
Felisha merasa tidak tenang, pagi-pagi sekali sang mama telah meninggalkan rumah. Nyonya Hugo mengatakan jika ia akan ke ibukota menemui gadis yang akan di jodohkan dengan Edward.
Mama dari Devano itu juga sudah berusaha menghubungi sang kakak. Tetapi pria itu tidak menjawab panggilannya.
“Ed, kamu kemana? Jangan sampai mama terlebih dulu membawa gadis itu ke penthouse. Bagaimana jika mama bertemu Laura disana?”
Wanita berusia 35 tahun itu mondar-mandir di ruang tamu rumahnya.
Tiba-tiba satu nama terlintas di benaknya. Wanita itu pun seketika menghubungi nomor kontaknya.
Pada deringan ketiga, panggilan itu sudah terjawab.
“Hallo, nyonya? Ada yang bisa aku bantu?” Suara Johan terdengar gusar di seberang panggilan.
“Hallo, Jo. Kamu dimana? Apa Edward bersama mu?” Tanya Felisha langsung pada intinya.
“Aku di kantor, nyonya. Bos sedang keluar sebentar. Apa ada sesuatu nyonya?”
“Jo, mama ku sekarang berada di kota. Dia mau bertemu dengan gadis yang akan di jodohkan dengan Ed. Tolong aku Jo, jangan sampi mama membawa gadis itu ke penthouse dan bertemu Laura. Aku tidak mau Laura pergi lagi.” Wanita itu berbicara panjang lebar. Begitulah Felisha, saat di landa kepanikan, ia akan berbicara tanpa jeda.
“Tunggu, maksud nyonya, nyonya Hugo kemari untuk menemui gadis yang akan di jodohkan dengan bos?”
“Iya, Jo. Bantu aku. Cegat mama atau apa. Jangan sampai membawa gadis itu ke penthouse.”
“Tetapi nyonya, menurut orang suruhan ku, sekarang nyonya Hugo sedang bersama nona Laura.” Jelas asisten Edward itu.
“A-pa? Coba jelaskan lagi, Jo.”
Johan menjelaskan kepada Felisha tentang apa yang ia lakukan kepada Laura.
“Tunggu, jangan katakan jika gadis yang akan mama jodohkan dengan Ed itu, Laura.” Felisha mengambil kesimpulan dari cerita Johan.
“Aku juga mengira begitu, nyonya. Bukankah ini mungkin? Nyonya Hugo kesini untuk menemui gadis yang di jodohkan dengan bos, sementara gadis yang ia temuinya itu nona Laura.”
“Hah.. Jo. Aku bisa sedikit bernafas lebih lega. Jika memang itu yang sebenarnya. Ed juga tidak menjawab panggilan ku.” Felisha yang sejak tadi berdiri dan berjalan kesana kemari, seketika menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
“Bos sedang menemui mereka, nyonya. Ada kesalahpahaman disini. Kami mengira jika nyonya Hugo sengaja menemui nona Laura dan menyuruhnya menjauhi bos.” Johan menjelaskan.
“Hmm.. ku rasa begitu. Semoga saja perkiraan kita benar, Jo. Aku tidak mau Ed menderita karena keputusan yang mama buat.”
Mereka berbincang sebentar. Kemudian Felisha mengakhiri panggilan telpon itu.
“Semoga saja, gadis yang mama inginkan menjadi menantunya itu, adalah Laura.” Gumam wanita dewasa itu.
“Tetapi, Laura itu seorang anak yatim piatu. Darimana mama mengenal orang tua Laura? Bukannya mama ke panti itu baru beberapa tahun ini?”
Kebingungan kembali melanda hati mama Devano itu. Ia hanya bisa berharap tidak ada yang tersakiti oleh sikap sang mama.
*******
Nyonya Hugo melepaskan dekapannya pada gadis itu. Ia meraup kedua pipi Laura.
“Aku tidak pernah salah dalam memilih sesuatu.” Wanita paruh baya itu kemudian mengecup kening Laura.
“Apa kamu masih ingin menolak perjodohan ini, Edward Hugo?” Tanya sang mama dingin.
Kepala pria itu menggeleng dengan cepat. Ia kemudian berdiri dan memeluk sang mama.
__ADS_1
“Mama memang tidak pernah salah dalam memilih. Kali ini aku setuju dengan pilihan mama.”
Edward melepaskan pelukannya pada sang mama. Ia kemudian mendekap gadis pujaan hatinya.
“Kita akan segara menikah, sayang. Aku sangat senang sekali.” Tidak lupa ia melabuhkan kecupan di atas kening gadis itu.
Bugh..
Sebuah pukulan mendarat di kepala pria dewasa itu.
“Aduh, ma. Sakit. Kenapa memukul ku terus.” Ia mengusap kepalanya untuk menghilangkan rasa sakitnya.
“Dasar anak tidak punya akhlak, beraninya bermesraan di depan mama mu?” Nyonya Hugo mendelik ke arah sang putra.
“Melihat tingkahmu, mama jadi ingin mempertimbangkan niat mama menjodohkan kalian.” Wanita paruh baya itu kembali duduk di sofa single.
