
Malam harinya setelah selesai makan malam, Laura tengah mengerjakan beberapa tugas kuliahnya.
Cuti yang ia ambil selama seminggu kemarin, membuat tugasnya menumpuk. Dengan teliti, istri dari Edward Hugo itu mengerjakan tugas-tugas agar tidak jatuh tempo.
Ternyata ada untungnya Edward mempekerjakan beberapa asisten rumah, jadi Laura tidak di repotkan dengan urusan mengurus rumah, menyiapkan makanan dan yang lainnya. Ia cukup memikirkan untuk membersihkan kamar pribadinya. Itupun bisa di lakukan setelah pulang kuliah.
“Minumlah, sayang.” Edward meletakkan sebuah cangkir berukuran sedang di atas meja, di depan sang istri. Cangkir keramik itu berisi coklat hangat kesukaan Laura.
“Terima kasih, papi.” Laura berucap tanpa melihat ke arah sang suami, karena jemarinya masih sibuk menari di atas papan keyboard.
Edward memperhatikan sang istri. Ia melipat satu tangan di dada. Dan satunya lagi menumpu dagu.
Senyuman tersungging indah di wajah tampan pria berdarah campuran Inggris itu. Ia tidak pernah membayangkan akan memiliki istri seorang anak kuliahan. Membayangkan punya istri saja Edward tidak pernah.
“Satu jam lagi.” Pria itu berucap sembari melirik jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.
Waktu menunjukkan pukul 8 lewat 15 menit. Sudah menjadi kesepakatan, jika mereka harus berada di atas ranjang sebelum pukul 10 malam. Dan sebelum terlelap mereka harus menyempatkan melakukan kegiatan berbagi peluh.
“Iya, pi. Sebentar lagi. Kalau mau, papi bisa duluan ke kamar. Nanti aku menyusul.” Laura memberikan senyum termanisnya pada sang suami.
“Nanti saja.”
Edward menarik kursi yang ada di meja kerjanya, kemudian duduk di samping Laura.
Pria itu membantu sang istri mengerjakan tugasnya, agar cepat selesai. Lebih cepat selesai, maka lebih banyak waktu untuk mereka berada di atas peraduan.
“Biar aku kerjakan sendiri. Papi pasti lelah setelah seharian bekerja.” Laura menarik kertas yang di ambil oleh suaminya. Ia merasa tidak enak hati, jika pria itu ikut mengerjakan tugas kuliahnya.
“Jangan membantah, ini supaya lebih cepat selesai.”
Jika sudah terucap dua kata, jangan membantah, maka Laura tidak bisa berbuat apalagi selain menurut pada sang suami.
Mereka berdua sibuk mengerjakan tugas kuliah Laura, hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam.
Laura meregangkan otot-otot tangan dan lehernya yang terasa kaku. Sementara sang suami, membereskan semua yang ada di atas meja.
Setelah memasukkan komputer lipatnya ke dalam tas, dan menyimpan buku yang akan ia gunakan belajar esok hari, Laura mengajak sang suami kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, mereka melakukan ritual malam sebelum tidur.
Mencuci wajah, menggosok gigi, dan mencuci kaki. Kemudian mereka menggunakan night skincare. Meskipun Edward seorang pria, namun ia rutin melakukan perawatan diri. Ia menyadari penampilan sangat penting dalam menunjang pekerjaannya.
Laura memilihkan baju tidur untuk suaminya. Namun pria itu menolak untuk menggunakannya.
“Kita akan berperang, untuk apa menggunakan baju?”
Seketika pipi Laura memanas mendengar ucapan sang suami.
Setelah semua ritual selesai, mereka menuju ranjang, tak langsung melakukan kegiatan berpeluh, namun mereka akan berbincang terlebih dulu. Seperti biasa mereka akan duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Pi..”
“Hmm?”
Laura mendekatkan tubuhnya pada sang suami, kemudian memeluk raga kokoh yang selalu mampu memberinya kenyamanan.
“Aku ingin Leo tau tentang orang tuanya.”
Laura berucap setelah menarik dan membuang nafasnya pelan.
