
Siang harinya, seperti yang di ucapkan Edward tadi pagi, kini Edward, Laura dan juga Felisha datang menjemput Devano ke sekolah.
Mereka akan pergi ke makam David dan orang tua Laura. Yang kebetulan makam mereka ada di tempat yang sama.
Edward juga ingin mengenalkan istrinya kepada mendiang sang ayah.
“Mama..” Devano berseru sambil berlari menuju sang mama. Ia kemudian mendekap pinggang wanita dewasa itu.
“Papa, mami..” bocah itu juga menyapa dua orang lainnya.
Mereka kemudian memasuki mobil. Felisha dan Devano duduk di bangku belakang. Sementara, Laura menemani Edward di depan.
“Kita mau kemana, ma?”
“Kita akan ke tempat ayah, Dev.” Felisha menjawab sembari tersenyum.
Devano hanya mengangguk patuh.
Dalam perjalanan, Devano sibuk bercerita tentang kegiatannya di sekolah hari ini.
Laura masih menyimak, ia belum berani terlalu ikut campur. Takut jika anak itu tidak suka dengannya.
Setelah 30 menit, mobil itu di depan sebuah kompleks pemakaman. Sebelum memasuki tempat itu, Edward dan Laura membeli beberapa buket bunga.
Mereka akan mengunjungi makam mendiang David, papa Alexander dan ayah Darmawan. Setelah itu akan mengunjungi makam mendiang orang tua Laura.
Edward membawa 3 buket, dan sang istri membawa 2 buket. Sementara Felisha menuntun sang putra.
Mereka lalu berjalan beriringan memasuki kompleks pemakaman itu.
Tiba di kompleks yang di khususkan untuk orang-orang yang mampu membayar lebih, disana terlihat 3 deretan makam.
Devano memandang secara bergantian ketiga makam itu. Ia membaca satu persatu nama yang terpahat indah di atas marmer itu.
Ia mendapati dua gundukan tanah yang bernama belakang sama.
Darmawan.
Nama itu juga adalah nama belakangnya. Devano menoleh ke arah sang mama.
“Ma, yang mana ayah?” Ia menoleh lagi ke arah gundukan-gundukan itu.
Edward mendekat ke arah makam mendiang David. Dan meletakkan buket bunga di atasnya. Ia berjongkok di sisi sebelah kiri makam itu. Tepat di antara makam David dan makam sang papa. Sementara makam ayah David, berada di sebelah kanan makam David.
“Dia adalah ayahmu, boy.”
Tangan Edward mengusap batu berbentuk kotak itu.
“Hai, Dav. Apa kabar? Maaf aku baru datang sekarang. Aku terlalu sibuk di kota mengurus perusahaan. Kamu pasti bisa melihatnya, kan. Tidak ada kamu, aku jadi tidak punya banyak waktu bersantai.” Ucap Edward terkekeh.
Felisha mendekat ke arah makam itu. Ia berjongkok di sebelah kanan makam itu.
“Sayang, aku datang. Hari ini aku tidak sendiri. Aku membawa anak kita.” Tangan Felisha terulur memanggil Devano. Anak itu kemudian mendekat.
__ADS_1
Sementara Laura, ia mendekat ke arah sang suami, dan ikut berjongkok di sisinya.
“Dev.. ayo sapa ayahmu.” Ujar Edward.
“Ha-hallo, A-ayah. A-aku Devano. Senang bisa bertemu dengan ayah.” Bocah itu berbicara dengan terbata.
Matanya mulai berair. Mungkin ia memiliki hati sensitif seperti sang mama.
Felisha mengusap kepala sang anak.
“Ayah.. aku minta maaf, aku baru datang sekarang. Aku tidak tau ayah disini. Tetapi aku janji. Setelah ini aku akan selalu datang bersama mama.”
Nada suara Devano terdengar bergetar. Ia tidak bisa lagi menahan tangisnya.
“Ayah, aku sudah besar sekarang. Aku akan menjaga mama. Ayah jangan khawatir. Aku anak yang kuat. Aku selalu mendapat juara kelas.” Devano mengusap hidungnya yang mulai berair.
“Ayah? Kenapa meninggalkan aku dan mama? Aku belum pernah melihat ayah. Tetapi, kata mama di rumah ada banyak foto ayah. Setelah ini, aku akan melihatnya.” Entah darimana datangnya sifat dewasa bocah itu.
Edward tidak bisa melihat itu. Pria itu tidak mau sang putra larut dalam kesedihan. Ia pun mengalihkan situasi.
“Hai, Dav. Aku ingin memperkenalkan seseorang kepadamu. Dia Laura, istriku. Kamu tau, dia lebih muda 14 tahun dari kita.” Edward terkekeh dengan ucapannya.
