TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 89. Hallo, Mami.


__ADS_3

Setelah drama panjang yang menguras air mata, kini Edward dan Laura telah berada di kamar pria itu.


Kamar yang sudah jarang ia tempati, karena jika mengunjungi sang mama, Edward lebih memilih tidur dengan mamanya atau dengan Devano dan Felisha.


Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Namun pengantin baru itu belum bisa memejamkan matanya. Mereka juga tidak melakukan kegiatan yang menguras tenaga.


Mereka hanya tidur berpelukan di atas ranjang. Malam yang seharusnya indah, kini berakhir sedih.


“Baby, maafkan aku.” Edward berujar di atas kepala Laura, karena wanita muda itu kini berada di atas tubuh suaminya. Posisi tidur yang paling di sukai pria itu.


“Maaf untuk apa, papi?” Tanya Laura sedikit mendongak.


“Harusnya malam ini kita lewati dengan berbagi peluh, tetapi malah sebaliknya. Kita menghabiskan malam ini dengan air mata.” Edward mencebikan bibirnya.


“Tidak apa-apa, papi. Lagi pula, ini bukan malam pertama kita. Masih ada malam-malam yang lainnya.”


“Tetapi ini malam pertama kita menjadi suami istri, baby. Rasanya pasti berbeda. Karena kita melakukannya dengan pasangan sah kita.”


Laura merasa jika suaminya ini memiliki sifat keras kepala. Ia tidak mau berdebat. Suasana hatinya masih belum baik.


“Baby?”


“Ya?”


“Kamu mau kan menjadi teman untuk Devano?”


Laura mengerenyitkan dahinya mendengar pertanyaan Edward. Ia kemudian sedikit bangkit, dan menumpu tubuhnya di atas dada pria itu.


“Maksud papi apa?” Ia tidak mengerti dengan ucapan suaminya.


“Baby. Kamu dengar sendiri kan? Jika Devano tidak mau punya mama baru. Jadi aku berharap, kamu bisa menjadi teman untuk anak itu. Jangan menjadi ibunya. Biarkan dia terbiasa dengan kehadiran mu dulu.”


Laura mencoba memahami. Ada benarnya juga perkataan Edward. Devano membutuhkan waktu untuk menerima semua ini.


“Papi.. apa boleh kita disini lebih lama? Aku ingin mencoba dekat dengan Devano. Aku juga ingin mengajak papi pergi ke makam orang tuaku. Papi belum pernah kesana kan?”


“Lalu bagaimana dengan kuliah mu?” Edward menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya.


“Aku meminta cuti selama satu minggu. Lagi pula, besok sudah hari Kamis. Setelah itu akhir pekan. Boleh ya, pi? Tetapi, jika papi harus ke kantor, aku tidak apa di tinggal disini.”


Laura memandang penuh harap pada suaminya. Ia sangat ingin bisa berbicara dengan Devano.


“Aku bisa bekerja dari sini. Lagi pula, 3 hari kemarin aku juga bekerja dari sini. Tidak akan masalah.”


Edward membawa kembali tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Ia melabuhkan kecupan hangat di atas kepala wanita muda itu.


Ternyata di balik kebahagiaan yang ia rasakan, ada seorang anak kecil yang tersakiti.


Laura dapat mendengar suara detak jantung suaminya. Ia merasakan kegelisahan masih menyelimuti pria dewasa itu.


Masalah Devano belum sepenuhnya selesai. Anak itu belum tau penyebab sang ayah meninggal. Dia masih sangat kecil untuk di beritahu.


Biarlah itu akan tetap menjadi rahasia di dalam keluarga mereka.

__ADS_1


“Papi..?”


“Hmm?”


“Tidurlah, tidakkah papi lelah?”


“Iya.”


“Good night, papi.” Laura mengecup rahang suaminya.


“Good night too, baby.” Edward mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri.


*****


Pagi harinya, suasana senyap menyelimuti meja makan, kediaman keluarga Hugo. Seperti biasa, Felisha akan mengambilkan sarapan untuk para penghuni meja makan.


Laura yang melihat itu, berinisiatif membantu saudari iparnya. Ia menuangkan air ke dalam gelas. Kemudian meletakan satu persatu di hadapan Edward, mama mertua, dan Devano.


Devano hanya diam menunduk, ketika wanita yang harus dia panggil mami itu berada di sisinya.


Ingin sekali Laura mengajaknya bicara. Tetapi sekarang saatnya makan. Ia tidak mau terjadi keributan.