“Kamu yakin?” Tanya Edward sembari mengelus surai indah sang istri.
Laura mengangguk. Hatinya telah mantap. Ia akan menceritakan tentang yang sebenarnya kepada sang adik.
“Aku terserah padamu saja. Baik buruknya kamu yang tau, baby. Lagipula, Leo juga sudah dewasa. Sudah sepantasnya ia tau tentang asal usulnya.”
“Apa papi mau membantu aku?” Laura mendongak menatap paras tampan sang suami.
“Tentu. Apa yang bisa aku bantu?”
__ADS_1
“Pertemukan aku dengan ayahnya Leo.”
Edward mengerutkan dahinya. Sang istri meminta dia mempertemukan wanita itu dengan pria lain? Yang benar saja?
“Tidak!” Jawabnya singkat.
“Kenapa?”
“Aku tidak mau kamu bertemu pria lain.” Si pria dewasa kini telah terbakar cemburu.
“Papi ikut dengan ku, lagi pula dia teman papi kan? Aku juga tidak mau bertemu berdua saja.”
Laura teringat akan tatapan Damian padanya saat mereka tanpa sengaja bertemu di restoran Korea.
“Akan aku pikirkan nanti.” Jawab Edward acuh.
“Oh ya, minggu depan ikut aku melakukan kunjungan kerja ke negara tetangga. Sekalian kita bulan madu disana.” Edward mengalihkan topik pembicaraan, ia tidak ingin membahas pria lain.
“Aku harus cuti kuliah lagi?” Bukannya menjawab, Laura justru melontarkan sebuah pertanyaan.
“Tentu. Kita disana tiga hari. Aku hanya melakukan kunjungan kerja sebentar, palingan setengah hari. Setelah itu kita bebas.”
Laura membuang nafasnya kasar. Entah harus berapa kali ia mengambil cuti kuliah dalam sebulan ini?
“Ada apa? Kamu tidak mau?” Edward merasa istrinya tidak berminat.
“Aku malu kalau harus cuti kuliah lagi, pi.” Jawab wanita itu dengan jujur.
“Tidak masalah. Lagi pula, rektor, dekan dan para dosen sudah tau jika kamu itu istri pemilik kampus. Mereka tidak akan mempermasalahkan selama kamu juga rajin mengerjakan tugas.” Edward memberi penjelasan.
“Tetapi kali ini papi yang memintakan ijin cuti ku, ya?”
“Tentu. Besok aku akan menghubungi ayahnya Monica. Kamu tenang saja.” Edward melabuhkan sebuah kecupan di kepala sang istri.
“Oh ya.. apa papi mengancam pak sopir, supaya mau membawa mobil yang baru untuk menjemputku?” Laura teringat akan tadi siang.
“Papi memang licik.”
“Aku licik demi kenyamanan dan keselamatan mu, sayang. Apapun akan aku lakukan untuk orang yang aku cintai.”
Laura menatap tak percaya ke arah sang suami. Apa mungkin ini yang di namakan budak cinta?
Melihat sang istri menatapnya, Edward pun mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak di antara mereka.
Memulai kegiatan yang biasanya mereka lakukan supaya tidur menjadi lebih nyenyak. Berbagi cinta dan kasih sayang yang bermandikan peluh.
Demi segera hadirnya sang penguat hubungan rumah tangga. Si buah hati, buah cinta dua orang yang saling mencintai.
*****
Keesokan harinya, Damian kembali mengunjungi panti asuhan Angel Heart. Setelah menguras otaknya selama sehari, ia memutuskan mencari tau sendiri tentang pemuda yang bernama Leo itu.
Bayang wajah pemuda tanggung itu selalu menghampirinya seharian kemarin.
Dengan sebuah ide, ingin menjadi donatur di panti itu, Damian berharap bisa mendapatkan informasi tentang anak-anak di sana.
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Namun Damian sudah tidak sabar ingin bertamu.
Ia memarkirkan mobil mewahnya di depan pintu gerbang panti asuhan itu.
