud memiliki pasar seni kan?”


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, waktu masih menunjukan pukul 10 pagi. Namun, Edward memutuskan untuk meninggalkan Ubud, mereka memang mengambil penerbangan di malam hari, sebelum itu, ia ingin mengajak sang istri berjalan-jalan sebentar.


“Pasar seni Ubud, sedang di perbaiki nyonya. Jika nyonya mau, kita akan mengunjungi pasar seni Sukawati. Hanya 30 menit dari sini.” Ucap pemuda itu dari balik kemudi. Begitulah kehidupan seorang pekerja pariwisata di Bali, harus banyak tau tentang tempat-tempat pariwisata yang terkenal.


“Boleh.” Laura menganggukkan kepalanya.


“Pi.” Dia menoleh ke arah sang suami di sampingnya, pria itu tengah sibuk dengan ponselnya. Dan Laura memaklumi, karena sang suami bukanlah pria pengangguran.


“Mertua, ipar dan keponakan mu sedang berada di rumahmu, mi.” Pria itu berucap dengan pandangan yang tak berpindah dari layar ponselnya.


“Maksud papi, apa?” Tanya Laura kembali merotasikan kepalanya menghadap sang suami.


Edward menyodorkan ponsel berisi rekaman video pengawas di rumah mereka. Membuat Laura menganga seketika.

__ADS_1


“Kenapa tidak ada yang menghubungi kita, pi?” Tanyanya tak percaya.


“Mungkin mereka tidak mau menganggu kita” ucap Edward dengan mengedikan bahunya.


“Lihatlah, mereka bahkan mengundang Johan dan Monica makan malam bersama.” Ucap Edward menunjukkan remakaman rumah mereka semalam.


Pria itu kemudian mematikan rekaman itu, kemudian menghubungi sang mama. Laura meminta Edward untuk menyalakan pengeras suara.


“Apa sudah puas mengacak rumahku, ma?” Ucap Edward saat panggilannya telah di jawab oleh sang mama.


“Belum. Tinggallah lebih lama, supaya kami puas merusuh disini.” Ucap nyonya Hugo dari seberang panggilan.


“Ma, kenapa tidak memberitahu akan datang? Jika tau kalian akan datang ke rumah, kami tidak akan pergi.” Ucap Laura menyela.


“Tadinya kami mau membuat kejutan, tetapi justru kami yang terkejut.” Ucap nyonya Hugo terkekeh.


“Tunggu disana, ma. Kami pulang—


“Tidak, kami pulang nanti malam. Mama kalau mau pulang, pulanglah. Jangan menunggu kami.” Edward menyela begitu saja. Ia tak mau istrinya merengek, meminta pulang sekarang juga.


“Tapi, pi?”


“Tidak apa-apa, La. Kami pulang setelah makan siang. Nikmati lah waktu libur singkat kalian.” Ucap Nyonya Hugo yang mengerti arah perdebatan putra dan menantunya.


Panggilan pun berakhir, membuat Laura memalingkan wajahnya, menatap ke luar jendela.


“Sudah, jangan merajuk. Kapan lagi kamu punya waktu berdua dengan suamimu, selain di tempat tidur?” Edward berbisik tepat di telinga sang istri, membuat pipi wanita muda itu bersemu merah.


Ia pun tak kuasa menahan senyum.


***


Setelah tiga puluh menit berkendara ke arah selatan Ubud, mobil Alphard yang membawa pasangan Edward dan Laura, tiba di sebuah pasar seni yang sudah tersohor di Bali.


Mata Laura berbinar, memasuki bangunan pasar seni bertingkat tiga itu, begitu banyak kain yang menyambutnya. Mulai dari baju, celana pantai, topi, sarung pantai.


Jiwa wanitanya pun keluar. Ia membeli setiap kain yang ia rasa indah.


“Nyonya, anda bisa menawar harga.” Putu memberitahu.

__ADS_1


“Benarkah?”


“Tidak perlu menawar. Bayar saja harga sesuai harga.” Edward menyela. Ia ingin cepat keluar dari tempat itu. Pasar ini memang bersih, dan bangunannya juga modern, tetapi banyaknya pedagang yang berjualan dan tak berjarak membuat Edward merasa risih.


Puas berbelanja, Laura ingin makan siang dengan menu ikan bakar. Maka, Putu membawa sang majikan ke daerah Serangan, Bali.


Selain di Jimbaran, pulau Serangan juga terkenal dengan makanan khas hasil laut. Seperti, ikan, udang, kerang dan juga rumput laut.


Jam menujukkan pukul 3 sore waktu Bali. Edward mengambil penerbangan jam 7 malam. Masih ada 4 jam waktu tersisa, sementara bandara I Gusti Ngurah Rai tidak jauh dari tempat mereka makan siang, hanya memerlukan waktu kurang lebih sekitar 20 menit.


“Mau kemana lagi, Tuan dan Nyonya?” Tanya Putu yang ikut makan siang bersama. Sebenarnya ia merasa sungkan. Bagaimana pun juga, Edward merupakan bos besarnya. Namun, Laura memaksa, ia pun hanya bisa pasrah.


“Kamu tunggu saja di mobil. Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan istriku disini.” Edward memberi perintah. Pemuda itu pun undur diri.


Duduk berdua di sebuah gazebo, sembari menatap riak air laut yang tidak terlalu bergelombang, Edward menyandarkan kepala sang istri di bahunya.


Tangan kiri pria itu, membelit pinggang sang istri yang mulai melebar karena kehamilannya.


“Apa mami sudah merasa puas?” Tanyanya sembari mengusap lembut perut sang istri.


“Hmm.. Terima kasih, karena sudah menuruti keinginan konyol ku.”


“Apapun untukmu, asal masih masuk akal. Jika tidak, meski kamu menangis darah pun, aku tidak akan menurutinya.”


Laura mencebik. Meski membawa-bawa sang jabang bayi pun, tak akan mendapat apa yang ia inginkan, setelah mendengar pernyataan sang suami.


“Jangan membawa-bawa anakku, dia bahkan belum berbentuk.” Ucap Edward kembali, seolah tau isi pikiran sang istri.


“Iya, papi. Tidak akan lagi. Tetapi jika memang benar anakmu yang menginginkan, aku bisa berbuat apa? Selain meminta dan merengek pada ayahnya.” Wanita itu menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskan dengan pelan.


“Ingat, kamu yang menghamili aku. Jadi kamu harus siap, memenuhi keinginan hasil dari perbuatanmu.”


“Tentu saja. Memangnya kapan aku tidak memenuhi keinginanmu? Hmm..”


.


.


.

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2