
Di sore hari menjelang petang, Edward dan Laura telah kembali ke rumah. Senyuman tak pernah pudar dari wajah sepasang suami istri yang memiliki perbedaan usia 14 tahun itu.
Mereka turun dari dalam mobil. Edward pun membantu sang istri membuka pintu. Kemudian ia mengambil alih ransel milik wanita itu.
Laura memang lebih menyukai menggunakan tas punggung, saat ia kuliah daripada menggunakan tas selempang. Karena itu, ia lebih banyak mengoleksi tas punggung.
“Ayo, mami.” Goda Edward. Ia meraih jemari sang istri. Mereka berjalan menuju pintu utama rumah mewah yang mereka tempati.
Bu dewa menyambut kedatangan sang majikan. Edward kemudian memberi perintah kepada wanita berusia 40 tahun itu, supaya mengumpulkan semua perkerja di ruang tengah. Ada hal penting yang akan pria itu sampaikan.
“Ada apa, pi? Kenapa mengumpulkan mereka semua?” Tanya Laura bingung.
“Aku akan memberitahu tentang kehamilan mu.”
Lima menit kemudian semua pekerja telah berkumpul di ruang tengah. Edward meminta mereka untuk duduk di atas sofa. Namun para kerja merasa sungkan.
“Tidak apa-apa. Duduklah. Fungsi sofa-sofa itu memang untuk di duduki, bukan sebagai pajangan.” Ucap Edward.
Para pekerja saling tatap satu sama lain. Mereka kemudian mengambil tempat.
Dua petugas keamanan, dua orang tukang kebun yang salah satu merangkap menjadi sopir untuk Laura, dan empat orang pekerja wanita yang bertugas di dalam rumah.
“Aku mengumpulkan kalian disini. Untuk memberitahu, jika sekarang istriku sedang hamil, dan baru berusia lima minggu.”
Para pekerja kembali saling tatap, mereka kemudian mengucapkan selamat kepada Edward dan Laura.
“Aku harap, kalian ikut menjaga istriku dengan baik. Untuk ibu-ibu yang bertugas di dapur, mulai hari ini, buatlah makanan dan minuman sehat. Kalian sudah pernah hamil, kan? Pasti tau, apa saja makanan yang baik dan tidak baik untuk ibu hamil.”
“Tentu, tuan. Kami akan memperhatikan segala sesuatunya.” Ucap Bu datu.
Edward mengangguk.
“Untuk ibu-ibu yang bertugas mejaga kebersihan rumah, aku minta kalian juga lebih teliti dalam bekerja. Jangan sampai ada peralatan, atau lantai basah, yang membuat istriku terjatuh.”
“Baik, tuan.” Jawab Bu desa dan Bu dewa dengan kompak.
“Begitu juga untuk kalian yang bekerja di luar rumah, terutama sopir, aku menitipkan keselamatan dan penjagaan istriku kepada kalian, selama aku tidak ada di dekatnya.”
Keempat pria bertubuh tegap itu mengangguk paham. Kini tugas mereka bertambah, menjaga dan melindungi keselamatan sang nyonya rumah.
“Akan ada bonus tambahan untuk kalian setiap bulannya, jadi aku harap, kalian bisa bekerja sama dengan baik.”
“Tentu, tuan.”
Edward pun membubarkan kumpulan para perkerja itu, namun sebelum Bu datu dan Bu dadu menjauh, Laura menghentikan langkah mereka.
“Bu datu, Bu dadu?”
Kedua pekerja yang bertugas di dapur itu, kembali menghadap sang nyonya yang sedang duduk di samping tuannya.
“Tolong buatkan aku gulai ayam. Aku ingin sekali makan itu. Jangan lupa, buatkan lontong juga.”
__ADS_1
Bu datu dan Bu dadu tersenyum mendengar perintah dari Laura. Mereka pun undur diri untuk membuat makan malam yang istri tuannya inginkan.
“Kamu mau makan apalagi? Katakan saja.”
Laura menggeleng. Ia kemudian bergelayut manja pada lengan suaminya.
“Ayo kita mandi, aku belum membersihkan diri. Semoga saja dokter di rumah sakit tidak mencium bau aneh dari tubuhku.”
Edward mencebik. Ia ingat tadi siang, benda keras tak bertulangnya sudah sempat muntah sekali. Mungkin itu yang menyebabkan perut Laura mengalami kram.
“Ayo.” Pria itu pun berdiri. Kemudian meraup tubuh sang istri.
“No, papi. Aku mau di gendong di belakang.” Tolak Laura.
“As you wish. Mami.”
******
Laura mengundang penghuni depan rumahnya untuk ikut makan malam bersama. Siapa lagi kalau bukan pasangan asisten dan sekretaris dari Edward.
