
Setelah Laura menghabisi makanan yang ia pesan. Gadis itu memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam mobilnya.
Setelah hari mulai terang, ia melanjutkan melajukan mobilnya. Nasib buruk sedikit menghampirinya. Semalam ia lupa mengisi daya ponselnya. Sehingga pagi ini, benda pintar itu tertidur lelap.
Bukan berharap ada yang menghubunginya lagi. Tetapi gadis itu ingin memakai ponselnya untuk mencari jalan.
Dia hanya anak rumahan, yang tidak tau dunia luar. Dan sekarang benda pintarnya mati. Tidak ada yang bisa ia mintai bantuan.
Berbekal dengan keyakinan dan keberanian, gadis itu melajukan mobilnya ke luar kota, menuju kota di tenggara ibukota.
“Aku pasti sampai. Bahan bakar juga baru isi. Jadi aman.” Ucapnya menyemangati diri.
“Hallo, world. I’m coming.” Gadis itu menginjak kembali pedal gas mobilnya.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, agar masih bisa membaca petunjuk di jalan raya.
Hampir 3 jam lebih berkendara, lalu lintas yang sedikit padat di beberapa titik kota dan ia juga sempat beristirahat di rest area, membuat perjalanannya sedikit terhambat.
“Aku harus kemana ya sekarang?” Gumam gadis itu. Ia menepikan mobilnya.
Laura mencari tempat makan terlebih dulu, gadis itu memang mudah sekali merasakan lapar. Suka makan banyak, namun berat badannya sulit untuk bertambah.
Ia melihat isi dompetnya, masih ada beberapa lembar uang berwarna merah, ada juga kartu debit yang berisi sisa gajinya dari restoran milik Yulia.
Tidak jauh dari tempatnya, ia melihat ada sebuah kafe yang sudah buka untuk sarapan. Gadis itu pun melajukan mobilnya ke arah kafe tersebut.
“Selamat pagi.” Sapa seorang pramusaji.
“Selamat pagi, mbak.” Ucap Laura ramah.
Laura pun memasan nasi goreng untuk sarapannya. Tidak lupa ia bertanya pada pramusaji, apa ada tempat untuk mengisi daya ponsel.
Gadis itu mengisi daya ponselnya dalam keadaan mati, supaya dayanya cepat terisi.
Laura sungguh memerlukan ponselnya sekarang untuk di gunakan sebagai petunjuk arah. Bagaimanapun juga, ia tidak pernah ke kota ini. Setidaknya, ada ponsel yang bisa membantunya.
“Mungkin setelah ini, dia akan menemukan aku. Tetapi aku tidak perduli. Dasar pria tua me*sum. Sudah punya istri masih saja mencari yang lain di luar rumah.” Gerutu gadis itu.
Tetapi, jika ia pikirkan kembali. Jika Felisha memang istri dari Edward, kenapa tidak satupun barang milik wanita itu ada di penthouse Edward? Di kamar pribadi pria itu, lemarinya hanya terisi satu bagian. Di kamar tamu juga kosong. Penthouse itu di dominasi warna gelap. Tidak ada sentuhan warna lembut ke sukaan para wanita.
“Kalau bukan istrinya, kenapa foto wanita itu—,” Laura menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ia menggelengkan kepalanya. “Apa jangan-jangan, wanita itu selingkuhannya Ed-ward?”
“Astaga, kenapa aku terjebak dalam hubungan rumit pria itu?”
Sementara itu di panti asuhan, ibu Maria menemani Edward berkeliling sesuai dengan permintaan pria tersebut.
“Jadi anak-anak sedang bersekolah, Bu?” Tanya Edward.
“Iya, nak. Mereka pulang jam 3 sore. Dan libur di akhir pekan.” Jawab ibu Maria.
Edward menganggukkan kepalanya. Tanda ia paham ucapan ibu Maria.
__ADS_1
“Bu, aku ingin menjadi donatur di panti ini. Aku ingin merenovasi beberapa bangunan disini.” Edward memperhatikan ke sekelilingnya. Ada beberapa titik yang ia lihat perlu untuk diperbaiki.
“Tetapi nak, para donatur disini hanya membiayai kebutuhan sehari-hari saja.”
“Karena itu, bu. Aku ingin menjadi satu-satunya donatur yang merenovasi panti ini.” Mungkin sudah menjadi kebiasaan Edward menyombongkan dirinya sendiri.
“Terimakasih, nak. Aku sangat bersyukur Laura bisa mengenal orang sebaik dirimu.” Ibu Maria mengusap lengan Edward.
“Apa kamu ingin beristirahat? Sepertinya kamu kurang tidur?” Ibu Maria memperhatikan wajah lelah pria tampan itu.
“Apa ada kamar kosong, Bu?” Edward juga merasa ia membutuhkan sedikit merebahkan tubuh lelahnya.
Semalam ia benar-benar tidak bisa tidur memikirkan dimana Laura berada.
“Kamu bisa menggunakan kamar Laura.” Ibu Maria berjalan menuju bangun lain disisi kanan pekarangan panti.
