
Laura dan Edward belum mengabari keluarga mereka tentang kehamilan ini. Rencananya, mereka akan memberi kejutan di akhir pekan nanti.
Edward tidak mau mamanya tiba-tiba datang setelah mendengar kabar Laura mengandung. Maka, ia menyimpan dulu kabar bahagia ini.
“Morning, mami.” Edward mendekap tubuh Laura yang tengah menata roti isi di atas meja makan. Pria itu telah siap dengan setelan kerja yang sang istri siapkan.
Pagi ini, Laura ingin sarapan dengan roti isi, dimana ia sendiri yang menata isi makanan itu.
Bu dadu telah menyiapkan semua bahan untuk membuat makanan yang di minta sang nyonya. Wanita dewasa itu juga sudah mencari tau di internet, tentang boleh atau tidaknya, ibu hamil mengonsumsi daun selada mentah. Dan peramban sosial itu mengatakan jika daun selada sangat baik untuk ibu hamil karena mengandung asam folat yang baik untuk ibu hamil.
“Morning too, papi.” Laura menoleh ke arah sang suami. Namun secara serta merta wanita itu mendorong suaminya, kemudian menjauh dari Edward lalu menutup hidungnya sendiri.
“Apa papi mandi dengan parfum?” Ucapnya dengan suara aneh karena ia menjepit hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk tangannya.
“Apa maksudmu?” Pria itu menciumi dirinya sendiri dengan menaikan lengan bergantian. Tidak ada yang salah dengan aroma parfum yang ia gunakan, bahkan aroma ini sudah ia gunakan selama ini.
“Ih, baunya terlalu menyengat, pi. Apa papi menyiram tubuh papi dengan minyak wangi itu?” Dengan gerakan cepat, Laura menarik piring yang berisi makanannya, kemudian menjauh dari sang suami.
“Baby, aku menggunakan parfum seperti biasa. Tidak berlebihan.” Pria itu sedikit mendekat pada sang istri, namun wanita itu merentangkan tangannya kedepan.
“Jaga jarak. Atau aku tidak mau sarapan disini?”
“Ada apa dengan wanita ini? Aku menggunakan parfum seperti biasa.” Pria itu bergumam kecil, sembari menatap sang istri.
Kini, mereka duduk terpisah sangat jauh. Edward di kursi paling ujung, sementara Laura di ujung meja lainnya.
Tak berselang lama, Bu dadu kembali datang membawakan sarapan nasi goreng untuk Edward. Wanita itu hendak permisi, namun Edward mencegahnya.
“Tunggu. Apa aroma parfum ku terlalu menyengat?” Tanya pada sang asisten rumah.
Bu dadu mengerenyit heran mendengar pertanyaan majikannya.
“Katakan saja jika memang bau parfum ku terlalu menyengat. Lihat, istriku sampai menjaga jarak dengan ku, katanya aku mandi menggunakan minyak wangi.” Tunjuk Edward ke ujung meja, dimana Laura duduk dengan santai disana.
Bu dadu mengerti. Ia pun mengulum senyumnya.
“Maaf tuan, tetapi dari yang saya hirup, aroma tuan seperti biasa tidak berlebihan.” Ucapnya sopan.
__ADS_1
“Nah, kamu dengar? Aku tidak mandi dengan minyak wangi, sayang. Kemarilah. Duduk di dekatku.” Edward berbicara kepada sang istri.
Namun Laura menggeleng, wanita muda itu justru menyandarkan punggungnya dengan kedua tangan bersedekap di dada.
“Maaf tuan, itu hal wajar. Beberapa ibu hamil, sering mengalami sensitif terhadap bau. Terkadang mereka akan merasa mual, sampai muntah, jika menghirup aroma minyak wangi. Bahkan, aroma minyak wangi kesukaannya sekali pun. Ada juga yang mual saat mencium aroma makanan.”
Edward menganga mendengar penjelasan dari wanita yang lebih tua 5 tahun darinya itu. Yang ia tau wanita hamil itu mengidam, mual, muntah, tetapi ia belum pernah melihat wanita hamil yang tidak suka mencium aroma minyak wangi.
“Baiklah, kamu boleh kembali.”
Setelah Bu dadu undur diri, Edward menarik piring berisi sarapannya dengan kesal. Ia menatap sang istri yang tengah lahap menikmati roti isi buatannya sendiri.
