
Menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam lima puluh menit, pasangan berbeda usia itu kini sudah berada di bandara I Gusti Ngurah Rai - Bali, tepat pukul 3 sore waktu setempat.
Tangan kanan Edward mengeret koper berukuran sedang yang berisi pakaian mereka. Sementara tangan kiri pria itu menggenggam jemari tangan sang istri.
Keluar dari pintu kedatangan domestik, seorang pria muda utusan dari Johan, menyambut kedatangan mereka berdua. Pria muda asal Bali, merupakan salah satu sopir yang bekerja di hotel milik Edward.
“Selamat datang di Bali. Tuan dan Nyonya.” Ucapnya ramah.
“Terima kasih.” Jawab Laura juga dengan ramah.
Edward menyerahkan kopernya kepada pemuda itu. Ia kemudian membukakan pintu penumpang untuk sang istri.
“Kita mau kemana dulu, tuan?” Pria muda itu bertanya dari balik kemudi. Karena menurut perintah Johan, sang atasan dan istrinya ingin makan bebek betutu di daerah Ubud.
“Kita—
“Langsung saja ke restoran itu, Bli.” Ucap Laura menyela ucapan sang suami. Ia sudah tidak sabar menikmati bebek dengan olahan bumbu Bali itu. Ia juga tidak ingin sang suami tiba-tiba berubah pikiran, dan mengajaknya ke tempat lain.
Edward menghela nafasnya pelan. Ia ingin membawa istrinya beristirahat terlebih dulu. Baru nanti malam pergi ke sana. Namun, keinginan wanita itu sepertinya tidak bisa di tahan lagi.
“Mami, bagaimana jika kita istirahat dulu sebentar di hotel. Tidak jauh dari sini.” Edward mencoba memberi penawaran.
“Tidak. Kesana sekarang, atau aku pergi sendiri?”
Lagi-lagi pria dewasa itu hanya mampu menghela nafasnya pelan.
“Baiklah, kita kesana sekarang.”
Mobil pun perlahan melaju meninggalkan satu-satunya bandara yang ada di pulau dewata itu.
“Berapa lama kita akan sampai?” Edward bertanya kepada sang sopir.
“Kurang lebih satu jam, tuan. Lewat jalur tol.”
“Wah, apa kita akan melintasi tol di atas laut itu, Bli?” Tanya Laura berbinar. Ia pernah mendengar, jalan tol di bali satu-satu jalan tol di pulau itu yang di bangun di atas laut.
“Iya, nyonya.”
“Istirahat lah, mi. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai.” Edward menarik kepala sang istri, membawanya kedalam dekapan.
__ADS_1
“Ish, apaan sih, papi. Aku mau lihat jalan tol di atas laut.” Laura mendorong tubuh sang suami. Ia bergeser menjauhi pria dewasa itu.
“Baiklah, tetapi jangan terlalu jauh duduknya. Kemarilah.” Pria dewasa itu meraih pinggang sang istri supaya mendekat kepadanya.
Mata Laura berbinar. Bibirnya berdecak kagum, kala mobil yang mereka tumpangi melintas di tengah jalan yang berdiri membentang di tengah lautan.
“Indah sekali.” Ucapnya yang tak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari arah luar.
“Hati-hati saja membawa mobilnya, istriku sedang hamil.” Edward melirik sang sopir melalui kaca spion.
“Baik, tuan.”
Dan benar apa yang di katakan sopir itu, setelah satu jam sepuluh menit, mobil itu tiba di depan restoran yang diinginkan oleh Laura.
“Carikan kami hotel berbintang lima di sekitar sini. Aku tidak mungkin membawa istriku kembali ke Jimbaran malam ini.” Edward memberi perintah kepada pria muda itu, sebelum keluar dari dalam mobil.
“Baik, tuan.”
“Ayo Bli, ikut kami makan.” Laura menawarkan.
“Terima kasih, nyonya, saya akan menunggu di parkiran. Biasanya para sopir di berikan makanan gratis disana.” Jawab pria itu ramah.
“Ah baiklah.”
Pria muda itu mengetikan sederetan angka di layar benda pintar itu, kemudian menyerahkan kembali kepada atasannya.
“Putu? Bukannya itu nama kue?” Tanya Laura yang ikut menatap layar ponsel sang suami.