Terlihat seperti sebuah rumah kontrakan kecil. Dilengkapi dengan teras di depannya.
“Silahkan masuk, nak. Meski jarang di tempati, tetapi kamar ini setiap hari di bersihkan.” Wanita paruh baya itu membukakan pintu untuk Edward.
“Terimakasih, bu.” Edward pun menuju ke arah ranjang berukuran sedang, yang tersedia di kamar itu. Kamar yang di dominasi warna putih itu, terlihat sangat nyaman.
“Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa menemuiku dan Lily di ruang tadi.” Ibu Maria bergegas meninggalkan pria itu sendirian di dalam kamar Laura.
“Iya, bu. Terimakasih.”
Edward merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Ia mengambil guling dan mendekapnya. Entah kenapa, ia merasa benda itu memiliki aroma seperti aroma tubuh Laura.
“Apa mereka tidak mengganti sarung gulingnya? Kenapa aku merasa seperti mencium aroma tubuhmu, baby.”
*****
“Bagaimana, apa kamu bisa melacak keberadaan nomer ponsel itu?” Tanya Johan, kini ia tengah bertemu dengan detektif teman dari Monica, di sebuah kafe yang tidak jauh dari Hugo’s Tower.
“Belum. Nomornya belum aktif.” Orang itu masih fokus memandangi layar ponselnya.
“Aku tidak mau tau, pokoknya hari ini harus sudah ada petunjuk.”
“Sabar, sayang. Semuanya perlu proses. Lagipula nomor ponsel nona sedang tidak aktif kan?” Monica yang duduk di sebelah Johan berusaha menenangkan pria itu.
“Terakhir nomor ini terlihat aktif di daerah tenggara ibukota.” Ucap pria itu.
“Apa?” Johan membulatkan matanya.
“Jangan bilang jika nona pergi keluar kota?” Ucapnya lagi.
“Memangnya kenapa sayang?” Tanya Monica.
“Sayang, nona hanya mengendarai mobil tua, dia juga tidak membawa kartu kredit yang bos berikan. Jangan sampai terjadi sesuatu dengannya.” Johan tiba-tiba menjadi khawatir dengan gadis itu.
“Kasian dia sayang, dia baru berusia 21 tahun dan yatim piatu. Bagaimana jika—,”
“Stop, sayang. Tidak akan terjadi sesuatu dengan nona mu itu. Kamu begitu khawatir dengannya, jangan bilang jika kamu menyukainya?” Monica memicingkan matanya.
__ADS_1
“Tidak sayang, aku benar-benar hanya menganggapnya seperti adikku sendiri.” Johan mengusap lengan sang kekasih.
“Got it.” Seru pria yang duduk di hadapan mereka berdua.
Pria itu memperlihatkan ponselnya kepada sepasang kekasih di hadapannya itu.
Disana terlihat jejak dimana kini Laura berada.
“Pantau terus pergerakan gadis itu, bro. Kirimkan aku nomor rekeningmu. Aku akan membayarmu berapa pun.” Ucap Johan sembari mengembalikan ponsel pria itu.
“Tentu, Jo. Aku akan mengabarkan setiap detik pergerakan gadis ini.” Pria itu mengambil ponselnya yang lain, dan mengetikan sesuatu disana. Tak lama, ponsel Johan pun berdenting tanda pesan masuk.
Johan pun mengetik sesuatu pada benda pipih pintarnya.
“Aku sudah mentransfer sejumlah uang. Akan aku transfer lagi, setelah nona kembali pulang.” Johan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
“Baiklah, Jo, Monic, senang bekerja sama dengan kalian. Aku pasti akan mengabarkan setiap detik pergerakannya.” Pria itu berdiri, dan menyalami kedua kliennya, setelah itu dia pergi meninggalkan mereka berdua.
“Aku harus menghubungi bos, sayang.” Johan kembali merogoh ponselnya.
“Kemana dia? Kenapa tidak mengangkat panggilanku?” Johan mengerenyitkan alisnya.
“Mungkin bos sedang istirahat, sayang.”
“Apa iya?”
‘Apa dia bisa tidur sendiri tanpa obat tidur?’
.
.
.
T. B. C
————
Ocehan Authir a.k.a Author amatir.
Teruntuk pembaca yang komen begini “males banget baca novel begini” dan dia komen di beberapa novel on going, tidak hanya di novel ini saja.
Saya sarankan, biar anda tidak merasa di gantung, sebaiknya baca novel yang sudah tamat saja.
Novel ini, dan novel lain yang masih on going atau bersambung, itu masih perlu di pikirkan alur kedepannya, dirangkai kalimatnya, di ketik, lalu di setor ke pihak Platform.
Kalau anda mau sekali baca langsung tamat, Silahkan anda baca Cerpen. Di platform ini banyak kok.
Terimakasih
————
Maaf kalau saya orangnya baperan, cuma ga suka aja lihat orang yang suka bilang, males baca novel di gantung.
__ADS_1
😔😔😔😔