TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
ExtraPart. Bulan Madu


__ADS_3

Tepat pukul 10 pagi, Damian dan Teresha tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.


Seorang pemuda, dari salah satu hotel yang sudah di booking oleh Damian, menunggu kedatangan mereka pada pintu kedatangan domestik, dengan membawa papan nama bertuliskan, Tuan dan Nyonya Wicaksana.


Pipi Teresha memanas membaca papan nama itu, sampai saat ini ia belum terbiasa dengan statusnya yang telah kembali menyandang status sebagai Nyonya Wicaksana.


“Selamat datang di Bali, Tuan dan Nyonya.” Pemuda itu mengulurkan tangan.


Damian dan Teresha menjabat tangan pemuda itu bergantian. Mereka kemudian berjalan menuju parkir, dimana mobil yang akan membawa mereka berada.


Menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam, akhirnya mereka tiba di salah satu hotel berbintang lima di kawasan Ubud.


Damian sengaja memilih hotel yang memiliki kamar berjenis villa, supaya ia memiliki banyak waktu berdua dengan sang istri.


Terletak di lereng bukit yang menghadap ke arah sungai, villa yang luas ini memiliki kolam renang pribadi. Bangunan villa yang di rancang dengan gaya khas Bali, serta Dilengkapi dengan fasilitas khas hotel berbintang lima.


Damian tidak masalah jika harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk menyewa sebuah kamar. Ia ingin memanjakan sang istri. Membuat wanita itu jatuh cinta dengan segala kelembutan, kemanjaan dan kasih sayang yang ia berikan.


“Indah sekali.” Kagum Teresha saat memandang indahnya pemandangan alam.


“Kamu suka?” Damian datang sembari membawa dua botol soft drink. Ia membukakan satu untuk sang istri.


“Suka.” Wanita itu kemudian meneguk isi botol yang di berikan sang suami.


“Aku akan mengagendakan liburan setiap tahun ke tempat ini.” Jawab Damian kemudian.


Teresha menganga mendengar ucapan sang suami. Kepala wanita itu pun menggeleng kemudian.


“Bali masih banyak tempat indah yang bisa di kunjungi. Tidak hanya di tempat ini, kan?”


Mendengar jawaban sang istri. Damian tersenyum senang. Ia kemudian mendekat, dan mendekap tubuh ibu dari anaknya itu.


“Apa itu artinya kamu mau liburan setiap tahun bersamaku?” Tanyanya sembari menumpangkan dagu pada pundak sang istri.

__ADS_1


“Tidak.” Jawaban singkat Teresha membuat dekapan Damian melonggar.


“Maksudku, tidak hanya denganmu, aku ingin kita liburan tiap tahun bersama Leo. Dan mungkin adik-adiknya kelak.” Lanjut wanita itu. Membuat sang suami kembali mengeratkan pelukannya.


“Tentu, ma. Kita akan liburan bersama anak-anak kita nantinya. Tidak hanya ke Bali, tetapi juga ke luar negeri. Aku akan mengajak, kemana pun kalian inginkan.”


Teresha mencebik. Ia kemudian ikut menumpangkan tangan di atas tangan sang suami yang melingkari pinggangnya. Dan menyadarkan punggung pada dada bidang sang suami.


****


“Bangun, ma. Ini sudah sore.” Damian mengusap lembut pipi sang istri yang tengah terbaring di atas dada bidangnya.


Setelah percakapan singkat tadi siang. Mereka menikmati makan siang di restoran hotel. Kemudian berjalan-jalan sebentar di areal hotel yang bernuasa sangat asri.


Setelah tiba kembali di kamar, entah siapa yang memulai, mereka kembali melakukan penyatuan diri. Berbagi peluh bersama, melakukan apa yang normalnya pasangan baru menikah lakukan saat bulan madu.


“Jam berapa?” Teresha menggeliat, namun wajahnya kembali ia benamkan pada cerukan leher sang suami. Membuat Damian harus menahan nafasnya.


“Jam 6 sore. Ayo bangun, setelah itu kita makan malam.”


“Kamu mau dimana? Di restoran hotel, atau mau jalan keluar hotel?”


“Di kamar saja. Aku sangat lelah.”


Damian membuang nafasnya kasar. Ia kemudian bangkit, membawa tubuh sang istri kedalam kamar mandi, menggendong seperti induk koala.


“Dam, aku bisa sendiri.” Teresha mencoba berontak, namun sedetik kemudian ia justru semakin menempel pada tubuh sang suami, membuat Damian menghentikan langkahnya.


“Jadi, mau jalan sendiri?”


Kepala Teresha menggeleng. Meski mereka sudah sah menjadi suami istri, perasaan malu tanpa menggunakan sehelai benang di depan Damian masih ada.


Damian terkekeh. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Setelah selesai mandi selama hampir satu jam, karena mereka kembali berbagi peluh di kamar mandi, kini pasangan suami istri itu telah siap menyantap makan malam yang mereka pesan melalui layanan kamar.


Terseha cemberut, tenaganya benar-benar habis terkuras. Damian bagaikan singa kelaparan yang tidak makan berhari-hari.


“Makan dulu, ma.” Damian menyodorkan piring berisi steak daging yang telah ia potong kecil-kecil.


Dengan malas Teresha meraih piring itu. Kemudian memasukkan satu potongan daging ke dalam mulutnya.


“Apa mau aku suapi?” Tanya Damian.


“Tidak. Aku bisa sendiri.”


Menyadari istrinya yang berubah ketus, Damian pun meraih tangan wanita itu, kemudian mengecupnya.


“Maafkan aku, ma. Aku tidak bermaksud membuatmu kelelahan. Aku akui, aku memang tidak sanggup menahan diri. Mungkin karena selama 16 tahun ini, aku tidak pernah merasakannya.” Jelas Damian sembari menghel nafasnya pelan.


Teresha menganga mendengar ucapan sang suami. Ia berusaha mencerna ucapan pria itu. Apa mungkin, pria kuat menahan selama belasan tahun begitu?


“Aku serius, ma. Kamu boleh tidak percaya. Tetapi, aku memang tidak ingin memulai dengan wanita baru. Meski kamu tak kembali lagi padaku.”


Teresha menatap lekat kedalam manik mata sang suami. Ia mencari kebohongan disana namun tak menemukannya. Wanita itu kemudian merengkuh tubuh Damian, membenamkan wajahnya pada cerukan leher sang suami.


“Ajari aku mencintaimu, Dam.”


“Tentu. Kita akan sama-sama belajar. Mulai dari memahami satu sama lain. Saling mengerti, saling menghormati. Aku yakin suatu hari nanti, cinta itu akan datang seiring kebersamaan yang sering kita lalui berdua.”


Teresha mengangguk. Mereka kemudian mengurai pelukan. Tak lupa Damian melabuhkan kecupan hangat pada kening sang istri, sebelum melanjutkan kembali makan malamnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2