TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 53. Aku Harus Kemana?


__ADS_3

Hari menjelang sore ketika Laura meninggalkan gedung bertingkat 20 itu.


Tanpa arah dan tujuan, ia mengendarai mobil tuanya dengan kecepatan sedang.


Ia tidak tau harus kemana. Pulang ke panti? Ke rumah Melani? Ke restoran Yulia? Atau ke kontrakannya, Edward pasti akan menemukannya. Itupun jika pria itu mencarinya.


Menghela nafasnya kasar, gadis itu memutuskan untuk menginap di sebuah penginapan yang bisa di sewa untuk satu malam.


Ia akan beristirahat disana untuk malam ini. Sebelum besok pagi melanjutkan perjalanannya.


Entah dia akan kemana, yang jelas ia ingin menjauh dari kehidupan Edward.


Setelah melakukan pembayaran atas kamar yang ia pesan, Laura berjalan menuju ke kamarnya.


Laura merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang yang berukuran kecil, cukup untuk tidur satu orang saja.


Gadis itu mengambil ponselnya, dan mengirim pesan kepada Melani, jika dia akan mengambil cuti kuliah selama beberapa hari kedepan.


“Wanita itu sangat cantik dan ramah, kenapa Edward begitu tega mengkhianatinya?”


Kebiasannya berbicara sendiri seperti orang yang tidak waras, mulai keluar lagi.


“Devano, aku tau bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ayah. Kamu tenang saja, aku tidak akan mengambil papa mu mulai hari ini.”


Ia meringkukkan badannya, memeluk tubuh lelahnya sendirian.


Ingin rasanya ia menyalahkan takdir yang terasa begitu kejam kepadanya.


Ditinggalkan oleh ayahnya saat berusia 10 tahun, setelah berusia 16 tahun ia mendapati kenyataan jika ibunya sakit keras. Dan ia juga harus menjadi anak yatim piatu saat usianya masih 19 tahun.


Kini saat ia berusaha hidup mandiri di atas kakinya sendiri, ia di hadapkan lagi oleh kenyataan jika mendiang ibunya memiliki hutang sebanyak 300 juta.


“Ayah, Ibu, kenapa kalian tidak menjemputku saja? Aku sendirian disini.” Gadis itu mulai terisak.


“Maafkan aku ayah, ibu, untuk beberapa hari kedepan, mungkin aku tidak akan pulang ke panti.”


Laura kembali mengambil ponselnya. Ia membuka panel pencarian, mencari tempat mana yang bagus untuk pelariannya. Tentu saja yang masih bisa di jangkau dengan mobil tuanya.


“Aku harus kemana ya?” Gumam gadis itu.


“Kenapa aku harus berurusan dengan pria itu? Kalau begini, aku jadi susah untuk kabur. Ia pasti akan mudah menemukan aku.”


Ia kembali mengutak-atik benda pipih pintarnya.


“Ah sudahlah, kita lihat besok saja. Kemana kaki ini akan melangkah.” Laura membanting begitu saja ponsel mahal itu di samping ia berbaring.


Gadis itu memejamkan matanya, ia berharap kali ini orang tuanya akan hadir di dalam mimpinya, meskipun itu untuk memarahinya.


******


Sekitar pukul 9 malam, Edward dan Johan baru kembali dari kantor. Kedua pria tampan itu tampak kelelahan.


Tiba di parkiran bawah tanah gedung penthouse, Johan merasa ada yang aneh. Sepertinya ada satu mobil yang kurang. Ia meneliti satu persatu mobil atasannya.


‘Masih lengkap.’ Batinnya.


“Jo, kamu mau menginap di parkiran?” Suara Edward dari dalam lift, membuyarkan lamunan Johan.


Ia pun bergegas memasuki lift.


Membukakan pintu utama untuk sang atasan, lagi-lagi Johan merasa ada yang aneh. Tidak semua lampu menyala di dalam penthouse.


Pria berusia 30 tahun itu mematung di tengah ruangan.

__ADS_1


“Selamat istirahat, Jo.” Kalimat yang biasa Edward ucapkan kepada sang asisten.


Ia pun berlalu menaiki tangga menuju kamar tidurnya.


“Aneh, kenapa pintu kamar terkunci?” Ucap Edward ketika ia merasakan pintu itu tidak dapat terbuka.


Ia lalu membuka kunci kamar itu.


Deg..


Gelap dan sunyi. Hal yang ia lihat dan rasakan saat memasuki kamarnya.


Pria itu lantas menyalakan lampu. Dan ia kembali tersentak saat mendapati tempat tidurnya yang masih tertata rapi.


Perasaan Edward mulai tidak enak, ia bergegas ke ruang ganti. Lalu membuka lemari yang di gunakan untuk menyimpan pakaian Laura.