Setelah sarapan selesai, Devano meminta sang papa untuk mengantarnya ke sekolah. Dan Edward pun menyanggupinya.


“Mami, ikut aku mengantar Devano.”


Deg..


“Dev, bolehkan mami ikut mengantarmu?” Edward bertanya kepada sang putra. Ia ingin mendekatkan kedua orang yang ia cintai itu.


Devano hanya mengangguk. Ia lantas berpamitan pada sang mama dan sang nenek.


Jarak dari kediaman Hugo, ke sekolah Devano tidak terlalu jauh. Kira-kira sekitar 20 menit, Edward melirik jam di pergelangan tangannya. Dan waktu masih panjang, sampai bel pembelajaran dimulai berbunyi.


Maka pria dewasa itu berinisiatif memelankan laju mobilnya.


“Dev, mami ingin berkenalan dengan mu.” Edward melirik sang istri yang duduk di bangku belakang, dari kaca spion. “Ya kan, mam?”


“Hah?” Wanita itu tersentak. Sedari tadi ia bingung memulai pembicaraan, tiba-tiba Edward membukakan jalan.


Devano menoleh ke arah sang papa. Ia kemudian menoleh ke belakang.


“Bolehkah aku pindah, pa?” Ia bertanya. Karena tubuhnya terjerat sabuk pengaman, tidak bisa leluasa menoleh ke belakang.


Edward tersenyum. Ia menepikan mobilnya sebentar. Lalu membuka jeratan sabuk pengaman pada tubuh sang putra. Seketika bocah itu bangkit dan berpindah ke belakang.


Laura mengulurkan tangan, meraih lengan bocah itu.


Devano duduk dengan tenang di sisi kiri sang mami. Hingga mobil kembali melaju, ia masih tetap diam.


Laura hendak berbicara, namun pria kecil itu telah memulai lebih dulu.


“Hallo, mami. Aku Devano.” Ia menjulurkan tangan kanannya ke hadapan Laura.

__ADS_1


Laura menganga melihat hal itu. Ada rasa haru yang menghampiri.


“H-Hallo, Dev. Aku mami— maksudku aku mami Laura. Senang bertemu dengan mu.” Laura menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya dengan hangat.


“Apa Devano mau berteman dengan mami?”


“Apa mami mau berteman dengan ku?” Bocah itu berbalik melontarkan pertanyaan.


“Tentu.”


Mereka pun saling berpelukan. Edward yang melihat itu menjadi terharu. Akhirnya ketakutan di hatinya sirna. Sang putra mau berteman dengan istrinya.


Di dalam perjalanan Laura dan Devano sibuk mengobrol. Mungkin karena usia Laura yang baru 21 tahun, atau karena ia sudah terbiasa bersama adik-adiknya di panti, jadi wanita itu tidak begitu sulit untuk memahami Devano.


Mereka asyik bercerita, sambil sesekali tertawa. Hingga tak terasa, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan sekolah anak itu.


“Sudah sampai, boy.” Edward berseru dari depan.


Dengan sigap, Laura membuka pintu dan menuntun putranya turun dari dalam mobil.


“Nah, belajar yang rajin ya, Dev. Nanti siang, mami akan menjemput Devan lagi.”


“Benarkah?”


“Iya, boy. Nanti siang, papa, mama dan mami akan menjemputmu.” Edward ikut berbicara.


Devano pun berpamitan dengan Edward dan Laura. Setelah memastikan anak itu masuk kedalam kelasnya, pasangan pengantin baru itu pun meninggalkan sekolah itu.


“Devan.. apa yang tadi itu, ibu baru mu?” Seorang anak kecil perempuan sebaya Devano, tiba-tiba datang menghampiri ke mejanya.


“Apa maksudmu, Icha?” Devano bertanya pada temannya yang bernama Icha itu.


“Aku lihat, papa mu memeluk wanita itu, seperti ini.” Gadis kecil itu merangkul bahu Devano, kemudian mengusap-ngusapnya.


“Apa dia mama barumu?”


“Dia mami ku, Icha.”


“Lalu dimana mama mu?” Tanya Icha lagi.


“Mama ada di rumah.”


“Itu artinya kamu punya mama baru Devan. Hati-hati Devan, mama baru itu biasanya jahat. Dia suka menyiksa anak kecil.” Gadis itu berceloteh panjang lebar.


“Tidak, mami ku tidak seperti itu.”


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2