TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 87. Masih Di Hari Pernikahan.


__ADS_3

Acara usia menjelang sore, Yulia dan Melani sudah pamit kembali ke kota. Anak-anak panti juga telah kembali ke kamarnya.


Felisha juga telah kembali lebih dulu. Ia tidak tau harus berbuat apa? Anaknya tidak pernah begini. Bocah itu tidak sekalipun bicara, setelah melakukan foto keluarga.


Edward pun tidak begitu memperhatikan putranya. Ia terlalu hanyut dalam kebahagiaan bersama yang istri.


Kini disana tinggal nyonya Hugo bersama sang asisten, ibu Maria dan juga bibi Lily. Mereka masih duduk santai di salah satu meja, sambil menikmati hidangan yang masih tersisa.


Sementara sepasang pengantin baru itu juga tengah asyik bercengkerama berdua. Menikmati hidangan satu piring berdua, dengan menggunakan satu alat makan.


Tidak ada lagi kecanggungan di atara keduanya. Karena memang sebelumnya mereka juga tidak pernah merasa canggung, bahkan mereka telah terbiasa polos di hadapan satu sama lain.


Saat sedang ingin menyuapi sang suami, mata indah Laura tanpa sengaja melihat sang adik, Leo. Yang berjalan mendekat ke arah rombongan para tetua.


Deg..


Seketika gadis itu teringat akan pria yang bertabrakan dengannya tempo hari di restoran Korea.


‘Pantas saja, aku merasa tidak asing dengan pria dewasa itu. Ternyata dia—,’


“Baby, ada apa?” Edward menginterupsi sang istri, karena sendok yang berisi makanan itu tak kunjung sampai ke dalam mulutnya.


Ia melihat ke arah pandangan Laura. Pria itu mengerenyit heran, kenapa istrinya begitu tercengang melihat adiknya sendiri.


“Baby.” Pria itu mengusap lengan sang istri


“Hah.” Laura terkejut, tanpa sengaja sendok yang ia pegang jatuh ke atas piring. Dan menimbulkan suara dentingan kecil.


“Maaf, papi. Aku tidak sengaja.” Tangan wanita muda itu meraih selembar tissue di atas meja, kemudian mengelap jas sang suami yang terkena cipratan makanan.


“Hei, ada apa?” Edward menangkap tangan Laura yang sedang menari-nari di atas jas yang ia kenakan.


“I-itu.” Laura menjadi terbata. Ia bimbang, apa mungkin pria yang ia lihat kemarin itu ayah kandung adiknya?


“Papi..?” Laura menatap lekat wajah suaminya.


“Mmm?”


Wanita yang baru saja bergelar nyonya muda Hugo itu, menceritakan kejadian yang menimpanya tempo hari.


“Damian?” Edward mengulang mengucapkan nama yang di sebut oleh sang istri.


Pria dewasa itu berusaha mengingat, bagaimana wajah laki-laki yang katanya menjadi ketua kelasnya dulu.


Namun ingatan tentang masa remaja tidak bisa ia ingat dengan baik. Edward tidak begitu mengingat wajah dari ketua kelasnya. Ia hanya dekat dengan David dan Felisha saja waktu itu.

__ADS_1


“Aku tidak mengingatnya, baby.” Edward membuang nafasnya kasar.


“Apa dia begitu mirib dengan Leo?”


Laura mengangguk. Ia bahkan begitu tidak asing dengan wajah pria dewasa itu. Padahal mereka belum pernah bertemu.


“Aku merasa tidak asing dengan wajahnya, pi. Padahal seingat ku, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Dan saat melihat Leo,— Laura kembali melihat ke arah sang adik yang kini ikut bergabung di meja itu.


“Membuat aku teringat akan pria dewasa itu lagi.”


“Jangan berani-beraninya kamu memikirkan atau mengingat pria lain, baby. Ingat! Sekarang kamu istriku. Kamu hanya boleh mengingatku saja.”


Laura tercengang mendengar ucapan sang suami. Bukannya membantu mencarikan petunjuk, ia malah mengultimatum istrinya.


“Papi, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku tau batasan ku. Hanya saja, aku serius, pi. Apa pria itu ayahnya Leo?”


Entah kenapa, perasaan Laura menjadi tidak karuan. Selama 16 tahun ia hidup bersama sang adik, meski bukan adik kandungnya, namun mereka sangat dekat. Ada rasa tidak rela di hatinya jika sang adik kembali kepada keluarga kandungnya.


Mungkin Laura egois, tetapi ia sudah sangat menyayangi remaja itu.