“Ma..” Edward mendekat dan bersimpuh di hadapan sang mama.
“Jangan begitu. Aku mohon. Aku sangat mencintai Laura, ma. Mama boleh menghukumku apa saja. Asal jangan pisahkan kami.”
Nyonya Hugo hanya diam. Ia melihat ke arah Laura yang masih mematung di tempatnya.
“Kemarilah, La.” Wanita itu menjulurkan tangannya ke arah Laura.
Gadis itu mendekat, dan ikut bersimpuh di hadapan nyonya Hugo.
Nyonya Hugo mengambil tangan Laura untuk ia genggam. Dan meletakan di atas lututnya.
“Apa kamu mencintai bocah tua ini?” Ia menunjuk sang putra dengan tatapan matanya.
Edward menoleh ke arah gadis itu. Ia ingin mendengar ungkapan cinta dari gadis yang sangat ia cintai.
“Baby, sayang. Apa maksudmu?” Edward tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sang gadis tidak mencintainya?
“Maafkan, aku. Tetapi aku tidak tau apa yang aku rasakan padanya, nyonya.” Laura memilih menjawab pertanyaan nyonya Hugo.
“Tidak, baby. Kita sudah menghabiskan banyak waktu berdua. Bagaimana bisa kamu mengatakan tidak ada rasa padaku.” Pria itu meraup wajahnya kasar. Ia merasa telah di tolak.
“Ed, aku tidak ada mengatakan, jika aku tidak memiliki rasa padamu. Aku hanya belum tau, rasa apa yang aku miliki padamu.” Gadis itu menghela nafasnya pelan.
“Aku akui, aku nyaman bersama mu. Ada rasa kehilangan saat kamu tidak memberi kabar padaku. Dan aku tidak mau kamu bersama wanita lain.” Gadis itu berucap sendu.
“Sebelum aku meyakinkan jika rasa ini adalah cinta, aku ingin memastikan dulu, apa aku pantas untukmu? Apa keluarga mu akan menerimaku?”
“Baby..”
“La, kamu tidak perlu memastikannya lagi. Aku sangat setuju jika kamu mau menjadi menantuku.” Ucap Nyonya Hugo menyela.
“Tetapi, nyonya—,”
“Mulai sekarang, panggil aku mama. Kamu akan menjadi menantuku. Biasakan mulai sekarang memanggilku mama.”
‘Astaga, sifat ibu dan anak sama saja. Suka memaksa.’
“Tolong beri aku waktu, nyo— mama. Aku ingin memastikan perasaan yang aku miliki dulu.”
Nyonya Hugo menganggukkan kepalanya. Namun sang putra sebaliknya, pria itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Baby, sampai kapan?”
“Beri aku waktu, Ed. Aku janji aku hanya akan menjadi milikmu. Bukan yang lain.” Gadis itu memberikan senyum termanisnya pada Edward.
“Jangan terlalu lama, baby. Usiaku sudah semakin tua. Sementara kamu masih muda. Aku tidak mau, nanti kamu berpaling kepada pria yang lebih muda dariku.”
Hati pria itu menjadi gundah. Itulah sebab kenapa ia menjauhkan Johan dari mereka. Edward tidak mau, Laura berpaling kepada pria lain.
“Bukankah kamu pernah berjanji akan menikahi ku saat aku lulus kuliah nanti?”
Edward menganggukkan kepalanya.
“Maka nikahi aku saat itu juga.”
Edward menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa menunggu terlalu lama lagi.
“Tidak, baby. Itu terlalu lama. Aku tidak bisa.”
“Kenapa? Bukannya kita juga tinggal bersama? Menikah atau tidak, kamu akan tetap bisa menghabisiku kan?” Tanya gadis itu tergelak. Kemudian menutup mulutnya, ia sadar telah membuka aibnya di depan mamanya Edward.
“Baby—,”
“Hey, apa kalian melupakan aku disini?” Nyonya Hugo menyela perdebatan dua orang itu.
“Aku yang akan memutuskan, kalian akan menikah minggu depan.”
“Tapi, ma..” Laura ingin berbicara tetapi nyonya Hugo sudah mengangkat satu tangannya.
“Keputusanku sudah bulat. Kalian akan menikah minggu depan. Memang apa bedanya menikah sekarang atau nanti, toh pada akhirnya kamu akan menikah dengan bocah tua ini.” Wanita paruh baya itu menujuk ke arah sang putra.
“Tetapi, ma. A-aku belum mau punya anak. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu.” Dengan ragu-ragu gadis itu mengutarakan isi hatinya.
“Mama tidak masalah. Yang terpenting kalian menikah dulu. Kamu juga sebagai seorang wanita harus tegas, masa mau setiap hari di tidur* tetapi tidak di nikahkan?”
Deg..
Laura tersentak. Yang di ucapkan nyonya Hugo ada benarnya juga.
“Baiklah. Aku setuju, ma.”
.
.
.
T. B. C
Genks.. ayo kirim hadiah untuk calon manten 😅
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Gift
Terimakasih ❤️❤️