Pria muda itu terkekeh, ia ingin terbahak. Tetapi, ia masih menjaga sopan santun di depan atasannya.
“Kalau untuk orang Bali, Putu itu nama awalan untuk anak pertama, nyonya.” Jawabnya memberi penjelasan.
“Ah, begitu ya.” Laura menganggukkan kepalanya.
“Ya, sudah. Ayo turun. Bukannya kamu ingin makan bebek? Jangan katakan keinginanmu sudah menguap.” Edward teringat beberapa hari lalu, sang istri ingin makan nasi goreng dengan telur mata sapi, yang di masak langsung oleh Edward. Pria itu pulang dari kantor dengan terburu-buru. Tetapi, sampai di rumah, belum juga memulai memasak, wanita hamil itu mengatakan keinginannya telah menguap di udara.
“Tidak lah. Ayo. Aku sudah tidak sabar.”
Pasangan berbeda usia itu pun keluar dari dalam mobil Alphard, yang khusus di peruntukan untuk pemilik hotel.
__ADS_1
Mata Laura berbinar memasuki restoran bernuasa khas Bali, dengan beberapa petak kecil sawah di halamannya.
Edward memilih duduk di sebuah gazebo, ia ingin memiliki privasi dengan sang istri. Meski di jam 5 sore seperti ini, restoran itu terlihat lengang. Namun masih ada beberapa turis yang mengisi meja-meja di tempat makan itu.
Seperti yang di inginkan Laura, Edward memesan satu ekor bebek betutu untuk mereka berdua nikmati bersama.
Tak berapa lama, makanan yang mereka pesan pun datang. Satu ekor bebek betutu, satu bakul nasi, sayur urap, sate lilit khas Bali, di lengkapi dengan sambal matah ( mentah ) dan juga sambal ulek.
Edward juga memesan dua botol air mineral, dan dua gelas jus buah segar.
Mata Laura berbinar mendapati makanan yang diinginkannya sejak tadi pagi, kini ada di depan matanya. Mereka pun mulai menyantap hidangan itu. Sesekali, Edward akan menyuapi istrinya. Hal yang sudah sering pria itu lakukan, semenjak Laura hamil. Ia ingin, sang calon penerusnya merasakan kasih sayang dari papanya.
Hampir dua jam berada di restoran itu, mereka pun memutuskan untuk beristirahat ke hotel.
“Pi, aku ingin melihat monyet.” Ucap Laura menujuk ke arah patung monyet yang menjadi ciri khas di daerah Ubud itu. Kini Edward dan Laura tengah berdiri di depan restoran, menunggu kedatangan mobil mereka.
“Tidak!!” Jawab Edward dengan tegas.
“Cepat masuk.” Edward membukakan pintu untuk Laura. Wanita itu kini merajuk, dan tak mau menatap sang suami.
“Aku ingin melihat monyet.” Ucap wanita itu lagi.
Sang sopir, yang bernama Putu itu, melajukan dengan pelan mobil, ketika mendekati areal hutan monyet, atau yang terkenal dengan nama Monkey Forest, Ubud.
“Aku katakan, tidak. Kali ini, aku tidak akan menuruti keinginan mu. Kamu sedang hamil. Aku tidak mau mengambil resiko, jika nanti ada monyet yang mencakar mu. Akan susah mendapatkan vaksin, karena kamu sedang hamil.” Jelas Edward panjang lebar.
Pundak Laura melemas, ia mencoba menerima dengan logika, alasan yang di ucapkan sang suami. Namun, sedetik kemudian wanita itu menjerit, kala mendapati beberapa monyet yang berkeliaran di jalan raya, terlihat merebut barang bawaan seorang turis.
Edward ikut melihat ke arah pandangan sang istri. Pria itu pun mencebikan bibirnya.
“Lihatlah. Kamu mau itu terjadi padamu?” Tunjuk Edward ke arah turis yang barangnya di ambil oleh seekor monyet.
Kepala Laura menggeleng, ia bergidik ngeri, membayangkan binatang itu melompat ke tubuhnya.
“Bli Putu, kita jalan saja.” Ucap wanita itu kemudian. Pria muda itu menganggukkan kepalanya. Kemudian melajukan mobil itu menuju hotel yang telah ia pesan untuk atasannya.
.
.
__ADS_1
.
T. B. C