TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 73. Maafkan Aku, Laura!


__ADS_3

Di tempat lain, namun masih di gedung yang sama, sepasang kekasih tengah asyik bercengkerama sambil menyiapkan makan siang.


Siapa lagi jika bukan Johan dan juga Monica. Biasanya di akhir pekan, Johan akan menghabiskan waktunya di rumah sang kekasih, namun kali ini Monica lah yang menghabiskan waktu di tempat pria itu.


Johan yang kini telah tinggal terpisah dari sang atasan, memiliki banyak waktu membawa sang pujaan hati bersamanya.


Tempat tinggal itu memang pemberian dari Edward, namun sudah atas nama dirinya. Meski tidak semewah yang di tempati oleh sang atasan.


“Sayang, apa bos sudah kembali?” Tanya Monica di sela-sela kegiatannya memotong sayuran.


Mereka akan memasak steak ayam dengan sayuran rebus sebagai penemannya.


“Aku rasa belum, sayang. Ini masih siang. Mereka mungkin masih di panti asuhan.” Johan mengedikan bahunya. Kedua tangan pria itu sibuk memotong daging ayam, agar lebih mudah di olah.


“Kenapa kamu tidak memeriksa kamera pengawas disana? Bukannya kamu yang membawa ponsel milik bos?” Monica memberi saran.


“Ponselnya sudah di tangan yang punya semenjak aku pindah kesini. Katanya supaya aku tidak bisa melihat kegiatan apa yang mereka lakukan.”


Setelah daging ayam itu sesuai dengan bentuk yang diinginkan, Johan lalu mencucinya. Kemudian menaburi dengan garam, penyedap rasa dan memberi perasan jeruk nipis.


“Astaga, sayang. Aku jadi berpikiran yang tidak-tidak tentang mereka.” Monica menggelengkan kepalanya. Menepis segala pikiran kotor yang datang menghampiri.


“Mungkin saja seperti itu, sayang. Karena itu aku tidak diijinkan lagi melihat rekaman kamera pengawas di penthouse itu.”


Pria itu pun tergelak. Ia juga ikut membayangkan apa yang atasannya dan sang nona lakukan di penthouse itu, saat mereka hanya tinggal berdua saja.


“Aduh” Sepotong wortel mengenai pipi pria itu. “Kenapa kamu melemparku dengan wortel itu, sayang?”


“Aku tau apa yang kamu pikirkan, Johan Purnomo. Jangan berani-berani kamu membayangkan tubuh nona Laura.”


Monica mengacungkan pisau ke arah sang kekasih.


Hal itu membuat Johan bergidik ngeri. Ia belum menikah dan belum punya anak. Jangan sampai ia mati di usia muda karena di bunuh kekasihnya sendiri.


*******


“Apa maksud ucapanmu, Ed?” Gadis itu bingung mendengar ucapan pria dewasa itu. Kenapa tiba-tiba Edward mengajaknya hidup susah, apa bisnis Hugo mengalami kebangkrutan?


“Ed, a-pa, apa perusahaan mu bangkrut?” Tanya gadis itu dengan hati-hati.


Edward terkekeh mendengar pertanyaan dari Laura. Pria itu kemudian mengecup punggung tangan gadis itu.


“Lebih dari bangkrut, baby.” Ucapnya, kemudian pria itu tergelak.


“Ed.. aku serius. Ada apa sebenarnya?” Tanya Laura lagi. Ia benar-benar ingin tau, tetapi pria itu malah bercanda.


“Ra..” Edward menghadap ke arah Laura masih dengan menggenggam tangan gadis itu.


“Ra, maafkan aku. Aku pernah mengatakan tidak akan ada penolakan lagi untukmu di kemudian hari.” Pria itu menghela nafasnya pelan.

__ADS_1


Sementara Laura mendengarkan saja, apa yang akan pria itu ucapkan.


“Tetapi.. Maafkan aku, Ra. Aku tidak punya kuasa, untuk—,” kepala pria itu menunduk, ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


“Ed, ada apa?” Laura memberanikan diri mengangkat dagu pria dewasa itu. Membuat pandangan mereka beradu.


“Ra, mamaku.”


Laura tersenyum, ia mulai paham apa yang akan di ucapkan pria itu.


“Apa mama mu tidak merestui kamu dengan aku?” Tanya gadis itu. Namun kepala pria itu menggeleng.


“Lalu?”


“Mama ingin mengenalkan ku dengan anak temannya.” Ucap pria itu lirih.


