
Edward mengecek kamera pengawas yang ada di kamar tidurnya melalui ponsel pribadinya.
Kedua alis pria itu hampir menyatu. Saat melihat Laura yang berdiri di balkon kamar, selang beberapa saat, gadis itu terlihat mendekat ke arah pagar besi pembatas balkon.
Yang membuat pria dewasa itu semakin tercengang, ia melihat Laura menaikan kakinya di pagar besi itu.
“Apa yang dia lakukan?” Geram pria dewasa itu. Ketika hendak mematikan sambungan kamera pengawasnya untuk menghubungi gadis itu, Edward melihat Laura turun dan mundur ke arah sofa bed.
Biasanya suara dalam video kamera pengawas itu akan ikut terekam, namun saat ini tidak jelas terdengar apa yang gadis itu ucapkan.
Edward hanya melihat bibir gadis itu komat-kamit. Ia juga melihat Laura yang memukul-mukul sisi kosong sofa.
“Ada apa dengan mu, baby?”
Pria itu menutup aplikasi kamera pengawas itu. Ia lantas menghubungi gadisnya.
“Kenapa dia tidak menjawab panggilanku? Apa dia tidak membawa ponselnya?” Edward merasa frustrasi. Ia pun memutuskan untuk pulang.
“Maaf pak, anda mau kemana?” Tanya Monica yang melihat atasannya berkemas meja kerjanya. Gadis itu datang membawa beberapa dokumen yang harus di periksa sang atasan.
“Aku mau pulang.” Jawab pria itu datar.
Bibir cantik Monica menganga sempurna, ia melihat ke arah pergelangan tangannya. Disana terlihat masih pukul 11 lewat 15 menit. Bahkan belum waktunya untuk makan siang.
“Apa bapak sakit?” Tanya gadis itu lagi. Selama ia bekerja dengan Edward, pria itu tidak pernah pulang secepat ini, jika bukan karena sakit.
“Tidak, bukan aku. Tetapi Laura.” Jawab pria itu sambil tetap membereskan mejanya.
“Hah.”
Monica kembali menganga, ia tersentak mendengar atasannya rela meninggalkan kantor hanya demi seorang wanita.
‘Amazing’
“Tetapi pak, ini berkas—
“Berikan pada Johan, minta dia yang periksa.” Edward menjawab sebelum Monica selesai berbicara, ia lantas meninggalkan ruangan itu, dengan sang sekretaris yang masih mematung di tempatnya.
“Cinta membuat orang lupa akan segala hal.”
Johan yang hendak menemui atasannya itu, terheran melihat sang kekasih yang diam mematung, dengan bibir terbuka.
“Awas ada lalat masuk, sayang.” Pria itu mengatupkan dagu kekasihnya.
“Sayang..”
“Ada apa? Kenapa kamu mematung disini? Bos dimana?” Johan celingukan mencari atasannya, tetapi tidak ada.
“Apa bos di ruang istirahat?” Pria itu menujuk sebuah pintu yang ada di dalam ruangan kerja Edward.
“Bos mu sudah pulang.” Jawab gadis itu seraya mendudukkan bo*kongnya di sofa mahal milik atasannya.
“Pulang?” Tanya Johan tak yakin.
Monica menganggukkan kepalanya. “Katanya nona Laura sedang sakit, jadi dia memutuskan untuk pulang.”
“Nona Laura sakit?” Gumam Johan.
“Sayang aku jadi semakin ingin bertemu dengan nona Laura itu. Seperti apa sih dia, sampai bisa membuat bos kita jadi begini.” Ucap Monica.
“Nanti aku ajak kamu ke penthouse, sayang.”
*******
__ADS_1
Di perjalanan menuju ke penthouse, Edward menyempatkan diri membeli makan siang untuk dirinya dan juga Laura.
Melihat apa yang di lakukan gadis itu dari tadi pagi, Edward merasa Laura tidak akan membuat makan siangnya.
Setelah hampir satu jam, kini pria dewasa itu tiba di basemen gedung penthousenya.
Ia memarkirkan begitu saja mobil mewahnya, tanpa takut tergores.
Pria dewasa itu terburu-buru memasuki penthousenya. Dan benar saja, tidak ada tanda-tanda jika Laura keluar dari kamar.
Edward meletakan paper bag berisi makan siang itu di meja makan. Ia lantas bergegas menuju kamarnya di lantai dua.
“Baby…” ucapnya saat membuka pintu kamar.
Edward mendapati ruang kamarnya kosong. Terlihat tempat tidur yang masih berantakan, seperti saat tadi pagi ia tinggalkan.
