TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 98. Meminta Maaf.


__ADS_3

“Jo.”


Edward masuk begitu saja ke dalam ruangan sang asisten tanpa mengetuk pintu.


Johan yang sedang menelungkupkan kepalanya dia atas meja, terlonjak dan menegakkan posisi duduknya.


“Ada yang bisa aku bantu, bos?”


Tak biasanya pria muda itu bertanya panjang lebar. Biasanya cukup membalas dengan kata, ya.


Edward mendekat ke arah sang asisten. Ia meneliti lekat-lekat wajah pria yang telah menemaninya selama 8 tahun.


Terasa agak berlebihan memang, hanya karena Laura yang baru ia kenal selama 3 bulan, sampai-sampai Edward mendiami sang asisten yang sudah setia selama 8 tahun dengannya.


Pria dewasa itu duduk di seberang sang asisten. Ia belum berucap lebih lanjut. Namun Edward terus mengamati wajah Johan.


“Ada apa, bos?” Johan kembali bertanya.


“Aku minta maaf. Sikap ku terlalu kenakan. Tetapi kamu sendiri tau kan, jika aku orangnya pencemburu?”


“Aku tau, bos. Karena itu aku tidak membalas pelukan nona. Percayalah bos, aku tidak memiliki rasa pada nona.”


Edward bangkit, kemudian menghampiri sang asisten. Johan pun ikut bangkit. Mereka kemudian saling memeluk.


“Maafkan aku, Jo. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu.” Edward menepuk-nepuk punggung asistennya.


“Aku mengerti, bos. Aku juga akan marah jika Monica memeluk pria lain. Tetapi, aku akan berusaha memahami situasinya dulu. Siapa pria yang di peluk oleh Monica. Baru aku akan menghajarnya.” Johan menyindir atasannya secara halus.


Edward mengurai pelukannya, pria itu memicingkan matanya pada Johan. Ia tau telah disindir oleh asistennya.


“Kamu kalau urusan menyindir, memang nomor satu, Jo.”


Johan terkekeh kecil mendengar ucapan sang atasan.


Edward kembali duduk, begitu pula Johan.


“Bos.. kunjungan ke negara tetangga minggu depan bagaimana? Apa aku yang berangkat lagi?”


Edward berpikir sejenak. Ada jadwal kunjungan ke hotelnya yang berada di negara tetangga. Kenapa tidak ia saja yang berangkat? Sekaligus mengajak sang istri berbulan madu.


“Biar aku saja. Pesankan dua tiket.” Perintah Edward.


Johan mengulum bibirnya. Kini ia bebas tugas menggantikan sang atasan.


“Apa bos akan tinggal di hotel kita?” Sang asisten kembali bertanya.


“Ya. Minta mereka menyiapkan kamar bulan madu.”


“Tentu, bos.”


Mereka kembali membahas masalah pekerjaan. Edward tidak bisa mendiami asistennya lebih dari sehari. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang tidak bisa pisahkan.


Semenjak kepergian David, hanya Johan yang setia di sampingnya. Pria muda itu bahkan merelakan kebebasannya demi tetap mendampingi Edward.


Kesetiaan Johan, selalu mengingatkan Edward pada David. Namun ia tidak ingin membandingkan kedua.


Mendiang David, selain sebagai asisten juga adalah adik iparnya. Sementara Johan, Edward sudah menganggap pria muda itu seperti adiknya sendiri.


Mungkin Johan lebih banyak melihat sisi rapuh Edward. Walau saat bersama David, ia juga kehilangan sang papa, namun Edward tidak serapuh saat ia kehilangan David.

__ADS_1


Johan selalu menjadi tempat Edward mengeluh akan mimpi buruk yang terus menghantuinya. Johan juga yang menjadi saksi bagaimana pria dewasa itu bertahan demi keluarganya.


“Kapan kalian akan menikah?” Edward kembali teringat janjinya kepada Johan. Yang akan mengijinkan sang asisten menikah setelah ia menikahi Laura. Dan kini saatnya mewujudkan janji itu.


“Apa aku sudah boleh menikah, bos?” Dengan ragu Johan bertanya. Ia tidak mau mendapatkan harapan palsu.


“Kalian belum melakukan persiapan?”


Kepala Johan menggeleng cepat. Meski sang atasan pernah mengatakan ia boleh menyusul saat Edward telah menikah, namun ia belum berani melakukan persiapan.


“Lakukan persiapan dari sekarang. Sepulang aku dari luar, aku akan melamar Monica untukmu.”


Edward tau, sang asisten sudah tidak memiliki keluarga. Jadi dia akan bertanggung jawab menjadi keluarga bagi Johan.


Mata Johan berbinar. Seketika ia bangkit dan menghambur memeluk sang atasan.


“Terima kasih, bos. Setelah ini, aku akan meminta Monica mencari refrensi untuk pernikahan kami.” Tiba-tiba mata Johan menjadi perih. Ia tidak bisa menahan rasa harunya.


“Sudah, jangan menangis. Kamu sudah 30 tahun. Malu dengan usia.” Edward menepuk bahu asistennya.


Monica yang sedari tadi menjadi penguntit di depan pintu, merasa ikut terharu. Akhirnya penantian gadis itu akan segera berakhir.