“Iya, Ayah. Aku punya mami. Aku juga punya mama. Aku punya dua ibu.” Devano ikut menimpali ucapan sang papa.
“Perkenalkan dirimu, baby.” Edward berbisik di telinga sang istri.
“Aku harus memanggilnya apa?” Tanya Laura bingung. Memang David adalah adik iparnya, tetapi usia mereka beda jauh.
Laura mengangguk.
“Hai, kak David. Aku Laura. Aku maminya Devano. Senang bertemu dengan kakak.”
Rasa haru menyelimuti hati Laura. Ia tidak bisa membayangkan jika suatu saat Devano tau, ayahnya meninggal sebelum ia di lahirkan.
Mereka kemudian memenjatkan doa, di atas makam mendiang David. Setelah itu Felisha mengajak sang anak berkenalan dengan sang kakek, ayah dari David.
Kemudian Edward mengajak Laura dan Devano ke makam sang papa.
“Pa, maaf aku baru datang hari ini. Aku sibuk, pa. Papa meninggalkan banyak pekerjaan untukku.” Edward mencebikan bibirnya.
“Pa, aku membawa menantu dan cucumu kesini.” Edward menarik Laura mendekat kepadanya.
“Hai, pa. Aku Laura. Senang bertemu dengan papa. Maaf aku baru mengunjungi papa hari ini.”
“Dev. Kemarilah.”
Devano mendekat ke arah sang papa.
“Ini kakekmu. Suami dari nenek yang di rumah, dan juga ayah dari papa dan mama mu.”
Edward memberitahu sang putra. Devano pun membaca nama yang tertera di sana.
Alexander Hugo.
__ADS_1
Nama yang sama dengan nama sang papa. Kini bocah itu paham, ia memiliki nama yang sama dengan kedua kakeknya.
Devano Alexander Darmawan.
“Hallo, kakek. Aku Devano. Senang bertemu dengan kakek.” Ucap bocah itu dengan riang. Ia tidak lagi bersedih. Entah kenapa ia hanya merasakan kesedihan saat menyapa sang ayah.
Setelah puas menyapa ketiga makam itu, mereka berpindah ke kompleks yang di peruntukan untuk kelas menengah ke bawah.
Laura meletakan buket bunga di atas makam orang tuanya. Di ikuti oleh Edward. Sementara Felisha mengajak Devano kembali ke mobil, karena bocah itu kehausan.
Laura menyapa kedua orang tuanya. Ia duduk di tengah-tengah makam ayah dan ibunya.
“Ayah, ibu.. aku datang. Kali ini aku datang tidak bersama Leo. Tetapi, aku datang bersama suamiku. Maafkan aku. Ayah, ibu. Harusnya aku datang meminta restu terlebih dulu.” Ia menyeka air mata yang mulai menetes.
“Ini Edward, Bu. Yah. Dia putra nyonya Samantha.” Laura mengusap lengan suaminya.
“Hallo, ayah, ibu. Perkenalkan aku Edward. Aku suami dari putri kalian. Maafkan aku, harusnya sebelum menikahi Laura, aku datang kesini meminta restu dan melamarnya kepada kalian.”
Edward menghela nafasnya berat.
“Maaf karena aku terlalu sibuk. Tetapi aku akan berusaha untuk membagi waktuku untuk istriku, putri kalian.”
Edward meraih jemari sang istri. Kemudian mengecupnya dengan hangat.
“Ayah, ibu. Aku tidak akan berjanji untuk selalu membahagiakan putri kalian. Tetapi, aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan dia. Aku akan selalu berusaha agar dia tidak menangis karena ulahku..”
Laura menatap lekat ke arah sang suami. Hatinya tersentuh mendengar perkataan pria dewasa itu.
“Ayah, ibu. Jangan khawatir, aku akan selalu menjaga putri kalian, sampai kita berkumpul kembali. Tolong restui kami. Jika aku melakukan kesalahan, kalian boleh meminta kepada Tuhan untuk menghukum ku. Tetapi, jangan minta Tuhan memisahkan kami.”
“Ed..”
Laura tak kuasa menahan rasa harunya. Pria dewasa yang baru ia kenal selama hampir 3 bulan ini, begitu mencintainya.
“Laura Anastasia, di depan makam kedua orang tuamu, aku meminta mu untuk menjadi istriku, bersediakah kamu hidup bersamaku, memiliki anak-anak, dan menua bersama hingga waktu memanggil kita kembali?”
Kepala wanita itu mengangguk, ia kemudian mendekap erat sang suami.
“Iya, aku bersedia.”
.
.
.
————
Lanjut ga nih, Genks????
Atau
Kita sudahi sampai disini… dua hati bercampur emosi… tapi ku tak bisa…. *malah nyanyi 🤣🤣
__ADS_1