
Rasa lapar membangunkan tidur nyenyak Laura. Dengan terpaksa ia membuka matanya. Gadis itu menggeliat, meregangkan otot-ototnya.
“Jam berapa ini?” Ucapnya serak, ia melihat di sekitarnya masih gelap.
Tangan kanannya meraba-raba sisi tempat tidur, dimana ia membanting ponselnya sebelum tidur.
Mata gadis itu membulat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Edward maupun Johan.
Sejak kemarin pagi, ponselnya dalam mode senyap tanpa getar. Jadi ia tidak tau jika ada yang menghubunginya.
“Ternyata masih perduli kepadaku.” Gadis itu mencebikan bibirnya.
Laura tidak perduli dengan panggilan-panggilan itu. Ia mengabaikan begitu saja, bahkan tidak membuka aplikasi pesan yang kini sedang populer itu.
“Ini jam 3 dini hari, aku harus mencari makanan kemana?” Gumam gadis itu.
“Ah sudahlah, kita makan besok pagi aja ya perut.” Laura mengusap-ngusap perutnya, seolah menenangkan para cacing yang sedang berdemo meminta di beri makan.
Gadis itu kembali memejamkan matanya. Namun rasa lapar yang melanda membuatnya tidak bisa memejamkan mata lagi.
“Arghh.. baiklah.. mari kita pergi dari sini sekarang.”
Laura bergegas bangun dari tidurnya. Ia menuju kamar mandi yang tersedia di dalam kamar penginapan itu untuk membersihkan diri.
Setelah 30 menit, Laura kini siap dengan tampilan barunya. Memakai celana panjang warna gelap, baju kaos warna putih dan jaket berbahan parasut berwarna hitam. Gadis itu kembali menggendong ransel dan juga menarik kopernya keluar dari penginapan itu.
“Ayo kita cari makan dulu.” Ucapnya bersemangat di dalam mobil.
Jujur ia sedikit merasa takut berada di jalan raya dini hari begini, apalagi ia mengendarai mobil tua.
Gadis itu hanya bisa berharap semoga tidak terjadi sesuatu dengan mobilnya. Misalkan mogok atau mengalami pecah ban di tengah jalan.
Hampir setengah jam Laura menelusuri jalanan. Akhirnya ia menemukan pedagang lalapan yang masih buka.
“Ah.. akhirnya kita ketemu dengan makanan kesukaan kita, perut.” Gadis itu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, tidak jauh dari warung yang memiliki ciri khas sepanduk berwarna hijau putih, dengan beraneka gambar seperti lele, ayam terong dan nasi goreng.
“Pak, aku pesan ayam, terong, tempe sama nasi ya. Untuk makan disini.” Ucapnya setelah duduk di salah satu kursi yang tersedia.
“Sambalnya mau mentah atau matang, neng?” Tanya sang penjual.
“Yang matang saja, pak.”
Laura memang pencinta lalapan, tetapi ia tidak suka denga ikan lele. Entahlah warna daging ikan lele yang begitu putih, membuat ia bergidik.
Sembari menunggu makanannya datang, Laura membuka ponselnya. Ia membuka galeri foto pada ponsel itu.
Beberapa waktu lalu, ia sempat mengambil gambar Edward saat pria itu masih tidur. Entah kenapa, Laura sudah merasa jika hari ini akan tiba. Hari dimana ia pergi dari penthouse mewah itu.
Laura mengusap gambar wajah tampan yang memejamkan mata itu.
Tiba-tiba rasa rindu menyeruak di hatinya. Andai dia tidak pergi, mungkin di jam seperti ini, mereka masih bergelung berbagi kehangatan di bawah selimut.
“Andai kamu bukan suami orang, aku mungkin sudah jatuh cinta padamu.”
Setetes air mata jatuh tepat di atas ponsel yang memperlihatkan wajah Edward.
__ADS_1
“Terimakasih ya, atas segala kebaikan kamu padaku. Karena kamu, aku tidak kehilangan panti asuhan, meski aku harus kehilangan yang lain.” Laura seolah sedang berbicara dengan Edward.
“Neng, maaf menganggu acara telponannya, ini makanannya sudah siap.” Ucap sang penjual.
“Telponan?” Gumam Laura.
“Iya, itu si neng lagi video call sama pacarnya ya.?” Si penjual menujuk ke arah ponsel yang menyala, memperlihatkan wajah seorang pria.
“Ah, i-iya, pak. Terimakasih.” Laura buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam ransel. Ia lalu meraih makanan yang di sajikan sang penjual.
*******
“Ed, kamu yakin akan pergi sepagi ini?” Tanya Felisha. Waktu baru saja menunjukkan pukul 5 dini hari, tetapi Edward sudah bergegas meninggalkan rumah itu.