“Terima kasih, pak Ed.”


*****


“Makan banyak amat, Bu?” Melani menggoda sahabatnya, ia melihat porsi makan Laura lebih banyak dari biasanya.


“Lapar, Mel.” Jawab Laura, ia tetap fokus menyantap mie ayam kesukaannya.


“Aku curiga, jangan-jangan—,” Melani sengaja menjeda ucapannya, matanya memicing ke arah perut Laura.


“Aku kira akan segera mempunyai keponakan?” Ucap Melani sendu. Meski ia bukan gadis berpengalaman, namun ia mengerti mengenai urusan wanita dan pria.


“Mel, aku ingin bercerita.” Laura meletakan alat makan yang ia gunakan untuk menyantap mie ayamnya. Kemudian meneguk sisa air mineral di dalam botol.


Setelah dahaganya menghilang, wanita yang masih berstatus pengantin baru itu mulai bercerita.


Ia menceritakan tentang adiknya Leo. Bagaimana ia pernah bertemu dengan pria dewasa yang mirib dengan sang adik, dan juga hasil penyelidikan dari Johan.


Beberapa menit bercerita, Laura meminta pendapat dan saran dari sang sahabat.


“Pertemukan saja mereka, La. Bagaimana pun juga, Leo berhak tau tentang orang tuanya.” Usul dari sang sahabat.


“Tetapi Leo tidak tau, Mel. Jika dia bukan adik kandungku. Ayah dan ibu sudah mengadopsinya dan menjadikan anak mereka.”


“Ya, tapi kan kita tidak boleh egois, La. Leo berhak tau tentang dirinya. Setelah itu terserah dia. Mau tetap di panti atau ikut orang tuanya?”


Laura memikirkan ucapan sang sahabat.


“Bagaimana jika Leo memilih orang tuanya? Aku tidak mau kehilangan dia, Mel.”


Melani menggeleng. Entah kenapa sahabatnya berpikiran pendek begini.


“La.. Leo sudah besar, dia pasti bisa menentukan pilihannya. Dan aku yakin, Leo pasti lebih memilih kalian, daripada orang yang baru di kenalnya.”


Melani mendekap pundak Laura dari samping.


“Percaya padaku. Semuanya pasti baik-baik saja.”

__ADS_1


Laura mengangguk. Siap tidak siap, ia memang harus menceritakan asal-usul sang adik, pada pemuda itu.


Benar yang di ucapkan Melani. Leo berhak tau tentang dirinya. Laura mungkin sangat menyayangi adiknya itu. Karena selama 16 tahun mereka telah bersama.


Melawati banyak suka dan duka. Menangis bersama saat kepergian kedua orang tuanya.


Dan bercita-cita bersama merawat dan menjadikan panti lebih besar lagi.


“Jika memang Leo memilih orang tua kandungnya. Kamu juga harus ikhlas, La. Bagaimana pun, Leo memiliki hak atas dirinya sendiri. Biarkan dia bebas menentukan pilihannya.”


Laura kembali mengangguk.


“Meski kalian tidak punya ikatan darah, tetapi kalian telah terikat oleh rasa kasih sayang yang besar. Leo pasti tidak akan melupakan kamu, jika seandainya dia memilih orang tuanya. Setidaknya, biarkan dia merasakan kasih sayang dari orang yang telah membuat dia ada di dunia ini.”


‘Ayah, ibu.. apa mungkin ini saatnya adek tau tentang dirinya? Jujur aku tidak bisa. Tetapi aku harus memberitahunya.’


Laura berbalik mendekap sang sahabat.


“Terima kasih, Mel. Aku akan bicarakan ini dengan Ed. Dia pasti bisa membantuku.”


Melani membalas pelukan Laura dan mengusap punggung sabahatnya itu.


“Sama-sama, La. Itulah gunanya teman. Saling berbagi, saling bercerita. Meski kita tidak bisa membantu secara finansial, setidaknya bisa membantu memberikan solusi. Sekarang terserah kamu, mau menerima solusi yang aku berikan atau tidak.”


“Iya, Mel. Sekali lagi terima kasih untuk saran yang kamu berikan.”


Mereka kemudian mengurai pelukan, dan meninggalkan kantin. Pulang bersama karena Melani hari ini tidak membawa kendaraan.


“Wah.. mobil baru nih..?” Mata Melani berbinar melihat sebuah mobil sedan keluaran terbaru sedang menunggu mereka di parkiran.


Namun tidak dengan Laura. Mata gadis itu membulat sempurna. Bisa-bisanya sang sopir datang bukan dengan mobil ayahnya.


“Pak, kenapa membawa mobil ini?” Ucap Laura mendekat ke arah sang sopir, sambil menunjuk mobil mewah itu.


“Maaf, nyonya. Saya masih ingin bekerja dengan anda. Saya belum mau di pecat oleh tuan.”


Deretan kata yang di ucapkan sang sopir membuat Laura mengerti. Ia pun terpaksa menggunakan mobil itu. Demi sang sopir tidak kehilangan pekerjaannya.


‘Dasar pria tua licik.’


.


.


.


T. B. C


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift.


Terimakasih banyak-banyak untuk Readers yang masih setia ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2