
Sinar matahari menerobos masuk kedalam kamar yang di huni oleh Laura dan Edward.
Merasa terganggu dengan sinar sang surya itu, Laura berusaha membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat pagi ini adalah wajah damai Edward di atas dadanya.
Entah jam berapa mereka tertidur. Larut dalam kesedihan cerita masalalu Edward.
Laura tersenyum, wajah tampan itu terlihat damai dalam tidurnya. Dengan hati-hati, tangan kanan gadis itu mengusap lembut kepala Edward.
“Aku lelah, baby. Biarkan aku tidur lebih lama lagi.” Ucap pria itu dengan suara seraknya.
“Ed, lenganku kram. Apa kamu bisa lepas sebentar?”
Pria itu menggeser tubuhnya, masih dengan mata terpejam. Ia meraih bantal kemudian mendekapnya.
Laura meregangkan otot-ototnya yang mati rasa. Semalaman tubuhnya di timpa beban berat tubuh besar Edward.
“Aku ke kamar mandi dulu.” Bisik Laura di telinga Edward, tak lupa gadis itu meninggalkan sebuah kecupan di pipi pria yang masih enggan membuka matanya.
Hampir setengah jam di kamar mandi, kini Laura telah kembali dengan tampilannya yang menyegarkan mata.
Ia melihat, Edward telah bangun dari tidurnya dengan posisi duduk menyandar di kepala ranjang, sedang memainkan ponselnya.
“Kenapa sudah bangun, katanya lelah?” Laura mendekat ke arah pria itu lalu duduk di tepi ranjang. Posisi mereka saling berhadapan, namun sedikit menyamping.
“Aku tidak bisa tidur lama sendirian, baby.” Ucap Edward yang masih fokus dengan benda pintarnya.
“Separah itukah?”
Edward mengangguk, ia meletakkan ponselnya di atas ranjang. Lalu meraih jemari Laura.
“Baby, berjanjilah padaku. Kamu tidak akan menceritakan ini kepada orang lain. Apapun yang kamu tau tentang aku.” Ucap Edward sambil menatap lekat pada manik mata Laura.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. Ia memberi senyuman tulus kepada Edward.
“Aku janji.”
Pria itu menarik tangan Laura, membuat gadis itu jatuh kepelukannya.
“Terimakasih, kamu orang kedua yang mengetahui kelemahanku, selain mama dan Felisha.”
“Siapa orang pertamanya?” Tanya Laura curiga.
“Johan.” Ucap Edward dengan cepat.
“Jadi pak Jo tau kamu sering mimpi buruk?”
“Iya. Tetapi dia sudah bersumpah atas nama orang tuanya, tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang rahasiaku.” Edward melabuhkan kecupan hangat di kening gadis itu.
“Pantas saja waktu itu aku bertanya tentang mimpi burukmu, dia mengatakan tidak tau.” Gerutu Laura.
“Ayo mandi, Ed. Setelah ini kita harus keluar dari sini. Aku hanya membayar sewa untuk tiga hari saja.” Gadis itu menarik tangan Edward agar pria itu turun dari tempat tidur.
“Mandikan aku, ya?” Ucapnya dengan nada memelas.
“Tidak. Aku mau membereskan barang-barang dulu.” Laura mendorong tubuh Edward memasuki kamar mandi.
Laura membereskan semua barang yang ia keluarkan dari dalam kopernya. Setelah dirasa semua sudah beres, ia menutup koper dan ranselnya dengan rapi.
Edward keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang kemarin ia gunakan.
“Sudah siap semuanya?” Tanya pria itu mendekat ke arah Laura.
Laura menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu kabur, tetapi menggunakan koper ku.” Ucap Edward terkekeh.
“Jangan pelit, tuan Hugo. Di ruang ganti mu bahkan ada lebih dari 10 koper.” Jawab gadis itu.
“Ayo kita pulang.” Ajak Edward sambil menarik koper itu.
“Ed, kamu duluan saja. Aku mengikuti mu dari belakang dengan mobilku.”
Tangan Laura terulur meraih koper itu, namun di tepis oleh Edward.
“Mobilmu sudah sampai di penthouse dengan selamat.”
Pria itu menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan mobil tua Laura, bersanding dengan mobil mewah nan mahal milik Edward.
Mata Laura membulat dengan bibir yang menganga. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Gadis itu seketika mencari-cari kunci mobilnya.
“Tidak ada.” Ucapnya pelan.
“Baby, ayolah. Mobilmu sudah di penthouse.”