“Mami, sayang, baby. Ayo lah. Temani aku di sini.” Ucapnya dengan nada memelas.
“Tidak. Bau Papi terlalu menyengat, aku mual.”
Laura mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.
“Astaga,.” Pria itu pun bangkit dari kursi yang ia duduki.
“Papi mau kemana? Sarapan dulu.” Ucap Laura saat melihat sang suami yang meninggalkan meja makan. Namun pria itu menghiraukan begitu saja.
Tak berselang lama, pria dewasa itu kembali muncul dengan setelan berbeda. Membuat Laura terpaku di tempatnya. Senyuman pun terbit di wajah cantiknya.
“Kemarilah, aku sudah mengganti pakaian ku, dan tidak menggunakan minyak wangi lagi.”
Namun Laura tetap menggeleng. Membuat Edward semakin frustrasi.
“Papi yang kemari. Disana— Laura menunjuk tempat duduk sang suami. “Masih tercium aroma minyak wangi yang tadi.”
Menghela nafas pelan, Edward pun menurut. Ia meraih piring dan gelas, kemudian duduk di samping sang istri.
Laura sedikit mencondongkan kepalanya untuk menghirup aroma sang suami. Masih sedikit tercium aroma parfum yang tadi, namun bagi Laura itu tidak terlalu menyengat. Dan ia tidak masalah dengan itu.
Mereka pun sarapan dengan damai tanpa adanya drama ibu hamil yang lain.
Setelah sarapan, seperti biasa Laura akan mengantar sang suami sampai di depan pintu, karena wanita itu sudah tidak kuliah secara efektif. Hanya sesekali datang ke kampus untuk melakukan bimbingan untuk skripsinya.
__ADS_1
Dan seperti biasa pula, sebelum berpisah mereka akan saling memeluk, kemudian Edward akan melabuhkan kecupan di atas kening dan juga bibir sang istri.
“Ini apa?” Laura merasakan ada sesuatu yang berat di dalam saku jas yang suaminya gunakan.
“Bukan ponsel.” Ucapnya lagi. Karena ia merasa benda itu lebih kecil dari ponsel.
“Itu botol minyak wangi, sayang. Aku membawanya satu. Nanti ada pertemuan dengan klien, malu jika aku tidak wangi.” Jawab Edward sembari mengusap tengkuknya.
Laura terkekeh mendengar ucapan sang suami. Masuk akal juga ide pria itu.
“Ya, itu lebih baik. Papi boleh menggunakan minyak wangi, tetapi saat sudah jauh dari aku. Saat pulang nanti, papi harus melepas semua pakaian kerja, baru mendekati aku.”
“Tentu. Aku akan melakukan apapun, agar kamu merasa nyaman, ingat hati-hati, jangan terlalu lelah.” Pesan Edward pada sang istri.
Pria itu kemudian mengecup kening, dan bibir Laura. Kemudian pergi meninggalkan wanita muda itu dirumah.
“Bu datu.”
Laura menghampiri asisten rumah tangga yang bertugas di dapur. Ia masih merasakan lapar, satu kotak roti isi belum cukup untuk mengisi perutnya.
“Iya, nyonya?”
“Bu, tolong buatkan aku gado-gado, dong. Roti isi tadi belum cukup untuk aku dan anakku.” Ucap wanita itu sembari mengusap perutnya.
“Apa nyonya tidak masalah jika menunggu sebentar, saya akan membuat bumbu kacangnya dulu, karena tuan meminta kami menyingkirkan semua bahan makanan instant.”
“Ah, tidak masalah, kalau begitu aku ingin melihat bagaimana cara membuat bumbu kacangnya.”
Wanita itu pun ikut masuk ke dalam dapur. Hanya melihat saja apa yang di kerjakan para asistennya, tanpa ikut membantu, karena sang suami telah mengultimatumnya.
“Boleh masuk ke dapur, tetapi tidak boleh mengerjakan pekerjaan dapur, tanpa seijin ku. Jika kamu melanggar, maka kamu tidak boleh masuk ke dapur lagi.!!”
Begitu ucapan sang suami, di awal mereka menempati rumah mewah ini. Dan Laura, wanita itu hanya bisa menurut, karena melawan pun akan percuma. Suaminya adalah aturan mutlak yang harus di turuti.
.
.
__ADS_1
.
T. B. C