
“Hei tunggu.” Rendra memanggil Melani yang hendak meninggalkan kelas.
Gadis itu pun berbalik, melihat ke sumber suara yang memanggilnya.
“Ada apa ya pak?” Tanya gadis itu sopan.
“Kamu temannya Lala, mmm maksud saya, kamu temannya Laura kan?” Tanya sang dosen.
Melani menganggukkan kepalanya. “Ya, memangnya kenapa pak?”
“Ah tidak, saya hanya ingin tau kenapa Laura hari ini tidak kuliah?”
“Oh.. bukannya tadi saat absensi sudah saya katakan jika Laura sedang tidak enak badan?” Ucap gadis itu. Bukannya ia tidak tau, gadis itu sangat tau jika dosennya ini memiliki maksud tertentu kepada sahabatnya.
Rendra menganggukkan kepalanya. “Hanya saja, saya tidak begitu yakin.” Pria itu mengedikan bahunya.
“Maaf pak, jika sudah selesai, saya permisi dulu.”
“Eh tunggu, masih ada yang ingin saya tanyakan.” Cegah pria berusia 27 tahun itu.
“Ada apa lagi ya pak?”
“Saya ingin tau dimana alamat rumah Laura.” Ucap Rendra.
Melani menggelengkan kepalanya. Ia tidak tau dimana sekarang sahabatnya itu tinggal. Yang ia tau, Laura tinggal bersama Tuan Hugo, tetapi ia tidak pernah menanyakan alamatnya. Karena Laura pun tidak pernah bercerita.
“Maaf pak, saya tidak tau.” Ucapnya lirih.
“Jangan bohong, kamu temannya. Kemana-mana bersama. Mana mungkin kamu tidak tau dimana alamat teman kamu sendiri.”
Melani menghela nafasnya kasar. Rupanya pria ini tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan.
“Saya benar-benar tidak tau pak. Ya, alamat sebelumnya saya tau. Tetapi sekarang Laura sudah tidak tinggal disana lagi.” Jelas gadis itu.
“Maksud kamu dia pindah?”
Melani menganggukkan kepalanya.
“Apa dia tinggal dengan seorang pria dewasa?” Rendra seolah mengintrogasi Melani.
“Kalau masalah itu saya tidak tau pak. Maaf, saya harus permisi.” Melani meninggalkan dosennya itu begitu saja. Biarlah dia dianggap tidak sopan.
“Sebenar kamu tinggal dimana, La?” Gumam Rendra. “Apa kamu tinggal dengan pria dewasa itu? Siapa sebenarnya dia?”
Pria itu berjalan menuju ruangan kerjanya.
“Aku yakin ada yang di sembunyikan oleh gadis tadi tentang Lala.”
******
Seperti biasa, awal pekan merupakan hari yang sibuk untuk Edward. Pekerjaan menggunung telah menanti di meja kerjanya. Banyak berkas yang memerlukan tanda tangannya.
“Kamu kenapa, Jo?” Tanya Edward kepada sang asisten, saat ia merasa asistennya menjadi lebih pendiam dari sebelumnya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa bos. Hanya sedang ingin menyelesaikan pekerjaan lebih cepat saja.” Sahut asisten itu tanpa melihat ke arah sang atasan.
“Aku mengenalmu sudah hampir 8 tahun Johan Purnomo. Tidak ada hal yang bisa kamu sembunyikan dariku.” Ucap Edward serius. Pria dewasa itu menghentikan aktivitasnya. Ia menyadarkan punggung tegapnya di sandaran kursi.
“Katakan ada masalah apa, Jo? Aku pasti akan membantu mu.” Imbuhnya lagi.
‘Masalah ku ada padamu bos. Andai hidupmu tidak rumit, maka hidupku akan mudah.’
“Johan.” Edward lagi-lagi melempar bolpoin ke arah asistennya itu.
Namun sang asisten tak bergeming sedikit pun. Pria dewasa itu lalu menghampiri asistennya.
“Ada masalah apa, Jo?” Edward menepuk bahu Johan untuk menyadarkan pria itu.
“Hah” Johan tersentak, saat sebuah tepukan mendarat di bahunya.
“Katakan, Jo.”
Johan menggelengkan kepalanya. Ia tidak tau bagaimana caranya untuk mengatakan masalahnya.
“Bos,. Aku— Johan menjeda ucapannya. Ludahnya seakan kelu. Ia pun menarik dan membuang nafasnya kasar.
“Bos.. Monica menanyakan kapan aku akan menikahinya.” Ucap pria berusia 30 tahun itu dengan lirih. Ia pun hanya bisa menunduk tidak berani menatap sanga atasan.