Dilihatnya seorang pria paruh baya sedang menyapu di halaman panti dari celah pintu besi itu. Damian pun sedikit mengetuk agar sang pria paruh baya mendekat padanya.
“Ada yang bisa di bantu, pak?” Tanya pak Toto dengan sopan.
“Saya ingin bertemu pengurus panti. Apa bisa?”
“Maaf ada keperluan apa ya, pak?”
“Saya berniat ingin menjadi donatur. Apa boleh?” Damian melihat keraguan di wajah tukang kebun itu.
__ADS_1
Sejenak berpikir, kemudian pak Toto mengijinkan sang tamu tidak di undang memasuki pintu gerbang panti.
Ia mengantar pria tampan itu ke tempat dimana biasanya para tamu di terima.
Setelah mempersilahkan tamunya duduk, pak Toto permisi memanggil pengurus panti.
Damian menurut. Ia mendudukkan bokongnya di atas sofa. Kemudian meneliti ke segala penjuru ruangan.
Deg..
Pria itu tersentak melihat beberapa bingkai foto. Ia kemudian mendekat.
“Bukannya wanita ini istrinya Edward?” Damian meraba salah satu bingkai, dimana terdapat gambar Laura dan ibunya.
Pandangan pria itu kembali menelusuri gambar-gambar yang terpajang. Ia juga menemukan foto Laura bersama Leo yang saling merangkul.
Saat tangannya ingin mengambil bingkai itu, sebuah suara datang menginterupsi.
“Maaf ada yang bisa saya bantu?”
Seketika Damian membalik badannya. Dan membuat ibu Maria tersentak.
Deg..
‘Kenapa dia mirib sekali dengan Leo? Apa jangan-jangan—?’
Ibu Maria menutup bibirnya dengan satu tangan. Ia pun menggelengkan kepala demi menepis kecurigaannya.
Damian mendekat, dan memperkenalkan diri. Ia juga mengutarakan niatnya yang ingin menjadi donatur di panti itu.
Ia tidak langsung menanyakan tentang anak-anak disini. Agar pengurus panti tidak mencurigainya.
“Jadi, apa aku boleh menjadi salah satu donatur disini, Bu?”
“Tentu, pak. Anak-anak pasti senang mereka mempunyai teman baru.”
Selain mengatakan ingin menjadi donatur, Damian juga mengatakan ingin sering datang kesini untuk bermain dengan anak-anak.
“Aku kehilangan anakku belasan tahun lalu, Bu. Bahkan aku belum sempat melihatnya.” Damian berucap sendu. Ia teringat kembali ketika Teresha meninggalkannya, dan beberapa minggu kemudian mengirimkan surat cerai.
“Pak Damian jangan sedih. Disini banyak anak-anak yang membutuhkan kasih sayang, bapak bisa memberikan kasih sayang pada mereka. Mungkin dengan begitu, Tuhan akan mengirim kasih sayang yang sama kepada anak bapak.”
Untaian kaliamat bijak dari bibir ibu Maria di setujui oleh pria dewasa itu, ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
Mereka pun kembali berbincang.
“Oh ya, bu. Itu— Damian menunjuk bingkai yang menampilkan Laura dan Leo yang saling merangkul.
“Apa mereka anak-anak panti ini juga?”
“Mereka anak-anak pemilik panti. Kebetulan yang perempuan baru saja menikah. Dan yang laki-laki masih sekolah.” Jawab ibu Maria sembari ikut memandang bingkai itu.
‘Baru menikah? Bukannya mereka sudah mempunyai anak yang cukup besar? Apa jangan-jangan—?’
“Berapa usia yang perempuan, bu?”
“Baru 21 tahun. Dan adiknya 16 tahun.”
‘Mm, jadi anak kecil itu bukan anak Edward dan Laura? Baiklah, kita lihat nanti apa yang akan aku lakukan padamu, Edward Hugo.’
Damian menyeringai. Ia baru saja mendapatkan informasi baru terkait teman sekolah yang ia anggap menjadi penyebab hancurnya hubungan percintaannya dengan Teresha.
.
.
.
T. B. C
__ADS_1