
Keesokan harinya, Laura memutuskan pulang ke panti. Ia merasa tubuhnya sudah lebih baik, rasa nyeri karena Dismenorea syndrom, tidak begitu kuat ia rasakan lagi.
Kemarin ia menghabiskan banyak waktu dengan Monica. Bahkan gadis itu sampai meminta Monica menginap di penthouse Edward. Tetapi, tentu mereka tidak menempati kamar sang tuan rumah. Melainkan menggunakan kamar tamu.
“Nona yakin akan pulang hari ini?” Tanya Johan memastikan. Mereka baru saja selesai sarapan.
Laura menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana jika kami antar? Hitung-hitung liburan bersama.” Usul Monica yang masih berada disana.
“Ah, tidak perlu mbak. Aku pulang sendiri saja.” Tolak Laura secara halus.
“Tadi, adikku mengirim pesan meminta mengantarnya membeli seragam. Jadi nanti kalian tidak ada yang menemani di panti.” Ucap gadis itu lagi.
“Tapi nona, bagaimana dengan bos?” Tanya Johan khawatir.
“Aku sudah mengirim pesan padanya.” Dusta Laura. Sejak di tinggal kemarin oleh pria dewasa itu, mereka sama sekali tidak bertukar kabar.
Laura juga enggan mengirim pesan lebih dulu. Karena biasanya, pesan yang ia kirim saat Edward berada di rumah keluarganya, tidak akan mendapatkan balasan.
Dan sekarang Laura mengerti, kenapa pesan yang ia kirim kepada Edward tidak terbalas. Dikarenakan pria itu sedang sibuk dengan anak dan istrinya. Mungkin(?)
“Apa nona tau bos akan kembali hari ini?”
“Aku tau, dan pak Jo tidak perlu khawatir. Aku juga akan kembali hari ini. Sebelum dia tidur.” Ucap gadis itu sambil tersenyum getir.
‘Ingat, aku hanya membutuhkan mu saat aku tidur. Jadi kembalilah sebelum aku tidur’
Ucapan Edward di awal kebersamaan mereka pun kembali terngiang.
‘Ya, aku hanya teman tidurmu, Ed.’
“Baiklah kalau begitu, nona. Hati-hati di jalan. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku.” Pesan Johan.
“Tentu pak Jo.”
Laura mengendarai mobil tuanya dengan kecepatan di atas rata-rata. Entah kenapa hari ini jalanan begitu lengang. Sehingga ia leluasa untuk menyalip kendaraan lainnya.
Kurang dari dua jam gadis itu sudah tiba di panti.
Seperti biasa Laura selalu bercengkerama dengan para penghuni panti yang ia jumpai. Setelah itu ia akan menemui ibu Maria dan bibi Lily.
“Nak, katanya Leo mau membeli seragam sekolah. Kamu bisa mengantarnya kan?” Tanya ibu Maria.
“Iya Bu, aku akan mengantarnya.”
“Terimakasih, Nak.”
Mendekati makan siang Laura mengantar adiknya Leo ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di daerah itu.
“Mau beli apa aja, dek?” Tanya Laura kepada sang adik yang kini duduk di sampingnya di dalam mobil.
“Aku sudah mencatatnya kak. Ada juga titipan dari adik-adik yang lain.” Ucap remaja berusia 16 tahun itu.
“Baiklah.”
********
“Kamu akan kembali sesiang ini?” Tanya Felisha sambil melihat jam tangannya.
“Hmm. Tidak apa-apa kan?” Tanya Edward.
‘Ini sudah kedua kalinya kamu meninggalkan rumah lebih cepat, Ed. Apa karena ada yang menunggumu di penthouse.’
“Fel. Ada apa?” Tanya pria itu lagi saat mendapati Felisha melamun.
“Itu, semalam—,” wanita itu menjeda ucapannya. Ia menarik nafas dan membuangnya kasar.
__ADS_1
“Semalam Devano meminta di ajak jalan-jalan, sudah lama kita tidak mengajaknya keluar.” Ucap Felisha lirih.
“Hmm.. benarkah?” Edward melirik jam mahal di pergelangan tangannya.
“Baiklah.. siapkan dia. Kita jalan-jalan sambil makan siang.” Sambungnya lagi.
“Terimakasih, Ed.” Felisha menghamburkan tubuhnya ke pelukan Edward.
“Aku akan memanggil Devano. Tunggu ya.” Wanita dewasa itu bersemangat menaiki tangga untuk memanggil sang putra.
Setelah hampir 25 menit berkendara, Laura dan Leo akhirnya tiba di sebuah pusat perbelanjaan.