Pria itu lalu melepas jas yang ia kenakan, dan membuangnya begitu saja di sofa kamarnya. Ia melangkahkan kakinya ke arah balkon. Dan benar saja, disana sang gadis pujaannya sedang tertidur dalam posisi meringkuk.
Edward mendekat ke arah Laura. Ia mendudukkan dirinya dengan pelan, agar tidur sang gadis tidak terganggu.
Dengan hati-hati, pria itu mengangkat tubuh semampai gadisnya.
“Enghh” Laura menggeliat, ia merasakan tubuhnya melayang.
Perlahan ia membuka matanya. Ia melihat wajah tampan dengan garis rahang tegas sedang menatapnya.
“Apa aku membangunkan mu, baby?” Suara pria itu selalu terdengar sek*si di telinga Laura.
Gadis itu mencebikan bibirnya, ia lalu mengalungkan tangannya di leher pria itu.
Edward meletakan tubuh Laura di atas ranjang. Tanpa di minta, pandangan mereka pun bertemu dan saling mengunci.
Sebuah kecupan hangat Edward labuhkan pada bibir tipis Laura, yang membuat gadis itu terbuai. Mengikuti permainan yang pria itu berikan.
Laura pun mendorong tubuh kekar pria yang sedang mencum*bunya.
“Ada apa?”
“Tidak” gadis itu menggeleng. “Kenapa kamu sudah pulang? Apa begitu merindukan aku, hmm?” Gadis itu menyunggingkan bibirnya.
Edward duduk di tepi ranjang, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, lalu membawa Laura kedalam dekapannya.
“Aku merasa kamu tidak baik-baik saja. Karena itu aku memutuskan untuk pulang.” Sebuah kecupan ia labuhkan di kepala Laura.
“Aku takut kamu melupakan makan siangmu.” Sambung pria itu lagi.
Laura tidak percaya mendengar apa yang di ucapkan pria ini. Sebegitu khawatirkah Edward pada dirinya?
“Kamu benar. Aku sedang malas. Rasanya untuk bangun saja aku enggan.” Laura menyerukan wajahnya di leher pria itu. Ia menghirup aroma maskulin tubuh Edward.
‘Untuk wanita yang ada di ponsel Edward, Maafkan aku, aku sudah terlanjur berbuat dosa dengannya, aku janji hanya sampai aku lulus kuliah.’
“Aku membeli makan siang untuk kita. Kamu mau makan dimana?” Tanya Edward.
“Dibawah saja, tetapi— Laura sengaja menjeda ucapannya.
“Apa?”
“Aku mau kamu menggendong ku, di punggungmu.” Ucap gadis itu manja.
Edward terkekeh mendengar apa yang di ucapkan oleh Laura.
“Ayo..”
__ADS_1
Gelak tawa keluar dari bibir Laura, karena Edward membawanya seperti membawa anak kecil.
Sampai di ruang makan, Edward menurunkan gadis itu.
“Biar aku saja yang menyiapkan makanannya, Ed.” Laura menahan pergerakan pria itu.
“Tetapi kamu sedang—
“Aku hanya sedang malas melakukan sesuatu saja, Ed. Bukan sedang sakit.”
Laura pun berlalu menuju dapur, mengambil peralatan makan. Gadis itu menyiapkan makan siang mereka.
Setelah acara makan siang itu selesai. Edward mengajak Laura bersantai di tepi kolam renang yang ada di balkon ruang tamunya.
Dengan posisi tubuh duduk bersandar di kursi santai, Edward mendekap tubuh gadisnya.
“Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu, baby?” Ucap pria itu memecah kesunyian.
“Bukankah sudah aku katakan, aku bermimpi bertemu orang tuaku.”
“Tetapi apa hal itu yang membuatmu malas melakukan sesuatu?” Tanya Edward yang tidak percaya mendengar alasan Laura.
“Ya.,”
“Kamu tidak bohong?”
Laura menggelengkan kepalanya.
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Ucap gadis itu.
“Boleh, asal aku bisa menjawabnya.” Sahut Edward.
“Mmm, tentang mimpi buruk—
“Ara, sudah aku katakan padamu, aku tidak ingat apapun. Entah aku bermimpi atau tidak.” Suara pria itu terdengar datar.
‘Pria tua ini pasti akan marah jika aku bertanya yang lain’
“Maafkan aku, Ed.” Laura mengeratkan pelukannya pada tubuh Edward dan memejamkan matanya.
‘Kamu tidak perlu minta maaf, baby. Hanya saja aku benar-benar belum siap bercerita pada siapa pun’
.
.
.
T. B. C
Terimakasih untuk yang selalu mendukung tulisan receh ku ini.
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian 😇
Janga lupa tinggalkan jejak kalian
Like
Komen
Vote dan Gift
I LOVE YOU SAMPAI PUNCAK
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️