“Apa Leo tau, jika dia bukan adik kandungmu?” Edward meraih jemari sang istri. Ia berusaha menyalurkan kehangatan pada wanita muda itu.


Kepala Laura menggeleng. Sampai kedua orang tuanya tiada, tidak ada yang memberitahu tentang Leo kepada remaja itu.


Bahkan, ia dan Leo tercatat sebagai ahli waris panti asuhan ini. Anak-anak dari mendiang Adi Nugraha dan Anna Angelina.


Laura mendongak, ia menatap penuh harap kepada pria yang belum genap sehari menjadi suaminya.


“Apa bisa?” Ia bertanya, seakan lupa siapa pria yang menjadi suaminya ini.


“Tentu, baby. Uang bisa melakukan segalanya.”


Laura mengangguk. Ia ingin menjawab rasa penasarannya.


“Papi, aku ingin tau lebih dulu. Sebelum orang itu menemui Leo.”


“Kenapa?”


“Maafkan aku, papi boleh menganggap ku egois. Tetapi aku tidak rela jika Leo bertemu dengan keluarga kandungnya.” Laura berujar lirih. Sedetik kemudian air matanya menetes menuruni pipinya.


Tangan Edward dengan sigap menghapus air mata itu. Ia tidak mau ada yang melihat dan menimbulkan banyak pertanyaan.


“Jangan menangis. Aku mengerti, kalian sudah bersama selama 16 tahun. Aku akan minta Johan mencari seorang detektif untuk menyelidiki Damian.” Edward merengkuh pundak sang istri. Dan membawa ke dalam dekapannya.


*****

__ADS_1


Menjelang malam, pengantin baru itu bertolak ke rumah sang mama. Karena tidak memungkinkan mereka kembali ke kota saat ini.


Edward sebenarnya ingin menginap di panti ini, menghabiskan malam pertamanya di kamar sang istri. Namun mengingat tempat ini banyak anak di bawah umur, pria itu mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin menunda malam pertama mereka menjadi sepasang suami istri. Meski ini bukan malam pertama ia merasai istrinya.


Bagaimana pun juga, mereka sudah berpisah selama tiga hari. Rindu ingin meleburkan rasa sudah tidak bisa di tahan lagi, apalagi kini mereka telah menjadi pasangan sah.


Setelah berpamitan kepada para penghuni panti, dan sedikit drama air mata. Kini mobil yang Edward kemudikan telah sampai di halaman rumah sang mama.


Laura tidak habis pikir, ternyata selama ini nyonya Samantha yang kini menjadi ibu mertuanya, tinggal begitu dekat dengannya. Dan itu bukan di kawasan elit. Namun demikian, rumah sang mertua sangatlah besar dan mewah.


Laura tidak hentinya tercengang melihat halaman rumah mertuanya yang begitu luas.


“Ayo, baby. Kita masuk.” Edward menggenggam jemari sang istri. Dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


Seorang asisten rumah dengan sigap menyapa dan membukakan pintu untuk mereka berdua.


Aura kebahagiaan tampak jelas terpancar di wajah keduanya. Semua orang yang melihat dapat merasakan hal yang sama.


“Selamat datang, menantu mama.” Nyonya Hugo menyambut sang putra dan menantunya di ruang tengah rumah itu.


Ia memeluk mereka berdua bergantian.


“Mama sendiri? Dimana Felisha dan Devano?” Edward bertanya setelah ia tidak mendapati keberadaan sang adik dan putranya disana.


Laura juga ikut memindai ruangan luas itu. Ia tidak melihat saudari iparnya. Padahal ia ingin sekali berkenalan dengan Devano.


Nyonya Hugo menghela nafasnya kasar. Semenjak pulang dari panti, sang cucu mengurung diri di kamar.


“Mama tidak tau apa yang terjadi pada bocah itu, sedari tadi siang, ia berubah murung. Sama sekali tidak mau berbicara pada mama ataupun Felisha.”


Deg..


Edward tersentak mendengar ucapan sang mama. Bagaimana bisa ia tidak memperhatikan putranya sejak siang? Ia begitu larut dengan rasa bahagianya, sehingga melupakan keberadaan Devano, bocah yang menjadi alasan dia tetap hidup sampai sekarang.


Edward melepaskan tautan tangannya dan Laura.


“Baby, sebentar. Aku akan menemui Devano.” Pria itu meninggalkan sang istri dan mamanya tanpa menunggu jawaban.


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


Readers???? Kok Sepi sih???


👀👀👀👀👀👀👀👀👀👀


__ADS_2