
Setelah sah menjadi sepasang suami istri, Damian mengajak Teresha menginap di salah satu hotel berbintang tak jauh dari panti asuhan.
Damian tidak mengajak Teresha pulang ke rumah, karena besok pagi mereka akan terbang ke Bali untuk melakukan bulan madu.
Sebelum meninggalkan panti asuhan, Damian menawari sang putra untuk tinggal bersama mereka. Namun, Leo menolak. Remaja itu beralasan tidak ingin pindah sekolah karena tahun ini ia akan naik ke kelas dua belas.
Selain itu, Leo juga mengatakan ingin memberi waktu berdua untuk orang tuanya, agar adik yang ia minta cepat ia dapatkan.
Dengan berat hati, Damian dan Teresha menerima alasan dari putra mereka. Dan setelah semua rangkaian pernikahan selesai, disini lah mereka sekarang berada, di sebuah kamar hotel bertipe Suite room, yang telah didekorasi untuk pasangan pengantin baru.
“Kamu mandilah terlebih dulu, ma.” Ucap Damian sembari meletakkan koper-koper mereka di pojok kamar.
“Ya, baiklah.” Teresha mendekat dan membuka kopernya untuk mengambil pakaian tidur. Kemudian berlalu ke kamar mandi. Sementara Damian melepas satu persatu pakaiannya, hingga hanya menyisakan celana panjang yang ia gunakan untuk menikah tadi pagi.
Pria itu hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun, ia takut merusak hiasan di atas ranjang, maka Damian memutuskan merebahkan diri di atas sofa.
Setelah hampir satu jam di kamar mandi, Teresha kembali ke dalam kamar dengan menggunakan piyama tidurnya. Alis wanita itu berkerut, ketika mendapati sang suami yang tengah terlelap di atas sofa.
“Apa dia tidak mau tidur dengan ku?” Teresha bergumam. Sembari menghela nafasnya pelan, wanita itu berjalan ke arah balkon kamar. Ia merasa enggan untuk naik ke tempat tidur, karena sang suami sendiri memilih tidur di atas sofa.
Teresha berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada besi pagar pembatas. Pandangannya menerawang jauh, menatap indahnya gemerlap lampu kota.
Ia tidak pernah menyangka, akan kembali menikah dengan mantan suaminya. Pria yang dulu ia benci. Pria yang tiga kali memperdayainya, hingga ia hamil Leo. Demi mendapat maaf dari putra yang telah ia buang, demi menebus kesalahan yang telah ia perbuat hampir 17 tahun lalu, ia rela menekan ego dan berdamai dengan dirinya sendiri, untuk bisa menerima Damian kembali.
“Kenapa berdiri disini, ma?” Sepasang tangan kokoh, tiba-tiba memeluk pinggangnya. Wanita itu sedikit terlonjak, namun ia kembali teringat, jika kini ia bersama suaminya.
“Aku belum bisa tidur. Kamu mau mandi? Biar aku siapkan airnya.”
Damian mengeratkan pelukan di pinggang istrinya. Ia pun menumpangkan dagu di bahu sang istri.
“Kamu terlalu sibuk melamun, aku bahkan sudah selesai mandi.” Ucap pria itu kemudian.
Teresha memutar sedikit kepalanya, sehingga membuat hidung wanita itu menempel di pipi sang suami.
Wanita itu terdiam sejenak. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
“Bagian lainnya juga ingin di cium, ma.” Ucap Damian terkekeh. Membuat sang istri kembali menatap ke depan. Pipi wanita itu mendadak panas. Ia bagaikan remaja yang baru pertama kali berdekatan dengan seorang pria.
“Apa kamu benar sudah mandi?” Tanya Teresha sekali lagi. Ia tidak yakin jika suaminya sudah mandi. Ia tidak merasa melamun begitu lama.
__ADS_1
“Apa kamu mau memandikan aku?”
Teresha mencebik, ia kemudian mencubit lengan sang suami.
“Aw.. kenapa mencubit ku, ma?”
“Dam.”
Teresha mengatupkan bibirnya, ia bingung harus memanggil suaminya dengan sebutan apa. Jika memanggil nama, terasa sangat tidak sopan.
“Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Suatu hari nanti, panggilanmu pasti akan berubah.” Damian meraih tangan sang istri, kemudian mengecupnya.