Kosong.


Seketika tangan pria itu terkepal. Rahangnya mengeras. Bahkan matanya memerah.


“LAURA ANASTASIA, DIMANA KAMU?!” Suara itu menggelegar bagaikan guruh di tengah badai.


Bugh..


Pria itu memukul pintu lemari pakaian itu dengan keras.


“Beraninya kamu pergi dari sini, Baby.” Geram pria dewasa itu.


Ia pun bergegas keluar kamarnya, untuk menemui sang asisten.


“JOHAN!!”


Kembali suara pria itu menggema di ruang tamu penthousenya.


“Ada apa, bos?”


“Cepat periksa rekaman kamera pengawas siang ini!”


‘Astaga, ada apa ini? Kenapa macan ini kembali mengamuk!?’


“Johan Purnomo, kamu mendengarku?”


“Ah, baik bos. Sebentar aku ambil ponselnya.” Johan kembali masuk kedalam kamarnya untuk mengambil ponsel yang terkoneksi dengan kamera pengawas penthouse itu.


“Ini, bos.” Ia menyerahkan ponsel yang telah menyala kepada sang atasan.


Edward meneliti dengan seksama, apa saja yang terjadi di penthouse selama ia tinggalkan.


Di awal tidak terlihat adanya kejanggalan. Namun beberapa saat kemudian mata pria itu membulat sempurna, kala ia mendapati Felisha masuk ke dalam penthousenya.


“Felisha?” Ucapnya tak percaya.


“Ada apa, bos?” Johan ikut melihat ke arah ponsel yang di pegang atasannya itu.


“Astaga, nyonya Felisha datang kesini?”


Rekaman pun terus berjalan, menunjukkan apa saja yang Felisha dan Laura lakukan dan bicarakan.


“Baby, maafkan aku. Kamu pasti salah paham.”


“Bos, sebenarnya ada apa?” Johan mengambil ponsel yang di pegang oleh Edward, karena pria itu hampir saja menjatuhkannya.


Edward lantas merogoh ponsel yang ada di saku jasnya.

__ADS_1


Ia membuka rekaman kamera pengawas di ruang ganti kamarnya.


“Kamu lihat? Hanya berbicara dengan Felisha sebentar saja, dia sudah meninggalkan tempat ini.”


Johan mengambil ponsel atasannya, disana terlihat Laura yang sedang mengemasi barang-barangnya.


“Astaga, nona. Pantas saja aku merasa mobil di parkiran berkurang sata. Ternyata itu mobil nona.”


“Apa maksudmu, Jo? Kamu melihat mobil Ara tidak ada, tetapi kamu tidak mengatakannya padaku, hah!” Suara Edward meninggi satu oktaf.


Pria itu merampas kembali ponselnya, ia mematikan rekaman itu, kemudian menghubungi nomer kontak milik Laura.


Namun, hingga tiga kali melakukan panggilan. Tak satu pun yang di jawab oleh gadis itu.


“Baby, kamu dimana?” Ada rasa marah dan khawatir menjadi satu dalam benak pria itu saat ini.


“Berikan aku kunci mobil, Jo!” Ia menjulurkan tangannya pada Johan.


“Bos, anda mau kemana? Ini sudah malam.”


“Aku mau mencari Ara, Jo.” Lirih pria itu. Sungguh ia tidak mau kehilangan gadis itu.


Ia sungguh tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini. Pagi ini, mereka masih berbagi kasih sayang.


Hari ini dia begitu lelah menemani klien dari negara tetangga, berharap saat tiba di rumah akan di manjakan oleh gadisnya. Tetapi ia malah mendapatkan kejutan besar.


Pria dewasa itu berlari kembali ke kamarnya, ia ingin mencari Laura malam ini juga.


“Bos, kita cari nona sama-sama.” Teriak Johan, namun sang atasan tetap berlari menaiki tangga.


“Gawat, aku harus bergegas, kalau tidak tamat riwayatku.” Johan mengambil asal baju kaos di dalam lemarinya.


Di dalam kamar mewahnya, Edward menuju ke arah nakas untuk mengambil salah satu kunci mobilnya di dalam laci.


Deg…


Pandangan pria itu jatuh di atas meja nakas, disana tergeletak tiga kartu yang pernah ia berikan kepada Laura.


“Baby, apa-apaan ini?” Tangan kekarnya terulur meraih kartu-kartu tersebut.


“Kamu pikir, kamu bisa lepas begitu saja dariku, baby? Tidak akan pernah, seumur hidupmu adalah milikku!”


.


.


.


T. B. C


————


Terimakasih untuk semua dukungannya teman Readers. ❤️❤️


Jangan lupa


Like


Komen


Vote dan Gift


I LOVE YOU TILL THE END

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2