Edward menarik tangan gadis itu, dan membawanya keluar dari kamar hotel.
“Kamu berhutang penjelasan padaku, tuan Hugo.” Gerutu gadis itu.
*******
Edward mengajak Laura singgah di sebuah restoran, untuk menikmati sarapan pagi.
Gadis itu hanya menurut saja. Lagipula ia juga sudah sangat lapar.
“Makanlah, baby.” Edward menyodorkan satu piring nasi goreng, dengan telur mata sapi dan irisan mentimun sebagai pelengkapnya.
“Terimakasih. Selamat makan, Ed.”
Mereka sarapan dengan tenang, tanpa ada satupun yang berbicara.
Setelah makanan mereka habis. Kedua manusia tanpa ikatan itu, masih setia duduk bersisian di restoran itu.
“Ed.. boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Laura memulai percakapan.
“Katakan baby, aku akan menjawab apapun yang kamu ingin tau.”
“Tentang foto di layar ponselmu.” Ucap Laura lirih.
Edward mengerenyitkan dahinya. Ia belum paham akan ucapan Laura.
“Maksudmu apa baby?”
“Boleh aku melihat ponselmu?” Laura mengganti pertanyaannya.
Edward meraih ponsel di saku blazer yang ia kenakan. Lalu menyerahkan pada gadis itu.
Laura menekan tombol Power yang berada di sisi kanan ponsel. Seketika layar benda pintar itu menyala. Menampilkan wajah Felisha dan Devano.
“Ini maksudku, Ed.” Gadis itu menunjuk ke arah ponsel itu.
“Hah.” Edward menghela nafasnya.
“Itu perbuatan Felisha, baby. Sudah aku katakan dia begitu posesif kepadaku. Karena itu, ia menggunakan foto itu di layar kunci ponselku—.”
“Tujuannya supaya wanita lain yang melihat itu, akan mundur karena mengira mereka adalah anak dan istrimu?” Laura menyela ucapan pria itu.
__ADS_1
Edward tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ucapan gadis itu memang benar adanya. Itulah tujuan utama Felisha memajang wajahnya di ponsel Edward.
“Apa kamu pernah melihatnya? Sehingga kamu pergi dariku?” Pancing pria itu.
Laura menganggukkan kepalanya.
“Maaf. Waktu itu aku salah mengambil ponsel. Aku kira itu milikku.” Ucap gadis itu.
“Aku yang minta maaf, baby. Seharusnya dari awal aku berbicara jujur padamu. Aku terlalu larut dengan rasa yang kamu berikan. Sehingga aku takut untuk bercerita.”
Edward membuka kunci layar ponselnya. Lalu memperlihatkan kepada Laura.
“Lihatlah, latar belakang layarnya.”
Laura membulatkan matanya. Ia lalu memukul lengan pria itu.
“Tuan Hugo, bagaimana bisa kamu— ,” gadis itu masih memukul lengan Edward.
Bagaimana bisa pria itu menggunakan wajahnya sebagai latar belakang layar ponselnya?
Dan yang lebih membuat Laura tidak habis pikir. Itu adalah dirinya setelah dihabisi oleh Edward. Meski tidak terlihat seutuhnya, tetapi bagian bahunya terbuka, dan rambut yang berantakan.
“Ganti atau tidak?” Geram gadis itu.
“Tidak akan aku ganti, baby.”
“Tetapi, Ed. Bagaimana jika nyonya Felisha melihatnya?”
“Dia tidak begitu perduli, buktinya beberapa waktu lalu dia sempat membuka ponselku. Tetapi dia tidak menanyakan masalah latar belakang ini.” Ucap Edward memperlihatkan ponselnya.
“Kapan kamu mengambil foto itu?” Tanya Laura lagi. Ia benar-benar tidak habis pikir. Sempat-sempat nya pria itu mengambil gambarnya saat keadaan seperti itu.
“Kamu mau tau?”
Laura menganggukkan kepalanya.
“Saat pertama kali kita melakukannya.”
Edward berbisik pada gadis itu. Ia juga dengan sengaja menghembuskan nafas tepat di telinga Laura.
Gadis itu sedikit bergidik karena terpaan nafas Edward. Wajahnya bersemu merah mendengar ucapan pria itu.
“Dasar pria tua me*sum.”
.
.
.
T. B. C
Karena masalah Felisha sudah terungkap, maka—— the end 🤭🤭
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
__ADS_1
Selamat berhari minggu semuanya ❤️
I LOVE YOU 🤗❤️