Memarkirkan mobil tuanya dengan rapi, gadis itu lalu mengajak adiknya memasuki gedung berlantai lima itu.
“Mau kemana dulu, dek?” Tanya Laura.
“Nyari seragam aku dulu, kak. Itu yang penting, untuk di pakai besok soalnya.” Jelas Leo.
“Baiklah.” Laura mengajak adiknya ke salah satu toko yang menjual seragam-seragam sekolah. Mulai dari seragam sekolah dasar, hingga seragam sekolah menengah atas. Dan yang di cari Leo adalah seragam untuk sekolah menengah atas.
Hampir 30 menit mereka ada disana. Setelah melakukan pembayaran, Leo mengajak sang kakak mencari titipan dari adik-adiknya.
“Kak ke toko buku, nyari buku buat Ian.” Ucap Leo.
“Ayo.”
Mereka pun menuju ke toko buku. Setelah itu berlanjut mencari barang-barang lainnya.
“Sudah semua, dek?” Tanya Laura.
Leo mengecek kembali daftar titipan adik-adiknya. Ia juga mengecek barang yang telah ia beli.
“Sudah kak. Tetapi—,” remaja itu menjeda ucapannya.
“Apa dek?”
“Kakak juga lapar. Ayo kita mencari makan.”
Laura dan Leo menuju ke lantai 3, tempat dimana berjejernya restoran-restoran yang menyajikan beraneka macam makanan khas daerah-daerah di negara ini.
“Dek, kita kesana.” Laura menujuk tempat yang menjual makanan Bali.
Mereka berjalan beriringan.
“Kak, aku mau beli es dulu di sana, boleh ya?” Leo menujuk sebuah tempat yang khusus menjual minuman kekinian.
“Ya sudah, nanti kamu cari kakak ke sana ya.” Laura menunjuk restoran Bali itu.
“Baik kak.”
Laura melangkah kan kakinya menuju pintu masuk restoran itu.
Deg..
Gadis itu seketika mematung melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya.
Di sebuah meja makan disudut ruangan, terlihat Edward bersama seorang wanita dan seorang anak laki-laki.
Laura ingat, mereka adalah orang-orang yang ada di layar ponsel Edward.
“Papa.. aku mau pesan ayam betutu” ucap anak laki-laki itu. Suasana tempat makan yang sedikit lengang, membuat suara Devano sedikit menggema.
Deg..
Hati Laura terasa teriris ribuan pisau, saat mendengar ucapan bocah itu.
‘Aku ada janji dengan keponakan ku’
__ADS_1
Laura tersenyum getir.
“Kamu berbohong, tuan Hugo.”
Entah mengapa, mata Laura terasa perih. Tanpa di minta, satu tetes air mata turun membasahi pipinya.
Gadis itu membalikkan badan, saat melihat wanita yang bersama Edward menoleh ke arahnya.
‘Bukannya itu gadis yang bernama Laura?’
Ingatan Felisha memang sangat bagus. Meski sekilas, ia yakin jika gadis itu Laura.
“Kak Lala….”
Deg…
Edward menoleh ke arah sumber suara, ia mendengar suara seorang remaja laki-laki memanggil nama Lala.
Tetapi pria itu tidak melihat siapapun, hanya terlihat dua orang yang berjalan menjauhi tempat itu.
“Ada apa, Ed?” Tanya Felisha. Ia juga ikut menoleh ke arah pandangan Edward.
“Tidak, tidak apa-apa.” Ucap Edward.
‘Apa kamu ada disini, baby? Apa kamu pulang ke panti? Kenapa tidak memberi kabar padaku?’
Hanya mendengar nama Lala saja, batin pria dewasa itu menjadi bergejolak.
Bagaimana jika benar yang tadi itu, Laura? Apa gadis itu melihat dia disana? Apa gadis itu akan salah paham?
‘Apa kamu merasa jika gadis itu ada di sini, Ed?’
“Kak, kenapa menarik ku?” Tanya Leo yang kini di seret oleh Laura.
“Kita tidak jadi makan disana, dek.” Ucap gadis itu yang masih berjalan dengan cepat menuju ke arah parkiran.
“Lalu..? Aku lapar kak..”
“Kita makan di tempat pak Mahdi saja. Tiba-tiba kakak ingin makan lalapan buatan pak Mahdi.”
.
.
.
T. B. C
—————
Eng… Ing… Eng…
Authir a.k.a Author amatir mau semedi dulu. Biar dapat Ilham. Soalnya mas Ilham lagi pergi dari otakku.
😅😅
Jangan lupa
Like
Komen
Vote atau Gift
Terimakasih banyak-banyak-banyak-banyak untuk yang sudah selalu mendukungku.
I LOVE YOU TILL THE END
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️