“Iya, Fel. Aku tidak bisa tidur memikirkan keadaan Laura di luar sana.” Ucap Edward sambil mengikat tali sepatunya.
“Dia pergi tanpa membawa kartu kredit yang aku berikan. Entah dia masih punya uang atau tidak.”
Pria itu mengenakan jaket kulit mahalnya, lalu berjalan menuju pintu utama.
Hunian mewah itu masih gelap. Para asisten juga belum ada yang bangun. Hanya Felisha yang ikut terbangun.
“Tidak menunggu mama bangun dulu?” Tanya Felisha sembari mengekor pergerakan Edward.
“Tidak, jika aku bertemu mama, aku akan semakin lama disini. Aku tidak mau, Laura semakin bergerak jauh.”
“Memangnya kamu tau dia ada dimana?” Tanya Felisha lagi.
“Tidak, tetapi aku akan mencarinya ke panti asuhan terlebih dulu.” Edward membuka pintu utama. Ia lalu berbalik untuk berhadapan dengan Felisha.
“Panti asuhannya tidak jauh dari sini, kamu bisa kesana nanti setelah terang. Masih gelap begini, mana ada penghuni yang bangun.” Ucap mama Devano itu.
“Kamu begitu khawatir dengannya, apa kamu begitu mencintainya?” Felisha membuat suaranya seolah-olah sedang bersedih.
“Maafkan aku, aku janji. Meski nanti ada dia di hidupku, kasih sayangku padamu dan juga Devano tidak akan berubah.” Edward meraih tubuh Felisha dan mendekapnya.
“Doakan aku, supaya bisa bertemu dengannya lagi. Aku tidak hanya jatuh cinta padanya, tetapi aku juga harus bertanggung jawab untuk hidupnya.” Pria itu mengecup hangat kening Felisha.
“Hmm.. aku selalu mendoakan mu, Ed. Hati-hati di jalan ya.”
Edward berlalu meninggalkan Felisha yang masih berdiri di ambang pintu utama rumah mewah itu.
“Kadang cinta begitu membuat orang menjadi hilang akal, Ed. Kamu bahkan lupa, kamu punya banyak uang. Untuk mencari seorang gadis, kamu hanya perlu membayar seorang detektif.” Felisha mencebikan bibirnya.
“Aku tau, ini untuk pertama kalinya kamu jatuh cinta. Karena itu, kamu bertindak tanpa berpikir panjang.”
Di dalam perjalanan, Edward lagi-lagi berusaha menghubungi Laura. Namun sekarang ponsel gadis itu tidak aktif.
“Sial..” Pria itu memukul setir mobilnya.
“Apa kamu sengaja mematikan ponselmu, baby?”
Hampir setengah jam berlalu, Edward kini telah sampai di depan panti asuhan milik orang tua Laura.
Pria itu memarkirkan mobilnya tepat di sebarang panti. Pandangan pria itu tidak lepas dari pintu gerbang panti asuhan yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
“Baby.. aku merindukanmu. Kembalilah.. aku akan menceritakan semua tentang kehidupanku padamu.”
Edward kembali mengambil ponselnya dan kali ini ia menghubungi sang asisten.
“Hallo, bos?” Suara serak Johan menyapa dari seberang panggilan.
“Kamu tidur, Jo?” Edward memicingkan matanya, meski tak di lihat oleh sang asisten.
“Maaf bos, aku lelah. Aku akan melanjutkan pencarian nona setelah matahari terbit.” Ucap Johan.
“Memang itu yang seharusnya kamu lakukan, Jo.”
“Bos sekarang ada dimana?”
“Aku ada di depan panti asuhannya. Tadi malam, aku sudah bicara dengan Felisha. Dan sekarang, aku lega Jo. Semuanya tidak seperti yang aku pikirkan.” Sudut bibir pria dewasa itu nampak sedikit terangkat.
“Jadi nyonya Felisha memberikan restu?” Tanya Johan penuh semangat.
“Tentu saja.”
“Yes” terdengar sorak kegembiraan dari ucapan singkat Johan.
“Hei Johan Purnomo, aku yang di beri restu, kenapa kamu yang bersorak?” Tanya Edward tak percaya.
‘“Tentu saja aku bahagia, itu artinya sebentar lagi bos akan menikahi nona. Dan setelah itu, aku pun akan menikahi Monica.” Ucap Johan panjang lebar.
“Dasar kamu, Jo.”
.
.
.
T. B. C
————
Sabar.. setatus hubungan Felisha dan Edward akan menjadi penjelasan Edward kepada Laura nanti.
Itu semua sudah terkonsep, tetapi aku belum mengetiknya.. masih di awang-awang… 😅😅
————
Up nya besok lagi ya, Genks. ❤️
Terimakasih untuk semua dukungannya.
Jangan lupa
Like
Komen
Vote dan Gift
__ADS_1
I LOVE YOU TILL THE END
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️