TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 120. Hasil Tes DNA.


__ADS_3

Dua minggu berlalu.


“Baby, bangun sayang.” Edward mengecup, sesekali menggigit kecil pundak sang istri yang terpampang indah di depan matanya.


Kemarin sore, mereka memutuskan pulang ke rumah sang mama. Supaya pagi ini, bisa mengajak Devano ke panti asuhan lebih cepat.


Bocah itu selalu saja menagih janji di akhir pekan, setelah dua minggu lalu Ed dan Laura tak bisa datang karena menemani Johan dan Monica, minggu lalu mereka kembali absen karena Laura yang harus belajar untuk ujian akhir semesternya.


“Jam berapa, pi?” Wanita itu membalik badannya, kemudian memeluk erat leher sang suami, membuat pria itu terjatuh di atas tubuh polosnya.


“Sudah jam 6, sayang. Ayo bangun. Jangan sampai putramu datang menggedor pintu dan melihat kita tanpa busana.” Ucap Edward terkekeh.


Laura menurut, meski matanya masih sangat mengantuk. Karena tadi malam sang suami merasainya hingga larut.


“Gendong.” Kedua tangan Laura terangkat ke atas.


Edward tersenyum kemudian menggendong sang istri seperti induk koala.


Laura menjatuhkan kepala di atas pundak sang suami, namun sejurus kemudian, mata wanita itu terbuka lebar. Ia pun menjerit kencang.


“PAPIIII.” Teriaknya saat merasakan benda keras tak bertulang suaminya menancap sempurna di bawah sana.


“Sekali saja, mami. Morning penetration”


Ucap sang suami tanpa dosa. Ia tetap berjalan dengan bagian tubuh mereka yang menyatu.


“Jangan berteriak. Kamar ini tidak kedap suara. Kamu mau para penghuni tiba-tiba datang menghampirimu kesini? Mmhhh…”


Laura diam, ia menjatuhkan kembali wajahnya di leher sang suami. Kemudian mengisapnya dengan keras, untuk melampiaskan rasa yang tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata.


Lebih dari satu jam, pasangan suami istri itu pun keluar dari kamar mandi dengan Laura yang nampak cemberut. Suaminya benar-benar tidak waras.


“Jangan cemeberut, mami sayang. Lagi pula kita jarang sekali melakukannya pagi.” Edward mendekap dari belakang tubuh Laura yang sedang memilih pakaian untuk mereka berdua.


“Sudah, lepaskan aku, pi. Lebih baik cepat bersiap, Devano pasti sudah menunggu.”


“Hmm.” Mengecup singkat pipi sang istri, Edward kemudian melerai dekapannya.


Waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi, Edward dan Laura turun dari kamarnya. Nampak anggota keluarga mereka telah menunggu di meja makan.


“Papa dan mami pemalas sekali. Aku saja bangun jam 6 pagi.” Devano mendengus kesal. Tangan kanannya menggenggam pisau makan, dan tangan kiri memegang garfu. Kedua alat makan itu berdiri di dalam genggaman tangannya.


Laura dan Edward saling memandang, sementara nyonya Hugo dan Felisha hanya bisa mengulum bibirnya dalam, agar tidak tertawa.


“Sudah, ayo duduk. Kami sudah sangat lapar menunggu kalian turun.” Nyonya Hugo berucap.


Edward dan Laura pun mengambil tempatnya masing-masing. Jika sebelumnya, Laura yang akan mengambilkan makanan untuk anggota keluarganya, namun kali ini, piring untuk dirinya pun telah terisi.


Pipi wanita muda itu mendadak memanas. Ia memikirkan, apa yang mama mertua dan iparnya pikirkan tentang dirinya dan Edward.

__ADS_1


“Sayang, ayo dimakan, kenapa kamu melamun? Kamu sakit?” Nyonya Hugo mengusap lembut lengan menantunya yang duduk di sebalah kirinya.


“I-iya, ma. Aku baik-baik saja.”


*****


Pukul 9 pagi, mobil sedan milik Edward telah tiba di halaman panti asuhan. Edward yang mengemudikan mobil itu, dengan sigap turun lebih dulu. Kemudian membukakan pintu untuk anak dan istrinya.


Bagas yang melihat kedatangan sang atasan, sedikit membungkukan badan tanda memberi hormat. Dan di balas dengan anggukan kecil oleh Edward.


Mereka bertiga pun berjalan bergandengan tangan, dengan Devano yang berada di tengah-tengah.


“Selamat pagi, pak.” Devano menyapa pak Toto yang sedang menyapu di halaman panti.


“Selamat pagi, bos kecil.” Balas sang tukang juru bersih-bersih panti asuhan itu.