Laura memberikan senyum termanisnya. Hanya karena akan di kenalkan dengan seorang gadis saja, pria ini sudah merencanakan hidup susah bersamanya.


“Kenapa kamu tersenyum?” Tanya pria itu tidak percaya.


“Memang dimana salahnya jika mama mu ingin mengenalkan mu dengan anak temannya?” Laura melontarkan pertanyaan.


“Ra. Bagaimana jika mama menginginkan aku menikah dengan gadis itu?”


Deg..


Gadis itu tersentak. Ia memang belum yakin dengan perasaan yang ia miliki untuk Edward. Tetapi, mendengar pria itu menikah dengan gadis lain, membuatnya tidak rela.


“Apa mamamu mengetahui tentang kita?”


Edward menganggukkan kepalanya.


“Aku menolak keinginan mama, tanpa sengaja aku mengakui tentang hubungan kita.”


Mata Laura membulat sempurna mendengar pengakuan pria dewasa itu. Sekita ia melepaskan genggaman tangan Edward, lantas memukul pria itu.


“Edward Hugo, bagaimana bisa kamu ceroboh begitu? Apa yang mamamu pikirkan tentang aku?” Gadis itu tanpa henti menghujamkan kepalan tangannya ke arah Edward.


“Astaga, mama mu pasti berpikiran buruk tentang aku, Ed.” Pukulan bertubi-tubi itu perlahan melemah, Laura menjatuhkan tangannya di atas paha Edward.


“Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain mengakui semuanya. Aku berharap mama akan membatalkan niatnya mengenalkan aku dengan gadis itu.”


Edward meraih tubuh Laura lalu mendekapnya. Ia melabuhkan sebuah kecupan di atas ubun-ubun sang gadis.


“Maafkan aku, Laura. Yang ada di benakku hanya dirimu, aku tidak mau berpisah darimu.” Gumam pria itu di atas kepala Laura.


Gadis itu mendongak, ia kemudian menegakan tubuhnya, melipat satu kakinya di atas sofa, dan duduk menghadap pria itu.


“Kenapa menolak berkenalan dengan gadis itu?” Laura kembali bertanya.

__ADS_1


Edward menghela nafasnya pelan. Ia kembali menggenggam jemari gadisnya.


“Aku tidak mau berkenalan dengan gadis lain. Cukup kamu satu-satunya gadis yang aku kenal dalam hidupku.”


“Kamu terlalu berlebihan, tuan Hugo. Kenapa tidak mengiyakan saja permintaan mama mu, cuma berkenalan saja kan?”


Kepala Edward kembali menggeleng.


“Maafkan aku, Ra. Ma—,”


“Kenapa dari tadi kamu minta maaf terus, Ed?”


“Aku akan berbicara jujur padamu, tetapi berjanjilah, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku?” Dan kepala gadis itupun mengangguk.


“Aku janji. Tidak akan lagi meninggalkanmu, tuan Hugo.”


“Ra, sebenarnya mama ingin aku menikah dengan anak temannya. Karena itu aku menolak dengan menceritakan tentang kita.”


Deg..


Laura kembali tersentak, apa ia akan merasakan sakit hati lagi?


Kepala gadis itu menggeleng. Ia tidak mau itu terjadi lagi. Apalagi sampai ada penghinaan untuk keluarganya.


“Ed.”


“Ayo kita menikah, Ra. Kemudian kita tinggalkan semua ini, dan memulai hidup kita yang baru.” Edward kembali mendekap tubuh Laura. Menyalurkan segala rasa gundah yang melanda hatinya.


“Tetapi, bagaimana dengan mama mu dan juga nyonya Felisha?” Laura tidak menolak ajakan pria itu, ia juga tidak mengiyakan.


“Felisha mendukung hubungan kita. Aku yakin mama juga pasti akan mendukung kita, tetapi mungkin tidak sekarang.” Edward menenggelamkan kepalanya di cerukan leher gadis itu, menghirup dalam aroma gadis itu.


“Ed, kenapa kamu tidak menuruti saja apa yang mama mu inginkan?” Tangan gadis itu mengusap lembut punggung Edward.


“Tidak, tidak akan pernah. Karena aku hanya ingin menikah dengan mu.”


.


.


.


T. B. C


Selamat hari Senin, Genks..


Jangan lupa sedekahkan Vote / Like / Komen dan Gift kalian pada Edward dan Laura supaya mereka bisa menjalani hidup baru berdua.. 🤗🤗


Terimakasih untuk semua dukungannya.

__ADS_1


I LOVE YOU FULL ❤️❤️❤️


__ADS_2