“Aku akan selalu menunggu, ma.” Meski sedang berdua, Damian tetap memanggil sang istri dengan sebutan mama. Ia ingin wanita itu terbiasa.
Teresha mengangguk, ia ikut melingkarkan tangannya di atas tangan sang suami. Mengusap lembut tangan kokoh yang melingkari pinggangnya.
“Ayo tidur, ini sudah malam.” Damian menuntun tubuh sang istri menuju ke arah ranjang.
“Dam?”
“Ya?”
Sebelum bertanya, ibi dari Leo itu menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskan dengan pelan.
“Apa kamu tidak mau tidur denganku?”
Alis Damian berkerut ketika mendengar pertanyaan sang istri.
“Tentu aku mau, ma. Sudah lama aku menantikan malam ini.”
“Lalu, kenapa tadi kamu tidur di atas sofa?” Pandangan Teresha mengarah pada sofa yang tadi di gunakan sang suami untuk merebahkan diri.
Pria itu mencebik, ia kemudian mendekat ke arah sang istri yang masih berdiri di pinggir ranjang. Ia menarik pinggang sang istri, membuat tubuh mereka menempel satu sama lain. Membuat Teresha menahan nafasnya, karena mereka terlalu dekat.
“Aku takut merusak hiasan indah di atas ranjang.” Bisik pria itu.
“Memangnya kenapa jika rusak?”
Damian menggeleng kecil. Senyum di bibir pria itu kembali terbit.
__ADS_1
“Jika ingin dirusak, maka kita harus merusaknya berdua, ma.” Setelah mengucapkan hal itu, Damian mendorong tubuh sang istri, hingga terjatuh di atas ranjang yang berhiaskan kelopak bunga mawar, berbentuk hati.
Jantung Teresha semakin berdetak kencang, ketika sang suami tiba-tiba mengukungnya. Pria itu bahkan mulai mengikis jarak di antara mereka berdua.
“Aku sudah terlalu lama menahan diri, ma. Tetapi malam ini, maafkan aku. Aku tidak bisa lagi menahan diri.” Suara pria itu terdengar berat dan serak. Ia tak mampu lagi menahan diri.
Kepala Teresha mengangguk. Ia pandangi wajah sang suami yang terlihat lebih tampan dari 17 tahun yang lalu.
“Perasaanku padamu masih sama, Teresha Hadi Wicaksana. Aku masih mencintai mu, meski kita telah berpisah belasan tahun. Dan malam ini, ijinkan aku memilikimu seutuhnya.”
“Maafkan aku yang belum bisa membalas cintamu, Dam. Tetapi aku pastikan, kamu satu-satunya pria dalam hidupku, sejak 17 tahun yang lalu, sampai sekarang.”
Damian tersenyum, ia kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri. Sepersekian detik kemudian, bibir mereka telah menyatu. Meresapi hangatnya ciuman yang telah lama tak mereka rasakan.
Baik Damian maupun Teresha, selama hampir 17 tahun ini, tidak pernah berhubungan dengan lawan jenisnya. Damian yang masih menyimpan cinta untuk Teresha, sementara Teresha yang masih menaruh harapan kepada Edward.
Dan sekarang, mereka merasakan sekali lagi, rasa yang pernah mereka bagi bersama 17 tahun lalu, meski waktu itu Teresha dalam keadaan tak sadarkan diri.
Namun, kali ini ia sadar sesadarnya. Ia melihat dengan jelas siapa pria yang menguasai raganya.
“Ijinkan aku masuk, ma.” Ucap Damian ketika semua helaian kain telah terlepas dari tubuh mereka.
Teresha menelan ludahnya dengan susah payah saat pandangan sang suami mengarah pada inti tubuhnya.
Dengan ragu kepala wanita dewasa itu mengangguk. Dan sebelum memulai pertempuran, Damian mengecup hangat kening sang istri. Hal itu membuat Teresha merasa sangat tenang.
“Aw..” Teresha memekik, kala sesuatu yang ia rasa cukup besar menerobos di bawah sana.
“Apa sakit?” Kepala Teresha mengangguk. Bagaimana pun juga, selama 17 tahun ini, ia tidak pernah lagi melakukan hal itu dengan pria lain, selain dengan Damian.
“Aku akan pelan-pelan. Tahan sedikit, ma.”
Teresha pun menganggukkan kepalanya. Dan Damian pun kembali melanjutkan aksinya.
.
.
.
__ADS_1