“Silahkan masuk, tuan, nyonya.” Bu dewa mempersilahkan tamu majikannya untuk masuk.
Johan dan Monica berjalan beriringan memasuki hunian mewah itu. Sudah sebulan mereka tinggal di depan, tetapi baru kali ini Monica berkesempatan memasuki kediaman sang atasan.
“Sayang, ini mewah sekali.” Ucapnya meneliti ke sekeliling.
“Mahal sayang. Aku rumah yang kita tempati saja tidak sanggup untuk membelinya. Apalagi yang ini.”
Mereka kembali berjalan menuju ruang makan. Disana sudah ada Laura yang sedang menata makanan di meja makan bersama Bu dadu.
“Ah, kalian sudah datang. Mari Silahkan duduk.”
Namun keduanya masih tetap berdiri.
“Kenapa? Apa celana kalian belum lunas?” Tanya Laura terkekeh.
“Kami menunggu bos bergabung, nona.”
“Ah, kak Jo, kamu memang asisten yang sangat setia.”
Monica mendekat ke arah Laura, ia membantu mengisi gelas dengan air. Tak berselang lama, suara langkah kaki pun terdengar mendekat.
“Bos?” Sapa Johan melihat ke arah sumber langkah kaki terdengar.
“Jo.” Edward mendekat penuh senyum sembari menepuk bahu asistennya. Hal itu membuat Johan mengerenyitkan alisnya.
“Ayo duduk.” Edward mengambil tempat. Dan yang lainnya pun mengikuti.
“Sebentar, pi. Gulai ayam ku belum datang.” Ucap Laura saat melihat Edward yang hendak membalik piringnya.
“Baiklah, sambil menunggu makanan yang diinginkan istriku. Aku ingin menyampaikan kabar bahagia kepada kalian berdua.”
__ADS_1
Edward berucap sembari menatap dua tamu yang duduk di sisi meja makan sebelah kanan. Sementara Laura duduk di sisi meja makan sebelah kiri.
Pria itu menghela nafasnya pelan.
“Jo, Monic. Ucapkan selamat padaku karena aku telah berhasil menghamili istriku.” Lanjutnya lagi.
Laura menganga mendengar ucapan sang suami. Tangan wanita muda itu refleks memukul tangan suaminya yang berada di atas meja.
Plak!
“Aw, sakit mi.” Pria itu mengusap tangannya yang terasa panas.
Sementara, Johan dab Monica sejenak saling pandang.
“Wah. Selamat untuk pencapaiannya, bos. Aku sangat bahagia mendengar kabar ini.” Johan berdiri, dan menghampiri sang atasan. Dengan penuh senyum kebanggaan Edward menyambut sang asisten, kemudian mereka saling merangkul.
Monica melakukan hal yang sama. Ia menghampiri istri dari atasannya. Untuk memberikan selamat.
“Sudah berapa bulan, nona?” Tanya Monica seraya mengusap perut Laura yang masih terlihat rata.
“Baru lima minggu, mbak.”
“Sekali lagi selamat ya. Aku sudah tidak sabar menanti kehadiran bos kecil.” Monica kembali merangkul bahu Laura.
“Terima kasih, mbak. Semoga mbak Monic juga segera di beri momongan.”
“Amiin.” Ucap Monica, di ikuti Johan dan Edward.
“Selamat ya, nona. Semoga nona dan kandungan nona sehat sampai hari melahirkan tiba.”
Laura mendekat ke arah Johan. Yang membuat Edward memicingkan matanya. Waspada.
“Pi, boleh ya. Sekali saja?” Tanya Laura dengan merengek.
Edward ingin melarang, tetapi pesan dokter selalu terlintas di kepalanya. Mood wanita hamil bisa berubah kapan saja.
Pria itu pun menarik dan membuang nafasnya kasar. Kemudian menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih, papi.” Wanita itu berbinar kemudian mengecup pipi suaminya. Setelah itu ia pun menghambur ke dalam pelukan Johan.
“Terima kasih, kak Jo. Semoga kak Jo juga segera mempunyai anak.” Ucap Laura. Tubuh Johan kaku. Ia menatap Edward dan Monica secara bergantian, dan mereka berdua pun mengangguk.
“Amiin. Jaga diri baik-baik. Sekarang di dalam perutmu ada kehidupan lain. Jika perlu sesuatu, jangan ragu untuk menghubungi ku, jika suamimu tidak bisa memenuhinya.” Johan membalas pelukan Laura.
Namun ucapannya membuat mata Edward membulat. Enak saja. Tentu Edward akan memenuhi semua keinginan istrinya.
“Sudah, cukup. Ini sudah lebih dari satu menit.” Edward melerai pelukan itu, ia kemudian mendekap tubuh istrinya. Seolah menghapus jejak Johan dari tubuh wanita itu.
.
.
__ADS_1
.
T. B. C