“Lalu?”
“Lalu aku bisa apa bos? Bukannya aku harus menunggu mu menikahi nona terlebih dulu?” Keberanian Johan untuk berbicara dengan atasannya telah kembali.
Edward menganggukkan kepalanya.
“Sampai kapan bos?”
“Sampai Laura lulus kuliah.”
“Bos, itu masih satu tahun lagi.” Ucap Johan tak percaya.
“Maka dari itu, setidaknya aku mendapat banyak waktu untuk berbicara kepada mama dan Felisha.”
“Tetapi haruskah bos mengorbankan aku dan Monica dalam masalah ini?” Entah dapat keberanian dari mana, Johan berbicara seperti itu.
Edward menoleh ke arah sang asisten. Ia tidak percaya mendengar apa yang Johan katakan. Itu artinya Johan memendam rasa kesal kepadanya.
“Jo, kamu berpikir seperti itu?” Edward menggeleng, “Jangan berpikiran seperti itu Jo. Aku tidak ada niat mengorbankan hubungan kalian. Percaya padaku Jo, semua pasti akan terjadi tepat pada waktunya.” Ucap Edward panjang lebar.
“Maafkan aku bos, aku tidak— entah kenapa suasana hati Johan menjadi sedih.
“Tidak perlu minta maaf, Jo. Aku yang salah disini. Andai berbicara dengan Felisha semudah berbicara dengan orang lain, semuanya tidak akan serumit ini.”
Edward menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia memikirkan banyak hal. Usianya kini memang sudah 35 tahun. Tetapi ia sangat sulit menentukan jalan hidupnya sendiri.
‘Andai kamu masih ada disini, semuanya tidak akan serumit ini. Tolong bantu aku mencari jalan keluar. Aku tidak ingin menyakiti Felisha.’
*******
__ADS_1
“Ah tidak, aku tidak mau mati konyol.” Laura mengurungkan niatnya melompat dari lantai 20 gedung itu.
“Ayah dan ibuku orang baik, mereka pasti berada di surga sekarang, jika aku bunuh diri, belum tentu juga aku akan bertemu mereka.” Gadis itu perlahan menjauhi pagar besi pembatas balkon.
“Keluarga di panti juga masih membutuhkan aku.”
Ia menghempaskan tubuhnya pada sofa bed yang tersedia di balkon itu.
“Edward Alexander Hugo, kamu begitu pintar menyembunyikan sesuatu. Begitu banyak rahasia yang kamu simpan.” Laura meringkukkan badannya ke arah kiri.
“Tentang status hubunganmu, tentang mimpi buruk yang sering kamu alami. Apa yang sebenarnya terjadi?” Gadis itu mengusap sisi sofa di sampingnya. Tempat dimana kemarin Edward mendekapnya setelah mereka menuju puncak.
Laura teringat sesuatu, ia lantas mendudukkan tubuhnya dan bersandar di pinggiran sofa.
“Tunggu. Kalau dia punya istri, lalu mimpi buruk dan igauannya itu untuk siapa?”
Laura teringat saat pria itu mimpi buruk, maka ia akan mengigau, mengatakan ‘jangan pergi, jangan tinggalkan aku.’
“Siapa yang ada di mimpimu itu? Apa wanita di foto itu yang meninggalkan mu?”
“Arghhhh….” Gadis itu kembali meringkuk dan memukul-mukul ruang kosong pada sofa bed itu.
“Kenapa kamu begitu banyak rahasia, tuan Hugo? Apa kamu tidak ingin memberitahu aku sedikit saja?”
Merasa lelah akan banyak hal yang ia pikirkan, gadis itu pun memejamkan matanya.
‘Aku akan menikahimu, setelah kamu lulus’
Kalimat itu terlintas kembali di ingatan gadis berusia 21 tahun itu. Sehingga membuat matanya kembali terbuka.
“Ya, aku akan tetap disini sampai aku lulus. Hitung-hitung untuk membayar hutangku padamu, tuan Hugo. Dan sampai saat itu tiba, aku akan mencari tau sendiri jawaban atas semua yang kamu rahasiakan.”
.
.
.
T. B. C
Yang mampir ke sini karena recomendasi dari Kak Wety ( author Casanova ) aku ucapkan Terimakasih banyak ❤️❤️
Dan untuk yang selalu setia mendukung tulisan receh ku ini, Terimakasih banyak-banyak ❤️❤️
I LOVE YOU SAMPAI PUNCAK POKOKNYA
Jangan lupa
Like
Komen
Vote atau Gift
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️
Pay-pay 🤸♀️🤸♀️🤸♀️