Edward dan Laura ikut menyapa pria paruh baya itu. Mereka kemudian berlalu menuju ruang tamu.


“Papa, mami. Aku mau kesana.” Devano menunjuk teman-temannya yang sedang membersihkan perpustakaan. Mereka belum sampai di ruang tamu.


“Ya sudah. Kamu harus membantu teman-teman mu, Dev.” Ujar sang papa.


“Oke, papa.”


“Hati-hati, sayang.” Peringat sang mami.


“Oke, mami.”


Mereka melihat Damian sedang duduk di ruang tamu bersama ibu Maria.


“Pi?”


“Hmm.” Edward tau istrinya tidak nyaman dengan pria itu, ia pun meraih jemari Laura. Dan menautkan dengan jemarinya.


“Ayo.” Pria itu menuntun sang istri memasuki ruang tamu.


“Selamat pagi, Bu.” Edward menyapa ibu Maria. Dan wanita paruh baya itu menoleh.


“Ah, nak Ed, Lala. Selamat pagi, mari duduk.”


Ibu Maria mempersilahkan sepasang suami istri itu duduk.


“Kalian pasti sudah saling mengenal kan? Beliau nak Damian.” Ibu Maria kembali berbicara.


“Iya, Bu. Kami sudah saling kenal.” Ucap Edward datar.


“Apa kabar, Ed, dan Laura?” Tanya Damian.


“Seperti yang kamu lihat, kami baik-baik saja.”

__ADS_1


‘Sekarang kalian mungkin masih baik-baik saja, tetapi kita lihat nanti. Apa kalian masih akan tetap baik-baik saja?’


Derap langkah kaki terdengar mendekat, membuat orang-orang yang berada di dalam ruang tamu itu, menoleh.


Leo datang dengan wajah datarnya. Hari ini adalah hari yang ia dan Damian tunggu-tunggu kedatangannya. Namun remaja itu sama sekali tidak bersemangat.


“Pagi, Bu. Kak Lala, kak Ed. Pak Damian.”


Remaja itu pun mengambil tempat di samping Laura.


Seketika perasaan Laura tidak karuan. Apalagi ia melihat Damian memegang sebuah amplop berwarna putih.


“Nak Damian, Leo sudah ada disini. Apa nak Damian ingin berbicara berdua dengan Leo?”


“Tidak, Bu. Aku ingin kalian semua menjadi saksi. Atas apa yang tertulis di dalam amplop ini.” Damian meletakan amplop yang sedari tadi ia pegang ke atas meja.


Di depan amplop itu, tertulis nama sebuah rumah sakit. Sudah bisa di pastikan jika di dalam amplop itu isinya adalah hasil tes DNA mereka berdua.


“Sebelumnya aku ingin mengatakan kepada Laura selaku kakak dari Leo. Maaf karena aku telah lancang mengajak adikmu melakukan tes DNA tanpa meminta ijin terlebih dulu. Aku melakukan itu juga atas keinginan Leo.”


Laura mengangguk. Ia sudah tau dari pesan yang di kirim Bagas kepada suaminya.


“A-aku tidak masalah pak.”


“Baiklah, aku ingin Edward yang membuka amplop ini.” Pria itu menggeser amplop ke atas Edward.


“Aku juga belum tau isinya. Kemarin rumah sakit menghubungi ku, dan tadi pagi-pagi sekali aku ke sana mengambilnya. Setelah itu langsung kesini. Aku dan Leo melakukan tes itu bersama-sama. Jadi, tolong jangan ada pikiran jika aku memanipulasi hasil tesnya.”


Edward meraih amplop itu. Ia menoleh sejenak sang istri. Laura mengangguk. Pria itu kemudian merobek ujung amplop putih itu.


Ia menunjukkan kertas yang terdapat di dalam amplop itu kepada Laura. Dengan refleks, istri Edward itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Hasil tes mengatakan jika Damian dan Leo memiliki 99% kecocokan genetika. Yang artinya, mereka memang memiliki hubungan darah.


Edward membaca isi surat itu. Ibu Maria juga merasa haru. Akhirnya Leo menemukan orang tua kandungnya.


Damian sangat bahagia. Tuhan menjawab doanya. Setelah bertemu Leo beberapa minggu lalu. Ia tanpa henti meminta kepada Tuhan, agar menjadikan remaja itu putranya.


Namun lain halnya dengan Leo. Ia sama sekali tak merasa bahagia. Bahkan ia berharap hasil tes negatif.


“Nak.” Damian mendekat ke arah remaja itu. Namun, Leo menghindar. Ia berdiri, kemudian berlari keluar dari ruang tamu.


“Dek.. tunggu.”


.


.


.

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2